Sebuah pertemuan berawal karena cinta. Tapi bagaimana jika pertemuan itu berawal karena benci.
BTari Kaniya, seorang gadis pengantar pizza, yang bertemu dengan seorang dokter tampan Aryan Wiguna, karena sebuah tragedi kecelakaan yang tak di sengaja. Membuat keduanya saling membenci dan menjadi musuh.
Bukannya tanggung jawab Aryan, malah pergi begitu saja membuat Tari, benci dan kesal. Di hari berikutnya mereka kembali bertemu namun Aryan, begitu emosi karena Tari, meminta ganti rugi hingga terjadilah perdebatan diantara mereka.
Akankah hubungan keduanya membaik?
Akankah kebencian itu berubah jadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Bryan
Saat wajah Aryan, kembali mendekat Tari, memejamkan matanya dan …
Cup,
Mata Aryan, membulat sempurna saat benda kenyal itu mendarat pada bibirnya. Sensasi dingin sangat terasa. Aryan, mulai memejamkan matanya menarik punggung Tari, semakin mendekat ke arahnya hingga Aryan, ******* lembut bibir kenyal itu.
Dengan cepat Tari, pun melepas pangutan bibirnya saat menyadari Aryan, membalas ciumannya.
"Kamu berani juga ya," cibir Aryan, yang meyunggingkan bibirnya.
"Memang itu, kan yang kau ingin, kan dokter! Membayar hutang dengan ciuman."
"Apa!" Aryan, terkejut
"Kalau bukan karena itu lalu apa? Kenapa kau mendekatkan wajahmu."
Aryan, tersenyum tipis dirinya tidak menyangka jika Tari, mempunyai pikiran seperti itu.
"Bilang saja kalau kamu ingin menciumku, aku mendekat karena akan mengambil ini," ucap Aryan, yang menunjukan sebuah kain putih yang tertinggal di belakang bahu milik Tari.
Tari, jadi salah tingkah setelah mendengar penjelasan Aryan, dirinya jadi malu hingga menutup mulut dengan kedua tangannya. Pipinya saat ini sudah merah merona.
Karena malu Tari, pun langsung pergi meninggalkan Aryan.
"Aduh, memalukan. Tari, apa yang kamu pikirkan!" umpat Tari, dalam hati.
Saat Tari, akan menaiki motornya tiba-tiba Aryan, menarik tangannya.
"Eh, Dokter kau mau apa?"
"Sudahku bilang aku akan mengantarkanmu pulang,"
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Motorku bagaimana?"
"Jangan pikirkan motor nanti ada seseorang yang mengantarnya."
"Eh, tapi … Aaa … Dokter turunkan aku." Teriak Tari, yang tubuhnya di pikul Aryan, seperti memikul beras.
Tubuh Tari, terbalik dan hanya bisa menepuk-nepuk perut Aryan, hingga tangan Tari, tak sengaja memukul golok saktinya membuat Aryan, mengerang.
"Argh … bisa diam tidak" hardik Aryan.
"Ops, apa yang ku sentuh tadi, begitu keras," batin Tari, yang masih merasakan barang apa yang sudah dia sentuh.
*
*
*
Sesampainya di rumah Aryan, mengerang kesal karena perlakuan Tari, yang sudah memukul golok saktinya. Bukan karena pukulan yang sangat keras melainkan karena pukulan itu golok saktinya terus berdenyut membuat kepalanya pusing karena tidak bisa melepaskan hasratnya.
Ah … sial
Aryan, terus mengumpat hingga akhirnya Aryan, pun pergi ke kamar mandi menyalakan kran shower membiarkan air shower itu mengalir membasahi kepala hingga tubuhnya. Agar hasratnya terlepaskan.
Di sisi lain Tari, terus menatap jari tangannya, memikirkan apa yang sudah dia pukul tadi siang. "Apa yang aku pukulya? Keras tapi … ih, kenapa aku jadi meremang gini." Tari, bergidik ngeri membayangkan apa yang sudah dia sentuh.
"Aduh, Tari, kamu ini bodoh sekali kenapa kamu malah menciumnya tadi. Bodoh … bodoh … bodoh!" Tari, merutuki dirinya sendiri. Karena malu dengan sikapnya pada Aryan.
Di saat Tari, sedang mengutuki dirinya dan terus mengumpat tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar kostnya. Tari, melihat arah jarum jam yang terpampang di dinding menunjukan pukul 8 malam.
Tari, bermonolog bertanya-tanya siapa yang datang ke kamar kostnya pada malam begini. Tari, beringsrut turun dari ranjang tidurnya lalu berjalan menuju arah pintu.
Cklek!
Tari, membuka pintu, dirinya melihat seorang pria yang diam berdiri membelakanginya.
"Siapa?" tanya Tari, pria itu pun membalikan tubuhnya.
"Bryan" Tari, terbelalak karena kedatangan Brayn, ke rumah kostnya. Dengan cepat Tari, kembali menutup pintunya namun, tangan Bryan, menahan pintu itu membuat Tari, terpaksa membuka pintunya.
"Ada apa kau datang kesini? Kau ingin istrimu marah padaku? Belum cukup kamu menyakitiku Bryan, kamu mau apa lagi?" Skak Tari.
"Karena itu kedatanganku kesini ingin meminta maaf tentang sikap Sonia, padamu. Aku baru tahu kamu di pecat aku ngerti kamu pasti sangat membutuhkan pekerjaan mu itu."
"Tari, aku ingin membantumu jika kau mau kau bisa bekerja di perusahaanku."
"Aku tidak butuh bantuanmu. Dengar ya Bryan, aku tidak ingin lagi berurusan denganmu atau pun Sonia. Sudah cukup kalian menyakiti hatiku. Jangan sampai kedatanganmu kemari membuat Sonia, semakin benci padaku lebih kamu pergi."
Tari, berteriak sekeras mungkin meminta Bryan, untuk pergi dari rumah kostnya. Hingga Tari, mendorong tubuh Bryan, ke jalanan. Namun, tangan Tari, di tarik Bryan, hingga tubuh Tari, jatuh d pelukannya.
Di waktu bersamaan Sonia, datang dan melihat adegan itu. Sonia, terlihat marah melihat Tari, berada dalam pelukan suaminya. Tangannya sudah mengepal nafasnya sudah membara, emosi pun sudah memuncak.
Tari, langsung bangun dari tubuh Bryan, menyadari tubuhnya ada di atas Bryan. Baru saja dirinya berdiri tiba-tiba
Plak!
Tamparan keras Sonia, mendarat mulus di pipinya membuat warna merah membekas di pipinya. Tari, memegang pipinya yang panas karena tamparan itu.
"Sonia!" bentak Bryan, yang melihat tamparan itu. Sonia, langsung melirik menatap Bryan, tajam.
"Kenapa? kamu marah karena aku menampar mantan pacarmu." Bryan, hanya diam.
"Dan kamu, aku bisa melakukan apa pun jangankan di pecat, kamu tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan sekalipun di kota ini. Jika kamu masih terus mendekati Bryan." Ancam Sonia, lalu membawa Bryan, pergi dari kost-nya Tari.
Nafas Tari, begitu sesak. Hatinya terasa begitu sakit, apa yang dia takutkan terjadi juga. Tubuhnya melorot dirinya menangis seraya memeluk kedua lututnya.
Langkah seseorang mendekat membuat Tari, menghentikan tangisannya, kepalanya pun mendongak melihat langkah siapa itu.
Dokter!
...----------------...
Sonia, main tampar saja.
Jangan lupa dukungan buat Tari, ya 🤗
like, vote, komentar dan hadiahnya oke
See u ❤
dini_rtn
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️
Ceritanya bagus tuh kak
Sukses selalu buat kk💐😇
Semangat 💪💪💪 terus dengan karya karya terbarunya ya Thorrr 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Lanjut dan semangat💪💪 terus buat updatenya thor😊😊
apa lagi berjuang tuk dapatkan restu dari orang tua Lala?
Semoga....
Semangat 💪💪💪 juga up nya Thorrr 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Lanjut dan semangat💪💪💪 terus buat updatenya thor😊😊
Arga sudah mau taobat dan insyaf lho.
sudah berbulan bulan dicueki juga tetap setia
jangan Marah2 lagi.
Semangat 💪💪💪 juga up nya Thorrr 😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Aryan dan Tari yang menenangkan Arga.
Sekamat Arga dan Lala, baikan ya😍😍😍😍😍😍
kurang ramai kalau belum ada dokter Amel.🤣🤣🤣🤦🤦🤦🤦🤦
Semangat 💪💪💪 juga up nya Thorrr 😘😘😘😘😘😘😘😘
Semangat 💪💪💪 juga up nya Thorrr 😘😘😘😘😘😘😘😘😘