Arsenio Elvarendra, mafia kejam yang dihianati orang kepercayaannya, terlahir kembali di sebuah singgasana yang sangat megah sebagai Kaisar Iblis. Di dunia barunya, ia bertemu seorang wanita cantik—Dia seorang dewi yang menyembunyikan identitasnya.
Bisakah Arsenio mengungkap jati diri sang Dewi? Akankah cinta mereka mengubah jalan takdir di antara kegelapan dan cahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Cahaya
Perjalanan pulang dari Pegunungan Geloap jauh lebih menyenangkan ketimbang perjalanan ke sana. Pasukan gabungan berjalan dengan langkah yang lebih ringan, menyanyi lagu perjuangan dan berbagi cerita tentang pertempuran yang baru saja mereka lalui. Namun, suasana bahagia itu sedikit terganggu oleh rasa penasaran yang besar di benak semua orang — terutama setelah melihat Lucifer menggunakan kekuatan cahaya yang luar biasa saat melawan Lord Malakor.
Tiba-tiba, Lilith berhenti berjalan dan menatap Lucifer dengan mata penuh rasa ingin tahu. "Lucifer, aku harus bertanya. Saat itu di dalam gua, kamu menggunakan kekuatan cahaya yang begitu kuat. Aku pernah melihatmu menggunakan berbagai kekuatan, tapi yang seperti itu... itu bukan kekuatan seorang iblos. Bagaimana kamu bisa mengendalikan elemen cahaya seperti itu?"
Raja Theron juga mendekat, mengangguk menyetujui. "Aku juga merasa heran. Kekuatanmu saat itu tidak hanya kuat, tapi juga membawa rasa kedamaian yang luar biasa. Itu bukan kekuatan yang aku kenal sebagai kekuatan Kaisar Iblis."
Lucifer menghentikan langkahnya, melihat ke langit yang mulai berpucuk merah karena matahari mulai terbenam. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka mulutnya. "Kalau begitu, sudah saatnya aku memberitahu kalian semua rahasia yang kubawa selama berabad-abad lamanya."
Semua orang di sekitarnya berhenti berjalan, termasuk Aurelia, Ezra, dan Lord Kaelen, yang semuanya tampak penasaran dengan apa yang akan dikatakan Lucifer.
"Sebenarnya," lanjut Lucifer dengan suara yang lembut namun jelas terdengar, "nama asalku bukan Lucifer. Dulunya, aku dikenal sebagai Samael yaitu salah satu malaikat tertinggi yang melayani di surga, penjaga pintu gerbang cahaya dan pembawa kebenaran."
Terdengar suara hiruk-pikuk kaget dari sekeliling. Lilith menjepit bibirnya, tidak bisa mempercayai apa yang dia dengar. "Samael? Tapi... bagaimana mungkin? Kamu adalah seorang Kaisar Iblis yang kita kenal."
"Aku memang adalah Kaisar Iblis sekarang," jawab Lucifer dengan senyum menyakitkan. "Tapi perjalanan untuk sampai ke sini sangat panjang dan penuh lika-liku. Aku pernah mencoba membawa perubahan di surga, mengajukan pertanyaan tentang keadilan dan kebebasan yang dianggap sebagai pembangkangan oleh yang berkuasa di sana. Akhirnya, aku diusir dan jatuh ke dunia bawah, di mana aku mulai membangun kerajaan baru — Kerajaan Iblis yang kalian kenal sekarang."
Aurelia melangkah maju dengan mata yang membesar. "Jadi kamu bukan lahir sebagai iblis? Kamu dulunya adalah malaikat?"
"Betul," sambung Lucifer. "Dan meskipun aku telah tinggal di dunia bawah selama berabad-abad, aku tidak pernah benar-benar kehilangan hubungan aku dengan elemen cahaya. Aku hanya menyembunyikannya karena khawatir akan disalahpahami oleh rakyatku sendiri, yang telah mengenalku sebagai penguasa kegelapan."
Ezra mengangguk perlahan, seolah-olah mulai memahami banyak hal. "Itu menjelaskan mengapa kamu selalu menekankan bahwa kekuatan bukanlah segalanya, Yang Mulia. Kamu membawa nilai-nilai dari masa lalu kamu sebagai malaikat."
"Benar sekali, Ezra," kata Lucifer dengan senyum hangat. "Saat aku melihat energi gelap dari Kultus Nirkala yang ingin menghancurkan segalanya, aku tahu bahwa hanya dengan menggabungkan kekuatan cahaya dan kegelapan yang kubawa, aku bisa mengalahkannya. Dan saat itu juga, aku merasa tidak perlu lagi menyembunyikan bagian dariku yang satu ini."
Lilith mendekati Lucifer dan meraih tangannya dengan erat. "Mengapa kamu tidak pernah memberitahuku ini sebelumnya?"
"Aku khawatir kamu akan melihatku secara berbeda," jawab Lucifer sambil menatap mata Lilith dengan penuh cinta. "Aku khawatir kamu akan berpikir bahwa aku telah berbohong padamu selama ini."
"Tidak mungkin," ujar Lilith dengan lembut, menyeka air mata yang mulai mengucur di pipinya. "Aku mencintaimu bukan karena kamu adalah Kaisar Iblis atau karena kamu dulunya adalah malaikat. Aku mencintaimu karena kamu adalah dirimu sendiri — seseorang yang selalu berjuang untuk kebaikan dan kesetiaan kepada rakyatnya."
Raja Theron mendekati mereka dengan wajah penuh penghormatan. "Samael... atau Lucifer, tidak masalah bagi aku. Kamu adalah teman yang telah membuktikan bahwa persatuan bisa mengalahkan segala rintangan. Kekuatan cahaya yang kamu miliki hanya membuatku lebih menghargai hubungan kita."
Lord Kaelen juga membungkuk hormat. "Yang Mulia, aku merasa sangat terhormat bisa mengetahui rahasia besar ini. Kekuatan cahaya yang kamu tunjukkan saat itu sungguh luar biasa, dan itu membuktikan bahwa kebaikan bisa ada di mana saja, bahkan di tengah kegelapan."
Aurelia tersenyum dengan mata bersinar. "Ini adalah cerita yang luar biasa, Yang Mulia. Aku ingin mencatatnya dalam sejarah kerajaan kita, agar generasi mendatang tahu bahwa kebenaran dan kebaikan tidak pernah terbatas oleh label atau asal-usul seseorang."
Lucifer mengangguk dengan senyum lega. "Silakan lakukan itu, Aurelia. Kalau rakyatku bisa menerima bagian dariku yang satu ini, maka kerajaan kita akan menjadi lebih kuat dan penuh cinta kasih."
Saat mereka melanjutkan perjalanan pulang, suasana menjadi lebih hangat dan penuh kebahagiaan. Para prajurit mulai bertanya-tanya tentang masa lalu Lucifer sebagai Samael, dan dia dengan sabar menjawab setiap pertanyaan mereka.
"Yang Mulia," tanya seorang prajurit muda dari Kerajaan Valerius, "apakah kekuatan cahaya itu bisa dipelajari oleh orang lain?"
"Jika mereka memiliki niat yang benar dan hati yang bersih," jawab Lucifer dengan senyum. "Kekuatan cahaya bukan milik satu orang saja. Ia ada di dalam setiap orang, hanya menunggu untuk ditemukan dan digunakan dengan benar."
Lilith meraih tangan Lucifer dengan erat. "Mungkin kita bisa membuat sekolah khusus untuk mengajarkan kedua kekuatan — cahaya dan kegelapan — agar rakyat kita bisa memahami bahwa keduanya saling melengkapi, bukan bertentangan."
"Itu adalah ide yang luar biasa, ratuku," sahut Lucifer dengan penuh bangga. "Bersama kita bisa membangun kerajaan yang benar-benar berbeda — di mana setiap orang bebas untuk mengembangkan potensi mereka tanpa takut akan diskriminasi."
Raja Theron mengangguk setuju. "Kita bisa mengadopsi ide itu di Kerajaan Valerius juga. Aku ingin Aurelia belajar tentang kedua kekuatan itu agar dia bisa menjadi pemimpin yang lebih bijaksana kelak."
Aurelia tersenyum dengan bangga. "Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh, Ayahanda. Dan aku akan bekerja sama dengan Ratu Lilith untuk memastikan bahwa kedua kerajaan kita tumbuh bersama dalam kedamaian dan kemakmuran."
Ketika mereka akhirnya tiba di perbatasan Kerajaan Iblis, matahari telah terbenam dan langit dipenuhi dengan bintang-bintang yang bersinar terang. Lucifer mengangkat tangannya, dan sekejap, cahaya lembut menyebar dari tangannya, menerangi jalan menuju istana dengan cahaya yang hangat dan menyenangkan.
Semua orang terpana melihat pemandangan itu. Rakyat yang datang menyambut kedatangan pasukan mereka juga terkejut namun penuh kagum. Mereka mulai bersorak dengan suara keras, memanggil nama Lucifer dengan penuh cinta dan penghormatan.
"Lihatlah!" teriak seorang rakyat. "Kaisar kita membawa cahaya untuk kita semua!"
Lucifer menatap sekelilingnya, melihat wajah-wajah yang penuh kegembiraan dan penghormatan. Dia tahu bahwa dengan membuka rahasia masa lalunya, dia telah mengambil langkah besar untuk membangun kerajaan yang lebih baik — sebuah kerajaan di mana cahaya dan kegelapan bisa hidup berdampingan dalam harmoni, dan di mana setiap orang dihargai karena siapa mereka sebenarnya.