Lima tahun lalu, Aluna dijebak, dihina, lalu diusir dari rumah dalam keadaan hamil. Semua orang mengira hidupnya hancur. Namun ia kembali sebagai wanita mandiri dan sukses, membawa sepasang anak kembar jenius: Arsen yang dingin dan pintar meretas sistem, serta Aruna yang manis tapi sangat cerdas.
Aluna hanya ingin membalas orang-orang yang menghancurkan hidupnya. Tapi semuanya berubah saat kedua anaknya bertemu Rafael Mahendra, CEO muda paling berkuasa dan terkenal dingin. Wajah Arsen yang sangat mirip Rafael membuat masa lalu mulai terbongkar.
Rafael pun curiga. Siapa sebenarnya dua anak itu?
Saat rahasia kelahiran si kembar terungkap, Aluna harus memilih: terus menyembunyikan kebenaran demi melindungi anak-anaknya, atau membiarkan Rafael mengetahui bahwa ia adalah ayah dari dua pewaris rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Satu Atap
“Mulai malam ini, kau dan anak-anak tinggal satu atap dengan saya.”
Kalimat Rafael masih terdengar di telinga Aluna bahkan setelah sambungan telepon berakhir.
Ia berdiri di tengah ruang keluarga yang berantakan.
Pecahan kaca berserakan di lantai. Sebuah kursi terbalik. Salah satu vas bunga yang tadi sore masih berada di atas meja kini sudah berubah menjadi serpihan keramik.
Aruna masih memeluk pinggangnya erat.
Sementara Arsen berdiri beberapa langkah dari mereka dengan wajah jauh lebih tenang daripada seharusnya.
Dua petugas keamanan sedang memeriksa jendela belakang.
Raka berbicara dengan seseorang melalui alat komunikasi.
“Area belakang sudah diperiksa. Satu pelaku diamankan. Tim sedang memeriksa kemungkinan ada orang kedua.”
Aluna memejamkan mata.
Baru beberapa jam lalu ia masih berdebat tentang kontrak ayah sementara.
Sekarang seseorang masuk ke tempat tinggal mereka.
Dan yang paling membuatnya takut bukanlah fakta bahwa pria itu berhasil menembus keamanan.
Melainkan karena penyerang tersebut tahu persis di mana mereka berada.
“Mama.”
Aluna membuka mata.
Aruna mendongak.
“Kita benar-benar akan tinggal di rumah Ayah?”
Aluna menarik napas.
“Belum tentu.”
“Sudah tentu,” sahut Arsen.
Aluna menoleh tajam.
“Arsen.”
Anak laki-laki itu menunjuk jendela pecah.
“Secara objektif, tempat ini sudah tidak aman.”
“Kamu tidak perlu bicara seperti konsultan keamanan.”
“Aku hanya menyampaikan fakta.”
Aruna mengangkat tangan kecilnya.
“Aku setuju dengan Kak Arsen.”
“Tentu saja.”
“Aku juga ingin lihat kamar Ayah.”
Aluna menekan pelipisnya.
“Ini bukan liburan.”
“Aku tahu.”
Aruna mengangguk serius.
“Kita sedang mengungsi.”
Arsen mengoreksi, “Relokasi sementara.”
“Bedanya apa?”
“Relokasi terdengar lebih profesional.”
Aluna hampir kehilangan kata-kata.
Di saat seperti ini pun kedua anaknya masih sempat berdebat soal istilah.
Suara kendaraan berhenti di halaman.
Beberapa detik kemudian, langkah cepat terdengar dari luar.
Raka menoleh ke pintu.
“Pak Rafael datang.”
Aluna langsung menegakkan tubuh.
Pintu terbuka.
Rafael masuk dengan langkah panjang.
Jasnya sudah tidak terpasang sempurna. Dasi hitamnya sedikit longgar, seolah ia datang tanpa memedulikan penampilannya.
Tatapannya bergerak cepat.
Jendela.
Pecahan kaca.
Petugas keamanan.
Kemudian Aluna.
Namun hanya sepersekian detik sebelum pandangannya turun kepada Arsen dan Aruna.
“Aruna.”
Gadis kecil itu langsung melepaskan pelukan dari ibunya.
“Ayah!”
Ia berlari.
Rafael sempat terlihat terkejut.
Tubuh kecil Aruna menabrak kakinya sebelum kedua tangan mungil itu memeluknya erat.
Rafael membeku.
Tangannya menggantung beberapa detik di udara.
Seolah pria yang mampu mengambil keputusan bisnis bernilai miliaran dalam hitungan menit itu tiba-tiba tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.
Kemudian perlahan tangannya turun.
Ia mengusap kepala Aruna.
“Kamu terluka?”
Aruna menggeleng.
“Takut?”
Kali ini Aruna diam.
Bibir kecilnya mengerucut.
“Sedikit.”
Rafael berjongkok.
“Di mana yang sakit?”
“Tidak ada.”
“Yakin?”
Aruna mengangguk.
Kemudian ia berbisik, “Tapi Mama tadi didorong.”
Wajah Rafael berubah.
Ia berdiri.
Tatapannya langsung mencari Aluna.
“Dia menyentuhmu?”
“Saya baik-baik saja.”
“Di mana?”
“Rafael—”
“Di mana dia menyentuhmu?”
Aluna menunjuk lengannya.
Ada bekas kemerahan di sana.
Rahang Rafael mengeras.
Ia menoleh kepada Raka.
“Orang itu?”
“Sudah diamankan.”
“Siapa dia?”
“Belum bicara.”
“Buat dia bicara.”
Nada Rafael begitu dingin hingga ruangan seolah kehilangan beberapa derajat suhu.
Aluna segera berkata, “Serahkan kepada polisi.”
Rafael menatapnya.
“Saya tahu.”
“Kalau tahu, jangan bertindak seolah Anda punya pengadilan sendiri.”
“Kalau saya punya pengadilan sendiri, orang yang menyentuhmu tidak akan masih bisa duduk dengan nyaman.”
Aluna terdiam.
Arsen mengangkat wajah.
“Aku mencatat kalimat itu sebagai indikasi perilaku agresif.”
Rafael menoleh kepadanya.
“Apa?”
Arsen mengeluarkan ponselnya.
“Evaluasi kontrak ayah sementara.”
Raka menunduk.
Bahu pria itu bergerak kecil.
Aluna tahu asistennya sedang menahan tawa.
Rafael justru mendekati Arsen.
“Nilai saya berkurang?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena Anda datang cukup cepat.”
Rafael mengangguk pelan.
“Berapa nilainya?”
“Belum bisa diberitahukan.”
“Kenapa?”
“Evaluasi rahasia.”
Untuk beberapa detik, Rafael dan Arsen hanya saling menatap.
Aluna mendadak merasa sedang menyaksikan rapat direksi dalam tubuh dua orang dengan perbedaan usia hampir tiga puluh tahun.
“Sudah,” katanya. “Tidak ada yang membicarakan kontrak malam ini.”
Rafael berdiri tegak.
“Benar.”
Ia melihat sekeliling.
“Kalian berkemas.”
Aluna langsung menatapnya.
“Saya belum setuju.”
“Anda punya pilihan lain?”
“Saya bisa mencari hotel.”
“Tidak.”
“Apartemen lain.”
“Tidak.”
“Rumah teman.”
“Tidak.”
Aluna melipat tangan di dada.
“Anda selalu menjawab semua hal dengan kata tidak?”
“Kalau pilihannya buruk, ya.”
“Dan menurut Anda satu-satunya pilihan yang baik adalah tinggal bersama Anda?”
“Untuk malam ini, benar.”
“Betapa kebetulan.”
Rafael tidak terpancing.
“Properti saya memiliki sistem keamanan berlapis. Akses masuk menggunakan biometrik. Ada penjagaan dua puluh empat jam dan seluruh staf sudah melewati pemeriksaan latar belakang.”
“Dan saya harus percaya begitu saja?”
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Aluna berhenti.
Rafael melanjutkan.
“Periksa sendiri.”
Ia menunjuk Raka.
“Raka akan memberikan seluruh informasi keamanan yang perlu kau tahu. Daftar staf. Sistem akses. Jalur keluar darurat. Bahkan posisi kamera kalau itu membuatmu lebih tenang.”
Aluna menatapnya.
Tidak ada nada mengejek.
Tidak ada kesombongan.
Rafael benar-benar memberinya pilihan untuk memeriksa.
Arsen tiba-tiba berkata, “Aku mau lihat sistem keamanannya.”
“Tidak,” jawab Aluna dan Rafael bersamaan.
Ruangan mendadak diam.
Aruna menutup mulutnya menahan tawa.
Arsen mengangkat sebelah alis.
Aluna menatap Rafael.
Rafael menatapnya kembali.
Untuk pertama kalinya malam itu, mereka sepakat mengenai sesuatu.
“Menarik,” gumam Arsen.
“Apa?” tanya Aluna.
“Kalian sudah mulai kompak.”
“Tidak.”
Sekali lagi mereka menjawab bersamaan.
Aruna akhirnya tertawa.
Empat puluh menit kemudian, dua koper kecil dan satu koper besar sudah berada di bagasi mobil Rafael.
Aluna hanya membawa barang penting.
Pakaian anak-anak.
Dokumen.
Laptop.
Beberapa perlengkapan pribadi.
Ia tidak tahu berapa lama mereka akan berada di rumah Rafael.
Dan ia tidak berniat membuatnya lama.
Mobil bergerak meninggalkan hunian sementara itu.
Arsen duduk di samping Aruna.
Rafael berada di depan bersama pengemudi.
Aluna memilih duduk paling dekat pintu.
Jarak yang menurutnya aman.
Tidak ada yang bicara selama beberapa menit.
Sampai Aruna bersuara.
“Ayah.”
Rafael menoleh.
“Ya?”
“Rumah Ayah besar?”
“Cukup.”
“Ada taman?”
“Ada.”
“Kolam renang?”
“Ada.”
“Ruang bermain?”
Rafael diam.
“Tidak.”
Aruna tampak kecewa.
“Rumah sebesar itu tidak punya ruang bermain?”
“Saya tidak punya anak.”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Rafael menyadarinya.
Aluna pun menyadarinya.
Aruna menatap pria itu lama.
“Sekarang mungkin punya.”
Rafael tidak menjawab.
Namun tatapannya bertemu dengan Aluna melalui kaca spion.
Aluna segera mengalihkan wajah ke jendela.
Jakarta bergerak di luar sana dalam lautan lampu.
Ia tidak boleh lengah.
Hasil DNA resmi belum ada.
Masa lalu mereka masih penuh lubang.
Orang yang menyerangnya malam ini belum diketahui.
Dan sekarang ia justru membawa anak-anaknya masuk lebih jauh ke dunia Rafael Mahendra.
Dunia yang selama ini berusaha ia hindari.
“Mama.”
Arsen menyentuh tangannya.
“Apa?”
“Jangan takut.”
Aluna tersenyum kecil.
“Mama tidak takut.”
Arsen menatapnya datar.
“Kebohongan terdeteksi.”
Aluna mencubit pipinya pelan.
“Kamu terlalu banyak bicara hari ini.”
Aruna ikut menyentuh tangan ibunya.
“Kami ada di sini.”
Aluna memandang kedua anaknya.
Itulah satu-satunya alasan ia bersedia melakukan ini.
Bukan Rafael.
Bukan kontrak.
Bukan soal siapa ayah mereka.
Keselamatan Arsen dan Aruna berada di atas semuanya.
Mobil akhirnya memasuki sebuah gerbang tinggi.
Aluna mengira Rafael akan membawa mereka ke penthouse atau apartemen mewah.
Ternyata bukan.
Di balik gerbang itu berdiri sebuah rumah modern tiga lantai yang dikelilingi taman luas.
Tidak berlebihan.
Tidak penuh ornamen emas seperti rumah orang kaya yang pernah ia lihat.
Justru sangat bersih.
Terlalu bersih.
Dominasi batu alam, kaca besar, dan garis arsitektur tegas membuat bangunan itu terlihat seperti pemiliknya.
Mahal.
Dingin.
Teratur.
Dan sedikit mengintimidasi.
Aruna menempelkan wajah ke kaca.
“Wow.”
Arsen memperhatikan kamera di gerbang.
“Empat kamera.”
Rafael menoleh.
“Enam.”
Arsen langsung melihat kembali ke luar.
“Dua disembunyikan?”
“Cari sendiri.”
Mata Arsen berubah tertarik.
Aluna langsung memotong.
“Jangan menantang anak saya.”
“Saya hanya memberinya kegiatan.”
“Meretas sistem keamanan bukan kegiatan anak lima tahun.”
Arsen bergumam, “Tergantung kemampuan anaknya.”
“Arsen.”
“Baik, Mama.”
Mobil berhenti.
Pintu utama terbuka.
Seorang wanita berusia sekitar lima puluhan berdiri bersama dua staf rumah.
Rafael turun lebih dulu.
“Selamat malam, Tuan.”
“Bu Mira, siapkan kamar tamu utama dan dua kamar di sebelahnya.”
Wanita itu melihat ke arah Aluna dan anak-anak.
Ekspresinya sempat berubah terkejut, tetapi cepat kembali profesional.
“Baik, Tuan.”
Aruna turun dari mobil.
Ia menatap rumah itu dari bawah sampai atas.
Kemudian berbisik kepada Arsen.
“Kak.”
“Apa?”
“Rumah Ayah seperti hotel.”
“Hotel lebih ramai.”
“Berarti seperti museum.”
“Kenapa museum?”
“Sepi.”
Rafael mendengarnya.
Ia berhenti.
Untuk pertama kalinya, ia memandang rumahnya sendiri seolah baru menyadari sesuatu.
Sepi.
Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah menganggap itu masalah.
Rumah adalah tempat tidur.
Tempat membaca laporan.
Tempat menjauh dari kebisingan perusahaan.
Tidak lebih.
Namun ketika Aruna mengatakannya, kata itu tiba-tiba terasa berbeda.
Aluna berjalan mendekat.
“Sebelum kami masuk, ada aturan.”
Rafael mengangkat alis.
“Kontrak tambahan?”
“Bukan.”
Aluna berdiri tepat di hadapannya.
“Anak-anak punya rutinitas. Mereka tidur maksimal pukul sembilan. Tidak boleh terlalu banyak makanan manis. Arsen punya alergi ringan terhadap udang. Aruna tidak boleh minum susu dingin sebelum tidur karena tenggorokannya mudah bermasalah.”
Rafael mendengarkan tanpa memotong.
“Kalau mereka keluar rumah, saya harus tahu. Tidak ada satu pun staf Anda yang boleh membawa mereka ke mana pun tanpa izin saya.”
“Setuju.”
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
Aluna menatapnya lurus.
“Jangan menggunakan situasi ini untuk mengambil mereka dari saya.”
Tatapan Rafael berubah.
“Aluna.”
“Saya serius.”
“Saya juga.”
Rafael maju setengah langkah.
“Saya tidak membawa kalian ke sini untuk memisahkanmu dari anak-anak.”
“Bagaimana saya tahu?”
“Karena kalau saya ingin mengambil mereka dengan kekuasaan yang saya punya, saya tidak perlu menunggu sampai malam ini.”
Aluna menegang.
Rafael segera melanjutkan.
“Tapi saya tidak akan melakukan itu.”
Ada sesuatu dalam suaranya.
Tidak lembut.
Rafael memang bukan pria yang pandai terdengar lembut.
Namun kali ini terdengar pasti.
“Mereka membutuhkan ibunya.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan kalau mereka memang anak saya, saya ingin masuk ke kehidupan mereka. Bukan mengeluarkanmu dari sana.”
Aluna tidak menjawab.
Entah kenapa kalimat itu justru lebih berbahaya daripada ancaman.
Karena untuk pertama kalinya, Rafael terdengar seperti seseorang yang memahami batas yang selama ini Aluna pertahankan.
“Mama!”
Suara Aruna memecah ketegangan.
Gadis kecil itu sudah berdiri di pintu utama.
“Ayo masuk!”
Aluna menarik napas.
“Ini sementara.”
Rafael mengangguk.
“Sementara.”
Namun mata pria itu mengatakan sesuatu yang berbeda.
Lima belas menit kemudian, masalah baru muncul.
Bu Mira menunjukkan lantai dua.
“Kamar Nona Aluna sudah disiapkan di sebelah kanan.”
Aluna melihat kamar luas dengan balkon menghadap taman.
“Terima kasih.”
“Kamar Tuan Arsen di sebelahnya.”
Arsen mengintip ke dalam.
Ada meja kerja kecil yang tampaknya baru saja dipindahkan ke sana.
“Bagus.”
“Dan kamar Nona Aruna berada di ujung lorong.”
Aruna berjalan ke sana.
Ia membuka pintu.
Melihat kamar.
Kemudian keluar lagi.
“Tidak mau.”
Aluna mengernyit.
“Kenapa?”
“Terlalu jauh.”
“Hanya beberapa meter.”
Aruna menggeleng keras.
“Aku mau kamar yang dekat Mama.”
“Kamar sebelah Mama untuk Kak Arsen.”
Aruna berpikir.
Kemudian matanya bergerak menyusuri lorong.
Ada satu pintu lain tepat di seberang kamar Aluna.
Ia menunjuknya.
“Kalau itu?”
Bu Mira mendadak diam.
Raka yang baru naik tangga ikut berhenti.
Aluna memperhatikan reaksi mereka.
“Kenapa?”
Bu Mira terlihat serba salah.
“Itu…”
Pintu tersebut tiba-tiba terbuka.
Rafael keluar sambil melepas jam tangan.
Aruna langsung tersenyum lebar.
“Ayah!”
Aluna memejamkan mata.
Ia sudah tahu apa yang akan terjadi.
Aruna berlari ke arah pintu itu.
Ia melihat ke dalam kamar Rafael.
Kemudian berbalik dengan wajah sangat puas.
“Aku sudah pilih.”
Aluna menatapnya.
“Pilih apa?”
Aruna menunjuk pintu kamar Rafael.
“Aku mau kamar ini.”
Rafael mengangkat alis.
“Itu kamar saya.”
“Aku tahu.”
“Aruna,” Aluna mulai memperingatkan.
Namun gadis kecil itu sudah masuk beberapa langkah ke kamar Rafael.
Ia melihat sekeliling.
Tempat tidur besar.
Sofa.
Meja kerja.
Rak buku.
Semua tertata sempurna.
Tidak ada satu pun benda berwarna cerah.
Aruna mengerutkan hidung.
“Kamar Ayah juga sedih.”
Raka berdeham untuk menutupi tawanya.
Rafael menatap kamar sendiri.
“Sedih?”
“Semua hitam, abu-abu, cokelat.”
“Itu warna normal.”
“Tidak ada pink.”
“Saya tidak membutuhkan pink.”
Aruna berpikir sejenak.
“Besok kita beli.”
“Tidak.”
“Kita lihat nanti.”
Aluna segera masuk.
“Aruna, keluar. Kamu punya kamar sendiri.”
“Tapi kontraknya bilang Ayah harus membuktikan bisa menjaga kami.”
“Bukan berarti kamu tidur di kamarnya.”
Aruna memeluk sebuah bantal.
“Kalau aku tidur jauh, bagaimana aku tahu Ayah benar-benar menjaga?”
Aluna membuka mulut.
Tidak ada suara yang keluar.
Arsen muncul di pintu.
Ia memandang adiknya, kemudian Rafael.
“Secara teknis, dia punya argumen.”
“Jangan ikut-ikutan.”
“Aku hanya objektif.”
Rafael menyilangkan tangan.
“Biarkan dia.”
Aluna langsung menoleh.
“Jangan manjakan dia.”
“Satu malam.”
“Rafael.”
“Saya bisa tidur di sofa.”
Aruna langsung menggeleng.
“Tidak.”
Semua orang menatapnya.
Gadis kecil itu menunjuk Rafael.
“Ayah tidur di tempat tidur.”
Lalu menunjuk sisi lain ranjang besar.
“Aku di sana.”
Kemudian matanya berpindah kepada Aluna.
Senyumnya perlahan melebar.
Aluna langsung merasa tidak enak.
“Dan Mama…”
“Jangan.”
“…tidur di sebelah Ayah.”
Ruangan mendadak hening.
Raka berbalik dan pura-pura memeriksa telepon.
Bu Mira menunduk.
Arsen bahkan terlihat menahan senyum.
Aluna menatap putrinya tidak percaya.
“Aruna Prameswari.”
“Apa?”
“Kamu tidur di kamar sendiri.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi.”
Aruna mengerucutkan bibir.
Kemudian ia menatap Rafael dengan wajah memelas.
“Ayah…”
Rafael diam beberapa detik.
Lalu menatap Aluna.
“Aku tidak ikut campur.”
“Bagus.”
“Tapi dia boleh memilih kamar yang lebih dekat.”
Aluna mengerutkan kening.
“Yang mana?”
Rafael menunjuk sebuah pintu di samping kamar utamanya.
“Itu ruang kerja pribadi. Besok bisa diubah menjadi kamar.”
Mata Aruna langsung berbinar.
“Berarti aku tinggal dekat Ayah?”
“Ya.”
Aruna melompat senang.
Aluna menatap Rafael.
Pria itu hanya mengangkat bahu kecil.
“Saya sedang berusaha mendapatkan nilai kontrak yang baik.”
Dari belakang, Arsen membuka ponselnya.
“Dicatat.”
Rafael menatapnya.
“Nilai saya naik?”
“Informasi rahasia.”
Untuk pertama kalinya, Aluna melihat sesuatu yang sangat aneh.
Rafael Mahendra tersenyum.
Bukan senyum dingin.
Bukan seringai tipis penuh sindiran.
Senyum sungguhan.
Hanya sebentar.
Tetapi cukup membuat dada Aluna bergetar tanpa izin.
Ia segera mengalihkan pandangan.
Berbahaya.
Situasi ini jauh lebih berbahaya daripada yang ia pikirkan.
Bukan karena rumah Rafael.
Bukan karena keamanan.
Bukan pula karena hasil DNA.
Melainkan karena kedua anaknya mulai membuka pintu yang selama lima tahun ia tutup rapat.
Pintu menuju sebuah keluarga.
Malam semakin larut.
Setelah memastikan Arsen dan Aruna tidur, Aluna kembali ke kamarnya.
Ia baru hendak menutup pintu ketika mendengar suara langkah dari ujung lorong.
Rafael.
Pria itu membawa segelas air.
Mereka saling menatap.
Tidak ada anak-anak.
Tidak ada Raka.
Tidak ada staf.
Hanya mereka berdua.
“Terima kasih,” kata Aluna akhirnya.
Rafael berhenti.
“Untuk apa?”
“Datang tadi.”
“Itu kewajiban.”
“Belum.”
Rafael memandangnya.
Aluna melanjutkan, “Kontrak ayah sementara baru dimulai besok.”
“Kalau begitu anggap sebagai masa orientasi.”
Aluna hampir tersenyum.
Hampir.
“Selamat malam.”
Ia hendak masuk.
“Aluna.”
Tangannya berhenti di gagang pintu.
“Apa?”
Wajah Rafael kembali serius.
“Orang yang menyerangmu malam ini bukan pencuri biasa.”
Aluna berbalik sepenuhnya.
“Apa maksud Anda?”
“Raka menemukan sesuatu.”
“Apa?”
Rafael mengeluarkan ponselnya.
Di layar terdapat foto sebuah benda kecil berwarna hitam.
Seperti perangkat elektronik.
“Ini ditemukan di dalam tas perlengkapan penyerang.”
Aluna mendekat.
“Apa itu?”
“Penerima sinyal.”
“Untuk?”
“Melacak lokasi.”
Darah Aluna perlahan terasa dingin.
Rafael menggeser layar.
Foto berikutnya muncul.
Sebuah alat pelacak berukuran sangat kecil.
“Tim saya menemukan pasangannya.”
Aluna menelan ludah.
“Di mana?”
Rafael menatapnya lurus.
“Di salah satu barang yang kalian bawa dari rumah Mahendra.”
Aluna membeku.
“Artinya…”
“Orang yang menyerang kalian tidak menemukan tempat tinggalmu secara kebetulan.”
Lorong itu mendadak terasa jauh lebih dingin.
“Siapa yang memasangnya?”
“Itu yang sedang saya cari.”
Tiba-tiba sebuah pintu terbuka.
Arsen berdiri di sana.
Wajah anak itu serius.
Ia ternyata belum tidur.
“Aku mungkin tahu.”
Aluna menoleh cepat.
“Arsen?”
Anak itu membawa tablet kecil.
“Aku memeriksa riwayat koneksi alat yang ditemukan Om Raka.”
Rafael langsung mendekat.
“Kamu mengaksesnya?”
“Tidak semuanya.”
“Arsen,” tegur Aluna.
Namun anak itu sudah menunjukkan layar.
Ada deretan data.
Nomor perangkat.
Waktu aktivasi.
Dan satu lokasi.
Rafael mengambil tablet itu.
Tatapannya berubah tajam.
“Ini tidak mungkin.”
Aluna mendekat.
“Apa?”
Arsen menunjuk satu baris di layar.
“Sinyal pertama alat pelacak itu aktif sebelum kita meninggalkan rumah utama Mahendra.”
Aluna menahan napas.
Berarti seseorang memasangnya saat mereka masih berada di sana.
Seseorang yang punya akses.
Seseorang yang berada cukup dekat dengan mereka.
Rafael menatap layar beberapa detik.
Kemudian Arsen berkata pelan,
“Dan ada hal lain.”
“Apa?”
Anak itu menggeser layar.
Muncul dua titik sinyal.
Satu sudah berhenti bergerak.
Satu lagi masih aktif.
Aluna mengernyit.
“Kenapa ada dua?”
Arsen mengangkat wajahnya.
“Karena alat pelacaknya bukan cuma satu.”
Rafael langsung berubah waspada.
“Di mana yang kedua?”
Arsen tidak menjawab.
Ia hanya melihat ke arah kamar Aruna.
Titik merah pada layar berkedip.
Bergerak.
Aluna langsung berlari.
“Aruna!”
Ia membuka pintu kamar.
Kosong.
Tempat tidur masih rapi.
Jendela tertutup.
Boneka Aruna tergeletak di lantai.
Namun anak perempuan itu tidak ada.
Wajah Aluna seketika kehilangan warna.
“ARUNA!”
Dari belakangnya, suara Rafael berubah sedingin es.
“Kunci seluruh rumah.”
Alarm keamanan langsung berbunyi.
Dan pada tablet di tangan Arsen, titik merah itu terus bergerak menuju lantai bawah.