Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ruang Ballroom Grand Hyatt Jakarta dipenuhi ratusan wartawan, kamera televisi, dan kilatan lampu flash yang membakar udara siang itu. Dinding panggung utama dihiasi logo resmi Samudra Group, namun suasana di dalam ruangan tidak terasa seperti pengumuman korporasi biasa.
Ada ketegangan yang mendalam, sebuah momen yang telah dinantikan oleh seluruh negeri selama sembilan bulan terakhir.
Di tengah panggung, berdiri Alvan Samudra.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan tanpa celah. Namun, tidak ada lagi aura kejam dan dingin yang biasa memancar dari tatapannya. Wajahnya yang tegas kini memantulkan ketenangan yang dewasa, sebuah kedewasaan yang lahir dari kehancuran ego dan proses penyesalan yang panjang.
Di samping kirinya, duduk Andira.
Wanita itu mengenakan gaun putih bersahaja yang melambangkan kemurnian jiwanya. Tidak ada lagi gaun pelayan atau pakaian lusuh penderitaan.
Wajahnya yang bening memancarkan keanggunan alami, meski jemari tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan sedikit gemetar menerima sorotan ratusan kamera.
Alvan memegang mikrofon, menatap lurus ke arah barisan kamera pers nasional.
"Selamat siang kepada rekan-rekan media dan seluruh masyarakat Indonesia," suara Alvan menggelegar tenang, memotong gumaman di seluruh penjuru ballroom. "Saya, Alvan Samudra, berdiri di sini hari ini bukan sebagai CEO Samudra Group, melainkan sebagai seorang suami yang pernah gagal dan dibutakan oleh prasangka buruk."
Seluruh wartawan menahan napas. Kilatan kamera makin menjadi-jadi.
"Sembilan bulan yang lalu," lanjut Alvan, suaranya mengandung getaran emosi yang begitu tulus, "dunia menghakimi wanita di samping saya ini, Andira Samudra sebagai pelaku utama atas kematian adik saya, Roy Samudra. Hari ini, berdasarkan putusan resmi Pengadilan Negeri dan bukti forensik digital dari Kejaksaan Tinggi, saya menyatakan secara terbuka bahwa seluruh tuduhan itu adalah fitnah keji yang dirancang oleh Elena Rahardian."
Alvan memberi jeda sejenak. Ia memalingkan wajahnya, menatap Andira dengan penuh cinta dan rasa hormat yang tak terukur.
"Andira adalah korban. Dia tidak hanya tidak bersalah, tetapi dia adalah wanita luar biasa yang telah menyelamatkan nyawa ibu saya dan menjaga kehormatan keluarga ini di tengah penderitaannya sendiri," Alvan memajukan tubuhnya ke arah mikrofon, mempertegas setiap kata. "Segala caci maki, penahanan ilegal, dan penderitaan yang dialami Andira adalah kesalahan saya pribadi. Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada Andira secara terbuka di hadapan seluruh negeri, dan saya bersumpah akan mendedikasikan sisa hidup saya untuk memulihkan nama baik dan kebahagiaannya."
Gema tepuk tangan pecah seketika di seluruh ruangan. Isakan halus lolos dari bibir Andira. Air mata harunya menetes, bukan lagi air mata kesakitan, melainkan air mata pembebasan dari penjara fitnah yang selama ini mengurung hidupnya.
Alvan mengulurkan tangan kanannya di atas meja panggung. Andira menatap tangan itu, lalu menyambutnya dengan genggaman yang hangat dan erat. Di hadapan seluruh kamera nasional, ikatan mereka resmi dikukuhkan kembali di atas panggung keadilan.
~~
Sore harinya, matahari memancarkan sinar keemasan yang hangat menembus pilar-pilar megah mansion utama Samudra.
Di ruang keluarga lantai satu, sebuah momen yang dulunya terasa mustahil kini terhampar nyata. Ibu Rosa duduk di atas kursi roda berukir, mengenakan gaun rumah yang nyaman. Wajahnya yang sempat pucat kini mulai kembali berseri, memancarkan kedamaian seorang ibu yang telah terbebas dari siksaan trauma.
Andira berlutut di samping kursi roda Ibu Rosa, membantu merapikan selimut tipis yang menutupi kaki sang ibu mertua.
"Andira, Sayang... jangan terus-terusan melayani Ibu seperti ini," tegur Ibu Rosa lembut. Tangannya yang keriput terangkat, usapan jemarinya terasa begitu hangat di pipi Andira. "Kamu adalah putri rumah ini, bukan pelayan."
Andira mendongak, menyunggingkan senyuman terindahnya. "Merawat Ibu adalah kebahagiaan Andira, Bu."
Ibu Rosa menarik kepala Andira perlahan menuju pangkuannya, memeluk kepala menantunya itu dengan penuh kasih sayang yang memuncak.
"Maafkan Ibu untuk sembilan bulan yang hilang itu, Nak," bisik Ibu Rosa, air mata keharuan merembes di sudut matanya. "Rumah ini dulunya terasa seperti kuburan yang dingin... tapi karena kehadiranmu dan kebaikan hatimu, Tuhan mengembalikan kehidupan di dalam rumah ini. Kamu adalah putri kandung Ibu mulai hari ini."
Alvan yang berdiri tak jauh dari sana, bersandar pada bingkai pintu dengan secangkir teh di tangannya, menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang dipenuhi rasa syukur tak terhingga. Puing-puing dendam yang dulu menghancurkan keluarganya kini telah rata dengan tanah, digantikan oleh fondasi cinta yang tak tergoyahkan.
~~
Malam melingkupi Jakarta dengan ketenangan yang langka. Angin malam yang lembut berhembus melalui pintu kaca balkon kamar utama mansion yang terbuka separuh.
Kamar utama yang dulu terasa begitu dingin dan asing bagi Andira, kini dipenuhi kehangatan lampu pijar kekuningan dan aroma harum bunga melati menyegarkan.
Andira berdiri di dekat meja rias, melepaskan anting-antingnya setelah seharian menghadiri konferensi pers dan menyambut kedatangan Ibu Rosa. Dari pantulan cermin, ia melihat bayangan Alvan melangkah mendekat dari belakang.
Alvan meletakkan kedua tangannya di atas bahu Andira, mengusapnya lembut sebelum menunduk dan menyandarkan dagunya di ceruk leher istrinya.
"Lagi mikirin apa, Hm?" bisik Alvan pelan. Suaranya yang serak dan dalam mengirimkan getaran hangat di sepanjang tulang belakang Andira.
Andira memegang jemari Alvan di bahunya, mengulas senyum tipis melalui pantulan cermin. "Hanya... masih terasa seperti mimpi, Alvan. Beberapa minggu yang lalu saya masih berada di kamar kecil belakang. Dan sekarang..."
Alvan memutar tubuh Andira perlahan hingga mereka saling berhadapan. Pria itu menatap mata bening istrinya dengan tatapan yang begitu dalam, sarat akan gairah, perlindungan, dan pengabdian.
"Ini bukan mimpi, Andira. Ini adalah kenyataan yang pantas kamu dapatkan sejak awal," kata Alvan tulus.
Dari saku jas rumahnya, Alvan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil. Ia membukanya dengan satu sentuhan jemari. Di dalamnya, berkilat sepasang cincin berlian berdesain minimalis namun teramat anggun, memancarkan kilau abadi di bawah cahaya lampu kamar.
Andira menahan napasnya. "Alvan... ini..."
"Cincin pernikahan kita sembilan bulan lalu adalah cincin yang dipaksakan oleh dendam," Alvan mengambil cincin wanita dari dalam kotak, lalu meraih tangan kiri Andira. "Tapi cincin ini... adalah simbol janji baruku padamu. Janji bahwa aku akan belajar mencintaimu, menghormatimu, dan melindungimu dari bahaya apa pun hingga napas terakhirku."
Alvan menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Andira. Pas sempurna.
Andira menatap jemarinya yang kini dihiasi simbol cinta sejati, lalu mengangkat pandangannya menatap Alvan. Tanpa ragu lagi, Andira melingkarkan kedua lengannya di leher Alvan, menyandarkan dadanya pada dada tegap pria itu.
"Terima kasih... terima kasih sudah percaya padaku, Alvan," bisik Andira lembut.
Alvan merengkuh pinggang Andira, menarik tubuh wanita itu makin rapat ke dalam pelukannya.
Pria itu menundukkan kepala, mendaratkan kecupan hangat dan dalam di bibir Andira, sebuah kecupan pertama yang murni tanpa bayang-bayang masa lalu, menyegel takdir baru mereka sebagai pasangan suami istri yang utuh.
~
Beberapa saat kemudian, malam makin larut.
Andira telah terlelap tenang di atas ranjang king-size kamar utama, terselimut sutra putih dengan riak napas yang teratur. Wajahnya tampak begitu damai dalam tidurnya.
Alvan melangkah pelan keluar menuju balkon kamar utama.
Pria itu mengenakan piyama hitam, menggenggam segelas wiski tanpa es. Angin malam yang dingin menyapa wajahnya, namun pikirannya justru kembali melayang pada kalimat terakhir yang dilontarkan Elena sebelum diseret polisi di ruang rapat komisaris.
"Kamu pikir ini sudah selesai, Alvan? Orang yang memberi perintah padaku... ada di dalam rumahmu sendiri sejak awal."
Alvan meneguk wiskinya sedikit, matanya menyipit menatap kegelapan taman belakang mansion. Kata-kata itu terus bergema bagaikan hantu yang menolak pergi.
BUZZ... BUZZ... BUZZ...
Ponsel pribadi Alvan yang tergeletak di meja kecil balkon bergetar hebat. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama Detektif Hendra.
Alvan segera menggeser layar dan menempelkan telepon ke telinganya. "Ya, Pak Hendra?"
"Alvan," suara Detektif Hendra di seberang sambungan terdengar sangat berat, diiringi suara ketukan papan tik komputer yang cepat. "Aku baru saja selesai memeriksa arsip transaksi perbankan lama milik Elena yang disita dari brankas apartemennya lima jam yang lalu."
Alvan mengepalkan tangannya pada pagar besi balkon. "Apa yang Anda temukan?"
"Elena hanyalah pion, Alvan. Seluruh dana lima ratus miliar yang dialirkan ke rekening cangkangnya bukan berasal dari manipulasi internal Samudra Group semata," terang Detektif Hendra dengan nada yang makin tegang. "Ada rekening induk dari bank swasta luar negeri yang mentransfer dana berkala sejak dua tahun lalu, sebelum Roy tewas. Dan aku baru saja menerima salinan dokumen perjanjian rahasia yang ditandatangani Elena."
"Dokumen apa?!" tuntas Alvan tegas.
"Aku sudah mengirimkan foto dokumennya ke ponselmu sekarang. Lihat sendiri."
Sambungan terputus.
Sebuah notifikasi pesan terenkripsi masuk ke ponsel Alvan. Pria itu membuka pesan tersebut dan mengunduh sebuah berkas foto resolusi tinggi.
Foto itu menampilkan sebuah dokumen hitam-di-atas-kertas tua berstempel basah rahasia. Di bagian bawah dokumen tersebut, tertera tanda tangan Elena, dan di sampingnya... terdapat stempel segel lilin merah dengan sebuah lambang keluarga kuno dan inisial huruf kapital tunggal yang tercetak tebal.
'S'
Mata Alvan membelalak tajam. Napasnya tertahan di tenggorokan saat membaca catatan kaki di bawah inisial tersebut.
...Seluruh dana operasional penyingkiran Roy Samudra dan penguasaan aset Samudra Group dijamin penuh oleh Pihak Utama - 'S' (Mansion Utama Samudra).
DEGGGG!
Darah Alvan mendadak terasa membeku di dalam pembuluh darahnya.
Dokumen itu mengonfirmasi tuduhan terakhir Elena secara mutlak. Sosok dalang utama yang membiayai seluruh pembunuhan Roy, menjebak Andira, dan mencoba menghancurkan keluarga Samudra... bukanlah orang luar, melainkan sosok berinisial 'S' yang berada di dalam mansion utama mereka sejak awal!
Alvan perlahan memutar tubuhnya, menatap ke dalam kamar utama melalui kaca balkon. Di dalam sana, Andira terlelap damai tanpa menyadari bahwa bayangan teror baru yang jauh lebih besar dan mematikan sedang mengintai mereka dari balik kegelapan rumah itu sendiri.
...----------------...
To Be Continue ....