“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu wajah : 25
“Mengapa diam? Ayo jawab!’’ suara Hamima menuntut. Kekesalannya menumpuk dalam dada.
Galih terhenyak, mulutnya terkatup rapat. Tak ada sepatah kata terucap, ia memilih diam seribu bahasa.
Emosi yang sudah lepas kontrol, menenggelamkan rasa takut. Hanya ada keberanian minim logika, Hamima menunduk, sekali gerakan ditendangnya tampah sesaji.
Bunga berserak di lantai, telur ayam pecah menabrak dinding. Sumbu lampu minyak seketika mati tertekan lantai. Bau menyengat dari bahan bakar tercium tajam.
“Gila kamu, Mima!’’ Galih baru tersadar dari rasa terkejut. Bak orang ketakutan, ia histeris seraya memungut kelopak bunga, ditaruh lagi ke tampah.
Kecurigaan Hamima bertambah besar, kembali ditendangnya lampu minyak menjauh dari jangkauan pria yang masih mengumpulkan bunga.
Pyarr!!
Galih melempar wadah lampu teplok terbuat dari kaca, benda tersebut langsung pecah. Minyaknya tumpah ke lantai.
Ia berdiri, memandang penuh perhitungan sang istri. “Dari tadi kutahan emosi biar gak bertindak kasar, tapi kamu sengaja memancing terus. Udah hebat, iya?!’’
Kendati hatinya cemas, Hamima berusaha menyimpan rasa takutnya, enggan memperlihatkan ke pria yang berdiri berkacak pinggang seraya memancarkan aura kejam.
Mereka berdiri saling berhadapan, tatapan menghujam, bermusuhan, bukan lagi seperti sepasang suami istri, sering berbagi kasih.
“Aku mau pulang ke rumah orang tuaku. Guntur dan Pujiara kubawa,’’ kata Mima ke intinya.
“Berani kamu bawa mereka tanpa seizinku, bersiaplah jadi janda!’’ ancamnya serius.
Hamima mendengus, membalas ancaman dengan kalimat penuh percaya diri. “Aku tidak takut jadi janda. Tanpamu masih bisa menghidupi anak-anakku. Kamu gak lupa kan, kalau aku ini anak tunggal juragan tembakau di desaku.’’
Tentu Galih ingat, Hamima anak orang kaya, keluarganya disegani. Dia beruntung bisa mempersunting mantan kembang desa itu. Dengan ekonomi pas-pasan, yatim piatu, Mima menerima lamarannya, dan menolak pinangan pemuda kaya.
“Dek, kita bisa bicarakan baik-baik, dengan kepala dingin, gak bersitegang seperti ini,’’ bujuknya bertutur lembut, runtuh sudah kesombongan tadi.
“Cuma ada satu cara, katakan sejujurnya tentang hunian ini!’’ ujarnya tegas.
“Kita keluar dulu, jangan bahas disini.” Galih berniat meraih jemari Hamima, namun tidak berhasil dikarenakan istrinya menghindar.
“Disini, atau tidak sama sekali!” suara Mima tajam, tak mengenal kata tawar menawar.
Bunyi napas kesal campur tidak berdaya terdengar nyaring. Galih akhirnya mulai jujur. “Rumah ini sewaktu Mas beli memang sudah begini. Pun kamarnya juga.”
“Jangan setengah-setengah kalau mau ngasih informasi!” sulit sekali bersabar disaat rasa penasaran berbalut takut berlomba-lomba hendak menguasai.
“Mas jujur, Dek. Apa yang aku lakuin ini bukan ritual tetapi menghormati orang yang sudah meninggal,” ucapnya kemudian.
“Siapa yang meninggal? Ada hubungan apa dia sama kamu sampai mau memberi sesaji? Ini huniannya atau kepunyaannya juragan Sarkam?” cecar Hamima.
“Rumah anaknya yang sudah tiada, tetapi meninggalnya tidak disini. Di kota. Hunian ini dipersiapkan oleh juragan Sarkam sebagai hadiah menyambut kelahiran cucunya,” suara dan mimik wajah Galih tampak jujur.
“Kamu percaya gitu aja, Mas? Gak kepikiran apa gimana kalau seandainya mereka bohong?! Terus kisah rumah ini gak sesederhana yang kita bayangkan?” pemikiran Mima kian kritis, logikanya jalan.
“Jangan paranoid, Mima! Wajar kalau juragan Sarkam menjual rumah ini dengan harga murah, kan sudah Mas jelaskan sedari sebelum membeli, beliau itu kaya raya, kelebihan uang,” ia keukeuh mempertahankan apa yang sudah diyakininya.
Hamima memejamkan mata, percuma bertanya dengan pria keras kepala. Entah apa yang sudah merasuki otak suaminya itu, sulit sekali sekarang diajak berbicara baik-baik.
“Aku cuma mau ngasih tau sekaligus memperingatimu, Mas! Apapun yang bakalan terjadi kedepannya, kemungkinan konsekuensi atas keputusan gegabah mu membeli rumah ini tanpa pikir panjang, gak juga menggunakan akal sehat, semoga cuma kamu yang menanggung akibatnya!” Diinjaknya kelopak bunga Mawar merah muda mulai layu. Mima berjalan angkuh keluar dari dalam kamar.
Galih menyugar rambut ke belakang. “Dasar perempuan gak ngerti laki-laki ya gitu! Dia enak terlahir dari keluarga kaya, gak pernah dicaci maki karena miskin. Lain denganku — hinaan, sindiran sudah makanan sehari-hari sedari kecil sampai sesudah menikah sewaktu belum jadi guru pun kerap kuterima.”
Pria yang bergegas keluar dari dalam kamar, membiarkan saja kekacauan di lantai, menggerutu sepanjang langkah kaki menuju kamarnya.
Pagi itu, Galih tidak sarapan di rumah, enggan pula memberi uang ke istrinya. Setelah memakai seragam dinas, langsung pergi dengan mengendarai motornya.
Hamima keluar dari dalam putranya sewaktu mendengar deru suara mesin. Dia tidak peduli Galih tidak meninggalkan uang belanja, dirinya masih punya tabungan berupa uang tunai yang selalu disembunyikan dengan baik untuk antisipasi.
Sudah pukul setengah tujuh pagi, putra dan putrinya belum bangun, dan dibiarkan saja, Mima masuk ke dalam kamarnya sendiri, lalu membuka pintu lemari pakaian, mengambil selembar foto tersimpan dibawah pakaian dalam.
Potret itu dibawa keluar, dipandangi lekat sambil berusaha mengingat satu wajah tampak tak asing.
“Aku yakin foto ini diambil di rumah ini, tapi dimana letak anak tangganya.” Netranya menunduk memeriksa foto dengan ruangan yang dilewatinya, mencoba mencocokkan kira-kira background dinding tangga warna kuning pucat berada dimana dulunya.
“Kalau ada tangga, berarti rumah ini berlantai dua, kan?” Hamima berhenti tepat di ruang tamu terdapat satu set kursi jati.
Perlahan, teramat lambat wajahnya mendongak, menatap dinding, lalu naik ke atas pada plafon polos berwarna putih.
‘Apa mungkin disana penghubung antara lantai satu dan dua? Terus kenapa ditutup? Terjadi sesuatu kah di loteng sana?’ pikirannya mulai kemana-mana.
Insting yang semula tumpul, kini mulai meruncing buah dari pemikiran kritis, mengedepan logika daripada hati.
‘Dia tidak asing, seperti pernah melihatnya, tapi dimana, dan siapa?” Mimi meluruhkan bokong di atas kursi kayu jati.
Keningnya mengernyit dengan mata memicing meneliti satu sosok gadis belia bergaun terusan motif bunga-bunga.
Rambutnya ikal panjang sepunggungnya dikedepankan, gadis itu memiliki kecantikan natural tanpa sapuan makeup, senyumnya manis dan tertangkap sempurna oleh kamera.
“Bando, bando ini kenapa familiar, ya?” Mima mengerjapkan matanya kuat-kuat, baru setelahnya pandangan tetap fokus ke gadis yang ditaksir masih berumur sekitar 15-17 tahunan.
Bahu Mima terangkat, matanya terbelalak. Satu nama muncul di kepalanya, satu sosok langsung terbayang-bayang, dan bando lilitan kain dikepang, ada manik-maniknya sama persis seperti yang dilihatnya meski beda warna.
Hamima berbisik masih dengan memandangi potret keluarga bahagia. “Dia, apa mungkin dia orang yang sama dengan sosok di foto ini …?”
.
.
Bersambung.
emang laki plin-plan kaya kamu mah pantesnya di buang😂
siap2 galih kamu jadi dudah, eh tapi kan punya istri muda ya, pa dong panggilannya🤔
patut diganti 😆😆😆😆