Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Cemburu, Cuma...
Rencana comblang Sasa gagal total minggu lalu, dan sampai sekarang dia masih ngambek soal itu.
Bukan ngambek ke aku. Ngambek ke semesta, katanya, karena semesta enggak kasih dia kesempatan buat jadi cupid yang sukses. Yang dia lakuin waktu itu sebenarnya sederhana: dia kenalin aku ke temen organisasinya, cowok namanya Yoga, anak Manajemen tingkat dua, tinggi, sopan, katanya lumayan populer juga di fakultasnya. Sasa bilang dia cuma pengen lihat reaksi Rendy kalau ada cowok lain deketin aku.
Reaksinya nol besar. Rendy cuma nanya, "Yoga itu siapa," dengan nada yang sama datarnya kayak waktu dia nanya kenapa harga fotokopi naik seratus rupiah, terus lanjut makan tanpa nunggu jawaban lebih jauh.
"Itu bukan reaksi orang cemburu, Sas," kataku waktu itu, setengah kesal setengah pengen ketawa.
"Aku tau. Makanya aku ngambek."
Aku enggak terlalu mikirin insiden itu lagi setelah kejadiannya lewat. Yoga sendiri sepertinya juga enggak berharap apa-apa, cuma ikut rencana Sasa karena penasaran, dan semuanya berlalu tanpa drama berarti selain Sasa yang misuh-misuh dua hari penuh soal betapa "enggak sensitifnya" manusia bernama Rendy Alamsyah.
Yang aku enggak duga adalah bahwa dua minggu setelah itu, aku bakal ngerasain sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar gagalnya rencana comblang Sasa. Sesuatu yang aku sendiri enggak siap kasih nama.
Hari Rabu, jam sebelas lewat empat puluh, aku jalan ke gedung Fakultas Teknik karena Rendy enggak muncul di meja pojok jam dua belas seperti biasanya, dan enggak ada kabar juga di chat.
Ini bukan pertama kalinya dia telat. Kadang dosennya emang suka nambahin waktu di akhir kelas, atau ada tugas dadakan yang bikin dia harus nyelesain sesuatu dulu sebelum keluar kelas. Biasanya aku tinggal chat, "kamu di mana," dan dia bakal balas dalam lima menit, alasan sederhana, terus nyusul ke kantin.
Kali ini chatku belum dibales sampai sepuluh menit, dan karena aku kebetulan ada waktu luang sebelum kelas siangku mulai, aku memutuskan buat nyamperin langsung ke lantai dua gedung Teknik, tempat biasa kelasnya Algoritma yang aku tau jadwalnya karena, ya, aku emang hafal jadwal dia sama kayak dia hafal jadwalku.
Koridornya rame, mahasiswa lalu lalang antar kelas, dan aku hampir enggak nemuin Rendy di antara kerumunan itu kalau bukan karena aku denger suara ketawa yang aku kenal, agak kaku, agak canggung, tapi jelas ketawa Rendy, dari arah dekat jendela ujung koridor.
Aku noleh ke sana.
Rendy lagi berdiri deket jendela, tas ranselnya masih di punggung, ngobrol sama seseorang yang aku enggak kenal. Cewek, rambut sebahu, kacamata bulat, pakai kaos yang aku kenali gambarnya, karakter dari salah satu anime yang Rendy pernah cerita panjang lebar ke aku waktu SMA, judulnya aku lupa tapi aku inget dia excited banget waktu cerita soal itu.
Mereka berdua lagi megang buku, bukan buku kuliah, tapi manga, dua volume berbeda, dan dari jarak aku berdiri, aku bisa denger sepotong-sepotong percakapan mereka.
"...terus di volume delapan tuh plot twist-nya enggak kekira banget," kata cewek itu, sambil nunjuk sesuatu di halaman yang lagi dia pegang.
"Aku baru sampe volume enam," jawab Rendy. "Jangan spoiler."
"Enggak, ini enggak spoiler, aku cuma bilang plot twist-nya enggak kekira. Itu doang."
"Itu tetep spoiler level rendah."
Cewek itu ketawa, ketawa yang lepas, dan Rendy ikut ketawa juga, ketawa yang jarang banget aku liat keluar buat orang yang baru dia kenal.
Aku berdiri di situ, di ujung koridor, enggak gerak, entah berapa lama, sampai akhirnya Rendy noleh ke arahku, kayak baru sadar.
"Eh, Cahaya." Dia melambai. "Sori, aku ketemu Nadia abis kelas, kita ngobrol soal manga, lupa waktu."
"Oh." Aku jalan mendekat, mencoba senyum senormal mungkin. "Enggak apa-apa."
"Ini Nadia," katanya, nunjuk ke cewek berkacamata itu. "Anak Informatika juga, satu angkatan tapi beda kelas. Kita ketemu di klub anime kampus minggu lalu."
Ada klub anime kampus. Aku baru tau itu.
"Halo," kata Nadia, senyum ramah, mengulurkan tangan. "Kamu Cahaya kan? Rendy sering cerita soal kamu."
"Sering cerita apa?" Aku menjabat tangannya, mencoba terdengar santai.
"Enggak banyak sih," kata Rendy, sebelum Nadia sempat jawab. "Cuma bilang kita temen dari kecil."
"Oh." Aku enggak tau kenapa jawaban itu bikin dada aku sedikit... aku enggak tau kata yang tepat. Sesak, mungkin, tapi sesak yang aneh, enggak kayak sesak biasa. "Kalian ngobrolin apa tadi?"
"Manga," jawab Nadia, dengan antusiasme yang jelas asli. "Ternyata kita suka seri yang sama. Jarang banget nemu orang yang tau seri ini, apalagi cewek."
Kalimat itu sederhana, enggak ada maksud jahat sama sekali, tapi entah kenapa nyangkut di kepalaku lebih lama dari yang seharusnya.
Apalagi cewek.
"Kamu klub anime kampus juga?" tanyaku, mencoba kedengeran cuma penasaran biasa.
"Iya, aku pengurusnya malah," kata Nadia, bangga. "Kalo Rendy mau, dia bisa gabung juga. Kita ada rapat tiap Jumat sore."
"Aku lagi pertimbangin," kata Rendy, dan ada sesuatu di nada suaranya, semacam antusiasme kecil yang aku enggak sering denger, kecuali kalau lagi ngomongin hal-hal yang bener-bener dia suka.
Aku berdiri di situ, ikut senyum, ikut ngangguk, tapi sebagian dari aku lagi sibuk ngitung berapa lama percakapan mereka berlangsung sebelum aku dateng, dan seberapa gampang Nadia masuk ke topik yang butuh aku bertahun-tahun buat bisa ikut nimbrung tanpa keliatan asal-asalan.
"Aku duluan ya," kata Nadia akhirnya, ngelirik jam tangannya. "Kelas jam dua belas. Rendy, nanti WA aku soal jadi gabung klub apa enggak."
"Oke," jawab Rendy.
Nadia jalan pergi, ngelambai sekali ke arah kami berdua, dan aku ngelambai balik dengan senyum yang aku harap keliatan wajar.
"Kamu enggak bilang kamu ikut klub anime," kataku, begitu Nadia udah cukup jauh.
"Aku belum ikut. Baru diajakin minggu lalu." Rendy mulai jalan, dan aku ikut jalan di sampingnya, rute yang biasa ke kantin. "Nadia yang ajak. Dia anak yang cukup asik, ternyata di kelasnya banyak juga yang suka anime tapi malu ngaku."
"Oh."
"Kamu laper enggak? Aku laper banget, tadi kelewat sarapan."
Dan percakapan bergeser gitu aja, ke soal makan siang, ke soal menu kantin hari ini, dan Rendy sama sekali enggak nyadar bahwa sepanjang jalan ke kantin, aku cuma ngangguk-ngangguk tanpa benar-benar denger apa yang dia omongin.
Aku enggak makan banyak siang itu. Soto ayam yang biasanya aku habisin cuma kesentuh setengahnya, dan Sasa, yang duduk di seberang, notice itu duluan sebelum aku sendiri sadar.
"Kamu kenapa?" tanya Sasa, ngunyah rendangnya.
"Enggak kenapa-kenapa."
"Soto kamu masih penuh."
"Lagi enggak laper aja."
Sasa nge-liatin aku lebih lama dari biasanya, alisnya terangkat sedikit, ekspresi yang aku kenal banget sebagai tanda dia lagi nyusun teori. "Rendy," katanya, ke arah Rendy yang lagi asik sama nasi geprek level duanya, "kamu tadi ke mana sih sampe telat?"
"Ketemu Nadia," jawab Rendy, tanpa beban. "Anak klub anime kampus."
"Klub anime? Sejak kapan ada klub anime?"
"Udah lama katanya, cuma enggak terlalu keliatan. Anggotanya sekitar lima belas orang."
"Dan kamu baru tau minggu lalu?"
"Iya, Nadia yang kasih tau. Kita sekelas Algoritma, kebetulan duduk deketan, terus ngobrol soal manga yang kita berdua baca."
Sasa ngelirik ke arahku sekilas, cuma sepersekian detik, tapi cukup buat aku ngerti dia lagi ngamatin reaksiku, dan aku buru-buru nyuap sotoku biar keliatan sibuk makan daripada sibuk mikirin apa pun.
"Nadia orangnya gimana?" tanya Sasa lagi, ke Rendy, dan aku tau dia sengaja nanya lebih jauh, entah buat konfirmasi sesuatu atau cuma penasaran biasa.
"Asik. Cukup nyambung diajak ngobrol soal beberapa seri yang aku suka. Jarang nemu orang yang beneran ngerti detail-detail kecil tanpa harus dijelasin dulu."
Kalimat itu enggak dimaksudkan buat nyakitin siapa pun. Aku tau itu. Rendy enggak akan pernah dengan sengaja bilang sesuatu yang nyakitin, karena dia emang enggak pernah mikir sejauh itu, enggak pernah mikir bahwa kalimat sesederhana "jarang nemu orang yang beneran ngerti tanpa dijelasin dulu" bisa kedengeran kayak sindiran buat orang yang selama ini emang harus belajar diem-diem, riset berbulan-bulan, biar bisa "ngerti tanpa dijelasin dulu" juga.
Tapi tetep aja kedengeran begitu di kepalaku.
"Keren juga ya," kataku, akhirnya, mencoba nada seringan mungkin. "Kamu jadi punya temen yang se-frekuensi."
"Iya," kata Rendy, enggak nyadar sama sekali nada di kalimatku, terus lanjut makan.
Sasa masih ngeliatin aku, dan aku menghindari kontak mata dengan cara pura-pura sibuk ngaduk sisa soto yang udah mulai dingin.
Sore itu, pulang kuliah, aku enggak jalan bareng Rendy seperti biasa.
Bukan karena berantem atau apa. Cuma aku bilang aku ada urusan organisasi dulu, yang sebenernya cuma setengah bener, karena urusannya enggak terlalu penting dan bisa aku tunda, tapi aku butuh alasan buat enggak jalan bareng sore itu.
"Kamu yakin?" tanya Rendy, waktu aku bilang gitu di depan gerbang. "Biasanya kamu udah selesai jam segini."
"Ada rapat dadakan. Enggak lama kok."
"Oke. Hati-hati."
Dia jalan duluan, sendirian, dan aku berdiri di situ sebentar, nontonin punggungnya yang menjauh, sebelum akhirnya jalan ke arah gedung sekretariat organisasi yang sebenernya enggak ada rapat apa-apa sore itu.
Aku duduk di taman kampus, di bangku yang jarang dipake orang, sambil ngeluarin ponsel, buka galeri, dan enggak sengaja nemu foto dari UI Fest beberapa minggu lalu, foto waktu Rendy lagi jahitin kostumku yang sobek.
Aku inget banget perasaan waktu itu. Gimana tangannya yang biasanya kaku dan agak canggung bisa segitu stabilnya waktu megang jarum deket kulitku. Gimana dia fokus banget, enggak peduli orang-orang yang nonton, seolah-olah yang penting cuma satu hal, jangan sampe jarumnya nyentuh aku.
Aku enggak pernah bilang ke siapa pun, bahkan ke Sasa, tapi momen itu salah satu momen yang paling sering aku puter ulang di kepala, kalau lagi enggak ada kerjaan, kalau lagi nunggu sesuatu, kalau lagi enggak bisa tidur.
Dan sekarang, ngeliat foto itu lagi, sambil mikirin Nadia yang bisa dengan gampangnya ngobrol soal manga sama Rendy tanpa perlu riset diem-diem bertahun-tahun, tanpa perlu takut ketauan, tanpa perlu nyimpen kostum di bawah ranjang kayak nyimpen rahasia, aku ngerasain sesuatu yang aku enggak suka ngerasainnya.
Bukan sedih. Bukan juga marah, enggak sepenuhnya.
Lebih ke arah... enggak adil. Rasanya enggak adil bahwa aku butuh waktu bertahun-tahun, jahit sendiri, nonton ulang episode belasan kali, cuma buat bisa dianggep "ngerti" dunia yang Rendy suka, sementara Nadia bisa dapetin pengakuan itu cuma dari satu kali ngobrol di kelas.
Aku menutup galeri, mengunci ponsel, dan duduk diam di bangku itu cukup lama, nontonin mahasiswa lain lalu lalang, sampe langit mulai berubah warna.
"Kamu di mana?"
Chat dari Sasa masuk sekitar jam lima sore.
"Taman belakang gedung Rektorat," balesku.
"Ngapain di situ? Bukannya kamu ada rapat?"
"Enggak jadi. Rapatnya dibatalin."
Beberapa menit kemudian, Sasa muncul, duduk di sebelahku di bangku, bawa dua botol air mineral, satu dia kasih ke aku tanpa ditanya.
"Kamu enggak ada rapat kan," katanya, bukan pertanyaan.
"Gimana kamu tau?"
"Karena aku pengurus organisasi yang sama kayak kamu, Cahaya, dan aku enggak inget ada rapat dadakan hari ini."
Aku enggak jawab, cuma buka tutup botol air mineral, minum sedikit, mencoba nunda momen di mana aku harus jelasin sesuatu yang aku sendiri belum sepenuhnya paham.
"Ini soal Nadia," kata Sasa, bukan pertanyaan juga, lebih ke pernyataan yang dia udah cukup yakin kebenarannya.
"Bukan."
"Cahaya."
"Beneran bukan, Sas."
"Kamu diem-diem aja dari tadi siang. Soto kamu enggak abis, kamu pulang enggak bareng Rendy padahal biasanya selalu bareng, dan sekarang kamu duduk sendirian di taman yang bahkan kamu enggak tau namanya sampe aku sebutin."
Aku enggak bisa bantah fakta-fakta itu, jadi aku diem aja, ngeliatin botol air mineral di tanganku.
"Kamu cemburu," kata Sasa, pelan, tapi tegas.
"ENGGAK." Suaraku keluar lebih keras dari yang aku maksud, dan dua mahasiswa yang lewat noleh sebentar sebelum lanjut jalan. Aku turunin suara. "Enggak, Sas. Aku cuma... capek aja hari ini."
"Cahaya."
"Aku enggak cemburu. Buat apa aku cemburu? Nadia orangnya baik, dia enggak salah apa-apa, dia cuma kebetulan suka hal yang sama kayak Rendy."
"Aku enggak bilang Nadia salah."
"Terus kenapa kamu bilang aku cemburu?"
Sasa menghela napas, ngeliatin aku dengan ekspresi yang campuran antara sabar dan gemas, ekspresi yang biasa dia pake kalau lagi ngadepin aku yang keras kepala. "Karena kamu keliatan kayak abis liat sesuatu yang bikin kamu enggak nyaman, dan satu-satunya hal yang berubah hari ini adalah munculnya cewek baru yang bisa langsung nyambung sama Rendy soal hal yang selama ini cuma kamu yang tau caranya masuk."
Aku enggak jawab itu, karena setiap kata yang mau aku ucapkan buat bantah kedengerannya enggak akan sekuat argumen Sasa.
"Aku enggak cemburu," kataku lagi, lebih pelan kali ini, lebih ke arah meyakinkan diri sendiri daripada meyakinkan Sasa. "Aku cuma... enggak biasa aja liat Rendy segitu excited sama orang lain soal hal yang dia suka. Biasanya excited-nya itu buat aku doang. Bukan cemburu. Cuma enggak biasa."
Sasa enggak langsung nyaut. Dia minum air mineralnya, ngeliatin langit yang mulai oranye, ngebiarin aku duduk dengan kalimat sendiri yang bahkan aku sendiri enggak sepenuhnya percaya.
"Terserah kamu mau nyebut itu apa," katanya akhirnya. "Tapi kalo itu emang bukan cemburu, kenapa kamu enggak samperin mereka tadi terus ikut ngobrol bareng, daripada berdiri jauh terus akhirnya pergi tanpa nyapa?"
Aku enggak inget cerita ke Sasa soal aku berdiri di ujung koridor tadi siang.
"Rendy yang cerita," kata Sasa, ngeliat ekspresiku. "Dia bilang tadinya dia enggak sadar kamu udah di situ dari lama."
Aku diam, ngeliatin genangan air kecil di trotoar deket bangku, refleksi langit sore yang mulai memerah, dan enggak tau harus jawab apa lagi.
"Aku enggak apa-apa, Sas," kataku akhirnya. "Serius."
Sasa enggak percaya, aku bisa liat dari matanya, tapi dia enggak maksa lebih jauh, cuma nepuk pundakku sekali, ngangkat botol air mineralnya kayak bersulang, terus berdiri.
"Ya udah. Aku duluan, ada tugas yang belum selesai. Kamu pulang jam berapa?"
"Bentar lagi."
"Chat aku kalo mau cerita apa-apa ya."
"Iya."
Sasa jalan pergi, dan aku duduk sendirian lagi di bangku itu, matahari makin turun, dan aku ngeluarin ponsel, buka chat sama Rendy yang belum aku bales dari tadi siang, cuma satu pesan yang dia kirim dua jam lalu: "Rapatnya gimana? Udah selesai?"
Aku ngetik beberapa kali, ngehapus, ngetik lagi.
"Udah, baru pulang," akhirnya aku kirim, meski itu enggak sepenuhnya bener.
"Oke. Kamu udah makan malem?"
"Belum."
"Aku juga belum. Mau titip apa enggak, aku mau ke warung Bu Marni."
Aku ngeliatin pesan itu, sesuatu yang begitu biasa, begitu normal, begitu Rendy, dan entah kenapa itu bikin dada aku sedikit lega, meski aku enggak sepenuhnya ngerti kenapa.
"Nasi goreng biasa aja," balesku.
"Oke. Nanti aku anter ke rumah kamu."
"Makasih Ren."
"Sama-sama."
Enggak ada yang berubah, sebenernya. Rendy masih Rendy yang sama, masih perhatian dengan caranya yang khas, masih nawarin bawain makan malem tanpa diminta. Tapi aku enggak bisa berenti mikirin gimana gampangnya Nadia masuk ke percakapan soal manga sama dia tadi siang, gimana ketawa Rendy waktu itu kedengeran begitu lepas, begitu natural, sesuatu yang aku enggak yakin pernah aku denger keluar cuma dari obrolan kita berdua soal hal-hal semacam itu.
Malam itu, di kamar, aku buka notebook lama yang biasa aku pake buat nulis hal-hal yang enggak bisa aku omongin ke siapa pun, bahkan ke Sasa.
Aku buka halaman kosong, pena udah di tangan, tapi aku enggak nulis apa-apa selama beberapa menit, cuma ngeliatin halaman putih itu, mencoba nyusun kalimat yang bisa ngejelasin apa yang aku rasain hari ini tanpa harus make kata yang aku enggak mau make.
Hari ini, aku mulai nulis, lambat, Rendy ketemu temen baru namanya Nadia. Anak klub anime kampus. Mereka nyambung banget soal manga yang mereka berdua suka.
Aku berenti, ngeliatin kalimat itu, terus nulis lagi.
Aku enggak tau kenapa itu bikin aku enggak nyaman. Nadia baik. Enggak ada yang salah dari dia. Rendy juga enggak salah apa-apa, dia cuma seneng nemu orang yang se-frekuensi.
Aku cuma...
Aku berenti lagi. Pena masih nempel di kertas, tinta mulai numpuk jadi titik kecil karena aku diem kelamaan sambil mikir kata apa yang tepat buat nerusin kalimat itu.
Aku cuma enggak biasa liat dia excited kayak gitu ke orang lain.
Aku baca ulang kalimat itu. Terus baca lagi.
Ada satu kata yang terus muncul di kepalaku, kata yang Sasa udah sebut tadi sore, kata yang aku tolak berkali-kali, tapi entah kenapa terus balik lagi kayak bola yang aku lempar tapi selalu mantul balik ke aku.
Aku enggak nulis kata itu di notebook. Aku tutup buku itu, taruh di laci meja, dan berbaring di kasur, natap langit-langit kamar yang gelap.
Bukan cemburu, kataku ke diri sendiri, pelan, hampir kayak mantra. Cuma enggak biasa.
Tapi kalau bukan cemburu, kenapa aku masih inget persis ekspresi Rendy waktu ngobrol sama Nadia tadi siang? Kenapa aku masih inget kalimat "jarang nemu orang yang beneran ngerti tanpa dijelasin dulu" itu berkali-kali, kayak rekaman yang enggak bisa aku stop puter ulang?
Aku enggak punya jawaban buat pertanyaan itu, atau lebih tepatnya, aku punya jawabannya, tapi aku enggak siap buat ngakuin itu, bahkan ke diri sendiri, bahkan di kamar gelap sendirian di mana enggak ada siapa pun yang bisa denger atau ngejudge.
Ponselku bergetar. Rendy.
"Nasi gorengnya udah aku taro di depan pintu rumah kamu. Ketuk aja kalo udah di rumah, aku masih di depan."
Aku buru-buru bangun, jalan ke depan, buka pintu, dan Rendy masih berdiri di situ, dua bungkus nasi goreng di tangan, satu buat aku, satu buat dia, senyum kecil yang khas dia.
"Kirain kamu udah pergi," kataku.
"Aku nunggu kamu buka pintu dulu. Kalo aku taro doang terus pergi, nanti kucingnya tetangga yang makan."
Aku ketawa kecil, nerima bungkusan nasi gorengku, dan buat sesaat, semua pikiran soal Nadia dan ketawa Rendy yang lepas tadi siang menghilang, digantikan sama momen sesederhana ini, Rendy yang berdiri di depan rumahku jam sembilan malam cuma buat mastiin nasi gorengku enggak dimakan kucing.
"Makasih ya," kataku.
"Sama-sama. Makan yang bener, jangan cuma dikit kayak tadi siang."
"Kamu tau aku enggak abis makan siang?"
"Sotomu masih setengah waktu Sasa bilang gitu ke aku sore tadi."
Aku menatapnya, sedikit heran Sasa cerita soal itu, tapi enggak nanya lebih jauh, karena aku enggak yakin aku siap ngobrolin kenapa aku enggak abis makan siang.
"Aku cuma lagi enggak laper aja," kataku, mengulang alasan yang sama kayak siang tadi.
"Oke," kata Rendy, enggak mendesak lebih jauh, seperti biasa. "Ya udah, aku pulang dulu. Besok jam enam empat puluh lima seperti biasa?"
"Iya."
"Malem, Cahaya."
"Malem, Ren."
Dia jalan pulang, dan aku berdiri di depan pintu, natap punggungnya yang menjauh di bawah cahaya lampu jalan, sampai dia belok dan menghilang di ujung gang.
Aku masuk ke rumah, makan nasi goreng sambil duduk di kamar, dan sepanjang makan, pikiranku bolak-balik antara kehangatan momen barusan sama rasa enggak nyaman yang masih nempel dari siang tadi.
Dua perasaan itu enggak saling membatalkan. Mereka ada bareng-bareng, di waktu yang sama, dan aku enggak tau gimana caranya nampung keduanya tanpa salah satunya jadi lebih berat dari yang lain.
Aku menghabiskan nasi gorengku, cuci piring, ganti baju tidur, dan sebelum tidur, aku buka lagi galeri ponsel, ke foto waktu Rendy jahitin kostumku, dan aku natap foto itu lebih lama dari yang seharusnya.
Aku enggak tau kenapa aku butuh liat foto itu lagi malam ini. Mungkin buat ngingetin diri sendiri bahwa apa pun yang terjadi sama Nadia hari ini, momen itu, momen sepuluh menit di UI Fest waktu Rendy fokus penuh cuma buat jangan sampe nyakitin aku, itu tetep ada, tetep terjadi, dan enggak ada yang bisa ngambil itu.
Tapi ada bagian kecil dari aku, bagian yang aku terus coba diemin, yang bertanya-tanya apakah momen semacam itu bakal terus jadi milikku doang, atau apakah suatu hari nanti bakal ada orang lain yang dapetin momen serupa, dengan cara yang lebih gampang, tanpa perlu bertahun-tahun riset diam-diam, tanpa perlu nyimpen kostum di bawah ranjang kayak nyimpen rahasia besar.
Aku mengunci ponsel, matiin lampu, dan berbaring, mencoba tidur.
Bukan cemburu, kataku lagi, ke diri sendiri, ke kegelapan kamar yang enggak akan pernah membantah.
Cuma enggak biasa.
Aku terus ngulang kalimat itu di kepala, kayak berharap kalau diulang cukup banyak kali, kalimat itu bakal jadi bener dengan sendirinya.
Tapi jauh di dalam, di tempat yang bahkan aku sendiri enggak sepenuhnya berani liat, aku udah tau jawabannya, dan aku cuma belum siap buat ngucapinnya, bahkan ke diri sendiri, bahkan di kegelapan kamar jam sepuluh malam, sendirian, dengan nasi goreng setengah dingin yang tadinya diater langsung sama orang yang jadi sumber semua kekacauan perasaan ini.