Indonesia
NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Bab 25: Diskriminasi Rasial, Amarah Hati Iblis, dan Pembantaian di Arena Darah

​Pagi harinya, sinar matahari merayap di antara celah-celah pilar basalt hitam Koloseum Aethelgard. Angin sejuk perbatasan berhembus membawa aroma debu batu dan serbuk tembaga yang samar-samar.

​Di dalam lorong bawah tanah Koloseum, ruang tunggu petarung terasa begitu dingin dan pengap. Ruangan raksasa beratap batu melengkung itu dipenuhi oleh puluhan petarung yang bersiap mengikuti babak eliminasi hari kedua. Mereka duduk di atas bangku-bangku kayu tebal, memoles senjata, mengencangkan tali zirah, atau sekadar bersemedi mengumpulkan mana.

​Di sudut ruangan yang paling remang dan sepi, Ren (Wiliam) duduk bersandar pada dinding batu. Jubah pengembara hitamnya terikat rapi, sarung pedang Pandora’s Eclipse menempel tegap di pinggang kirinya, dan wajahnya tertutup rapat oleh Topeng Bertanduk Iblis. Sepasang mata kelabu di balik celah topeng itu tertutup pelan, menikmati keheningan di tengah bisingnya dentang senjata di sekelilingnya.

​Ren menyapu persepsi jiwanya ke seluruh penjuru ruang tunggu. Ada sekitar empat puluh petarung yang berkumpul. Namun, ada satu hal yang sangat mencolok: tidak ada satu pun petarung dari Ras Manusia murni selain dirinya.

​Seluruh peserta di ruangan itu didominasi oleh ras-ras Beastkin—seperti kaum Beastkin serigala, beruang, harimau, dan badak yang bertubuh raksasa—serta beberapa petarung dari Ras Elf dan Dwarf yang memancarkan aura sihir tebal.

​Mendadak, langkah kaki yang tenang terdengar mendekati sudut tempat Ren duduk.

​Sesosok petarung dari Ras Elf berambut perak pendek dengan zirah kulit hijau gelap berdiri di hadapan Ren. Di pinggang Elf tersebut tergantung dua belati panjang yang memancarkan pendar sihir angin yang sangat padat. Fluktuasi mana yang merembes keluar dari tubuh Elf ini begitu kuat dan stabil—ia berada di Level 17 Murni!

​Elf itu melipat tangannya di dada, menatap topeng bertanduk Ren dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang agak dingin.

​"Hei, Petarung Bertopeng," sapa Elf itu dengan suara yang cukup nyaring, menarik perhatian beberapa petarung Beastkin di sekitar mereka. "Aku belum pernah melihat aura jiwamu di arena ini. Dari ras mana kau berasal? Dan kenapa kau menyembunyikan wajahmu di balik topeng kayu murah itu?"

​Ren perlahan membuka matanya. Di balik topeng bertanduknya, Ren menjawab dengan suara tenang dan datar yang dipelintir oleh dorongan aura:

​"Aku dari Ras Manusia."

​Seketika itu juga—

​Hut... Hahaha...

​Keheningan singkat menyelimuti ruang tunggu, sebelum akhirnya gelombang tawa terbahak-bahak meletus serentak dari seluruh penjuru ruangan!

​"BWAHAHAHAHA! MANUSIA?!" teriak seorang petarung Beastkin bertelinga beruang bertubuh raksasa seraya menggebrak meja kayu hingga retak! "Aku tidak salah dengar, kan?! Seorang Manusia murni mendaftar di Mortal Blood Arena?!"

​"Hahaha! Sungguh lelucon paling lucu di pagi hari!" ceracau seorang petarung dari Ras Beastkin Serigala bertubuh jangkung yang memegang tombak besi. Ia melangkah maju mendekati Ren dengan tatapan penuh penghinaan dan diskriminasi rasial yang begitu kental.

​Petarung serigala ini bernama Vargaz, dan fluktuasi energinya berada di Level 18!

​Vargaz meludah tepat di samping sepatu bot Ren, lalu melipat tangannya seraya menyeringai cemooh.

​"Dengar, Sampah Manusia!" ceracau Vargaz dengan nada menghina yang memekakkan telinga. "Ras Manusia adalah ras paling menjijikkan, paling lemah, dan berumur paling pendek di seluruh planet ini! Kalian tidak memiliki ketahanan fisik alami seperti kaum Beastkin, tidak memiliki keagungan umur panjang dan sihir seperti Ras Elf, dan tidak memiliki bakat penempaan seperti Dwarf! Kalian hanyalah budak dan makanan empuk di benua luar!"

​"Benar sekali!" sahut petarung lain. "Manusia yang masuk ke arena ini biasanya hanya bertahan tidak lebih dari sepuluh detik sebelum kepalanya dipenggal!"

​"Kenapa panitia menerima sampah seperti dia?! Hahaha! Hanya membuang-buang waktu pertandingan saja!"

​Cacian, celaan, dan diskriminasi rasial membumbung tinggi di ruang tunggu. Mereka menatap Ren bagaikan menatap seekor serangga yang melangkah ke sarang serigala.

​Namun, Ren hanya diam terpaku.

​Ia tidak membalas dengan amarah, tidak mencabut pedangnya, bahkan tidak menggeser posisi duduknya sedikit pun. Sepasang mata kelabu di balik topengnya tetap setenang telaga es. Bagi Ren yang telah menembus berbagai batas pertempuran, batakan cemoohan dari makhluk-makhluk yang mengagungkan keunggulan rasial hanyalah angin lalu yang tak berarti.

​Namun, sikap diam dan tenang Ren justru ditafsirkan oleh Vargaz dan para petarung lain sebagai bentuk ketakutan absolut!

​"Lihat! Dia bahkan tidak berani menjawab! Hahaha!" Vargaz semakin menjadi-jadi, menyentuh pelindung tanduk di topeng Ren dengan ujung jarinya secara kasar. "Kalian lihat betapa pengecutnya ras ini?! Manusia hanyalah sampah berumur pendek yang pantas diinjak-injak di bawah telapak kaki kami!"

​Mendadak—

​CLANG-CLANG-CLANG!

​Suara gema lonceng perunggu bertalu-talu dari arah gerbang arena, memutus tawa mengejek para petarung. Seorang panitia bersenjata berteriak nyaring dari atas tangga:

​"Pertandingan Babak Eliminasi Kesebelas! DARKNESS (#404) melawan VARGAZ SANG SERIGALA BESI (#112)! Segera memasuki arena!"

​Vargaz menyunggingkan senyuman sadis yang teramat lebar saat mendengar namanya dipanggil bersanding dengan nama Ren. Ia memutar tombak besinya di udara dengan mahir, lalu menatap Ren dengan binar haus darah yang tak tertahankan.

​"Oho! Beruntung sekali aku!" gelak Vargaz seraya membungkuk pelan di depan wajah ber-topeng Ren. "Dengar baik-baik, Sampah Manusia... Saat kita menginjakkan kaki di pasir arena nanti, aku berjanji akan membuatmu mati tanpa merasa sakit... Aku akan memisahkan kepalamu dari lehermu sebelum kau sempat berteriak minta ampun!"

​Ren berdiri secara perlahan dari bangku kayunya. Tubuh tegapnya berdiri sejajar dengan Vargaz. Di balik topeng bertanduknya, suara Ren bergema dingin:

​"Aku akan menantikannya."

​BOOM!

​Dua pintu besi raksasa yang memisahkan lorong bawah tanah dengan lapangan pasir Koloseum terangkat ke atas!

​Cahaya matahari pagi yang terik langsung menyiram tubuh Ren saat ia melangkah keluar ke tengah arena. Gemuruh suara puluhan ribu penonton di tribun menggelegar bagaikan dentuman guntur yang memecah langit!

​"HADIRIN SEKALIAN!" teriak pembawa acara dari atas panggung sihir melayang. "DI SISI UTARA... PETARUNG BERTAHAN TIGA KALI BERTURUT-TURUT, KEBANGGAAN SUKU SERIGALA... VARGAZ SANG SERIGALA BESI!"

​UWWWOOOOOOHHH!

​Sorak-sorai penonton membumbung tinggi menyambut Vargaz yang melompat ke arena seraya mengacungkan tombaknya secara jumawa.

​"DAN DI SISI SELATAN..." pembawa acara berdehem pelan, membaca lembaran catatannya dengan agak ragu, "...SEORANG PENDATANG BARU BERTONG-TOPENG DARI RAS MANUSIA... DARKNESS!"

​Begitu kata 'Ras Manusia' diumumkan, seluruh Koloseum seketika dihantam oleh gelombang sorakan cemoohan dan ejekan yang teramat sangat masif!

​"BOOOOOO!"

"KAPAL SAMPAH MANUSIA!"

"BUNUH DIA, VARGAZ! BERIKAN KAMI DARAH!"

"LEMPARKAN KEPALANYA KE TRIBUN!"

​Ren berdiri diam di tengah terik matahari dan hujan cacian dari puluhan ribu penonton. Ia menyapu pandangannya secara tenang ke arah Vargaz yang berjarak dua puluh meter di hadapannya.

​Dengan kecerdasan analisisnya, Ren mengevaluasi situasi.

​Tingkatan energi Ren saat ini berada di Level 15 Murni, sedangkan Vargaz berada di Level 18 Murni. Perbedaan tiga level di ranah penempaan fisik adalah jarak yang cukup signifikan.

​Angka Level 18 itu mendadak memicu memori kelam di dalam benak Ren. Pikiran Ren melayang kembali ke masa lalunya di Benua Eldoria—saat Iblis Bangsawan bermata merah yang berada di Level 18 membantai ibunya di depan matanya sendiri! Kenangan pahit akan ketidakberdayaan masa lalu itu merayap pelan, menggetarkan Demon Heart di dalam dadanya.

​'Level 18...' batin Ren seraya memegang gagang Pandora’s Eclipse. 'Dulu aku terlalu lemah untuk menahan ancaman Level 18... Tapi hari ini, di pasir arena ini... aku bukan lagi anak kecil yang menangis itu!'

​GONNNNG!

​Suara gong tanda dimulainya pertarungan bergema di udara!

​"MATI KAU, SAMPAH MANUSIA!"

​Vargaz meledakkan mana serigala di kaki dan tombaknya, melesat maju dengan kecepatan luar biasa bagaikan bayangan hitam! Ujung tombak besinya memancarkan pendar sihir angin yang tajam, menerjang lurus ke arah jantung Ren!

​SWOOSH!

​Namun, alih-alih mencabut pedangnya atau membalas serangan, Ren hanya menggeser kakinya setengah langkah ke kiri secara instan! Ujung tombak Vargaz melesat tipis hanya satu milimeter dari celah jubah Ren!

​"Apa?!" Vargaz terkejut, namun ia segera memutar gagang tombaknya, menebas secara horizontal ke arah leher Ren!

​SWOOSH-SWOOSH-SWOOSH!

​Ren melangkah mundur dengan sangat anggun, meliukkan tubuhnya ke belakang dan membiarkan setiap tebasan tombak Vargaz yang mematikan hanya menghantam udara kosong!

​Dalam dua menit pertama pertarungan, Vargaz melepaskan puluhan tebasan, tusukan, dan gelombang sihir angin yang sanggup merobohkan batu benteng. Namun, tidak ada satu pun serangan yang sanggup menyentuh helai rambut atau kain jubah Ren! Ren bertarung sepenuhnya dengan mode pertahanan total dan penghindaran presisi murni!

​Vargaz mulai terengah-engah, dahinya dibasahi keringat dingin seraya menatap Ren dengan gusar.

​"Bajingan!" amuk Vargaz seraya mengacungkan tombaknya. "Apakah Ras Manusia hanya pandai melarikan diri dan menghindar seperti tikus got?! Mencabut pedangmu saja kau tidak berani, Ha?!"

​Di tribun penonton, rasa tidak puas mulai menjangkiti puluhan ribu penonton yang haus akan darah. Mereka menginginkan pertarungan Brutal, bukan adegan tari penghindaran!

​"BOOOOO! PETARUNG PENGECUT!"

"LAKUKAN SERANGAN, DARKNESS! JANGAN HANYA LARI!"

"SAMPAH MANUSIA BENAR-BENAR MEMBUAT MATCH INI MEMBOSANKAN!"

​Hujan cacian kembali menyiram Ren. Namun, di balik Topeng Bertanduknya, sepasang mata kelabu Ren memancarkan perhitungan yang teramat sangat dingin dan rasional.

​Ren sengaja tidak menyerah di awal. Ia memanfaatkan menit-menit awal ini untuk mempelajari seluruh pola pergerakan, ritme napas, celah kuda-kuda, dan kebiasaan Vargaz saat melepaskan sihir! Di dalam penglihatan analisis Ren, setiap tebasan Vargaz kini memiliki pola garis merah yang sangat mudah diprediksi.

​Dan yang paling penting... Vargaz yang terus-menerus mengamuk melepaskan sihir berat mulai kehabisan stamina dan konsentrasi mana secara drastis!

​'Sekarang...' batin Ren.

​Saat Vargaz melepaskan tusukan tombak keras yang agak melenceng karena kelelahan—

​CRACK!

​Ren menghentikan langkah mundurnya. Kuda-kuda kakinya mencengkeram pasir arena dengan kokoh.

​"Bentuk Ke-7 Pernapasan Pedang Kegelapan: Bayangan Pemecah Gelap (7th Form: Eclipse Rip)!"

​SWOOSH-BANG!

​Ren melesat maju secara instan! Sarung pedang Pandora’s Eclipse belum terlepas penuh, namun dorongan tebasan kecepatan tinggi Ren menghantam rusuk kanan Vargaz dengan sangat keras!

​BLOOD-SPURT!

​"Guh-haak!" Vargaz terdorong mundur belasan meter, menyemburkan darah dari mulutnya saat zirahnya retak dan kulit rusuknya terkelupas!

​Seluruh penonton Koloseum seketika terperanjat bungkam! Serangan pertama dari pemuda Manusia bertopeng itu langsung melukai juara bertahan Level 18!

​Vargaz memegangi rusuknya yang berdarah, matanya membelalak penuh kemarahan mendidih dan rasa malu yang luar biasa!

​"KAU... KAU SERANGANGKU DARI BELAKANG, BASTARD!" raung Vargaz histeris!

​Vargaz meledakkan seluruh sisa energi jiwanya! Pendar aura serigala merah melingkupi tubuhnya secara utuh, membakar staminanya untuk memasuki mode pertempuran berserk!

​"AKU AKAN MEREMUKKAN SETIAP TULANG DI TUBUHMU!"

​Vargaz menerjang Ren dengan kecepatan penuh! Pertarungan sesungguhnya meletus di tengah pasir arena!

​CLANG! BANG! CRASH! BLOOD!

​Kedua petarung kini saling bertukar tebasan dan hantaman secara brutal tanpa ampun! Ren mencabut pedang Pandora’s Eclipse, membiarkan bilah meteorit hitamnya berbenturan langsung dengan tombak besi Vargaz!

​Perbedaan level membuat kekuatan fisik Vargaz lebih dominan dalam benturan jarak dekat. Beberapa kali hantaman tombak Vargaz mengenai bahu dan dada Ren!

​BOOM!

​Ren terhempas keras menghantam dinding batu arena, memuntahkan sekantong darah segar yang membasahi bagian bawah topeng kayunya! Zirah dada Ren retak, dan rasa sakit menusuk organ dalamnya!

​Namun—

​STEP.

​Ren kembali berdiri tegak. Ia mengusap darah di bibirnya di balik topeng, tidak memedulikan rasa sakit sedikit pun. Sepasang matanya menatap Vargaz dengan kegigihan fisik dan mental yang terbuat dari baja murni!

​"Kenapa... Kenapa kau masih bisa berdiri?!" jerit Vargaz gila, napasnya memburu parau. Tubuh Vargaz sendiri telah dipenuhi oleh belasan luka tebasan dalam dari bilah Pandora’s Eclipse. Kedua petarung sama-sama bersimbah darah di tengah arena!

​Vargaz yang mulai ketakutan melihat kegigihan monster di balik topeng Ren, akhirnya kehilangan akal sehat dan pertimbangan moralnya. Ia menyunggingkan senyuman busuk yang penuh provokasi rendah.

​"Hahaha... Lihat dirimu, Sampah!" teriak Vargaz dengan suara melengking menghina. "Tubuhmu hancur! Kau bertarung bagaikan anjing liar yang kelaparan! Katakan padaku, Nak... Apakah ibumu yang murahan itu hanya mengajarimu bertarung secara menyedihkan seperti ini sebelum dia mati membusuk di got?!"

​...

​Momen suara Vargaz selesai bergema...

​Seluruh gerakan Ren terhenti secara absolut.

​Bilah pedang Pandora’s Eclipse yang berada di tangan kanan Ren tidak lagi bergetar. Udara di sekeliling pasir arena mendadak berhenti berhembus.

​Nama 'Ibu'... kata-kata hinaan yang ditujukan pada mendiang ibunya yang telah mengorbankan nyawa demi melindunginya di masa lalu... mendadak menghancurkan benteng pertahanan mental dan ketenangan yang dijaga oleh Ren sepanjang hidupnya.

​THUMP.

​Di dalam dada kiri Ren... Demon Heart (Hati Iblis) berdenyut dengan suara ledakan spasial yang teramat sangat keras!

​RUMBLE... RUMBLE...

​"A... Apa ini...?" Vargaz seketika gemetaran hebat. Senyuman provokasinya musnah, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang belakangnya.

​Dari dalam tubuh Ren, meluap keluar Aura Kejahatan dan Amarah Iblis Purba yang berwarna ungu-hitam pekat! Aura itu melambung tinggi menembus langit Koloseum, memecahkan barrier sihir pelindung arena hingga retak berkeping-keping!

​BOOM-BOOM-BOOM!

​Kemarahan mendidih Ren memicu Evolusi Paksa pada Demon Heart di dadanya! Pusaran energi iblis melahap seluruh pembuluh darah Ren, meledakkan hambatan potensi fisiknya secara drastis!

​[NOTIFICATION: DEMON HEART EVOLUTION TRIGGERED BY EXTREME RAGE!]

[LEVEL UP: LEVEL 15 -> LEVEL 16 -> LEVEL 17!]

​Hanya dalam hitungan tiga detik, tingkatan kekuatan Ren melonjak hebat melompati batas, menerobos lurus ke Level 17 Murni!

​Semakin tinggi tingkat amarah Ren, semakin cepat Demon Heart membakar dan berevolusi, membawa struktur tulang, otot, dan pembuluh darah Ren masuk ke dalam Transformasi Tubuh Iblis Murni (Demonic Body Ascension)!

​Tidak hanya tubuh Ren...

​HUMMMMM!

​Pedang Pandora’s Eclipse di tangan Ren mendadak bergetar hebat dan meraung nyaring! Karena pedang tersebut ditempa dari Logam Meteorit Bintang Jatuh dan Esensi Kotak Pandora oleh Hephaestus, bilah pedang itu berevolusi secara langsung mengikuti transformasi tubuh penggunanya!

​Garis-garis runik keemasan pada bilah pedang berubah total menjadi pendar ungu legam yang memancarkan pendar sihir kehancuran absolut! Ketajaman dan massa berat pedang melipat ganda dalam sekejap!

​Dan di balik celah Topeng Bertanduk...

​Sepasang mata kelabu absolut milik Ren berubah total menjadi sepasang Mata Iblis Berwarna Ungu Menyala (Violet Demon Eyes) yang memancarkan aura predasi mutlak!

​"K-Kau... Kau bukan manusia..." teriak Vargaz histeris seraya melangkah mundur ketakutan hingga tersungkur ke atas pasir! "M-MONSTER! PANITIA! HENTIKAN PERTANDINGAN INI!"

​Namun, suara Vargaz tidak berarti lagi.

​FLASH!

​Ren melenyap sepenuhnya dari realitas pandangan mata!

​Sebelum Vargaz sempat berkedip atau mengangkat tombaknya—

​Ren telah muncul tepat di atas tubuh Vargaz!

​SWOOSH-CRASH!

​Ren mengayunkan pedang Pandora’s Eclipse yang berpendar ungu gila secara membabi buta dan penuh amarah murni!

​Tebasan pertama Ren memotong tombak besi Vargaz menjadi dua bagian bagaikan memotong tahu! Tebasan kedua merobek zirah dada dan meremukkan iga Vargaz!

​"AGHHAAAK!" jerit Vargaz histeris saat Ren mencengkeram lehernya dengan tangan kiri dan membantingnya ke pasir!

​BANG! BANG! BANG!

​Ren bertarung bagaikan pembantai tanpa belas kasihan! Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ren mengayunkan pedang ungunya bertubi-tubi ke arah tubuh Vargaz—memotong kedua tangan Vargaz, meremukkan kakinya, dan meledakkan aura kegelapan yang membakar kulit serigala tersebut!

​Darah segar memercik hebat membasahi pasir arena dan Topeng Bertanduk Ren! Pembantaian sadis itu berlangsung di hadapan puluhan ribu penonton Koloseum yang kini berdiri bungkuk dalam keheningan total yang mencekam! Tidak ada satu pun penonton yang berani bersuara atau mencaci lagi!

​"A-Ampun... Ampunkan aku..." rintih Vargaz parau dengan sisa giginya yang patah, air mata ketakutan mengalir membasahi wajahnya yang hancur.

​Namun, di dalam sepasang Mata Ungu Iblis milik Ren... tidak ada lagi ruang untuk rasa kasihan bagi eksistensi yang telah menghina ibunya.

​Ren mengangkat pedang Pandora’s Eclipse tinggi-tinggi ke atas udara.

​SWOOSH-SLICE!

​Satu tebasan horizontal ungu yang sangat bersih meluncur membelah udara.

​THUD.

​Kepala Vargaz menggelinding di atas pasir arena, memisahkan leher sang juara bertahan selamanya.

​Keheningan absolut menguasai seluruh Koloseum Aethelgard.

​Ren berdiri di tengah pasir arena yang basah oleh darah, memegang pedang ungunya yang meneteskan darah musuhnya. Sepasang Mata Ungu Iblis di balik topengnya perlahan-lahan meredup, kembali menjadi mata kelabu tenang seraya aura amarahnya padam.

​Namun, efek dari evolusi paksa Demon Heart dan luka pertarungan brutal membuat tubuh Ren mencapai batasnya.

​COLLAPSE.

​Ren berlutut di atas pasir, bertumpu pada pedangnya seraya batuk memuntahkan darah segar. Penglihatannya membayang akibat kelelahan fisik dan energi yang terkuras habis.

​Di tengah kesadaran Ren yang mulai memudar... sesosok pria tua bungkuk yang mengenakan jubah celemek kulit melangkah cepat menembus gerbang arena tanpa memedulikan para penjaga Koloseum.

​Itu adalah Hephaestus.

​"Anak bodoh..." gumam Hephaestus dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran seraya mendaratkan tangan kekarnya pada bahu Ren. "Kau benar-benar mengamuk hingga meremukkan pembuluh darahmu sendiri..."

​Hephaestus dengan sigap merengkuh tubuh Ren yang terluka parah, memikulnya di atas bahunya seraya menyembunyikan pedang Pandora’s Eclipse di balik jubah. Pria tua itu menatap dingin ke arah para panitia Koloseum yang terpana, lalu melangkah pergi membawa Ren keluar dari arena menuju gubuk rahasianya.

​Di dalam ruangan bawah tanah gubuk Hephaestus...

​Aroma ramuan obat herbal purba dan uap air panas membumbung tinggi.

​Ren terbaring di atas tempat tidur kayu tebal, tanpa mengenakan topeng dan jubahnya. Seluruh dadanya dibalut oleh perban kain putih yang telah diusapi cairan sihir penyembuh ramuan Hephaestus.

​Hephaestus duduk di samping tempat tidur, menyapu keringat di dahi Ren dengan kain basah.

​Beberapa jam kemudian, jemari Ren bergetar pelan. Sepasang mata kelabu absolutnya perlahan-lahan terbuka, menatap atap kayu gubuk yang familiar.

​"Kau sudah sadar, Ren?" tanya Hephaestus dengan suara yang agak lega.

​Ren mencoba menggeser tubuhnya, meringis pelan saat rasa sakit memar di dadanya berdenyut. "Hephaestus... Aku..."

​"Jangan banyak bergerak dulu," potong Hephaestus seraya menyodorkan semangkuk ramuan obat pahit beruap hangat ke tangan Ren. "Evolusi paksa dari Hati Iblis di dadamu saat kau mengamuk tadi hampir merobek jalur manamu. Jika bukan karena struktur tulang Demigod dan obat penyembuh milikku... kau bisa koma selama sebulan!"

​Ren meminum ramuan obat itu hingga kandas, merasakan cairan hangat yang meredakan rasa terbakar di dalam dadanya.

​Ren menatap jemarinya sendiri, memandangi pedang Pandora’s Eclipse yang bersandar di samping tempat tidur—bilah pedang itu kini memiliki warna keperakan bercampur serat ungu halus yang sangat indah.

​"Aku... berhasil mencapai Level 17," bisik Ren pelan.

​"Ya," sahut Hephaestus seraya tersenyum bangga. "Kau tidak hanya membunuh juara bertahan serigala itu dan membungkam puluhan ribu rasis di Koloseum... tapi kau juga membuktikan bahwa pedang buatan milikku mampu bertahan dari amarah Iblis murni!"

​Hephaestus menepuk bahu Ren lembut. "Istirahatlah malam ini, Anak Muda... Esok hari, babak selanjutnya di Koloseum telah menunggumu... dan namamu kini telah diukir sebagai ancaman sejati di kota ini!"

​Ren menyunggingkan senyuman tipis, menyandarkan kepalanya pada bantal kayu seraya memejamkan mata. Amarahnya telah padam, dilindungi oleh ketenangan baru dan fokus mantap untuk terus melangkah menuju puncak alam semesta.

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!