Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 25
"Dari mana... dari mana kamu tahu semua itu?!" bentak Kevin dengan mata memerah, melangkah maju hingga wajahnya nyaris bersentuhan dengan jeruji besi gerbang.
"Kamu memata-matai saya?! Siapa kamu sebenarnya?!"
"Saya Elian Adrian," sahut Elian dingin tanpa bergeming satu senti pun. Tatapannya lurus menembus manik mata Kevin.
"Pemilik rumah ini. Pria yang memegang keamanan dan keselamatan semua orang yang tinggal di dalam properti saya, termasuk Dilara."
Kevin mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa cemburu membakar dadanya melihat betapa protektifnya Elian terhadap Dilara. Aura kepemimpinan Elian yang begitu dominan dan parasnya yang amat tampan membuat Kevin merasa sangat kerdil sekaligus terancam. Dia juga datang dan ingin bertemu dengan Dilara memang tidak tahu untuk apa.
Dia sudah mentalak Dilara, perceraian mereka tinggal putusan verstek, dia juga bahkan sudah mempersiapkan pernikahan dengan Asha. Lalu kenapa dia ingin sekali bertemu dan bicara dengan Dilara? Apakah dia ingin bertemu hanya karena rasa bersalah karena Dilara pergi tak membawa apa-apa? Atau karena dia mulai menyadari perasaannya yang terlambat? Namun dia juga tak bisa mengatakan tidak cinta kepada Asha.
"Saya tidak ada urusan dengan kamu, Pak Elian!" seru Kevin frustrasi.
"Saya cuma mau bicara dengan Dilara lima menit saja! Tolong panggil dia keluar! Saya punya hak untuk menyelesaikan urusan saya dengannya secara baik-baik!"
"Hak?" Elian terkekeh sumbang, sebuah kekehan dingin tanpa nada humor sedikit pun.
"Hak apa yang kamu maksud, Kevin? Kamu membiarkan dia menanggung dinginnya pernikahan tanpa nafkah batin selama satu tahun. Kamu membawakan wanita lain ke dalam rumahmu, membiarkan wanita itu menekan Dilara, lalu mencampakkannya tanpa memberi sepatah kata pun kesempatan untuk membela diri."
Setiap kata yang meluncur dari bibir Elian bagaikan sembilu yang menyayat ego Kevin. Kevin terhuyung mundur satu langkah, wajahnya pucat pasi.
"Kamu... kamu tidak tahu apa-apa soal hubungan kami!" bisik Kevin parau, suaranya bergetar hebat.
"Saya tahu semuanya," sela Elian dengan penekanan tajam pada tiap kata.
"Saya tahu bagaimana Dilara pergi dari rumahmu tanpa membawa sepeser pun harta milikmu karena dia terlalu bermartabat untuk diungkit di kemudian hari. Saya tahu kamu membiarkannya terluka, lalu sekarang, di saat kamu sedang sibuk memilih gaun pengantin dan memesan catering bersama Asha, kamu berani menyewa detektif murahan untuk melacak tempat tinggalnya?"
Kevin membisu total. Lidahnya mendadak kelu. Seluruh rahasia tergelap dan kelakuannya yang impulsif dikuliti habis-habisan di bawah tatapan mengintimidasi pria di hadapannya.
"Kenapa? Kamu kaget rahasiamu terbongkar?" senyum sinis kembali terukir di bibir Elian.
"Kamu tidak berhak mengusik ketenangan Dilara lagi. Dia berada di sini untuk menyembuhkan luka yang kamu ciptakan, bukan untuk jadi pelampiasan rasa penyesalanmu yang terlambat."
"Apa Dilara mengatakan semuanya?"
"Saya cuma mau minta maaf secara langsung!" teriak Kevin emosional, air mata penyesalan dan keputusasaan menetes di pipinya.
"Saya menyesal, Pak Elian! Saya tidak tahu kalau perbuatan saya sejauh ini menyakitinya! Biarkan saya lihat wajahnya sekali saja!"
"Permintaan maafmu tidak akan merubah kenyataan bahwa kamu sudah membuangnya," tegas Elian, suaranya menusuk hingga ke tulang.
"Dan di rumah ini, Dilara terlindungi dari pria pecundang yang tidak punya pendirian seperti kamu. Dan Dilara bukan wanita rendahan yang membicarakan masalah pribadinya kepada orang lain, apalagi kepada orang yang baru di kenalnya. Aku benci pria pecundang sepertimu! Apa kamu mau menunjukkan kepada Dilara kalau kamu jauh lebih bahagia dengan mantan terindahmu dan akan menikah? Tidak usah beharap! Aku tak akan membiarkan pecundang dan pria bajingan seperti kamu menyakiti wanita. Aku dangan menjungjung tinggi kehormatan seoernag wanita. Apa kamu tidak punya ibu? Adik perempuan? bagaimana kalau hal yang terjadi kepada Dilara, terjadi juga kepada mereka?"
Kevin tak bisa membalas ucapan Elian. Semua ucapannya juga benar, dia adalah pria pecudang dan bajingan. Dia menyakiti wanita sebaik dan selembut Dilara. Dia tak bisa menjadi pria serakah menginginkan Dilara dan Asha secara bersamaan. Elian memiringkan kepalanya sedikit, menatap tajam ke arah dua petugas sekuriti yang berdiri siaga di sampingnya.
"Pak Bambang," panggil Elian datar.
"Siap, Pak Elian!"
"Jika pria ini masih berada di area jalan depan rumah kita dalam tiga hitungan, hubungi kepolisian. Laporkan atas tindakan gangguan keamanan, pelecehan, dan perbuatan tidak menyenangkan."
"Baik, Pak!" Pak Bambang langsung merogoh HT dan ponsel di pinggangnya, melangkah maju membentengi gerbang.
"Pak Elian! Jangan seperti ini! Dilara! Dilara keluar, Ra!" teriak Kevin semakin histeris, menepuk-nepuk pagar besi sebelum petugas sekuriti mulai mendorong tubuhnya menjauh dari area gerbang utama.
"Pergi dari sini sebelum saya menghancurkan nama baik dan bisnis keluargamu," ancam Elian dalam bisikan rendah yang sarat akan dominasi penuh, sebelum akhirnya berbalik badan.
Dengan langkah mantap dan tenang, Elian berjalan melintasi carport menuju pintu utama. Di belakangnya, suara teriakan Kevin perlahan memudar, teredam oleh deru mesin mobil sekuriti yang bersiap mengawalnya keluar dari kompleks.
Saat pintu utama dibuka, Elian menemukan Dilara berdiri beberapa meter di balik lorong foyer. Wanita itu memegang cangkir tehnya dengan erat, matanya menatap Elian dengan raut cemas dan bingung.
"Pak Elian..." suara Dilara terdengar lirih.
"Di luar tadi... ada suara keributan apa?"
Elian menghentikan langkahnya di hadapan Dilara. Tatapan matanya yang semula sekeras baja mendadak melembut seketika saat menyapu wajah tenang wanita di hadapannya. Ia merapikan ujung kemeja hitamnya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang hangat.
"Mantan suami kamu,"
"Apa? Bagaimana Mas Kevin bisa tahu saya bekerja di sini?"
"Tidak usah kepikira, dia tak akan berani lagi datang atau menganggu kamu... Fokus saja dengan pekerjaan kamu bermain dengan Elang,"
Diara menundukkan kepalanya tak berani membalas tatapan dari Elian. Apalagi mereka memang bukan muhrim, namun cara Elian melindungi dan bicara padanya. Dia mareasa aman. Tak di pungkiri, kalau saat ini dia bertemu dengan Kevin, pada akhirya dia akan sulit kembali melupakan rasa sakitnya.
"Baik, terima kasih Pak Elian. Maaf kalau merepotkan anda," Dilara pamit kembali ke ruang tengah bermain bersama dengan Elang. Elian memperhatikan setiap gerak gerik dari Dilara. Cara dia menghindari tatapan dan juga membatasi komunikasi dengan dirinya.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛