Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maaf... Aku Agak Lambat

Dinginnya udara pegunungan Dieng merembes masuk melewati celah jendela kayu, membawa hawa membeku yang menusuk hingga ke dalam tulang. Di atas ranjang empuk, alarm di ponsel Reyna bergetar nyaring, Reyna yang memang dengan suara alarm pun langsung terjaga. Ia menyibak selimut tebalnya, membiarkan kulitnya dihantam hawa dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri seketika.

​Reyna mengusap wajahnya, lalu berbalik menatap Amel yang masih terlelap menggulung diri dalam selimut bagaikan kepompong.

​"Mel... Amel, bangun yuk. Udah mau jam setengah empat," bisik Reyna lembut sembari mengguncang pelan bahu sahabat barunya itu.

​Amel lenguh berat, menarik selimutnya semakin rapat hingga menutup kepala. "Eunggh... dingin banget, Rey... Lima menit lagi ya," gumam Amel dengan suara serak khas bangun tidur.

​"Jangan lima menit lagi, Mel. Kan kita harus jalan sebelum jam empat biar bisa lihat sunrise, nanti kalau telat jalur pendakiannya keburu ramai," bujuk Reyna.

​Mendengar hal itu, Amel akhirnya menyerah. Dengan susah payah ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. "Aduh, demi foto bagus di Sikunir ini mah... Oke, aku bangun!" ringis Amel terkekeh pelan.

​Reyna tersenyum tipis, lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menyikat gigi. Air kran di Dieng di pagi buta rasanya seperti es yang mencair, menusuk kulit wajah Reyna hingga ia terperanjat.

Usai membersihkan diri, Reyna mengenakan pakaian hangat berlapis, kaus tebal di bagian dalam, sweter dan dilapisi jaket parka tahan angin, tak lupa kupluk rajut berwarna krem dan sarung tangan wol yang siap melindungi jemarinya.

Saat Reyna dan Amel keluar dari kamar, bertepatan dengan Agnia yang keluar dari kamarnya.

"Dingin banget, Rey," ucap Agnia.

"Iya, padahal aku pakai baju sama jaket tebel loh," ucap Reyna.

"Yaudah yuk turun, Mas Bagas udah turun bangunin yang lain," ajak Agnia.

"Ayo, aku udah selesai," ucap Amel baru saja keluar dari kamar.

Mereka bertiga melangkah menuruni tangga kayu menuju lantai satu. Di ruang tengah, suasana sudah mulai riuh. Bagas tampak sibuk mengecek perlengkapan dan memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal, sementara Anton berdiri di dekat perapian dengan sarung terbelit di badan dengan wajah yang masih sangat mengantuk.

​"Gue pikir dinginnya bakal biasa aja, ternyata dinginnya Dieng subuh-subuh begini tidak berperi kemanusiaan," keluh Anton seraya merapatkan sarungnya, disambut tawa geli dari Faris yang sudah sigap mengalungkan kamera mirrorless dan memegang tripot.

​Di sudut dekat pintu keluar, Dikta berdiri dengan pakaian hangat bernuansa gelap dan mengenakan jaket tebal bertudung dan sarung tangan. Begitu mendengar derap langkah dari arah tangga, pandangan mata Dikta terangkat dan langsung tertuju pada Reyna. Maniknya meneliti penampilan gadis itu, kupluk rajut berwarna krem yang membingkai wajahnya serta jaket parka tebal yang membalut tubuh rampingnya.

​Saat Reyna tanpa sengaja menatap balik, Dikta tidak memalingkan wajahnya dan justru melangkah mendekat ke arah area dispenser tempat Reyna berdiri.

​"Air hangat?" tawar Dikta tenang, memegang dua termos kecil berukuran sedang.

​Reyna sedikit tersentak, lalu mengangguk canggung. "Ah, iya... Terima kasih,"

​Dikta mengisi termos milik Reyna dengan air panas, lalu menyerahkannya kembali. Jemari mereka sempat bersentuhan sekilas di atas permukaan termel yang dingin, menciptakan sengatan hangat yang membuat dada Reyna berdesir.

​"Jalur menuju Bukit Sikunir cukup menanjak dan angin subuh di atas pasti lebih kencang. Kalau napas kamu terasa sesak atau mual karena dingin, langsung bilang," ucap Dikta lembut namun penuh penekanan.

​Reyna meremas termos di tangannya, menunduk pelan demi menyembunyikan rona hangat di pipinya yang memerah bukan hanya karena hawa dingin. "Iya," jawabnya.

​"Oke semuanya! Karena sudah siap semuanya, jadi kita berangkat sekarang!" seru Bagas.

​Seluruh rombongan bergegas keluar menuju area parkir, pembagian kendaraan tetap sama seperti perjalanan sebelumnya. Reyna kembali masuk ke barisan kursi belakang mobil Dikta bersama Agnia, sedangkan Bagas dan Dikta duduk di bagian depan. Dua kendaraan roda empat itu pun membelah kegelapan subuh kawasan Desa Sembungan, menuju titik awal pendakian Bukit Sikunir.

Pelataran parkir Bukit Sikunir sudah mulai dipadati oleh kendaraan para wisatawan meski hari masih gelap gulita, lampu-lampu sorot dari kedai penjual jajanan hangat serta kilatan cahaya dari senter para pengunjung menjadi satu-satunya penerangan di area bukit tersebut. Hawa dingin kian menusuk, mengembunkan setiap deru napas yang keluar dari mulut mereka.

​"Semuanya siap? Pakai senter ponsel masing-masing ya, tangga pendakian cukup licin karena embun pagi," ujar Bagas memimpin di paling depan bersama Agnia, disusul oleh Aldo, Amel, Faris dan Anton yang terus membuat lelucon demi mengusir kantuk.

​Reyna berjalan di barisan agak belakang, setiap pijakan langkahnya di anak tangga semen dan batu terasa semakin berat seiring dengan kian menanjaknya jalur. Meskipun sudah mengenakan jaket tebal, gempuran angin subuh pegunungan perlahan menembus pori-pori kainnya. Napas Reyna mulai terengah-engah, dada dan tenggorokannya terasa sedikit perih akibat menghirup udara yang teramat dingin.

​Melihat jarak Reyna yang mulai tertinggal beberapa langkah dari Agnia dan Amel, Dikta perlahan menurunkan ritme langkahnya. Ia membiarkan rombongan Bagas berjalan mendahului, hingga posisinya kini berada persis di samping Reyna.

​"Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru," ucap Dikta pelan.

​Reyna menghentikan langkahnya sejenak di selasar anak tangga, memegangi lututnya seraya mengatur napas yang tersengal. "Maaf... aku agak lambat, napasku agak berat kalau kena hawa sangat dingin begini,"

​Tanpa membuang waktu atau meminta izin terlebih dahulu. Dikta merogoh saku jaket tebalnya, mengeluarkan sebuah syal rajut berwarna abu-abu gelap beraroma kayu manis yang maskulin dan hangat. Dengan gerakan yang teramat lembut, Dikta melingkarkan syal tersebut ke leher Reyna, merapikannya hingga menutupi dagu dan leher gadis itu dari terpaan angin.

​Reyna membeku di tempatnya, jarak wajah mereka yang teramat dekat membuat Reyna dapat melihat jelas sorot mata Dikta yang teduh di bawah pendar redup cahaya senter.

​"Gunakan ini, syal ini bisa menahan angin masuk ke saluran pernapasan kamu," kata Dikta tenang usai merapikan simpul syal tersebut.

​"Tapi... nanti kamu yang kedinginan," cicit Reyna ragu, memegang helai syal yang terasa amat hangat dan lembut di lehernya.

​"Saya sudah biasa dengan suhu dingin. Yang paling penting sekarang kondisi kamu," balas Dikta tak terbantahkan.

Dikta kemudian mengulurkan tangan kirinya yang terbalut sarung tangan hitam, "Pegang jaket atau lengan saya kalau merasa licin, kita naik bersama,"

​Reyna menatap uluran tangan itu dengan dada yang bergemuruh hebat, rasa percaya dan kehangatan yang dipancarkan oleh pria di hadapannya perlahan meluluhkan benteng keraguan serta rasa minder yang selama ini membelenggu dirinya. Perlahan, jemari Reyna menyambut pegangan pada lengan jaket Dikta.

.

.

.

Bersambung.....

1
Rizky Manik
bener kata agnia, Dikta kurang gercep jadi kurang greget deh
Felycia Fernandez
gue lagi nggak pengen pacaran katanya...mungkin langsung nikah kali ya 🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Keisengan belaka ya bagusnya
lia juliati
ayo anton pepet terooooosssss,
falea sezi
lagian krja kantoran masak sepatu pesta satu aja kaga punya 🤣🤣 bloon
falea sezi
bodoh resain lah
Rizky Manik
bagus Anton dekatin aja Reyna,aku liat reaksi Dikta kekmana🤭🤭🤭
lanjut thor
Rizky Manik
meleleh adk pak dokter🤭🤭🤭
Sastri Dalila
🤣🤣
Felycia Fernandez
duuuuh Dikta...kamu bisa bisa buat Reyna baper ...katanya nggak mau pacaran
Felycia Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😘😘😘
Syifa Fauziah
so sweet dikta😍
Aidil Kenzie Zie
kok jawabnya terserah sich Dikta biar nggak ada yang curiga ya kalo ternyata ente emang udah ada rasa
Felycia Fernandez
pernah denger sih mie ini,katanya enak banget khas wonosobo
Felycia Fernandez: ntar kk Thor aku cobain kalau ada perjalanan ke daerah sana👍
total 2 replies
lia juliati
bonus 1 update tor😍
lia juliati
bumbu anton seru nih tor😄
Rizky Manik
makin seru ni pdkt antara Dikta sama reyna🤭
lanjut thor
lia juliati
biarin anton deketin Reyna tor.... biar ada bumbunya🤭
Rizky Manik
lanjut thor🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!