Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Angin laut malam berembus kencang membawa aroma garam yang pekat menusuk hidung.
Arya dan Vanya berjalan beriringan menyusuri tepian dermaga pelabuhan tua yang gelap gulita.
Suasana di sekitar dermaga tampak sangat sepi dan jauh dari keramaian kota.
Hanya terdengar suara deburan ombak kecil yang menghantam dinding kayu kapal-kapal tua yang bersandar.
"Apakah kamu yakin kapal penyelundup itu ada di sekitar sini?" tanya Vanya berbisik pelan.
Arya menghentikan langkahnya sejenak lalu mengamati plang kayu bernomor di tiang dermaga.
"Berdasarkan informasi yang kudengar dari obrolan buruh kemarin, kapalnya seharusnya ada di dermaga nomor sembilan," jawab Arya.
Vanya mendengus dingin sambil melipat kedua tangannya di balik jubah hitamnya.
"Informasi dari buruh murahan tidak bisa sepenuhnya dipercaya, Arya," cibir Vanya tajam.
"Makanya kita buktikan sendiri sekarang, daripada berdiri di sini terus kedinginan," balas Arya santai.
Mereka berdua kembali melangkah maju menyusuri jembatan kayu dermaga yang berderit pelan.
Kriet... kriet...
Bunyi papan kayu tua itu bergesekan di bawah sepatu mereka.
Beberapa peti kemas besar tampak bertumpuk tinggi menutupi pandangan ke arah ujung dermaga.
Di balik tumpukan peti itulah sebuah kapal kayu berukuran sedang tampak bersandar tenang.
Lampu lentera kecil menyala kuning redup di atas geladak kapal pencari suaka ilegal tersebut.
"Nah, sepertinya itu kapal yang kita cari," tunjuk Arya ke arah kapal kayu tersebut.
Vanya menyipitkan mata merahnya, meneliti setiap sudut kapal tua yang tampak mencurigakan itu.
"Kapal bobrok itu terlihat seperti akan tenggelam dalam sekali hantaman ombak besar," komentar Vanya pedas.
"Yang penting bisa mengangkut kita pergi dari kota ini, bukan buat dipamerkan ke bangsawan," balas Arya.
Mereka berdua berjalan mendekati titian papan kayu yang menghubungkan dermaga dengan geladak kapal.
Tap... tap...
Derap kaki mereka mendarat di atas lantai kayu geladak kapal yang basah.
Suasana di atas kapal tampak sunyi senyap tanpa ada tanda-tanda aktivitas manusia.
Tiba-tiba, sesosok pria berbadan kekar dengan bekas luka di wajahnya muncul dari balik kabin.
"Siapa kalian berdua malam-malam begini menginjakkan kaki di kapalku?!" bentak pria itu galak.
Pria itu memegang sebilah pisau belati besar di tangan kanannya dengan tatapan mengintimidasi.
Arya tidak gentar, ia maju selangkah ke depan sambil memasang senyum ramah.
"Selamat malam, Kapten, kami penumpang yang ingin menyewa kamar menuju pulau seberang," sapa Arya tenang.
Kapten kapal berbekas luka itu mendengus sinis, memperhatikan Arya dan Vanya dari atas sampai bawah.
"Penumpang? Penumpang macam apa yang datang diam-diam tengah malam pakai jubah mencurigakan?" selidik kapten itu.
"Kami hanya pelancong yang ingin menghindari pemeriksaan pos penjagaan perbatasan," alibi Arya tenang.
Vanya berdiri di belakang Arya dengan aura dingin yang mulai merayap keluar dari tubuhnya.
"Jangan buang waktu bicara dengan manusia bodoh ini, Arya, lebih baik kita ambil kapalnya paksa," bisik Vanya tajam.
Arya segera menyikut lengan Vanya pelan untuk menghentikan niat berbahaya sang Ratu Iblis.
"Diam sebentar, biarkan aku yang urus negosiasinya," bisik balik Arya cepat.
Kapten kapal itu menyipitkan matanya, merasakan ada sesuatu yang aneh dari wanita berzirah jubah di belakang.
"Kalian bukan pelancong biasa, jangan coba-coba membohongi kapten lama sepertiku!" bentak kapten itu mengacungkan belati.
"Baiklah, kami memang buronan istana, lalu kenapa?" aku Arya langsung tanpa basa-basi lagi.
Kapten kapal tertegun sejenak mendengar kejujuran telak yang terlontar dari mulut pemuda di depannya.
Ia kemudian tertawa terbahak-bahak sampai perutnya bergetar hebat.
"Ha-ha-ha! Berani sekali kalian mengaku buronan di hadapan kapten penyelundup buronan!" seru kapten itu mengejek.
"Kalau begitu harganya pasti mahal, sepuluh keping emas untuk tiket dua orang!" sebut kapten itu memeras.
Arya membelalakkan matanya kaget mendengar harga selangit yang disebut sang kapten bajak laut.
"Sepuluh keping emas?! Kamu mau merampok kami ya?!" protes Arya tidak terima.
"Tentu saja, risiko membawa buronan istana sangat tinggi, bayar atau kalian saya lempar ke laut sekarang!" ancam kapten itu.
Vanya sudah kehilangan kesabarannya, kilat merah menyala terang di kedua bola matanya.
"Sudah kubilang, manusia rakus seperti ini tidak perlu diajak bernegosiasi panjang lebar!" murka Vanya.
Sebelum kapten itu sempat mengedipkan matanya, Vanya sudah melesat maju mencengkeram leher sang kapten.
Brak...
Tubuh kapten berbadan kekar itu terangkat ke udara menabrak dinding kabin kapal.
"Uhuk... a-apa ini... lepaskan..." rintih kapten itu kesal dan ketakutan setengah mati.
Belati di tangan pria itu terlepas jatuh ke lantai geladak.
Klentang....
Anak buah kapal yang mendengar keributan langsung berlari keluar dari dalam kabin bawah.
"Kapten! Ada apa di atas?!" teriak tiga orang anak buah kapal membawa senjata.
Mereka terbelalak kaget melihat kapten mereka dicekik oleh seorang wanita berjubah hitam.
"Bos dicekik! Serang wanita itu sekarang juga!" perintah anak buah kapal panik.
Mereka bertiga menerjang maju secara bersamaan dengan membawa pedang pendek berkarat.
Arya menghempaskan napas panjang, lalu maju menyambut terjangan anak buah kapal tersebut.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi pertempuran di atas kapal.]
[Aktifkan skill tempur cepat untuk melumpuhkan musuh tanpa korban jiwa!]
Suara dengungan khas sistem itu berputar kencang di dalam kepala Arya.
Arya melompat ke depan, menghindari sabetan pedang anak buah pertama dengan gesit.
Ia langsung menekan titik saraf di bahu dan siku musuh menggunakan jari tangannya.
Krek...
Sendi tangan anak buah itu bergeser, membuatnya langsung pingsan seketika.
Dua orang anak buah tersisa menatap Arya dengan wajah pucat pasi ketakutan.
"Iblis... anak muda ini penyihir hebat!" teriak anak buah kedua ketakutan.
Arya tidak memberi mereka kesempatan menyerang balik dan langsung menumbangkan mereka berdua.
Brak... dugh...
Dua orang itu ambruk mencium lantai geladak kapal dalam waktu singkat.
Vanya masih mencengkeram leher sang kapten kapal yang wajahnya sudah membiru kekurangan oksigen.
"Sekarang, mau ulangi lagi harga tiket kapal yang tadi kamu sebutkan?" tanya Vanya dingin.
"T-Tidak... gratis... silakan naik secara gratis..." jawab kapten itu terbata-bata ketakutan.
Vanya mendengus dingin lalu melemparkan tubuh kapten itu begitu saja ke lantai geladak.
Gedebuk...
Kapten itu terbatuk-batuk hebat sambil memegang lehernya yang hampir patah.
Arya berjalan mendekati sang kapten sambil merapikan bajunya yang sedikit kusut.
"Makanya jadi orang jangan suka memeras orang miskin yang sedang kesusahan," nasihat Arya santai.
Kapten itu mengangguk cepat-cepat sambil gemetar ketakutan di hadapan mereka berdua.
"Baik, Tuan... saya akan langsung berangkatkan kapal ke pulau seberang malam ini juga," janji kapten itu cepat.
"Bagus kalau begitu, siapkan kamar terbaik di kapal ini untuk kami berdua," perintah Arya.
Kapten bersama anak buahnya yang ketakutan segera bangkit dan berlari menyiapkan mesin kapal.
Vroom...
Mesin kapal kayu tua itu mulai bergetar menyala mengeluarkan asap hitam tipis dari cerobong.
Arya dan Vanya melangkah masuk ke dalam kabin kapal yang bersih dan cukup nyaman.
"Tidak kusangka cara kekerasanmu itu kadang-kadang ada gunanya juga," puji Arya tersenyum tipis.
Vanya mendengus pelan, lalu duduk di atas tempat tidur kecil yang ada di dalam kabin.
"Manusia memang hanya mengerti bahasa kekuatan dan ketakutan," balas Vanya dingin.
[Peringatan Sistem: Misi penyeberangan laut berhasil dimulai.]
[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +15 poin sistem total menjadi 150 poin.]
Suara dengungan sistem itu berputar singkat di dalam kepala Arya tanpa mengganggu suasana.
Kapal perlahan-lahan mulai bergerak meninggalkan dermaga pelabuhan tua menuju lautan lepas.
Ombak malam berembus tenang mengantar pelarian mereka berdua menuju wilayah tujuan baru.
Arya merebahkan tubuhnya di kursi kabin, merasa lelah setelah hari yang sangat melelahkan ini.
Vanya melirik sekilas ke arah Arya yang sudah menutup matanya rapat-rapat karena mengantuk.
"Tidurlah, Arya, biarkan aku yang berjaga malam ini," bisik Vanya lembut tanpa sadar.
Arya tersenyum tipis dalam tidurnya, merasa bahwa pelarian ini tidak lagi terasa begitu berat.