"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 25 Penyesalan itu datang terlambat.
saat ini ... Di Indonesia, matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Jakarta.
Langit berwarna jingga keemasan, tetapi kehangatan itu sama sekali tidak terasa di dalam apartemen Elio.
Klik.
Pintu terbuka. Elio melangkah masuk dengan langkah berat. Kemeja biru mudanya yang sejak pagi melekat di tubuhnya kini tampak kusut. Jas dokternya disampirkan begitu saja di atas sandaran sofa tanpa tenaga.
Bruk.
Tubuhnya jatuh ke sofa. Ia memejamkan mata beberapa detik. Hari ini melelahkan, tapi yang lebih melelahkan justru pulang ke apartemen yang kini terasa seperti bangunan kosong.
Tak ada suara langkah kaki kecil. Tak ada aroma masakan yang memenuhi ruangan. Tak ada suara Kaia yang setiap sore selalu menyambutnya. Kini suara itu justru menjadi suara yang paling ia rindukan.
Elio membuka mata perlahan. Tatapannya mengedar ke seluruh ruangan. Meja makan, dapur, ruang tengah, semuanya masih sama.
Namun semuanya terasa berbeda. Apartemen itu ternyata tidak pernah benar-benar hidup karena furnitur mewah atau lampu-lampu hangatnya.
Kaia lah yang selama ini menghidupkan rumah itu.
Tanpa sadar Elio berdiri.Kakinya melangkah menuju dapur. Seolah tubuhnya masih berharap menemukan secangkir kopi hangat yang biasa sudah tersedia di atas meja.
Namun yang ia temukan hanya meja marmer yang bersih. Dadanya kembali terasa sesak. Ia mengusap wajah kasar.
Baru sekarang ia menyadari... Selama ini ia tidak pernah benar-benar memperhatikan semua perhatian kecil yang Kaia berikan.
Setiap pagi perempuan itu membuatkan sarapan, menyiapkan bekal makan siang.
Mengingatkan jam makan.Bahkan menunggu hingga larut malam hanya untuk memastikan dirinya pulang dalam keadaan baik.
Sementara balasan yang ia berikan hanyalah tatapan dingin, bentakan dan kata-kata yang perlahan menghancurkan hati perempuan itu.
Elio mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras. Penyesalan itu datang terlambat.
Beberapa minggu setelah Kaia pergi... Fadlan akhirnya menunjukkan seluruh bukti yang dia miliki.Semua fitnah yang menyebut Ivanka sebagai perebut suami orang... Ternyata berasal dari Rosmalia.
Perempuan itu sengaja menyebarkan berita palsu melalui perusahaan afiliasinya di Singapura.
Ia memanfaatkan kematian Kiara... Lalu menanamkan kebencian sedikit demi sedikit ke dalam hati Elio.
Dan sayangnya, Elio mempercayainya, tanpa pernah mencari kebenaran. Tanpa pernah memberi kesempatan pada Kaia untuk menjelaskan. Ia menghukum perempuan itu atas dosa yang bahkan tidak pernah dilakukan.
Elio mengembuskan napas panjang. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Jarinya membuka galeri.
Matanya berhenti pada satu foto. Foto yang diam-diam dikirim seseorang sembilan bulan lalu.Kaia dan Sean, duduk berhadapan di sebuah kafe di Singapura. Dulu... Foto itu membuat darahnya mendidih.
Ia merasa dikhianati tapi sekarang, ia justru memandangi wajah Kaia. Perempuan itu sedang tersenyum.
Senyum yang begitu tulus.Senyum yang selama menjadi istrinya nyaris tak pernah berhasil ia pertahankan.
Elio memperbesar foto itu.Ujung jarinya tanpa sadar menyentuh wajah Kaia di layar.Suaranya nyaris tak terdengar.
"...Kamu sekarang di mana, Kaia?"
Sudah sembilan bulan, ia mengerahkan orang-orang terbaik untuk mencari keberadaan Kaia.
Mencari melalui teman-temannya. Klien freelancenya. Rekening bank, rekaman CCTV, bandara, pelabuhan. Bahkan jalur-jalur keberangkatan ilegal.
Namun... Hasilnya nihil. Seolah perempuan itu benar-benar lenyap dari muka bumi.
Elio menundukkan kepala,harus ia akui, kini ia benar-benar merasa telah kehilangan seseorang yang seharusnya paling ia jaga.
Dan ia bahkan tidak tahu... Bahwa pada saat yang sama, ribuan kilometer dari Indonesia... Dua bayi mungil yang memiliki mata sangat mirip dengannya... Baru saja lahir ke dunia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga bulan berlalu sejak Ocean dan Sea lahir ke dunia.Kedua bayi kembar itu tumbuh sehat dan menggemaskan.
Pipi mereka semakin chubby dengan lipatan-lipatan lembut di lengan dan paha mungilnya.
Berat badan keduanya bahkan sudah hampir mencapai delapan kilogram, membuat Kaia sering terkekeh saat mengangkat mereka bergantian.
Mengurus dua bayi sekaligus memang bukan perkara mudah. Untungnya ada Mbak Rini yang setia membantu.
Meski begitu, Kaia tetap ingin terlibat dalam setiap hal kecil tentang anak-anaknya. Mulai dari mengganti popok, memandikan mereka, menidurkan saat rewel, hingga menyusui di tengah malam.
Sangat melelahkan memang... Namun setiap kali melihat senyum kecil kedua buah hatinya, semua rasa lelah itu seolah menguap begitu saja.
Kini hidupnya tak hanya diatur oleh tenggat proyek atau rapat bersama klien. Melainkan oleh jam menyusu, jadwal tidur, dan tangisan si kembar yang selalu berhasil membuatnya bergegas meninggalkan layar laptop.
Musim semi telah berganti menjadi musim panas. Udara Slovenia terasa lebih hangat. Cahaya matahari siang menyelinap masuk melalui jendela ruang kerja Kaia, menerangi layar laptop yang dipenuhi deretan kode program.
Setelah menyelesaikan proyek untuk salah satu klien Eropa, Kaia mengembuskan napas lega. Ia menyimpan pekerjaannya, lalu menutup laptop perlahan.
Baru saja ia hendak meregangkan tubuh... Tangisan bayi terdengar dari kamar sebelah.
"Wuaa...aa..."
Kaia spontan berdiri. Senyum hangat langsung terbit di bibirnya. Langkahnya bergegas menuju kamar bayi.
Di dalam sana, Ocean menangis cukup keras. Kedua kaki mungilnya menghentak-hentak kasur, wajah bulatnya memerah, sementara jemari kecilnya terus mencari sesuatu untuk diisap.
Berbeda dengan saudara kembarnya. Di ranjang bayi berwarna merah muda, Sea masih terlelap pulas dengan kedua tangan terangkat di samping kepala, sama sekali tak terganggu oleh suara tangisan Ocean.
Kaia terkekeh pelan. "Sea kalo tidur nyenyak banget, deh.Kakaknya nangis kejer, nggak kebangun sama sekali."
Ia menghampiri Ocean, lalu mengangkat tubuh gembul putranya dengan hati-hati.
Tangisan itu langsung mereda begitu Ocean berada dalam pelukan ibunya.
"Lapar ya, Sayang? Hm?" bisik Kaia sambil mengusap lembut pipinya.
"Aaa..." Ocean mengoceh pelan seolah menjawab pertanyaan ibunya.
"Iya... iya... Mama tahu. Sabar ya."
Kaia duduk di kursi khusus menyusui dekat jendela. Ia menyandarkan punggungnya, lalu perlahan membuka pengait bajunya.
Begitu Ocean mulai menyusu dengan lahap, suara tangisan tadi berubah menjadi bunyi tegukan kecil yang terdengar begitu menenangkan.
Kaia menunduk sambil tersenyum. "Mimpi apa sih kamu, Nak? Sampai bangun langsung kelaparan begini."
Ocean terus menyusu tanpa memedulikan ocehan ibunya.Sesekali tangan mungilnya bergerak, mencubit-cubit pelan dada Kaia, membuat perempuan itu terkekeh geli.
"Aduh... kuat banget, sih." Ia meraih jemari mungil itu, lalu mengecupnya berkali-kali.
Tatapannya kemudian menelusuri wajah putranya.Semakin hari... Ocean semakin mirip seseorang.
Bentuk matanya, garis hidungnya, kulit putih bersih yang diwarisi dari darah Korea keluarga Meganthara.
Dada Kaia perlahan terasa sesak. Bayangan Elio kembali hadir tanpa diminta. Suara dingin pria itu kembali terngiang jelas di telinganya.
Tentang bagaimana Elio ingin menghilangkan nyawa di dalam rahimnya jika itu terjadi.
Tanpa sadar pelukan Kaia pada Ocean semakin erat. Air matanya perlahan menggenang.
Andai waktu itu ia tetap bertahan dalam rumah tangga yang penuh luka...
Mungkin ia tak akan pernah bisa memeluk dua malaikat kecil ini. Ia mengecup dahi Ocean lama.
"Terima kasih ya..."
Suaranya bergetar. "Terima kasih sudah hadir untuk melengkapi hidup Mama. Kalian adalah anugerah terbesar yang dititipkan untuk Mama."
Jemarinya mengusap rambut lurus Ocean dengan penuh kasih sayang. "Maaf ya, Sayang... Mungkin kalian tidak akan pernah tahu siapa Papa kalian."
Kaia menelan ludah. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Tapi Mama janji... Mama akan melindungi kalian. Mama akan melakukan apa pun supaya tidak ada seorang pun yang menyakiti kalian."
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR 😊*
*ig@putri_miceela.*
kenapa pula Elio masih memikirkan Kaia? kan selama ini kamu ga pernah menganggap kehadiran Kaia, kamu masih menyalahkan Kaia atas kematian Kiara