GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Motor Revo dan Kode Rahasia Kuitansi Bensin
DUARRR!
Sebuah granat kejut (flashbang) meledak di depan pintu utama Kedai Kopi Berkutut, menyemburkan cahaya putih menyilaukan dan gelombang suara memekakkan telinga yang langsung merontokkan sisa-sisa kaca jendela kedai. Asap putih tebal mengepul seketika, memenuhi ruangan kecil itu dengan bau belerang yang menyengat.
“Tiarap!” bentak Siska tajam. Dalam sepersekian detik, agen elit itu melompati meja bar, menembakkan dua peluru bius ke arah kusen jendela atas tempat dua agen Interpol hendak menerobos masuk.
Bruk! Dua tubuh aparat jatuh terpental ke luar.
Senja tidak tinggal diam. Menggunakan puntung pipa besi dan sisa pecahan porselen, ia membabat tirai jendela hingga roboh, lalu menarik kerah baju suaminya sekuat tenaga. “Gala! Bangun! Jangan malah meluk-meluk kalkulator di tengah perang!”
Gala, yang matanya berair karena gas air mata dan ketakutan tingkat dewa, merangkak cepat sambil menyeret dokumen akta notaris berstempel emas. “Iya, iya! Nyawa saya lebih penting daripada kalkulator! Tapi motor Revo saya di parkiran belakang jangan sampai lecet, ya!”
Vanya, mantan eksekutor The Black Press yang kini resmi menjadi buronan pelarian bersama mereka, mengisi ulang magasin senapan serbunya dengan gerakan kilat. “Kalian mau mati romantis di sini atau mau kabur? Pasukan Interpol sudah mendobrak pintu belakang!”
“Lewat dapur!” perintah Siska tanpa keraguan.
Siska menendang pintu kayu dapur hingga tercabut dari engselnya, membuka jalur pelarian langsung ke gang sempit di belakang kedai kopi. Di sana, terparkir sebuah kendaraan operasional paling legendaris di muka bumi: sebuah motor bebek Honda Revo tahun 2012 warna hitam dengan stiker luntur bertuliskan ‘Dilarang Merokok di Dekat Tangki’, lengkap dengan keranjang sayur di bagian belakangnya.
Gala menatap motor kesayangannya itu dengan mata berkaca-kaca penuh haru. “Ah... motor kesayangan saya... Kamu masih setia nungguin saya di saat susah maupun senang...”
“Gala! Jangan ngajak ngobrol motor! Cepat naik!” teriak Senja sambil melompat membonceng di belakang, sementara Vanya dan Siska saling berpandangan dengan ekspresi ngeri melihat moda transportasi pelarian mereka.
“Kita bertiga—ralat, berempat—mau kabur dari kejaran Interpol pakai motor bebek?! Ini bukan adegan sinetron kejar-kejaran tukang ojek online!” protes Vanya tidak percaya.
“Sudah naik saja! Kapasitas muatan maksimal Revo ini sudah teruji membawa galon air dan tabung gas sekaligus!” bela Gala sambil memutar kunci kontak. Bremmm... brem-brem-brem! Mesin motor tua itu menderu batuk-batuk, mengeluarkan sedikit asap hitam sebelum akhirnya hidup stabil.
Siska, dengan gerakan akrobatik yang anggun, melompat membonceng paling belakang di belakang Senja, sementara Vanya terpaksa berdiri di atas pijakan kaki samping motor dengan posisi siap menembak ke arah belakang.
“Jalan, Gala! Mereka datang!” seru Siska saat melihat barisan mobil taktis Interpol mulai berbelok memasuki gang sempit.
NGIIIK—!
Gala menarik gas dalam-dalam. Honda Revo hitam itu melesat memecah gang sempit Jakarta Selatan, melompati tumpukan sampah, menyenggol gerobak tukang siomay hingga kerupuknya berhamburan ke udara, dan meluncur bebas ke jalan raya utama di tengah kemacetan total jam kantor.
Sirene mobil patroli Interpol dan suara helikopter bergemuruh di belakang mereka, mengejar konvoi motor bebek paling absurd abad ini.
“Belok kiri ke jalan tikus pasar ikan! Cepat!” komando Siska sambil memegang tablet taktisnya, memantau posisi satelit musuh.
Gala membanting setang motor dengan brutal, memotong jalur busway, nyaris menabrak pengendara ojek online yang sedang asyik main HP, lalu masuk ke lorong pasar tradisional yang padat merayap. Ibu-ibu penjual sayur berteriak histeris, melompat menyelamatkan keranjang cabai mereka saat motor Revo itu melintas kencang seperti roket darurat.
Di tengah kejar-kejaran maut di atas motor bebek tua yang bergetar hebat, Vanya yang duduk paling belakang mendadak membuka map merah akta notaris peninggalan Pak Joko yang sejak tadi dipegang erat oleh Senja.
“Hei! Tadi kalian bilang utang lima miliar dolar itu bikin kita bangkrut, kan?!” teriak Vanya setengah berteriak melawan angin kencang.
Senja berpegangan erat pada pinggang Gala, menoleh ke belakang. “Iya! Kenapa emangnya?! Mau nangis bareng?!”
“Bukan mau nangis!” Vanya merobek sampul tebal akta notaris tersebut dengan tangannya yang bersarung taktis. Di balik lapisan kardus sampul, terdapat amplop kecil tersembunyi dengan stempel rahasia berwarna hitam legam bertuliskan: HAK CIPTA & KLAIM REVIU KEUANGAN.
“Pak Joko tidak mungkin sebodoh itu meninggalkan utang tanpa jalan keluar!” seru Vanya sambil membaca kertas di dalam amplop itu di bawah terik matahari jalanan. “Ini... ini bukan surat utang murni! Ini adalah dokumen pengalihan aset pajak siluman!”
Gala melirik sekilas dari kaca spion motor yang separuh copot. “Maksudnya gimana, Mbak Vanya?! Jangan bikin pusing, rem tangan motor saya lagi blong nih!”
“Angka lima miliar dolar itu adalah nominal fiktif yang sengaja dicatatkan Pak Joko untuk menipu sistem audit pajak internasional!” jelas Vanya dengan mata membelalak penuh pencerahan. “Dan rekening offshore di Cayman itu benar-benar ada isinya... tapi brankasnya hanya bisa dibuka dengan satu kata sandi unik yang nilainya cocok dengan selisih keuangan terbesar dalam hidup Tuan Gala Prasetya!”
Gala mengerjap-ngerjap bingung di atas setang motor. “Selisih keuangan terbesar dalam hidup saya? Maksudnya apa? Tagihan cicilan panci pancawarsa? Atau harga kopi sachet?”
Siska, yang duduk paling belakang sambil mengarahkan senapan ke arah mobil Interpol di kejauhan, tiba-tiba terdiam. Otak jeniusnya langsung menghubungkan titik-titik petunjuk tersebut.
“Gala,” panggil Siska serius. “Berapa total nominal uang dari seluruh kuitansi klaim bensin Honda Revo yang pernah kamu ajukan ke Pak Joko selama lima tahun bekerja di Suara Fakta... dan ditolak terus?”
Gala tertegun sejenak. Ia mengingat-ngingat tumpukan kertas kuitansi di laci meja kerjanya yang tidak pernah di-approve oleh sang Pemimpin Redaksi.
“Euh... kalau dihitung dari tahun 2021... totalnya sekitar... Rp 37.500.000 (Tiga Puluh Tujuh Juta Lima Ratus Ribu Rupiah),” jawab Gala dengan nada bingung.
Vanya langsung mengecek baris angka di dokumen rahasia tersebut. Matanya membelalak lebar, lalu ia tertawa lepas di tengah deru angin kencang.
“Tepat! Sandi pembuka brankas Cayman senilai lima miliar dolar itu adalah nominal persis dari klaim bensin Honda Revo kamu yang tidak pernah dibayar oleh Pak Joko!” seru Vanya histeris. “Pria tua licik itu sengaja menahan klaim bensinmu selama bertahun-tahun karena dia tahu nominal itu akan dijadikan kunci enkripsi darurat kekayaan sindikat!”
Senja membelalakkan matanya, lalu menepuk punggung suaminya keras-keras. “Gala! Motor Revo jelek kesayangan kamu ini... ternyata secara harfiah adalah kunci brankas kekayaan triliuner global?!”
Gala hampir melepaskan setang motor karena terlalu kaget. “HAH?! Jadi selama ini alasan Pak Joko galak dan pelit nolak uang bensin saya... bukan karena dia kikir... tapi karena dia lagi nyiapin brankas rahasia?! Sumpah, jurnalis investigasi mana pun nggak bakal bisa nebak plot twist sekeji ini!”
Di belakang mereka, tiga mobil taktis Interpol semakin mendekat, menyalakan sirine meraung-raung dan bersiap memotong jalur motor Revo di tikungan jalan pelabuhan Sunda Kelapa.
“Kita kejar waktu! Masukkan kata sandi itu ke sistem terminal darurat di tablet saya sekarang, atau kita semua bakal diciduk sebelum sempat narik uangnya!” perintah Siska sambil melepaskan tembakan peringatan ke arah ban mobil depan Interpol.
DOR!
Mobil taktis pertama kehilangan kendali dan berputar arah menabrak tumpukan peti kemas. Namun dua mobil lainnya masih mengekor ketat.
Gala memelintir gas motor Revo-nya hingga maksimal, melompat menaiki jembatan pelabuhan, sementara Senja di jok belakang dengan sigap mengetik angka ‘37500000’ ke dalam tablet Siska yang terhubung secara nirkabel dengan sistem global Cayman.
BIP—BIP—BIP—KLAIK!
Layar tablet mendadak berubah menjadi warna hijau menyala terang. Sebuah notifikasi besar muncul di layar:
AKSES DITERIMA. REKENING OFFSHORE CAYMAN: $5.000.000.000 TELAH DITRANFER PENUH KE ATAS NAMA: GALA PRASETYA.
SELAMAT DATANG, TUAN PEMILIK BARU.
Seketika, seluruh sistem komunikasi radio di mobil-mobil Interpol yang mengejar mereka mendadak mati total, terputus oleh sinyal satelit enkripsi baru yang diambil alih sepenuhnya oleh Gala.
Gala tertawa terbahak-bahak di atas motor bebek tuanya, merasa seperti raja jalanan yang baru saja memenangi lotre semesta. “Ha-ha-ha! Lima miliar dolar, Mbak Vanya! Lima miliar dolar! Sekarang kita bisa beli pabrik Honda Revo-nya langsung!”
Namun, sebelum euforia mereka mencapai puncaknya, langit di atas pelabuhan Sunda Kelapa mendadak menjadi gelap. Bukan karena awan mendua, melainkan karena tiga unit helikopter tempur militer tanpa identitas muncul dari balik cakrawala laut, mengarahkan moncong meriamnya tepat ke arah jembatan tempat motor Revo mereka melaju.
Dan dari pengeras suara helikopter terdepan, sebuah suara bariton yang sangat dingin dan tidak asing lagi terdengar menggema keras:
“Permainan belum selesai, anak-anak bodoh. Serahkan kuncinya, atau kalian akan menjadi abu bersama motor bebek rongsokan itu.”
Sosok di balik helikopter itu... ternyata bukanlah Interpol, melainkan seseorang yang seharusnya sudah tewas terkubur di dasar kawah Gunung Salak!