Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Masa Lalu Liān Huā
Malam semakin dalam.
Di ruang kerja pribadi, Yuán Zhēn masih berdiri di depan meja dengan keping batu giok berada di antara kedua jarinya.
Benda itu kecil.
Sederhana.
Namun entah mengapa, semakin lama ia memandangnya, semakin kuat perasaan bahwa benda tersebut menyimpan sesuatu yang sangat penting.
Liān Huā berdiri di sisi meja.
“Apakah kau pernah melihat lambang seperti itu?”
Yuán Zhēn menggeleng.
“Tidak.”
“Tidak ada di antara lambang keluarga bangsawan?”
“Tidak.”
“Lalu organisasi militer?”
“Tidak juga.”
Liān Huā mengerutkan kening.
“Kalau begitu, siapa yang menggunakannya?”
“Itulah yang ingin aku ketahui.”
Yuán Zhēn meletakkan batu giok tersebut di atas meja.
“Aku sudah mengirim orang untuk mencari tahu.”
Liān Huā mengangguk.
Namun wajahnya terlihat semakin serius.
“Zhēn.”
“Ya?”
“Orang yang memberikan dokumen itu berkata bahwa kau harus mencari orang yang masih tinggal.”
Yuán Zhēn mengangguk.
“Benar.”
“Dan sekarang kita menemukan batu giok dengan lambang yang tidak dikenal.”
“Benar.”
“Menurutmu, apakah keduanya berhubungan?”
Yuán Zhēn terdiam cukup lama.
“Mungkin.”
Ia kemudian memandang Liān Huā.
“Tapi ada sesuatu yang lebih menggangguku.”
“Apa?”
“Orang itu secara khusus mengatakan bahwa kau harus tetap hidup.”
Liān Huā terdiam.
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.
Liān Huā harus tetap hidup.
Mengapa?
Siapa orang itu?
Dan mengapa seseorang yang bahkan tidak menampakkan wajahnya begitu peduli terhadap keselamatannya?
Liān Huā menundukkan kepala.
“Aku juga ingin mengetahui jawabannya.”
---
Keesokan paginya, Yuán Zhēn menerima laporan dari salah satu mata-matanya.
“Yang Mulia.”
Seorang pria berpakaian sederhana berlutut di hadapannya.
“Aku menemukan sesuatu mengenai lambang batu giok itu.”
Yuán Zhēn langsung menatapnya.
“Bicara.”
“Lambang tersebut pernah digunakan oleh sebuah kelompok yang sudah lama dibubarkan.”
“Kelompok apa?”
Pria itu ragu sejenak.
“Namanya... Paviliun Yún.”
Yuán Zhēn mengerutkan kening.
“Paviliun Yún?”
“Benar.”
“Siapa mereka?”
“Menurut catatan lama, mereka bukan kelompok pemberontak maupun pasukan kerajaan.”
“Lalu?”
“Mereka adalah kelompok yang bertugas melindungi keluarga-keluarga tertentu yang berada dalam bahaya.”
Yuán Zhēn terdiam.
“Sudah berapa lama mereka menghilang?”
“Sekitar dua puluh tahun.”
“Dua puluh tahun?”
“Benar.”
Yuán Zhēn berdiri.
“Apakah masih ada anggota yang hidup?”
“Tidak diketahui.”
“Dan lambang itu?”
“Dulu hanya diberikan kepada anggota inti.”
Yuán Zhēn menatap batu giok di atas meja.
“Cari semua catatan tentang Paviliun Yún.”
“Baik.”
“Dan cari hubungan mereka dengan keluarga kerajaan.”
Pria itu tampak ragu.
“Ada satu catatan yang mungkin menarik, Yang Mulia.”
“Apa?”
“Paviliun Yún pernah melindungi seseorang yang melarikan diri dari istana.”
Yuán Zhēn langsung menatapnya.
“Siapa?”
“Catatannya tidak menyebutkan nama.”
“Kenapa?”
“Bagian itu sengaja dihapus.”
Yuán Zhēn mengepalkan tangan.
“Cari salinan yang lain.”
“Baik.”
---
Di kediaman Liān Huā, pagi itu berjalan seperti biasa.
Namun Liān Huā merasa sesuatu berubah.
Sejak bangun tidur, pikirannya terus dipenuhi bayangan masa lalu yang samar.
Ia mencoba mengingat masa kecilnya.
Wajah-wajah yang pernah ia lihat.
Tempat-tempat yang pernah ia datangi.
Namun setiap kali mencoba mengingat lebih dalam, kepalanya justru terasa berat.
Xiǎo Yàn yang sedang merapikan rambutnya memperhatikan perubahan itu.
“Nona?”
Liān Huā tersadar.
“Ya?”
“Anda melamun.”
Liān Huā tersenyum kecil.
“Aku hanya mencoba mengingat masa lalu.”
Xiǎo Yàn berhenti menyisir.
“Masa lalu?”
“Ya.”
“Kenapa tiba-tiba?”
Liān Huā menatap cermin.
“Aku menemukan sesuatu yang membuatku merasa mungkin ada bagian dari masa laluku yang tidak kuketahui.”
Xiǎo Yàn tampak bingung.
“Apa?”
Liān Huā hendak menjawab.
Namun tiba-tiba ia melihat sesuatu di lehernya sendiri.
Sebuah liontin kecil yang selama ini selalu dikenakannya.
Liontin tersebut diberikan kepadanya sejak ia masih kecil.
Ia tidak pernah mengetahui dari mana asalnya.
Liān Huā menyentuhnya.
“Xiǎo Yàn.”
“Ya?”
“Siapa yang memberiku liontin ini?”
Xiǎo Yàn berpikir.
“Nona sudah memilikinya sejak saya mengenal Anda.”
“Bukan itu maksudku.”
Liān Huā menggenggam liontin tersebut.
“Siapa yang memberikannya pertama kali?”
Xiǎo Yàn menggeleng.
“Saya tidak tahu.”
Liān Huā terdiam.
Selama bertahun-tahun ia tidak pernah mempertanyakan benda itu.
Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa liontin tersebut mungkin bukan sekadar perhiasan.
Ia membuka bagian belakangnya.
Ada ukiran kecil.
Selama ini ia tidak pernah menyadarinya.
Matanya membesar.
Ukiran itu sama dengan lambang pada batu giok yang ditemukan Yuán Zhēn.
---
Di ruang kerja, Yuán Zhēn sedang membaca laporan ketika seorang penjaga datang tergesa-gesa.
“Yang Mulia!”
“Ada apa?”
“Nona Liān Huā meminta Anda datang segera.”
Yuán Zhēn langsung berdiri.
“Kenapa?”
“Katanya... ia menemukan sesuatu.”
---
Beberapa saat kemudian, Yuán Zhēn tiba di kediaman Liān Huā.
Ia melihat gadis itu berdiri di tengah ruangan dengan liontin berada di telapak tangannya.
“Apa yang terjadi?”
Liān Huā mengangkat liontin tersebut.
“Lihat.”
Yuán Zhēn mendekat.
Begitu melihat ukiran di belakangnya, wajahnya berubah.
“Itu...”
“Lambang yang sama.”
Yuán Zhēn mengambil batu giok dari sakunya.
Ia membandingkannya.
Keduanya benar-benar sama.
Liān Huā menatapnya.
“Sekarang kita tahu lambang itu berhubungan denganku.”
Yuán Zhēn tidak menjawab.
Ia justru bertanya,
“Dari mana kau mendapatkan liontin ini?”
“Sejak kecil.”
“Siapa yang memberikannya?”
“Aku tidak tahu.”
“Apakah ada orang yang pernah menjelaskan?”
“Tidak.”
Yuán Zhēn terdiam.
Kemudian ia berkata,
“Kita harus mencari tahu.”
Liān Huā mengangguk.
Namun sebelum mereka sempat melanjutkan pembicaraan, terdengar suara gaduh dari luar.
Para penjaga berlari.
Yuán Zhēn langsung keluar.
“Ada apa?”
Seorang penjaga membungkuk.
“Yang Mulia, kami menangkap seseorang di dekat tembok belakang.”
“Siapa?”
“Orang yang sama yang membawa kotak itu.”
Yuán Zhēn terkejut.
“Lù Shān?”
“Benar.”
“Bawa dia ke sini.”
Lù Shān dibawa masuk beberapa saat kemudian.
Ia tampak tenang.
Namun ketika melihat liontin di tangan Liān Huā, wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya sejak ia muncul, ketenangannya hilang.
Ia menatap liontin itu cukup lama.
Kemudian berbisik,
“Jadi... Anda masih memilikinya.”
Liān Huā membeku.
“Apa maksudmu?”
Lù Shān menundukkan kepala.
“Saya tidak seharusnya mengatakan itu.”
Yuán Zhēn melangkah maju.
“Siapa kau sebenarnya?”
Lù Shān diam.
“Jawab.”
Lù Shān akhirnya mengangkat wajah.
“Saya bukan pelayan keluarga Zhāng.”
“Lalu?”
“Saya adalah orang yang diperintahkan untuk menjaga Nona Liān Huā.”
Liān Huā terkejut.
“Menjagaku?”
“Sejak Anda masih kecil.”
Ruangan menjadi sunyi.
Yuán Zhēn menatapnya tajam.
“Siapa yang memberimu perintah?”
Lù Shān memejamkan mata.
“Seseorang dari Paviliun Yún.”
Yuán Zhēn langsung terdiam.
Liān Huā merasa jantungnya berdegup lebih cepat.
“Paviliun Yún?”
Lù Shān mengangguk.
“Mereka belum benar-benar menghilang.”
“Lalu di mana mereka?”
Lù Shān menatap Liān Huā.
“Sebagian besar sudah meninggal.”
“Sebagian besar?”
“Masih ada beberapa orang.”
“Siapa?”
Lù Shān tidak menjawab.
Ia hanya berkata,
“Orang yang memerintahkan saya menjaga Anda... adalah orang yang sama yang memberikan liontin itu.”
Liān Huā menatapnya.
“Siapa?”
Lù Shān menarik napas panjang.
Kemudian sebuah suara terdengar dari luar.
“Yang Mulia!”
Seorang penjaga berlari masuk.
“Kami menemukan seorang pria di gerbang timur.”
“Siapa?”
“Dia mengaku membawa pesan untuk Nona Liān Huā.”
Yuán Zhēn mengerutkan kening.
“Bawa masuk.”
Beberapa saat kemudian, seorang pria tua masuk dengan pakaian sederhana.
Ia membungkuk kepada Liān Huā.
Namun sebelum berdiri kembali, ia berkata pelan,
“Putri... akhirnya kami menemukan Anda.”
Liān Huā membeku.
“Putri?”
Yuán Zhēn langsung menatap pria itu.
“Jelaskan.”
Pria tua itu mengangkat wajah.
“Yang Mulia... selama ini Anda tidak mengetahui siapa sebenarnya Liān Huā?”
Yuán Zhēn berdiri diam.
Liān Huā sendiri tampak pucat.
Pria tua itu melanjutkan,
“Nama Liān Huā bukanlah nama yang diberikan kepada Anda sejak lahir.”
“Lalu siapa aku?”
Pria itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Nama asli Anda adalah...”
Namun sebelum ia sempat mengucapkannya, sebuah anak panah melesat dari luar jendela.
Pria tua itu tersentak.
Ruangan seketika kacau.
Para penjaga bergerak.
Yuán Zhēn menarik Liān Huā menjauh dari jendela.
Anak panah itu jatuh ke lantai.
Pria tua tadi sudah tidak bergerak.
Liān Huā menatapnya dengan mata membesar.
“Dia...”
Yuán Zhēn segera memeriksa keadaan pria itu.
Namun semuanya sudah terlambat.
Pesan yang seharusnya membuka rahasia masa lalu Liān Huā telah terputus sebelum selesai.
Di lantai, sebuah benda kecil terjatuh dari tangan pria tua itu.
Sebuah lambang batu giok.
Dan di baliknya terdapat satu kata yang terukir jelas:
Yún.
Yuán Zhēn menatap ukiran itu.
Kemudian ia menatap Liān Huā.
Untuk pertama kalinya, keduanya menyadari bahwa musuh mereka bukan hanya sedang berusaha menghancurkan masa depan mereka.
Mereka juga sedang berusaha mengubur masa lalu Liān Huā selamanya.
Dan rahasia tentang siapa sebenarnya Liān Huā...
baru saja menjadi ancaman terbesar bagi seluruh istana.