Indonesia
NovelToon NovelToon
Memilih Terbawa Arus

Memilih Terbawa Arus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Mengubah Takdir
Popularitas:497
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.

Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.

Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

"jadi gimana bang..." tanya seseorang dari telefon.

Arus melirik ke arah sang istri yang sudah tertidur pulas, dari balkon kamar.

hatinya kini lega, ia tau baru hari ini sang istri bisa tidur sepulas itu.

Bahkan saat malam mereka sampai di panti saja, sang istri beberapa kali bergumam sambil berkeringat di dalam tidurnya.

Entah apa yang ada di mimpi sang istri, ia tak tau. Tapi dari responnya, arus tau itu sesuatu yang baik.

"urusan pasar, biar yoga saja yang urus. Pihak berwajib lebih mengerti hal ini dari pada kita."

"ok bang..."

"lalu, kelanjutan tentang foto itu gimana...".

"tentang foto, belum ada kejelasan. Tapi yang jelas kayaknya yang ngambil foto itu dari organisasi yang menculik pak mahmud."

mendengar organisasi itu di sebut, tangan arus mencengkram erat.

"terus selidiki lebih dalam, aku tak ingin hal lama terulang."

"siap bang..."

setelah itu, panggilan terputus.

Arus kembali menaruh ponselnya, ia merogoh saku.

Membawa dompet keluar dari sana, di dalam dompet itu terlihat foto pernikahan yang terselip.

Namun bukan itu, arus mengambil foto lain yang terselip di balik foto pernikahan.

Terlihat 3 pemuda berseragam sekolah dengan senyum merekah dengan seragam sekolah.

"lagi dan lagi harus berurusan dengan mereka, sebenarnya siapa mereka dan kenapa kamu bisa terjerat dengan mereka. Padahal sampai kini aku dan yoga saja sulit menemukan jejak mereka" gumam arus..

Akhirnya arus memilih mengambil leptopnya.

Semalaman ia habiskan waktu di depan laptop.

Alya yang tengah tidur, mulai menggeliat. Ia meraba raba namun tak menemukan suaminya di samping.

akhirnya mata Alya terbuka.

"di mana kak arus" gumamnya.

Pandangannya menyapu sekitar, samar samar dari tirai balkon ia bisa melihat sinar kecil. ia pun mendengar musik lembut yang hanya terdengar sekilas dan sangat pelan dari sana

Alya berdiri dari tidurnya, dengan langkah gontai ia menuju ke balkon.

"gak tidur kak..."

arus menoleh, mematikan musik dari ponselnya.

"kamu ke bangun, apa suara bising musik mengganggu."

Alya menggeleng....

"kakak kenapa gak tidur...?"

"masih ada kerjaan, kamu lanjut tidur aja. Sekarang masih jam setengah satu, masih lama Sampek ke subuh."

Alya menggeleng, ia duduk di sebelah arus.

"kenapa.."bingung arus.

"kalok kakak gak mau tidur aku juga."

Arus menatap leptopnya, lalu sejenak kembali menatap Alya.

"ya sudah... Ayo" ungkapnya sambil menutup leptop.

Arus menuntun sang istri yang dari langkahnya saja terlihat kalau masih mengantuk.

Kini mereka saling berhadapan di tempat tidur.

"kak.... Kalok aku susah punya anak gimana." tanya Alya yang entah sudah kesekian kali sejak mereka menikah.

"sudah ly. aku sudah pernah bilang, Punya anak atau tidak sebenarnya bukan masalah besar. Lagi pula aku sudah punya banyak anak di panti."

Alya menunduk....

"tapi itu bukan darah daging kita, pasti kakak juga ingin punya yang darah daging kita kan"

"kalau itu tentu, suami istri waras mana yang tak mau memiliki anak. Tapi walau begitu, tak memiliki anak bukan berarti salah salah satu di antara kita"

Alya ingin membuka mulutnya, namun tertutup kembali.

"ada apa ly... Ngomong aja, gak usah ragu."

Alya terdiam cukup lama, bimbang apakah harus mengungkapkan apa yang ia pikirkan.

Namun jika dia tak mengungkapkan, dia tau arus tak akan mau mengungkap ini terlebih dahulu.

"kak, kita sudah hampir sebulan menikah."

arus mengangguk....

"memang kenapa...?"

"aku tau, kakak juga manusia. Memiliki hasrat tentang hal itu, jadi sepertinya hari ini aku siap kak".

kalo ini arus menatap Alya lekat lekat.

"apa kamu yakin...?"

Alya menunduk sambil mengangguk pelan.

Arus dengan lembut memegang pipi sang istri.

"aku tak ingin kalau ini membuatmu tertekan ly, jadi apa kamu benar benar yakin..?" ulang arus.

Alya tak menjawab, namun wajahnya mendekat.

dia bibir langsung bertemu, merasa bibir satu sama lain.

Keduanya malah terdiam, pikiran mereka entah pergi ke mana.

Tapi raga hanya mematung tanpa ada pergerakan.

Namun sesaat kemudian, mata arus mengerjap.

Perlahan ia melumat apa yang memang seharusnya menjadi miliknya.

Sedangkan Alya mencoba mengikuti gaya permainan sang suami.

Sampai Alya mulai menepuk dada arus beberapa kali, namun arus sama sekali tak merespon.

Sampai Alya mendorong arus sedang segenap tenaganya, baru kedua bibir itu terlepas.

Dengan cepat Alya mengambil napas, seakan baru saja selamat dari tenggelam.

Namun wajah arus kembali mendekat, dengan sigap Alya langsung menghadang dengan tangannya.

"kenapa...?" bingung arus.

"ngambil napas dulu kak..."

kepala arus kembali mundur.

Alya mulai menatap sang suami lekat lekat.

"kak... Apa kakak pernah kayak gini.".

"pernah kayak gini...?" bingung arus.

"itu Lo, yang baru aja kita lakukan".

arus menggelengkan kepala.

"istriku cuma kamu." jawab arus singkat, tapi Alya bisa tau maksudnya.

"ya udah, lanjutin."

mendapatkan lampu hijau, tentu arus tak mau menyiapkan nyiakannya.

entah mengapa, bibir sang istri terasa begitu candu baginya, padahal baru kali ini dia melakukan hal ini.

Tangan Alya kini sudah melingkar sempurna di leher sang suami, sedangkan tangan arus sendiri sudah menjelajah entah ke mana.

Arus melepaskan bibirnya...

"apa boleh..." tanyanya.

Alya hanya menjawab dengan anggukan.

saat mulai melanjutkan, ketukan terdengar di pintu kamarnya.

Awalnya arus tak menggubris, namun ketukan itu berubah menjadi gedoran.

Alya langsung mencekal tangan arus.

"siapa itu kak..."

"gak penting,"

ia ingin melanjutkan, namun tangannya kembali di cekal oleh Alya.

"gak mungkin gak penting kalok sampai kayak gitu, udah lihat dulu"

mau tak mau, arus berdiri dari tempat tidur.

"kak, bajunya" ungkap Alya.

Arus menunduk.

Ia tak sadar kalau kancing bajunya sudah terlepas sebagian.

Selagi arus memperbaiki baju, Alya juga sama.

tak lupa, Alya menyambar kerudung instan miliknya.

Setelah kembali ke semula, baru arus membuka pintu.

"akhirnya kamu buka" ungkap Anhar.

"ada apa...!" kesal arus.

namun kekesalan ini tak di mengerti oleh Anhar, lagi pula di matanya mau sedang kesal atau tidak.

Wajah arus tetap sama, nada bicaranya pun begitu kepadanya.

"ada polisi datang... Dia nyari kamu"

"berapa...!"

"satu...." Anhar bingung dengan pertanyaan sang adik, namun ia tetap menjawab.

"suruh pulang, kalok ada apa apa suruh besok pagi aja."

gurun hendak menutup pintu kamar, namun Alya dengan cepat menghalangi.

"ada polisi.." tanyanya.

"ia ly, katanya nyari arus."

"dia gak bilang mau apa...?" tanya Alya.

"enggak, cuma bilang mau nyari arus. Mungkin ini hasil laporan Bagas." terang Anhar.

"bukan, kasih dia kamar tamu. Bilang ngomongnya besok aja" ungkap arus.

"kak" cegah Alya melihat arus yang hendak menutup pintu.

"lihat dulu, siapa tau bener."lanjut Alya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!