Indonesia
NovelToon NovelToon
OVERRATED

OVERRATED

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:36.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.

Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.

Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Langkah kaki Parrie Rose terasa begitu berat dan melayang. Jalanan kota yang sibuk, suara klakson kendaraan yang bersahut-sahutan, hingga bisingnya lalu lintas pagi itu sama sekali tidak sanggup menembus lapisan kehampaan yang mendadak membungkus jiwanya.

Mengetahui kebenaran besar yang tersembunyi di balik sejarah berdarah keluarganya membuat dunia Parrie serasa hancur berkeping-keping dalam sekejap.

Pikiran gadis itu berputar liar tanpa kendali, dihantui oleh ketakutan yang teramat sangat.

Jika Kaetos mengetahui kebenaran ini... bagaimana nasibnya? Bagaimana akhir dari hubungan kami?

Dada Parrie terasa amat sesak hingga ia kesulitan bernapas. Ia adalah putri kandung dari Gerald Ford—pria iblis yang telah merancang skenario pelecehan gila lima tahun lalu yang merusak mental dan jiwa Kaetos hingga detik ini.

Pria yang sangat dicintainya itu telah hidup dalam siksaan trauma bertahun-tahun akibat ulah ayah kandungnya sendiri.

Bagaimana jika Kaetos tahu bahwa di dalam tubuh Parrie mengalir darah pria yang paling dibencinya di dunia ini? Akankah Kaetos menatapnya dengan rasa jijik? Akankah rasa cinta mendalam di mata pria itu berubah menjadi kebencian yang menghancurkan?

Kebingungan dan keheningan yang menyiksa itu terus membayangi Parrie. Ia berjalan seperti raga tanpa jiwa, melangkahkan kakinya menelusuri koridor kampus yang mulai ramai oleh para mahasiswa. Pandangannya kosong, mengabaikan sapaan beberapa teman sekelasnya. Luka memar di sudut bibir dan pergelangan tangannya seolah tak ada artinya dibanding rasa sakit yang menggerogoti dadanya.

"Parrie!"

Sebuah panggilan beriringan dengan langkah kaki yang terburu-buru memecah lamunan Parrie.

Sebelum ia sempat berbalik, lengan tegap Kaetos Ashford sudah merangkul pinggangnya dari belakang, menarik tubuh itu rapat ke dadanya yang bidang. Aroma parfum kayu cendana dan citrus khas Kaetos langsung menyerbu indra penciumannya.

Kaetos tampil sangat tampan dengan kemeja hitam yang gulungan lengannya dinaikkan hingga siku. Pria angkuh yang biasanya menebar aura dingin membunuh itu kini menatap Parrie dengan mata yang berbinar lembut dan penuh kerinduan.

"Kau berjanji akan menungguku di gerbang depan, honey," bisik Kaetos tepat di samping telinga Parrie, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu tanpa peduli pada tatapan iri belasan mahasiswa di sekitar mereka. "Kenapa berjalan sendirian?"

Namun, bukannya menyambut pelukan hangat itu seperti biasanya, Parrie justru tubuhnya menegak kaku. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya. Ia merasa tidak layak lagi berada di dalam dekapan hangat pria ini.

Dengan gerakan pelan namun tegas, Parrie mengikis jarak, berusaha menjauhkan tubuhnya dari Kaetos.

Dahi Kaetos berkerut halus melihat penolakan halus tersebut. Sebelum Kaetos sempat bertanya, sebuah suara melengking yang memuakkan terdengar dari arah belakang.

"Kaetos! Jadi kau di sini?"

Irysh melangkah dengan gaya anggun yang dipaksakan, menghentakkan sepatu hak tingginya di atas lantai koridor. Matanya menatap Parrie dengan kilatan kebencian yang tak disembunyikan, sebelum kemudian tersenyum manis ke arah Kaetos.

"Aku mencarimu ke mana-mana, Kae. Dosen pembimbing menunggumu di aula utama untuk membicarakan proyekmu minggu depan. Ayo pergi bersama."

Kaetos bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Irysh. Matanya tetap terkunci pada wajah Parrie yang pucat dan tampak menghindari tatapannya.

"Katakan pada dosen itu aku sedang sibuk," balas Kaetos dingin dan terkesan sangat acuh tak acuh pada Irysh, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari kekasihnya.

"Tapi itu sudah Menjadi Aturannya Kaetos" protes Irysh dengan nada terkejut, merasa diabaikan secara mentah-mentah di depan umum.

"Pergi, Irysh. Jangan membuatku mengulanginya," potong Kaetos dengan suara tajam yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

Irysh menahan senyumnya kuat-kuat, menggigit bibirnya dan langsung melempar senyuman Jail pada Parrie.

Setelah pengganggu itu pergi, Kaetos kembali menatap Parrie.

Pria mengira sikap dingin dan tindakan Parrie yang berusaha menjauh darinya tadi malam dan pagi ini adalah bentuk keputusasaan karena sang gadis begitu merindukan dirinya. Mengingat godaan manja Parrie di telepon semalam, Kaetos tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang sangat menawan.

Tanpa bicara lagi, Kaetos menggenggam jemari dingin Parrie, menariknya lembut melewati tangga darurat dan membawanya naik terus hingga ke lantai atas... menuju rooftop kampus yang sepi dan terisolasi dari kebisingan.

Angin pagi mengibaskan rambut panjang Parrie saat mereka sampai di atas gedung. Kaetos langsung membalikkan tubuh Parrie, mengurung gadis itu di antara tubuh tegapnya dan pagar pembatas rooftop.

"Kae..." bisik Parrie pelan, matanya bergetar menatap wajah tampan di hadapannya.

"Aku merindukanmu, Parrie," gumam Kaetos rendah. Pria itu menangkup wajah Parrie dengan kedua tangan hangatnya, memiringkan kepalanya, dan berusaha mendekatkan bibirnya untuk mendaratkan kecupan hangat di bibir gadis itu.

Namun, Parrie memalingkan wajahnya ke samping, membuat ciuman Kaetos hanya mendarat di pipinya.

Kaetos terhenti.

Matanya menatap Parrie dengan bingung, namun lagi-lagi pria angkuh itu salah mengartikan respons dingin Parrie. Ia menyandarkan dahinya di dahi Parrie, mengelus lembut rahang gadis itu.

"Kae..." suara Parrie terdengar begitu lirih, pecah di udara pagi yang dingin. "Apa kau akan memaafkan aku... jika suatu saat nanti aku membohongimu?"

Kaetos terkekeh pelan—sebuah kekehan hangat yang sangat jarang terdengar. Pria itu memeluk pinggang Parrie lebih erat, menyatukan tubuh mereka tanpa jarak.

"Membohongiku soal apa, hm?" goda Kaetos dengan nada lembut. Pria itu merasa kekasihnya hanya sedang bersikap tidak percaya diri. "Apakah ini karena aku melupakan kebiasaan kita setelah bercinta semalam? Maafkan aku... Aku sungguh melupakannya karena panik membawamu pulang. Tapi aku janji, setelah kita tinggal bersama nanti, aku tidak akan pernah lagi melupakan cara berpamitan pada calon anak-anak kita. Dan—"

"Bukan itu!" potong Parrie cepat, memutuskan percakapan itu dengan nada yang tiba-tiba bergetar menahan tangis.

Kaetos terdiam, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Parrie yang tampak berkaca-kaca dan dipenuhi penderitaan yang tak tersampaikan.

Parrie menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia menatap Kaetos dengan tatapan sayu, memberanikan diri bertanya lirih, "Apakah... apakah keluargamu akan menerima aku? Seorang gadis miskin dan yatim yang tidak memiliki apa-apa?"

Sampai detik ini, Kaetos sama sekali belum mengetahui bahwa Parrie adalah putri kandung dari keluarga Ford. Di mata Kaetos, Parrie tetaplah gadis mandiri yang berjuang sendirian di hidupnya.

Kaetos menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat hangat untuk menenangkan kekasihnya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, Parrie. Mommy dan Daddy bahkan sudah berulang kali memintaku membawamu ke Mansion. Mereka sangat ingin bertemu denganmu."

Ucapan itu bukannya meredakan ketakutan Parrie, melainkan justru makin meremukkan hatinya.

Nyonya Tessa ingin bertemu denganku? Ibu Kaetos yang telah membantai keluarga ayahku... dan ayahku yang berusaha menghancurkan hidup putranya?

Tanpa menyadari perang batin dahsyat yang sedang terjadi di dalam jiwa Parrie, Kaetos melingkarkan tangannya lebih erat di pinggang Parrie. Pria itu menunduk, mengendus kecil ceruk leher Parrie yang harum, menghirup aroma tubuh gadis itu dengan penuh kerinduan. Kehadiran Parrie adalah satu-satunya penawar bagi trauma dan kegelapan jiwanya.

Kaetos makin bergerak maju, merapatkan tubuhnya, menekan Parrie ke pagar pembatas dengan gestur yang kian intim dan menuntut. Bibirnya mulai merayap naik dari leher menuju rahang Parrie, hendak menyapu bibir yang sangat dirindukannya itu.

"Jangan di sini, Kaetos..." bisik Parrie seraya menahan dada bidang Kaetos dengan kedua tangannya, berusaha mendorong pria itu mundur. "Kita masih di kampus."

"Tapi aku masih sangat merindukanmu, honey," gumam Kaetos dengan suara parau yang dipenuhi gairah dan kepemilikan. Pria itu menolak mundur, justru kembali menunduk hendak memaksa mencium bibir Parrie.

Rasa takut, rasa bersalah, bayangan penderitaan Kaetos akibat ayah kandungnya, dan desakan kebenaran berdarah itu bersatu menghantam akal sehat Parrie hingga batas akhirnya.

"Apakah di otakmu hanya ada bercinta dan bercinta?!" bentak Parrie dengan suara yang sangat tajam dan keras.

DEG!

Kata-kata itu menghantam udara rooftop bagaikan cambukan petir.

Gerakan Kaetos seketika terhenti total. Tubuh tegap pria itu membeku kaku. Wajahnya yang tadinya dipenuhi kehangatan dan gairah... dalam sekejap berubah menjadi sangat pucat, sebelum kemudian dilapisi oleh warna merah padam akibat amarah dan rasa terhina yang luar biasa.

Kaetos menarik tubuhnya mundur satu langkah besar. Matanya melebar, menatap Parrie dengan kilatan kaget dan tidak percaya.

"Apa yang kau katakan?" desis Kaetos dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berbahaya.

Parrie terengah-engah, dadanya naik turun. Ia sadar kalimatnya terlalu kasar, namun emosi yang memuncak dan rasa frustrasinya membuat Parrie tidak mampu menahan diri lagi. Ia menatap Kaetos dengan tatapan menantang meski matanya memerah menahan tangis.

"Aku bilang, apakah tidak ada hal lain di dalam kepalamu selain urusan gairah dan fisik?!" ulang Parrie dengan nada menantang yang tak kalah tajam. "Aku sedang bicara serius padamu, Kaetos! Aku sedang mempertanyakan masa depan kita! Tapi kau... kau selalu merespons segalanya dengan sentuhan, ciuman, dan nafsumu!"

"Nafsu?!" Kaetos tertawa sumbang—sebuah tawa dingin yang dipenuhi kepahitan dan emosi yang meledak.

Pria itu menyapu rambutnya ke belakang dengan kasar, melangkah maju mendekati Parrie dengan tatapan membunuh. "Kau sebut rasa rindu dan kasih sayangku sebagai nafsu semata, Parrie Rose?!"

"Lalu apa sebutannya jika kau terus memaksaku di saat aku sedang tidak ingin disentuh?!" teriak Parrie meluapkan seluruh ganjalan di dadanya. "Kau selalu bertindak sekehendak hatimu! Kau pikir karena kau seorang Ashford, kau bisa menyentuhku kapan saja kau mau tanpa peduli apa yang sedang kurasakan?!"

"JAGA BICARAMU, PARRIE!" bentak Kaetos dengan suara menggelegar yang sanggup menggetarkan dinding rooftop. Urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar.

Wajah tampannya mengeras sepenuhnya oleh amarah yang meletup-letup. "Jangan pernah menyamakanku dengan pria-pria brengsek di luar sana! Kau tahu betul bagaimana aku! Kau tahu betul aku hanya Pernah Menyentuhmu Selama bertahun-tahun aku tidak bisa menoleransi sentuhan siapa pun... tapi padamu, aku memberikan seluruh diriku! Aku merendahkan gengsiku, aku membuang batasan diri yang kubangun bertahun-tahun hanya untuk menunjukkan betapa berharganya kau bagiku!"

"Tapi cara yang kau tunjukkan itu menyiksaku, Kaetos!" balas Parrie tak kalah keras, air matanya akhirnya menetes melintasi pipinya. "Kau menuntut segalanya dariku! Kau menuntut kejujuranku, tapi kau sendiri membuatku merasa tercekik dengan gairahmu yang tidak pernah puas itu!"

"Tercekik?!" Kaetos terkekeh sinis, matanya memerah dipenuhi rasa kecewa dan luka yang mendalam. "Jadi selama ini kau merasa tercekik berada di sisiku? Kau merasa tersiksa setiap kali aku memelukmu dan menciummu?"

Parrie mengepalkan tangannya rapat-rapat, menggigit bibirnya hingga terasa asin oleh darah. Ia tidak bermaksud mengatakan hal itu, namun kebenaran bahwa dirinya adalah putri dari Gerald Ford—pria yang merusak jiwa Kaetos—membuat Parrie merasa bahwa menjauhkan Kaetos dari dirinya adalah satu-satunya cara untuk melindungi pria itu.

"Ya!" kejam Parrie seraya menatap lurus ke dalam mata Kaetos. "Aku lelah, Kaetos! Aku lelah dengan segala kerumitan ini! Aku butuh ruang!"

Kata 'ya' yang meluncur mantap dari bibir Parrie bagaikan sembilu yang mencabik-cabik dada Kaetos. Pria angkuh yang selalu dipuja dan ditakuti oleh semua orang itu... kini berdiri terpaku dengan tatapan yang mendadak kosong dan hancur.

Raut amarah di wajah Kaetos perlahan menguap, tergantikan oleh dinding es yang teramat tebal dan dingin. Ia menatap Parrie dengan pandangan yang sangat asing—pandangan yang belum pernah Parrie lihat sebelumnya.

"Baik," ucap Kaetos dengan suara yang sangat pelan, sangat datar, namun begitu membekukan hingga sanggup menghentikan detak jantung. "Jika kehadiranku dan rasa cintaku hanya membuatmu merasa tercekik dan muak... maka aku tidak akan pernah menyentuhmu lagi."

Kaetos membalikkan badannya tanpa menoleh sedikit pun. Pria itu melangkah lebar meninggalkan rooftop, menghempaskan pintu besi tangga darurat dengan dentuman keras yang bergema menyedihkan di udara sepi.

1
Yusry Ajay
wah...uda tamat aja Thor 🤗🤗
Rosdianah 🌷: huhu iya kak, see you 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
oh ternyata 🤔🤔🤔
nayla tsaqif
Kae,, dulu dirimu jg pernah gila lhoo, lbh parah dr hux malah,, 😅 bisa2nya ngatain hux gila,,
Rosdianah 🌷: hahaha Padahal 11 12 sama menantu 😭🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
hu.... menegangkan Thor 😁😁
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat kabur penny😁😁😁
Rosdianah 🌷: kwkwk
total 1 replies
Debu Nakal
akankah dominic akan punya cerita berlanjut seperti kembarannya??? 🤔
Debu Nakal: mantap.. lanjutkan
total 2 replies
Debu Nakal
plot twist nya gong bgt tnyata
Rosdianah 🌷: Aaa Siap kak🫶
total 3 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 👍👍
Yusry Ajay
kurang Thor 🤗🤗🤗up lg...
Yusry Ajay
ciuman trus hux🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: hahha🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
ya ampun Thor beruntung bgt jd panny dicintai sampe gila gitu..🤗
Rosdianah 🌷: iya kak 🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪🤗
Yusry Ajay
makin seru cerita nya Thor 🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuy 🥳
total 1 replies
Vtree Bona
nahloh ada lagi cwo ga psikopat kak Thor
Rosdianah 🌷: loh 🤭
total 1 replies
Vtree Bona
nah lho di bawa kemana penny
Rosdianah 🌷: kwkwk🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak, Sehat selalu kak reader 🫶
total 1 replies
Debu Nakal
seru nih..
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
kepo aq Thor 🤔🤔
Yusry Ajay
siapa Thor yg nyulik penasaran bgt🤔🤔
Yusry Ajay
siapa yg nyulik Thor 🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!