Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 : CELAH DI BALIK KERTAS ARSIP

Tetes... tetes... tetes...

Infus.

Bunyi itu yang pertama kali menembus kepala Chen waktu sadar. Monoton. Bikin kepala yang rasanya mau pecah makin kliyengan.

Kamar gelap. Cuma ditemani lampu tidur kuning remang-remang di sudut meja.

Chen menengok. Dua lembar fotokopi arsip tergeletak di atas meja kecil. Tas punggungnya geser sedikit dari posisi pas dia tinggal kemarin. Nggak serapi waktu dia masukin.

Di kursi kulit sebelah ranjang, Shen Mo duduk anteng. Kemeja hitamnya udah nggak pakai jas. Lengan bajunya digulung sampai siku. Matanya lurus memandangi Chen tanpa kedip.

Chen menengok lagi ke tangannya. Ada jarum infus nancap di punggung tangan kanannya. Selangnya bening, mengalirkan cairan dingin pelan-pelan ke dalam pembuluh darah.

"Kamu..." Chen nelen ludah. Tenggorokannya kering banget, kayak abis ngunyah pasir. Suaranya serak, pecah di tengah. "...buka tas gue?"

Shen Mo nggak ngeles. Nggak coba nutup-nutupin juga.

"Iya," jawabnya pendek.

Chen maksa narik badannya buat sandaran ke tumpukan bantal. Gerakannya pelan banget, setengah mati, karena ototnya masih kaku sisa semalam di gudang pelabuhan. Selang infusnya agak ketarik, bikin dia sedikit nahan sakit di pergelangan tangan.

"Kenapa?" tanya Chen. Napasnya masih pendek-pendek.

Shen Mo nggak langsung nyahut. Dia ngambil dua lembar kertas di meja, terus digeser pakai dua jari ke dekat tepi meja, biar keliatan jelas sama Chen.

"Alamatnya beda," kata Shen Mo. "Di sistem gue, alamat rumah penerima tercatat di Jalan Anyelir Nomor 7. Tapi rumah itu udah kosong, disegel bank dari tahun 2019. Sementara di kwitansi apotek ibumu, alamatnya Nomor 7A."

Chen diem. Matanya mandangin deretan angka di kertas itu lama banget. Otaknya yang masih lemas maksain buat ngerangkai semua kejadian beberapa tahun ke belakang. Utang apotek. Ibu yang batuk-batuk tiap malam. Makanan sisa kemarin sore.

"Bukan salah ketik," bisik Chen akhirnya. Suaranya kecil banget, hampir tenggelam sama suara AC. "Sengaja."

Shen Mo nyipit. Rahangnya ngeras. "Kamu tahu sesuatu?"

"Li Mei," sebut Chen cepat. Nggak mikir dua kali.

Shen Mo mendadak kaku di kursinya. Nama itu... nama itu baru aja masuk ke layar HP satelitnya sepuluh menit yang lalu dari laporan intel.

"Ibu pernah sebut nama itu," lanjut Chen, napasnya naik turun ngatur tenaga. "Pas pulang dari kantor yayasan. Tiga tahun lalu. Petugas di sana ngusir kita gara-gara nama itu."

Shen Mo natep bocah di depannya lekat-lekat. Ada jeda panjang sebelum dia nanya lagi, "Kenapa ibumu nggak pernah ngomong langsung ke gue?"

Chen ketawa kecil. Tapi suaranya kedengaran getir.

"Ibu bilang... orang yang ngasih dana dari jauh nggak bakal tahu apa-apa," dada Chen naik turun cepet. "Ibu bilang ada ular di belakang punggung kamu."

Kalimat itu nancep di kepala Shen Mo.

Tujuh tahun dia ngerasa jadi pahlawan dari jauh. Ngerasa udah beres karena duit bulanan rutin ditransfer lewat yayasan. Dia nggak pernah turun tangan sendiri karena mikir itu cara paling aman buat ngelindungin keluarga sahabatnya.

Ternyata, di dalem kandangnya sendiri, ada tikus yang ngerusak semuanya.

Shen Mo berdiri dari kursinya. Dia jalan pelan ke arah jendela kaca besar yang nampilin lampu-lampu kota Yucheng dari ketinggian lantai puncak. Tangannya dimasukin ke saku celana.

"Besok kita keluarin ularnya," kata Shen Mo pelan, tanpa nengok ke belakang.

Chen nggak jawab. Matanya udah mulai berat lagi. Bukan karena sok puitis mau merenung, tapi karena efek obat penenang sama antibiotik dosis tinggi yang dilarikin ke infusnya mulai narik kesadarannya buat tidur.

Badannya lemas. Kelopak matanya nutup sendiri.

Dalam hitungan detik, Chen ambruk balik ke bantal, tepar.

Di ruangan yang sunyi itu, cuma suara mesin infus yang nemenin malam mereka.

Tetes... tetes... tetes...

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!