Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH LIMA
"Kak Zain, tolong turunkan aku di pertigaan depan saja, ya. Jangan sampai masuk ke area parkir kampus," pinta Amara lembut seraya merapikan letak tas ranselnya di kursi penumpang depan.
Pagi ini, untuk pertama kalinya setelah insiden sakit maag akutnya, Amara diantarkan langsung ke kampus oleh Zain. Pria itu bahkan bersikap sangat keras kepala dengan melarang Amara mengemudikan mobilnya sendiri.
Zain menepikan mobil sedan hitamnya tepat di pertigaan jalan raya sebelum gerbang utama Universitas Candrakirana. Ia mematikan mesin, lalu menoleh menatap istrinya dengan wajah yang sedingin es dan datar tanpa ekspresi.
"Kenapa harus turun di sini? Masih agak jauh dari gedung fakultasmu," tegur Zain kaku.
"Aku ingin jalan kaki sebentar untuk olahraga ringan, Kak. Biar badanku tidak kaku," alibi Amara tersenyum tipis.
Zain mendengkus pendek, lalu merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam legam berlogo emas, lalu menyodorkannya ke hadapan Amara. "Pegang ini. Jangan pakai uang jatah dari ayahmu lagi. Belilah makanan yang layak atau apa pun yang kamu inginkan selama di kampus."
Amara tertegun, menatap kartu mewah di tangan suaminya. "Tapi, Kak... Aku masih punya uang saku sendiri."
Di luar, Zain memasang ekspresi angkuh dan acuh tak acuh. Namun di dalam kepala Amara, gema suara batin suaminya meledak riuh bagaikan petir.
’Habiskan uang itu untuk memanjakan dirimu, Mara! Kenapa kamu keras kepala sekali tidak pernah mau memakai uang nafkah dariku? Setiap kali melihat kartu rekeningmu utuh dan kamu memakai uang keluargamu, rasanya aku gagal menjadi seorang suami yang bertanggung jawab!’
Amara menahan setengah mati senyum yang hampir mekar di bibirnya. Pria ini sungguh ajaib. Wajahnya begitu menyebalkan dan kaku, tetapi isi kepalanya justru penuh dengan perhatian yang amat manis.
"Terima kasih, Kak Zain," ucap Amara tulus, menerima kartu hitam itu dari tangan suaminya.
Begitu Amara membuka pintu dan turun dari mobil, Zain tidak langsung melajukan kendaraannya. Pria itu mematung di balik kemudi, memerhatikan setiap langkah kaki Amara yang berjalan menyusuri trotoar menuju gerbang kampus melalui kaca spion.
Di dalam dadanya, Zain kembali merutuki kebodohannya sendiri. ’Bodoh sekali kamu, Zain... Kenapa kamu tidak bisa menunjukkan perhatian secara terang-terangan? Kenapa lidahmu selalu kelu setiap kali ingin mengucapkan kata-kata manis di depannya?’
Amara yang sempat melirik ke belakang mendapati mobil Zain masih setia mengawasi dari kejauhan. Gadis itu tersenyum manis, lalu melambaikan tangannya sekilas sebelum berlalu masuk ke area kampus.
Sialnya, hari baik Amara tidak bertahan lama. Baru saja ia menyelesaikan jam perkuliahan kedua, seorang mahasiswa tingkat akhir menghampirinya di kelas dengan wajah tegang.
"Amara Putri Sanjaya? Kamu dipanggil sekarang ke ruang administrasi akademik oleh Ibu Manda," ujar mahasiswa itu menyampaikan pesan.
Amara mengerutkan dahi kebingungan. Ada urusan apa ia dipanggil oleh Manda, asisten dosen sekaligus staf administrasi internal yang terkenal ketus dan ambisius itu.
Dengan langkah pasti, Amara berjalan menuju ruang administrasi utama. Begitu tiba, ia mengetuk pintu lalu melangkah masuk. Manda duduk di balik meja kerjanya, menyilangkan tangan di dada dengan senyum meremehkan tersungging di bibirnya.
"Duduk, Amara," ujar Manda dingin, menunjuk kursi di depan mejanya.
Amara duduk perlahan. "Ada apa ya, Bu Manda, memanggil saya?"
Manda melempar setumpuk lembar rekap presensi kehadiran ke atas meja dengan gerakan kasar. "Saya memanggilmu karena melihat catatan presensi kelasmu yang sangat buruk, Amara. Kamu terlalu banyak bolos dan absen dari perkuliahan!"
Amara membelalak kaget, merasa tidak terima. "Bolos? Bu Manda tidak bisa menuduh saya sembarangan! Saya tidak pernah sengaja bolos kuliah!"
"Alasan!" potong Manda tajam, mendelikkan matanya. "Jangan merasa diri pintar lalu bisa mengabaikan aturan kehadiran di kampus ini. Kamu pikir karena kamu ikut sibuk dalam gladi resik dan latihan paduan suara untuk acara wisuda kemarin, lalu kamu bebas meninggalkan kelas? Itu bukan alasan yang bisa diterima!"
"Tapi saya sudah mengantongi surat izin resmi dari direktorat universitas, Bu!" bela Amara tegas, suaranya mulai meninggi. "Kegiatan paduan suara itu adalah penugasan resmi kampus untuk mewakili universitas. Dan untuk materi kuliah yang tertinggal, saya sudah mengerjakan seluruh tugas susulan dari dosen pengampu!"
Manda mendengkus sinis, memajukan tubuhnya menatap Amara penuh kebencian. "Surat izin atau tugas susulan tidak bisa menghapus angka presensi yang kosong di sistem, Amara! Aturan tetaplah aturan. Presensi kehadiranmu sudah melampaui batas toleransi minimal yang ditetapkan universitas."
Manda tersenyum licik. "Sebagai staf urusan internal mahasiswa, saya berhak memutuskan bahwa kamu tidak berhak mengikuti ujian semester ini. Kamu harus mengulang mata kuliah tersebut tahun depan atau mengambil semester pendek!"
Darah Amara mendidih seketika. Ia tahu persis, Manda sedang mencari-cari alasan untuk menjatuhkannya secara personal. "Ibu mengada-ada! Ibu sengaja mempermasalahkan ini karena masalah pribadi, kan? Ibu tidak suka melihat saya!"
Mendengar kata-kata itu, harga diri Manda seolah tersentil hebat. Wajahnya memerah padam. "Jaga mulutmu ya, Amara! Jangan jadi mahasiswi yang banyak bertingkah, suka melanggar aturan, dan mencari jalan pintas untuk mendapatkan nilai bagus!"
"Apa maksud Ibu berbicara seperti itu?" sergah Amara berang, dadanya naik turun menahan amarah.
Manda berdiri dari kursinya, menunjuk wajah Amara dengan tatapan penuh fitnah. "Jangan pura-pura bodoh! Semua orang di fakultas ini tahu bagaimana caramu mendekati dosen-dosen penting demi mendapatkan keistimewaan! Sikapmu yang centil itu sangat tidak terpuji!"
Amara gemetar hebat. Ingin sekali detik itu juga ia berteriak di depan wajah wanita sialan ini dan membongkar kenyataan bahwa Profesor Kaellan Zain Alfatih, pria yang setengah mati dipuja dan diincar oleh Manda adalah suaminya sendiri yang sah secara hukum. Namun, sumpah serapah itu tertahan di ujung lidahnya, terkunci oleh janji kerahasiaan yang mereka sepakati.
Air mata amarah menggenang di pelupuk mata Amara. Tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.
"Bu Manda tidak berhak menghina saya seperti itu!" ucap Amara bergetar, menahan isak tangisnya. "Saya akan melaporkan tindakan tidak adil ini langsung ke pihak rektorat!"
Manda justru tertawa meremehkan, melipat tangannya di dada. "Silakan saja! Datanglah ke rektorat dan adukan saya sepuas hatimu! Memangnya kamu pikir rektorat akan mendengarkan mahasiswi bermasalah sepertimu? Dan ingat, kalau kamu tidak suka dengan aturan ketat di kampus ini, silakan keluar dan tidak usah kuliah di sini lagi!"
Kepala Amara pusing luar biasa. Tak sanggup lagi menahan gelombang amarah dan sesak di dadanya, Amara menyambar tasnya, bangkit berdiri, dan berlari keluar dari ruangan administrasi dengan air mata yang tumpah membasahi pipinya.
Ia berlari menuju taman belakang kampus yang sepi, mencari tempat tersembunyi di bawah rindangnya pohon ketapang untuk meluapkan tangisnya yang pecah.
"Amara? Hei, kamu kenapa menangis?"
Sebuah suara lembut menyapa dari samping. Bayu Pramadi, Presiden BEM universitas yang kebetulan sedang melintas membawa berkas organisasi, menghentikan langkahnya. Pemuda itu langsung mendekat, menyerahkan selembar tisu bersih dengan raut wajah amat khawatir.
Amara menerima tisu itu dengan tangan gemetar, menyeka air matanya. "Kak Bayu..."
"Ada apa, Amara? Siapa yang membuatmu menangis seperti ini? Ceritakan padaku, siapa tahu aku bisa bantu sebagai perwakilan BEM," ujar Bayu tulus, duduk di bangku taman sebelah Amara.
Amara menggeleng lemah, berusaha menenangkan napasnya yang tersengal. "Tidak apa-apa, Kak... Terima kasih, aku hanya sedang ada sedikit masalah administrasi."
Tanpa disadari oleh keduanya, dari arah koridor seberang taman, langkah kaki seorang pria menghentikan gerakannya secara mendadak.
Zain, yang baru saja hendak kembali ke ruangannya setelah rapat senat rektorat, tak sengaja menyaksikan pemandangan itu. Matanya menangkap sosok Bayu yang sedang duduk amat dekat dengan Amara, menyerahkan tisu, dan memegang bahu istrinya dengan gestur yang tampak begitu akrab.
Seketika, raut wajah Zain mengeras bagaikan batu karang. Gelombang cemburu yang gelap membakar habis sisa ketenangannya.
’Berani sekali mahasiswa itu menyentuh milikku di tempat umum...’ gema suara batin Zain bergemuruh penuh amarah mematikan di dalam dadanya.
ni masalah mu sendri🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk