Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Sikap cuek dan ketenangan tiada tanding yang kupamerkan di tengah gempuran pemberitaan media ternyata sukses membuat Gibran makin geram. Niat hatinya yang ingin melihatku menangis, panik, atau mengemis ampunan agar nama baikku dipulihkan justru bertepuk sebelah tangan. Aku tetap menjalani hari-hariku dengan sangat tenang, seolah narasi miring di luar sana hanyalah angin berlalu yang tak bernilai.
Pagi itu, aku tidak berdiam diri di rumah meratapi tuduhan keji suamiku. Sebaliknya, aku sengaja mengajak Kayla dan Evan untuk keluar bersama. Niatku sangat jelas menantang Gibran dengan caraku sendiri. Sebelum pertarungan hukum resmi dimulai dan sebelum aku menguras habis seluruh harta serta asetnya di pengadilan, aku ingin menikmati lebih dulu fasilitas kartu kredit utama atas nama Gibran yang terhubung langsung ke rekening perusahaannya. Aku mengajak kedua anakku untuk belanja sepuasnya membeli barang-barang luxury, pakaian desainer, perhiasan, hingga keperluan terbaik yang mereka inginkan tanpa batasan limit sedikit pun. Ini adalah bentuk ganti rugi kecil dan gertakan terbuka untuk menunjukkan pada Gibran bahwa permainannya sama sekali tidak sanggup menghentikan langkahku.
Namun, begitu mobil mewah yang kami tumpangi bergerak membelah jalanan dan hendak menuju ke sebuah shopping mall papan atas di pusat kota, puluhan wartawan dan juru kamera yang sudah mengintai sejak pagi langsung mengepung kendaraan kami saat terhenti di persimpangan. Kilatan lampu kamera menyambar-nyambar kaca mobil, sementara beberapa mikrofon disodorkan agresif ke arah jendela.
Sopir pribadiku tampak agak panik melihat kerumunan wartawan yang menutup jalan, namun aku menepuk bahunya pelan dari kursi belakang.
"Buka sedikit kacanya, Pak," perintahku halus.
Aku menurunkan kaca mobil hanya sedalam tiga jari. Senyuman tipis, anggun, dan amat dingin terulas di wajahku yang terhias kacamata hitam. Awak media bertubi-tubi melemparkan pertanyaan dengan suara bersahut-sahutan yang bising dan memekakkan telinga.
"Bu Kirana! Bagaimana tanggapan Ibu soal pernyataan Pak Gibran di media yang menyebut Ibu menolak merawat ibu mertua?."
"Bu Kirana, apakah benar Ibu menolak menandatangani surat gugatan cerai karena menuntut pembagian harta gono-gini dalam jumlah yang fantastis?."
"Apakah Ibu merasa disudutkan dengan pemberitaan yang menyebut Ibu abai pada tugas rumah tangga selama dua bulan terakhir?."
Aku hanya menatap mereka santai dari balik kacamata hitamku. Tanpa raut panik, tanpa nada emosi, dan tanpa ada sedikit pun gestur menghindar yang defensif.
"Terima kasih atas perhatian teman-teman media sekalian," ucapku halus namun suaranya terdengar sangat mantap dan mengayun anggun. "Untuk saat ini... no comment. Kita ikuti saja dulu semua proses hukum yang sedang berjalan di pengadilan."
"Bu Kirana! Apakah Ibu tidak berniat melakukan klarifikasi atau membantah tuduhan Pak Gibran?!" teriak salah satu wartawan senior.
Aku menyunggingkan senyuman paling mempesona sebuah senyuman penuh teka-teki yang justru menyimpan intimidasi terselubung bagi siapapun yang melihatnya.
"Klarifikasi?" tanyaku santai. "Buat apa terburu-buru? Biarkan Pak Gibran menyelesaikan seluruh pertunjukannya di depan media terlebih dahulu. Kebenaran tidak pernah butuh kepanikan untuk membuktikan dirinya sendiri. Permisi."
Aku memberi kode pada sopir untuk kembali melaju pelan membelah kerumunan, meninggalkan wartawan yang terpana melihat ketenanganku.
Perjalanan kami berlanjut dan akan menuju ke butik-butik paling megah di Jakarta. Sepanjang siang hingga sore hari, aku menggesek kartu hitam milik Gibran tanpa ragu. Tas-tas edisi terbatas, perhiasan emas putih, hingga puluhan pasang pakaian bermerek kukanjungi bersama Kayla dan Evan. Notifikasi transaksi ratusan juta rupiah yang terus menerus masuk ke ponsel Gibran hari itu pastilah berhasil membuat tensinya membumbung tinggi di kantornya.
Namun di balik kesenangan belanja itu, piringan ketegangan lain tetap menyelimuti kedua anakku. Usai merapikan semua barang belanjaan ke dalam bagasi mobil dan beristirahat sejenak di sebuah kafe privat sebelum kembali ke rumah, wajah Kayla dan Evan yang tadinya terhibur kembali menegang memerah.
Di layar televisi kafe yang menampilkan saluran berita hiburan, rekaman wawancara Gibran kembali diputar ulang. Evan berdiri dari duduknya dengan kedua tangan terkepal rapat di samping tubuhnya, sementara Kayla memandangi layar dengan mata berkaca-kaca menahan kekesalan.
Wajah remaja laki-laki itu dipenuhi amarah yang membakar.
"Papi benar-benar sudah gila!" bentak Evan dengan suara tertahan, meluapkan kemarahannya yang memuncak. "Bisa-bisanya Papi bicara seperti itu di depan kamera?! Papi menyalahkan Mami, bilang Mami istri yang tidak berguna, padahal Papi sendiri yang sibuk sama cewek selingkuhan itu."
Kayla mengusap air mata kekesalannya seraya meremas kain gaunnya. "Kayla malu banget di kampus hari ini, Mi... Teman-teman pada bisik-bisik soal berita Papi yang mau nyeraikan Mami dua kali. Kenapa Papi jahat banget sama Mami? Kenapa Papi tega mengumbar cerita bohong ke semua orang?."
Melihat kedua buah hatiku terluka dan tersulut emosi oleh ulah Ayah kandung mereka sendiri, dadaku berdenyut nyeri. Namun sebagai seorang ibu, aku harus tetap menjadi benteng kokoh yang tak boleh menunjukkan kelemahan di hadapan mereka.
Aku merangkul bahu Kayla dan menepuk lembut lengan Evan, mengajak mereka kembali duduk di sisiku.
"Kayla, Evan... dengarkan Mami ya," bisikku lembut dengan intonasi suara yang menenangkan. "Kalian tidak perlu malu atau merasa jatuh. Apa yang diucapkan Papi kalian di luar sana sama sekali tidak mendefinisikan siapa Mami dan siapa kalian."
"Tapi Pi... Papi sudah keterlaluan, Mi!" potong Evan dengan napas memburu, matanya merah menahan emosi. "Evan mau samperin Papi ke kantornya sekarang! Evan mau tanya langsung kenapa Papi tega memfitnah Mami cuma demi membela cewek pelakor itu."
"Jangan, Evan," cegahku tegas namun tetap tenang. Aku menatap lurus ke dalam manik mata putraku itu. "Jangan biarkan emosimu membuat kita turun ke level yang sama seperti Papi. Kalau kamu datang menyerang Papi di kantornya, itu cuma bakal dijadikan bahan panggung baru oleh pihak Papi untuk menyudutkan Mami lagi."
"Terus kita harus diam saja, Mi?!" tanya Kayla sesenggukan. "Mami diserang semua orang di internet, dan Mami cuma bilang no comment tadi di depan media?."
Aku tersenyum lembut, merapikan helai rambut Kayla yang menutupi dahinya.
"Diamnya Mami bukan berarti Mami kalah, Sayang," ujarku mantap, menatap kedua anakku bergantian dengan pendar mata penuh keteguhan. "Hari ini Mami sengaja ajak kalian belanja sepuasnya pakai uang Papi sebagai pemanasan. Mami cuma sedang membiarkan Papi kalian menggali lubang kehancurannya sendiri semakin dalam. Makin banyak hal bohong yang Papi kalian ucapkan di depan publik hari ini, makin keras benturan yang akan Papi rasakan saat Mami buka semua buktinya di pengadilan dan menguras habis hartanya nanti."
Evan menatapku dengan binar mata yang perlahan berubah dari amarah murni menjadi rasa kagum mendalam. "Mami... sudah punya semua bukti perselingkuhan Papi?"
Aku mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat penuh keyakinan. "Semuanya, Evan. Mulai dari bukti transfer uang perusahaan, foto-foto kencan Papi dengan Melani, sampai rekaman suara pertengkaran mereka. Mami simpan semuanya dengan sangat rapi."
Mendengar penjelasanku, napas Evan yang tadinya memburu perlahan menyurut. Ia menarik napas panjang, lalu memelukku erat. "Evan sama Kak Kayla akan selalu ada di pihak Mami. Evan tidak sudi punya Papi yang pembohong dan jahat seperti dia."
"Kayla juga, Mi," tambah putri sulungku seraya memeluk pinggangku. "Kayla benci Papi."
"Ssst... kalian tidak boleh membenci," bisikku pelan, mengusap punggung kedua anakku. "Cukup berdiri di samping Mami. Biarkan Mami yang menyelesaikan pertandingan ini sampai selesai."
Di saat Gibran merasa telah berhasil menguasai opini publik lewat wawancara persnya, ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia telah kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya: rasa hormat dan kasih sayang dari Kayla dan Evan, kedua anak kandungnya sendiri ditambah kejutan membengkaknya tagihan kartu kredit yang baru saja kumanfaatkan bersama anak-anak.
Dukungan penuh dari Kayla dan Evan makin mengokohkan pijakan kakiku. Gertakan media, cemoohan netizen, dan kepalsuan Gibran tak lagi memiliki daya untuk melukaiku. Aku akan terus bermain cantik, membiarkan suamiku menari-nari di atas angin kekuasaan semu sebelum aku menarik tali kekang dan menjatuhkannya ke dasar jurang yang paling dalam.
mreka jd ank yg pntr dn soleh krna ddikn ibunya,beda sm bpknya yg jhat dn hnya bsa mnykti mreka....
jd skrng,trima aja smua hkuman....
mga bnrn tobat biar bs hdp lbh baik...
Dlu aja bngga slingkuh....skrng mlah sling cakar,smp s pelakor bbak belur....🙄🙄🙄...
beda sm sng mntan yg lg ibadah,bkin hti adem plus nmbah pahala....mga kirana jg ktmu jdoh trbaiknya....