Indonesia
NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 25

Roda van Declasse Burrito hitam milik Michael terus berputar konsisten membelah hamparan kegelapan malam. Aspal dingin jalan tol Route 68 yang sunyi bertumpu pada gurun Grand Senora perlahan berganti menjadi jalanan beton tebal yang menghubungkan wilayah perbatasan utara menuju jantung kota Los Santos.

​Di dalam kabin van, hening yang pekat diselingi deru halus mesin V8 dan derakan pelan dari tiga peti tebal berisi persenjataan tempur kelas atas di bagasi belakang. Michael tampak menyandarkan kepalanya ke kaca jendela penumpang, matanya terpejam sesekali menikmati sisa efek alkohol dan lelah pasca-perjalanan jauh, sementara Andika tetap fokus mencengkeram kendali roda kemudi. Tatapan matanya lurus menembus kabut tipis malam, tenang namun sangat waspada.

​Perjalanan menembus kegelapan malam melintasi perbukitan El Burro Heights memakan waktu jam demi jam. Ketika garis Fajar jingga yang sangat tipis mulai menyelimuti ufuk timur kota dan hamparan gedung-gedung cakar ayam Los Santos mulai memantulkan sinar surya yang masih samar, jarum jam di dasbor van persis menunjukkan pukul 04:55 pagi.

​Andika membelokkan kemudi, mengarahkan van hitam itu memanjat celah tanjakan tanah menuju halaman kediaman kayu tua milik Lester Crest.

​Di teras depan rumah panggung yang remang itu, sesosok pria berjaket tebal berdiri bersandar pada tiang kayu. Franklin Clinton. Pria itu tampak sudah terjaga sejak subuh, memegang sebotol bir dingin di tangan kanannya sembari menikmati hawa dingin yang menusuk tulang. Begitu sorot lampu depan van menyinari halaman dan mendapati Andika di balik kemudi, Franklin mengulas senyuman lebar.

​Ia meneguk sisa birnya hingga habis, melempar botol kosong itu ke tempat sampah, lalu melangkah turun menghampiri van yang baru saja berhenti sempurna.

​"Ayyy! Ini dia kejutan besarnya!" panggil Franklin dengan nada gembira yang ditahan menembus sunyinya pagi.

​Andika dan Michael membuka pintu kendaraan dan melangkah keluar. Michael mengulurkan tangannya, mengusap wajahnya yang lelah, lalu menepuk bahu Franklin. "Semua sesuai rencana, Frank. Tanpa ada satu pun patwal polisi yang membuntut."

​"Sempurna, Mike! Mari kita bongkar muatannya," balas Franklin penuh semangat.

​Franklin bergegas berjalan ke arah pintu belakang van, membuka dua daun pintu besi tebal itu lebar-lebar. Aroma besi, minyak senjata, dan bensin khas gurun Sandy Shores langsung menyeruak keluar. Tanpa membuang waktu, Franklin membungkuk, melingkarkan kedua tangannya yang berotot di bawah peti kayu tebal pertama—peti yang berisikan tumpukan senapan serbu M4 Carbine dan pistol Glock—lalu mengangkatnya sendirian dengan satu hembusan napas berat.

​"Argh, barang bagus ini pasti berat sekali," kekeh Franklin seraya membalikkan badan melangkah naik ke arah tangga rumah.

​Melihat Franklin bergerak, Andika dan Michael langsung menyusul ke balik pintu belakang van. Andika memegang sisi kiri peti kedua—yang dipenuhi ribuan butir amunisi cadangan—sementara Michael memegang sisi kanannya. Dengan cengkeraman mantap, mereka berdua membopong peti berat tersebut secara bersamaan.

​Langkah kaki bertumpu pada anak tangga kayu rumah Lester menciptakan derakan keras yang memecah keheningan subuh. Franklin sudah lebih dulu menaruh peti pertama di atas meja besar ruang tengah, tepat di depan jajaran layar monitor komputer yang masih menyala redup. Andika dan Michael menyusul, menurunkan peti kedua di samping peti pertama dengan dentangan kayu yang mantap.

​BRUK!

​Andika kemudian kembali turun ke luar sendirian, membopong peti ketiga yang berisi empat rompi anti-peluru kelas militer tebal beserta set lengkap radio HT taktis dan headset earpiece, lalu membawanya masuk ke dalam ruangan.

​Lester Crest yang duduk di atas kursi rodanya memutar badan dari balik meja kerja. Pria paruh baya berkacamata tebal itu mendorong kaca matanya naik, lalu menatap tiga peti kayu tebal yang kini berjejer rapi di ruang tengahnya. Senyuman tipis yang sarat akan kalkulasi matang terukir di wajahnya.

​"Glock, M4, rompi anti-peluru, amunisi melimpah... Trevor benar-benar tidak pernah mengecewakan kalau soal pasokan persediaan perang," gumam Lester sambil mengelus permukaan kayu peti tersebut.

​Michael menyandarkan pinggulnya di tepi meja, merogoh saku kemejanya untuk mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya dengan pemantik.

​"Bukan cuma persenjataan ini, Lester," kata Michael sambil menghembuskan asap putih tebal ke atas. "Aku juga sudah bicara dengan Trevor di Sandy Shores tadi malam. Besok siang, dia sendiri yang bakal turun meluncur ke Los Santos untuk bergabung dengan kita."

​Franklin menaikkan alisnya, sedikit terkejut. "Si gila Trevor ikut turun ke kota?"

​"Ya," tegas Michael. "Dan begitu Trevor sudah menginjakkan kakinya di sini, kita semua—aku, kau, Andika, Trevor, dan Lester—akan berkumpul penuh di ruangan ini. Kita susun peta operasional, bagi tugas spesifik, dan eksekusi rencana perampokan besar ini secara matang tanpa ada celah kesalahan sedikit pun."

​"Bagus," timpal Lester dingin sambil mengangguk-angguk. "Tepat seperti yang kubayangkan. Semakin cepat Trevor sampai, semakin cepat kalkulasi skenario matang bisa kumenitkan ke kalian."

​Pekerjaan logistik yang melelahkan dari Sandy Shores hingga Los Santos akhirnya tuntas sepenuhnya. Beban tegang di pundak mereka perlahan meluruh ditelan fajar yang makin terang.

​Lester berputar dengan kursi rodanya menuju kulkas kecil di sudut ruangan, membukanya, lalu mengambil beberapa botol bir dingin. Ia membagikan botol-botol itu kepada Michael, Franklin, dan Andika.

​CTAK! CTAK! CTAK!

​Suara tutup botol besi yang dilepas bersahutan renyah. Empat pria yang terikat dalam lingkaran kejahatan profesional itu mengangkat botol mereka tinggi-tinggi di udara.

​"Untuk tim baru kita, dan untuk jutaan dolar yang akan jadi milik kita sebentar lagi," ucap Michael tenang.

​"Untuk jutaan dolar!" sahut Franklin dan Lester serempak.

​Andika tersenyum tipis, merapatkan ujung botol birnya ke botol Michael dan Franklin sebelum meneguk cairan dingin beralkohol itu hingga membasahi kerongkongannya yang kering akibat debu perjalanan gurun. Rasa pahit yang menyegarkan meresap seketika, mengikis tuntas rasa lelah berkendara berjam-jam dari Sandy Shores.

​Mereka berempat kemudian duduk melingkar di ruang tengah kediaman Lester. Di bawah pendar remang layar-layar komputer dan kehangatan sinar matahari pagi yang mulai menerobos masuk dari celah jendela kayu, obrolan santai mengalir tanpa henti.

​Franklin menyandarkan badannya di sofa tua, tertawa lepas saat Michael menceritakan ulah-ulah konyol dan gila Trevor selama mereka berada di rumah kontainer tadi malam. Sementara itu, Andika menikmati rokoknya, sesekali melempar kelakar renyah yang disambut tawa terkekeh dari Lester. Tidak ada lagi sisa-sisa duka atas kematian Lamar, tidak ada lagi bayang-bayang teror geng Ying Long yang memburu. Yang ada di dalam ruangan itu hanyalah rasa puas, kehangatan persaudaraan baru, dan euforia bahagia membayangkan besarnya hasil dari aksi heist gila yang akan mereka guncang bersama di Los Santos besok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!