Indonesia
NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menikah?

**

Rafa berdiri gusar sembari menempelkan ponsel di telinga, menunggu panggilannya diangkat.

​"Hallo, Assalamualaikum."

​Deg

​Mendengar panggilannya terjawab oleh wanita yang sangat ia sayangi, membuat Rafa semakin bingung dan merasa bersalah.

​"Hallo Raf, kamu masih ada di sana?" teriak Mama karena Rafa masih terdiam.

​"Iy-a Ma, Rafa di sini." Rafa semakin menelan ludah gugup, bingung harus memulai dari mana.

​"Gimana kerjaan kamu di sana? Kapan pulang?" tanya Mama yang memang tahunya Rafa sedang ada kerjaan di luar kota, Alexa yang bekerjasama menyampaikan ini ke Mama.

​"Ma ...." Rafa bukan lelaki cengeng, tapi sungguh kali ini suaranya sudah bergetar. "Maafin Rafa, Rafa ... salah. Maafin Kakak, Ma ....!"

​"Kamu kenapa, Kak? Kamu dipecat dari kantor?"

​Rafa terdiam, sangat bingung harus mengatakan apa. Rafa menjambak rambut frustrasi. Seharusnya tidak begini! Seharusnya, dia bisa memberitahu orangtuanya dengan situasi dan kondisi yang lebih baik.

​Rafa sudah berencana setelah pulang dari sini, akan langsung menemui keluarganya dengan membawa Felisa dan Elvan untuk meminta maaf dan restu. Tapi kali ini, semua rencana itu terpaksa berantakan.

​Rafa tahu, orangtuanya pasti tidak bisa menerima ini semua dengan keadaan baik-baik saja. Berita tentang dirinya yang sudah mempunyai anak sebelum menikah seusia Cio, itu sudah kesalahan besar yang sulit untuk bisa mereka terima. Sekarang, Rafa harus memberitahu mereka, jika ia akan menikah dan menyuruh mereka ke sini.

​"Kak, kenapa? Jangan buat Mama khawatir, Kak!" Suara lembut Mama, semakin membuat Rafa menjadi anak durhaka. Bagaimana bisa, dia harus kembali membuat luka yang sama di keluarganya?

​"Mama, Papa, Rama dan keluarga Alexa bisa ke tempat Rafa sekarang?" Rafa menelan ludah gugup. "Rafa akan menikah besok. Bisa kan, kalian ke sini?"

​"Kamu bilang apa?" Suara Mama terdengar gusar. "Jangan bercanda deh, Kak. Ini Mama, lagi buat kue!"

​"Kakak serius." Rafa menjawab lemah, netranya semakin gusar. "Hari ini, kalian bisa datang ke sini, kan?" Besok Kakak mau nikah, Ma."

​"Raf?"

​"Nanti pas ketemu, Kakak janji akan jelaskan semuanya. Bisa kan, Ma?" Rafa tidak tahu, apa dirinya masih pantas untuk memohon seperti ini?

​"Baik!" Suara Mama jelas terdengar kalut dan bergetar. "Kita akan datang ke sana. Kamu kirim alamatnya! Mama tunggu penjelasan yang gak masuk akal ini!"

​Sebelum Rafa menjawab, sambungan telepon sudah terputus. Mungkin, Mama masih syok dan mulai memberitahu semuanya. Mereka mungkin masih memutuskan apa memang harus datang atau tidak. Rafa sudah bisa merasakan bagaimana kecewa, kalut mereka saat ini.

​Seandainya, semalam Rafa lebih bisa menahan diri lagi. Seandainya, Rafa tidak kehilangan akal saat mencium Felisa di pinggir sawah. Sekali lagi, seandainya tadi pagi dia bisa bangun lebih pagi dan kembali diam-diam keluar dari kamar Felisa dan Elvan, tidak kesiangan dan kepergok oleh salah satu ibu Felisa dan membuat kehebohan satu pesantren. ​Mungkin, Rafa bisa meminta restu ke keluarganya untuk menikahi Felisa dengan cara yang lebih baik. Ah ... dari awal memang semuanya tidak diawali dengan baik. Pernikahan baik apa, jika sudah mempunyai anak sudah berusia 5 tahun?

​"Papa!"

​Suara panggilan itu, membuat Rafa serentak menoleh ke arahnya. Seorang bocah lelaki berlari ke arahnya dengan menggandeng seorang anak perempuan yang seusianya. Tunggu, Elvan dengan siapa? Itu anak perempuan siapa yang bocah itu bawa?

​"Papa!" Panggil Elvan setelah dekat dengan Rafa. Otomasi Rafa berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. "Lihat, aku bawa siapa?"

​Rafa tersenyum. "Siapa memang?" Rafa beralih melihat anak perempuan itu. "Hi, cantik! Siapa nama kamu?"

​"Bintang, Om!" Anak perempuan itu menjawab sembari mengulurkan tangan yang langsung dibalas, setelah itu Rafa langsung mencubit kecil pipinya gemas.

​"Gimana, cantik kan, pacar aku?" Seru Elvan bangga sambil menepuk dada, sementara Bintang tersenyum malu-malu di samping Elvan.

​Tunggu? Ini pemandangan apa? Pacar? Ini anaknya yang masih lima tahun, tiba-tiba datang memperkenalkan pacar dan dengan bangga mengatakan jika pacarnya cantik? Jika ini Elvan dalam keadaan sudah SMA, mungkin Rafa masih bisa memaklumi. Tapi, ini anaknya masih TK!

​"Siapa yang pacar kamu?" tanya Rafa masih penuh selidik, memperhatikan mereka berdua yang satunya masih tersenyum malu-malu. Dosa apa dia di masa lalu?

​"Bintang pacar aku, lah!" Elvan menjawab masih sama bangga dengan masih menepuk dadanya.

​"Emang tahu pacaran itu apa?"

​"Kata Auntie Ila dan Uncle Budi, pacaran itu dimana Bintang jadi milik aku!" Elvan memamerkan gigi dengan ada coklatnya ke Rafa.

​Rafa menghela napas lelah, masa anaknya sudah dewasa sebelum waktunya? Memang yah, Lila sama Budi setidak ada akhlak itu bisa mengajarkan anaknya hal tidak benar. Ini ibunya tahu tidak, anaknya yang masih lima tahun ini sudah mempunyai pacar?

​"Ketemu!" teriak Lila dan Budi bersama sambil masih terengah-engah habis berlari. Mungkin, mengejar Elvan yang kabur dari jangkauan. Sudah biasa!

​"Eh, ada Kak Rafa!" seru Budi tersenyum lebar, anak itu memang terlalu murah senyum menurut Rafa. Kadang, ngeri juga jika giginya kering.

​"Eh, ada kalian." Rafa tersenyum misterius. "Ini anak saya tiba-tiba sudah memperkenalkan pacarnya yang bernama Bintang. Katanya, tahu pacaran dari kalian!"

​Mereka berdua jelas langsung terkejut, saling menyikut untuk menjawab. Rafa hanya menggeleng karena dua orang itu malah bertengkar saling menyalahkan.

​Rafa memilih melihat Elvan. "Boy!" panggil Rafa membuat Elvan menoleh. "Pacaran itu untuk orang dewasa yang udah berumur 17 tahun. Kamu masih 5 tahun, masih kecil. Jadi, sekarang gak boleh dulu pacaran-pacaran, ok!"

​"Aku udah dewasa, Papa!" teriak Elvan tidak terima.

​Rafa menepuk kening, lupa kalau anaknya sudah sering mengaku-ngaku dewasa. Tidak tahu saja, jika banyak orang dewasa terkadang mau kembali lagi menjadi anak kecil. Betul, kan? Karena menjadi dewasa itu berat!

​"Oh ... udah dewasa, jadi Elvan boleh pacaran gitu?" Elvan langsung mengangguk. "Kalau udah dewasa, berarti Elvan gak boleh makan permen, eskrim, coklat. Apalagi kalau udah punya pacar, gak boleh main lagi, gak boleh minta jajan. Sekolah juga berhenti, harus kerja kaya Papa. Elvan mau?"

​Elvan secepat itu langsung melepas menggaman tangannya dari Bintang. Berlari kecil menghampiri Rafa yang langsung berada dalam gendongan.

​Rafa bisa melihat, Budi dan Lila terkekeh di belakang, sementara Bintang terlihat cemberut. Rafa sendiri mau tertawa, tapi lebih banyak ke senang karena akhirnya anaknya sudah kembali ke jalan yang benar.

​"Aku udah putus. Aku masih boleh jajan eskrim, kan?" Elvan mengangkat tangannya ke atas, seolah menunjukkan sudah tidak menggenggam apapun. "Papa, aku gak mau kerja. Mau tetap jajan, tapi aku bukan anak kecil dan udah dewasa."

​Rafa terkekeh. "Iya ... udah dewasa."

Rafa terlalu gemas, saking tidak tahannya menggigit kecil pipi Elvan.

​Setelah itu, Rafa kembali menitipkan Elvan kembali ke Budi dan Lila serta kembali bermain dengan Bintang. Kali ini, sebelum pergi memberi banyak petuah kepada dua adik tiri Felisa, ehmm ... calon dua adik tirinya mungkin untuk tidak mengajarkan hal-hal yang tidak seharusnya lagi. Sudah ada Cio yang menjadi guru liar anak itu, tolong jangan ditambah lagi yang lain!

Biasanya, Felisa selalu ingin bisa mempercepat waktu supaya semua hal buruk yang terjadi bisa terlewati. Tapi sekarang, rasanya ia lebih ke ingin memperlambat waktu supaya dia masih bernapas lebih lama untuk bisa memikirkan situasi rumit ini.

​"Jadi, kamu mau maafin Tante karena gak bisa jaga anak Tante?"

​Felisa hanya bergeleng lemah, canggung juga. "Gak Tante ... Tante gak salah. Di sini yang salah saya sama Rafa, sama-sama tidak bisa menjaga diri. Harusnya, saya yang meminta maaf karena sebagai wanita terlalu lemah menjaga diri sampai bisa hamil di luar nikah."

​Tiba-tiba Felisa merasakan, Tante yang duduk di samping sudah merangkulnya. "Jujur, Tante kecewa dan marah. Kenapa keluarga Tante harus mengalami seperti ini terus? Dulu, adiknya Rafa yaitu Alexa juga seperti ini sama seperti kalian. Tante jadi berpikir, apakah memang salah kami sebagai orang tua dalam didik?"

​Felisa semakin merasa bersalah, saat melihat wajah Tante, yaitu tak lain Ibu dari Rafa ini tertunduk sedih.

​Yah, seperti yang Felisa bilang. Jika saat ini, disituasi rumit ini waktu memang seperti berjalan terlalu cepat. Siapa sangka, tadi sebelum makan malam keluarga Rafa dari Jakarta sudah datang seperti maunya Abah. Tak banyak memang, hanya keluarga inti Rafa dan keluarga kecil Felisa karena memang tidak ada perayaan besar.

​"Tante," panggil Felisa, meraih tangannya. "Saya yakin, Tante sama Om tidak pernah salah dalam mendidik tapi, kami sebagai anak yang salah jalan dalam menyikapi kehidupan. Saya meminta maaf, Tante. Tolong, jangan menyalahkan diri Tante."

​Tiba-tiba Tante meraih Felisa dalam pelukan. Felisa bisa merasakan jika Tante terisak, otomatis membuat dirinya ikut menangis.

​"Tante bersyukur, karena kamu yang sudah menjadi wanita kesalahan Rafa. Tante bersyukur, karena kamu yang akan menjadi istri Rafa. Tante tahu, jika kamu wanita baik-baik yang terpaksa terjebak dalam jalan yang salah. Rafa memang bukan anak kandung Tante, tapi Tante sudah menyayangi dia seperti anak kandung sendiri. Tante mau dia bahagia dan mendapatkan yang terbaik yang seperti kamu."

​"Makasih, Tante. Makasih, karena udah nerima aku."

​"Felisa." Tante melepaskan pelukan, menatap Felisa dalam. "Mulai sekarang, kamu bisa panggil Tante dengan sebutan Mama. Toh, besok kalian juga akan menikah."

​Felisa tersenyum haru. "Iya ... Ma ... Ma."

​Tante, yang sekarang sudah Felisa panggil Mama kembali memeluknya. Setelahnya, mereka hanya larut dalam situasi haru. Saling berbagi banyak cerita, kisah ke belakang yang terlewat.

​Malamnya, Felisa sudah berbaring beralaskan kasur lantai bersama Alexa yang sudah tertidur lelap, setelah tadi mereka mengobrol panjang.

​Felisa melirik ke arah kasur, dimana di sana ada Elvan yang tidur bersama Cio anak sulung Alexa. Sedang sibayi, anak bungsu Alexa yaitu Cia tidur di kasur bayi yang Alexa bawa dari Jakarta.

​Felisa enggan untuk tertidur, karena dia tahu setelah bangun besok mungkin hidupnya berubah dan kembali memulai lembaran baru. Menikah? Demi apa hal ini tidak pernah ada dalam bayangannya. Dulu, dia pikir sudah cukup bahagia hidup berdua bersama Elvan sampai tua nanti. Tapi, sekali lagi takdir selalu punya cara tersendiri untuk menjalankan perannya terhadap hidup kita.

​Rafa? calon suami yang akan resmi menjadi suaminya besok. Padahal besok mereka menikah, tapi hari ini mereka tidak pernah mempunyai kesempatan untuk sekedar berbicara berdua. Tadi sempat bertemu sekilas, Felisa bisa melihat wajah Rafa yang memar. Mungkin, itu hadiah yang diberikan oleh keluarganya.

​Hari ini, semua berjalan terlalu cepat setelah Rafa terpergok tidur di kamar ini, serta video yang direkam warga tadi malam tentang apa yang mereka lakukan di pinggir sawah. Lucu memang, seperti sebuah drama sinetron hidup mereka!

​"Akh ... sakit!" gumam Elvan yang langsung membuat Felisa menghampiri.

​Felisa hampir saja tertawa keras, sebelum sadar jika dia bisa saja membangunkan mereka. Elvan dan Cio sudah seperti sedang berakrobat di atas kasur. Posisi tidur mereka, sudah jauh dari tempat semestinya. Elvan, sudah tertidur pindah menjadi ganti posisi ke pinggir dengan kaki Cio dia peluk, sementara Cio sudah berganti posisi menjadi terbalik.

​"Bocah-bocah ini."

​Felisa dengan hati-hati menggeser posisi tidur mereka kembali dengan benar. Setelah menyelimuti mereka, Felisa mencium kening Elvan.

​"Semoga ini yang terbaik buat kamu yah, sayang."

##

1
Siti Musyarofah
lagi, lagi Thor tahu2 udah abis aja
uriarmy16: sabar pemirsa 🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
lanjut thor
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!