Indonesia
NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Gedung ballroom mewah itu tampak megah.

Di atas pelaminan yang didekorasi minimalis namun elegan, duduklah Langit Prita Dewanta, seorang CEO muda yang terkenal dingin, tegas, dan perfeksionis di dunia bisnis.

Di sampingnya, duduk Bumi Mahardika, pria yang selama ini dianggap biasa oleh sebagian orang, namun memiliki keteguhan hati sekeras batu karang.

Meja akad nikah menjadi pusat perhatian seluruh ruangan. Di sana, telah duduk Kakek Jaka Dewanta, sang patriark keluarga Dewanta sekaligus sosok yang paling dihormati.

Rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh wibawa.

Kakek Jaka memutuskan untuk bertindak langsung sebagai wali nikah untuk cucu perempuan kesayangannya, menegaskan betapa pentingnya pernikahan ini bagi masa depan keluarga mereka.

Di sebelah Kakek Jaka, seorang penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) memeriksa kembali berkas-berkas penting sebelum memulai inti dari acara hari ini.

"Bagaimana, saksi? Sudah siap?" tanya penghulu dengan suara bariton yang menggema melalui mikrofon.

Dua orang saksi penting, salah satunya adalah mantan menteri yang juga sahabat karib Kakek Jaka, mengangguk mantap. "Siap."

Penghulu kemudian menatap Kakek Jaka dan Bumi bergantian, memberi isyarat bahwa waktu yang dinantikan telah tiba.

Kakek Jaka mengulurkan tangan kanannya, yang segera disambut oleh genggaman erat dari Bumi Mahardika. Kedua tangan itu bertaut di atas meja akad.

Suasana gedung seketika hening.

Bahkan suara gesekan gaun tamu yang hadir pun tak lagi terdengar. Semua orang menahan napas, ikut merasakan ketegangan yang mendebarkan.

Kakek Jaka menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam manik mata Bumi.

Dengan suara yang bergetar penuh haru namun tetap sarat akan ketegasan, beliau memulai,

"Saudara Bumi Mahardika, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan cucu kandung saya, Langit Prita Dewanta binti almarhum Baskoro Dewanta, dengan maskawin berupa logam mulia seratus gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai."

Tanpa ada jeda, tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya, Bumi Mahardika menarik satu tarikan napas yang mantap.

Tatapan matanya lurus, suaranya keluar dengan begitu lantang dan tegas, memenuhi setiap sudut gedung mewah tersebut.

"Saya terima nikah dan kawinnya Langit Prita Dewanta binti almarhum Baskoro Dewanta dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"

Keheningan sesaat itu langsung pecah ketika penghulu menoleh ke arah para saksi. "Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah!"

"Sah!"

Suara para saksi dan ratusan tamu undangan bergema serempak di dalam gedung mewah tersebut, menyatakan jika pernikahan antara sang CEO dan Bumi Mahardika sudah resmi secara agama dan hukum.

Doa-doa kebaikan segera dipanjatkan, dipimpin oleh sang penghulu.

Bumi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengucap syukur yang tak terhingga dalam hati.

Di sampingnya, Langit menundukkan kepala, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Setelah doa selesai dibacakan, tibalah saatnya untuk prosesi pemasangan cincin pernikahan. Sebuah kotak beludru merah dibuka oleh pramusiwi, menampilkan sepasang cincin berlian berdesain elegan namun sarat makna.

Bumi terlebih dahulu mengambil cincin untuk disematkan di jari manis Langit.

Namun, alih-alih langsung memasukkannya dengan kaku, Bumi sengaja menatap wajah Langit yang tampak sangat tegang.

Wajah dingin sang CEO yang biasa ia lihat di ruang rapat kini berganti dengan gurat kecemasan seorang wanita di hari pernikahannya.

Bumi tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang hanya ditujukan untuk wanita di hadapannya. Ia meraih jemari tangan kanan Langit yang terasa sedikit dingin dan bergetar.

"Jangan tegang begitu, Bu CEO. Saya tidak akan menggigit," bisik Bumi dengan nada bercanda yang sangat lirih, namun cukup terdengar oleh Langit dan beberapa orang di sekitar meja akad.

Mendengar bisikan itu, Langit seketika mendongak. Matanya membulat, terkejut dengan keberanian Bumi bersekongkol meruntuhkan citra formalnya di depan umum.

Sontak saja, momen bercanda mesra itu memicu tawa kecil dari penghulu dan Kakek Jaka yang mendengarnya.

Beberapa tamu di barisan depan yang melihat interaksi spontan tersebut ikut tersenyum dan tersipu gemas.

Wajah Langit yang biasanya pucat dan kaku perlahan-lahan merona merah. Ia merasa sangat malu sekaligus kesal, namun di balik itu semua, ada rasa hangat yang mendera.

Dengan perlahan, Bumi menyematkan cincin emas putih itu ke jari manis Langit hingga pas di pangkalnya.

Kini giliran Langit yang mengambil cincin untuk Bumi. Dengan gerakan yang lebih anggun meskipun tangannya masih sedikit gemetar karena sisa rasa malu, Langit menyematkan cincin tersebut ke jari manis Bumi.

Saat cincin itu sepenuhnya terpasang di jari masing-masing, Langit merasakan sebuah kehangatan baru yang menjalar di hatinya.

Sesuatu yang asing, namun menenangkan. Jujur saja, pada awalnya, pernikahan ini dirancang atas dasar kontrak dan kesepakatan keluarga besar demi mempertahankan stabilitas perusahaan.

Namun, melihat ketegasan Bumi saat mengucapkan kalimat kabul, mendengar gemuruh suara saksi, dan merasakan sentuhan jemari Bumi yang hangat, kontrak pernikahan ini perlahan-lahan mulai terasa seperti sesuatu yang nyata.

Langit kemudian meraih tangan kanan Bumi, lalu mencium punggung tangan suaminya itu dengan khidmat.

Bumi membalasnya dengan mengecup kening Langit cukup lama, menyalurkan seluruh rasa hormat dan janji setianya sebagai seorang suami.

Suasana sakral dan haru tercipta begitu nyata di dalam gedung. Air mata bahagia tampak menetes dari pelupuk mata beberapa kerabat dekat.

Kebahagiaan luar biasa dirasakan oleh banyak orang yang hadir di sana, menyaksikan akhir dari penantian dan awal dari lembaran baru bagi dua insan tersebut.

Kakek Jaka Dewanta tersenyum lega, air mata kebahagiaan tampak mengalir di pipinya yang mulai berkerut. Beban berat di pundaknya serasa terangkat melihat cucunya kini memiliki sandaran hidup yang tepat.

Namun, di balik dinding-dinding penuh tawa dan kebahagiaan itu, tidak semua hati ikut bersuka cita. Di sudut barisan kursi keluarga besar, berdirilah Hendra Dewanta, paman dari Langit.

Wajah Hendra tampak mengeras, rahangnya mengetat menahan amarah yang meletup-letup di dalam dada.

Matanya menatap tajam ke arah pelaminan dengan tatapan penuh kebencian dan kedengkian. Tangannya mengepal kuat di dalam saku jas mahalnya.

Hendra benar-benar mengutuk pernikahan ini. Pernikahan yang pada akhirnya direstui dan didukung penuh oleh ayahnya sendiri, Jaka Dewanta.

Bagi Hendra, kehadiran Bumi Mahardika di dalam keluarga Dewanta adalah sebuah ancaman besar.

Selama ini, ia telah menyusun berbagai rencana untuk menggeser posisi Langit dari kursi CEO dan menguasai seluruh aset perusahaan keluarga.

Rencananya hampir berhasil sebelum Kakek Jaka turun tangan dan merestui Langit dengan Bumi sebagai salah satu syarat mutlak pertahanan posisi Langit.

"Sialan," umpat Hendra dengan suara yang sangat pelan, nyaris berupa desisan. "Tua bangka itu benar-benar menutup jalanku dengan membawa pemuda sialan ini masuk ke dalam keluarga."

Ia menatap Bumi dengan pandangan meremehkan. Di mata Hendra, Bumi hanyalah pion yang tidak punya kuasa apa-apa.

Namun, ketegasan Bumi saat mengucapkan ijab qobul tadi sempat membuat hatinya menciut sesaat.

Hendra tahu, mulai hari ini, langkahnya untuk menggulingkan Langit akan menjadi berkali-kali lipat lebih sulit karena ada Bumi yang siap pasang badan.

Meskipun hatinya dipenuhi dendam dan kutukan, Hendra terpaksa harus memasang topeng kemunafikan ketika beberapa kolega bisnisnya mulai menoleh dan menyapanya.

Ia memaksakan sebuah senyuman palsu, berpura-pura ikut bahagia di atas panggung sandiwara yang ia benci setengah mati.

Kembali ke pelaminan, kilatan cahaya kamera dari para fotografer terus mengabadikan momen-momen indah setelah akad nikah.

Bumi dan Langit kini berdiri berdampingan, memegang buku nikah mereka yang berwarna merah dan hijau, lalu memamerkannya ke arah para tamu dengan senyum yang terus mengembang.

Langit sesekali melirik ke samping, memandangi profil wajah Bumi dari samping.

Pria itu tampak sangat gagah dengan beskap putihnya. Rasa cemas dan ketakutan yang sempat menghantui Langit sebelum acara dimulai kini perlahan sirna, digantikan oleh rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya semenjak ayahnya tiada.

"Terima kasih, Bumi," bisik Langit di sela-sela sesi foto, suaranya sangat lembut, hampir tenggelam di antara riuh rendah suara musik gamelan yang mengalun indah.

Bumi menoleh, menatap istrinya dengan binar mata penuh ketulusan.

Ia menggenggam jemari tangan Langit yang kini sudah tidak lagi dingin. "Sama-sama, Langit. Mulai hari ini, kita hadapi semuanya bersama-sama."

komen yang banyak ya gaes, biar tambah semangat nulisnya.

1
Nurhartiningsih
fix bumi ketua mafia yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
jadi penasaran siapakah bumi?
Akhila Davina
semangat kak💪❤️
Akhila Davina
mudah" tidak ada lagi hambatan
Nurhartiningsih
jangan2 bumi adl CEO yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
seperti biasa...pengkhianatnya adl orang dekat
Nurhartiningsih
apakah ini juga ada kaitannya dg keluarga Nugraha????
Akhila Davina
good job Rian❤️
Akhila Davina
semangat 💪❤️
Siti Aisah
oh"sebenernya masih kurang karena penasaran menunggu besok.. tapi apalah daya jadi" terimakasih thor 🤣
Siti Aisah
bang bumi dan rian the best lah.. walaupun bergadang sampai pagi demi langit yg bisa tidur nyenyak😜
Siti Aisah
syukur lah bumi sudah memberikan ide untuk menyelesaikan masalah langit.. walaupun dgn ide yg nyeleneh😁
Kaa
sungguh tak sabar ingin tahu besok gimana Hendra ngadapin itu semua
Kaa
seru Thor aku suka gaya bicara bumi👍
Siti Aisah
thor kukira cuman satu bab 🤭penasaran akan kah langit dan bumi bisa mengatasi masalah yg terjadi??tpi yg penting mah langit bisa tidur sambil di peyuk bumi🤗
Kaa
bumi sungguh menghanyutkan
Akhila Davina
ditunggu
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
Akhila Davina
semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!