Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Jarak Aman

Pertanyaan Andrea menggantung cukup lama di udara. Naya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap bulir-bulir air yang menetes di dinding gelas es kopinya.

“Aku tidak butuh izin yang rumit, Ndre,” ujar Naya pelan.

“Pak Arka punya kesibukannya sendiri, dan aku punya kehidupan yang harus tetap berjalan. Lagipula... kami punya batasan masing-masing.”

Andrea menghembuskan napas halus, sadar tak bisa memaksakan pertanyaannya lebih jauh.

“Ya sudah. Yang penting kamu siapkan CV malam ini. Begitu dapat job description dari HRD, langsung aku kirim via WhatsApp.”

“Siap. Makasih banyak ya, Ndre.”

Selepas berpisah dengan Andrea di depan kafe, Naya tidak langsung pulang ke apartemen. Ia meminta Pak Dudung mengantarkannya ke sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari sana. Ada satu barang penting yang harus ia beli, sebuah guling.

Peristiwa tadi pagi saat Arka memergokinya tertidur terlalu dekat, ditambah godaan pria itu yang berhasil membuat jantungnya maraton, menjadi alarm keras bagi Naya.

Ia butuh pembatas di atas tempat tidur king size itu. Guling adalah solusi paling masuk akal untuk menjaga jarak aman.

Dengan menenteng satu kantong plastik besar berisi guling empuk berwarna putih netral, Naya akhirnya tiba di apartemen Arka menjelang sore.

Pak Dudung membantunya membawakan kantong belanjaan hingga depan pintu unit sebelum pamit ke area parkir.

Naya menempelkan kartu akses, lalu melangkah masuk ke dalam apartemen yang sepi.

Suasana hening menyambutnya. Arka jelas belum pulang kerja.

Naya menghela napas lega. Ia langsung berjalan menuju kamar utama, meletakkan guling baru itu tepat di tengah-tengah kasur, membelah area tidur menjadi dua bagian yang sama besar.

“Nah, begini kan aman,” gumam Naya puas, menepuk-nepuk guling tersebut.

“Tidak akan ada kejadian salah paham atau keluar batas lagi.”

Setelah meletakkan guling, Naya segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan baju rumah yang santai. Ia lalu membuka laptop di meja kerja kecil di sudut kamar untuk memoles kembali CV miliknya, bersiap menyambut peluang kerja dari Andrea minggu depan.

*

*

Waktu menunjukkan pukul lima sore saat Doni melangkah masuk ke ruangan kerja Arka tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

Sejak pagi, ia memperhatikan bos sekaligus sahabatnya itu terlihat tidak bergairah. Tatapan mata Arka redup, beberapa kali menguap, dan lebih banyak melamun menatap layar laptop yang menampilkan dokumen kantor.

Doni menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja Arka, lalu melipat kedua tangan di dada.

“Bro, lu kenapa sih hari ini? Muka udah kayak baju belum disetrika, kusut banget,” celetuk Doni terang-terangan. “Kurang tidur lu? Perasaan tadi pagi gak ada jadwal penerbangan subuh.”

Arka memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, lalu menghembuskan napas berat. Ia menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya.

“Gak apa-apa. Cuma agak capek aja,” sahut Arka datar.

Doni menaikkan sebelah alisnya, jelas tidak percaya.

“Capek apaan? Lu seharian cuma duduk di sini, Ka. Mata lu tuh udah kayak panda. Lu... gak bisa tidur semalam? Atau ada yang bikin otak lu traveling?”

Arka mengalihkan pandangannya ke jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di sore hari. Bayangan Naya tidur bagai gurita pemangsa kembali berputar di kepalanya. Sialnya, hal itu sukses bikin fokusnya berantakan seharian.

“Gua cuma belum terbiasa aja,” gumam Arka pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Gak terbiasa apaan?” pancing Doni, langsung menangkap gelagat aneh sahabatnya itu.

“Sama status baru lu? Atau... sama yang tidur seranjang sama lu sekarang?”

Arka melotot kecil ke arah Doni. “Ngomong lu sembarangan.”

“Ya elah, Ka, kita kenal bukan kemarin sore. Lu tuh kelihatan banget kayak orang yang lagi kepikiran sesuatu,” Doni terkekeh pelan sambil menepuk bahu Arka.

“Udah lah, jam kantor udah kelar. Mending lu pulang, istirahat. Daripada lu di sini makin kelihatan kayak mayat hidup.”

Arka melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul lima lewat lima belas menit. Ia akhirnya merapikan berkas di mejanya dan menutup laptop.

“Gue balik duluan,” ujar Arka sambil berdiri dan mengambil jasnya.

“Sip. Salam buat bini lu ya, Ka! Jangan galak-galak, kasihan Naya!” seru Doni sambil tertawa saat Arka berjalan keluar ruangan.

Perjalanan menuju apartemen memakan waktu sekitar empat puluh menit karena kemacetan khas jam pulang kantor.

Selama di dalam mobil, Arka lebih banyak diam, memikirkan bagaimana situasi di rumah nanti.

Begitu tiba di unit apartemennya, Arka menempelkan kartu akses. Suasana dalam apartemen tampak tenang dan harum aroma pembersih lantai yang segar.

Ia melangkah menuju kamar utama dan mendorong pintunya pelan.

Di sudut kamar, Naya terlihat sedang fokus di depan laptopnya dengan kacamata bertengger di hidung. Namun, pandangan Arka tidak bertahan lama di sana. Matanya langsung tertuju pada objek baru yang berada tepat di tengah-tengah kasur king size miliknya.

Sebuah guling putih berukuran besar membujur kaku di sana, membelah tempat tidur itu menjadi dua zona terpisah.

Arka menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap guling itu lalu beralih menatap Naya dengan alis bertaut. Lalu tersenyum tipis.

Arka melangkah masuk, melepas jas hitamnya lalu menyangkutkannya santai di kapstok dekat pintu. Langkah kakinya yang mantap mendekati tempat tidur, berhenti tepat di samping sisi kasur yang kini "berbenteng".

Pria itu mencondongkan badan, menepuk-nepuk guling putih yang tampak masih sangat baru dan mengkilap tersebut dengan dua jarinya.

“Wah, hebat ya,” sindir Arka dengan nada suara beratnya yang khas.

“Sekarang tempat tidur saya sudah resmi punya garis pembatas wilayah. Pakai benteng pertahanan segala.”

Naya yang semula fokus menatap layar laptop langsung mendongak. Ia melepas kacamatanya pelan, lalu menatap Arka tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Itu bukan benteng, Pak Arka, tapi investasi keamanan,” jawab Naya tenang, menopang dagunya dengan satu tangan.

“Dengan begitu, dijamin tidak akan ada lagi 'musang kecil' yang tiba-tiba berubah jadi gurita pemangsa di tengah malam.”

Arka terkekeh pelan. Sebuah kekehan bernada dingin yang sanggup membuat tengkuk siapa pun meremang. Ia menegakkan tubuhnya, melipat kedua lengan di dada sambil menatap Naya tajam.

“Gurita, ya?” ulang Arka pelan, mengingat kembali bagaimana seluruh kaki dan tangan perempuan itu membelitnya tadi pagi. “Setidaknya musang tahu cara menjaga jarak. Apa kamu yakin kain dakron ini cukup kuat buat menahan gurita yang lepas kendali pas lagi mimpi?”

Naya mengernyit, kepalanya miring sedikit memperhatikan ekspresi Arka. Nada bicara pria itu tenang, namun ada kilat kejengkelan yang kentara di matanya.

“Lho? Bukannya Pak Arka sendiri yang minta?” cetus Naya heran. Ia memajukan tubuhnya, menatap Arka yang masih berdiri tegak di samping tempat tidur.

“Tadi pagi Pak Arka yang protes karena saya tidur kemana-mana. Pak Arka juga yang terang-terangan bilang kalau kita butuh guling buat pembatas. Sekarang barangnya sudah ada, kok malah sewot?”

Arka sempat terdiam. Ia tidak menyangka Naya akan membalas ucapannya secara lugas. Bayangan kekesalannya tadi pagi saat menahan napas akibat jarak yang terlalu dekat, memicu keputusannya yang spontan menyuruh Naya membeli guling.

Namun melihat benda itu benar-benar membujur kaku membelah kasurnya, ada perasaan ganjil yang tak kasatmata mengusik benaknya.

Arka mendengus pelan, berusaha menguasai raut wajahnya agar tetap datar. Ia mengurai lipatan tangannya lalu melangkah mendekati meja kerja Naya.

“Saya memang minta pembatas. Tapi bukan guling sebesar ini,” ujar Arka beralasan, menunjuk benda putih tebal itu dengan dagunya. “Ini makan tempat. Kasur jadi berasa makin sempit.”

Naya melotot tak percaya. “Ini ukuran standar tempat tidur king size, Pak! Lagipula, kalau tidak tebal, ya tidak akan mempan menahan 'gurita' yang Pak Arka maksud tadi.”

“Terserah kamu,” sahut Arka singkat, enggan memperpanjang perdebatan yang membuat dirinya makin serba salah. Ia memutar badan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Yang jelas, jangan salahkan saya kalau tengah malam guling itu malah melayang ke lantai.”

Naya menatap punggung Arka yang menghilang di balik pintu kamar mandi dengan napas terengah gemas. Ia memegang guling putih itu, menepuknya pelan, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

“Aneh banget. Dia yang nyuruh, dia juga yang protes,” gumam Naya jengkel pada dirinya sendiri sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop.

–tbc–

1
sunaryati jarum
Tak usah gengsi permintaan Oma Soraya,memberi jalan untukmu memiliki Naya seutuhnya dan selamanya sampai maut memisahkan kalian
Maseni Maseni: yeah betul itu kak
peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba....sebenarnya arka mau bilang cinta ke naya tapi gengsi sekarang dibukakan jalan tuh sama permintaan oma soraya

sekarang saatnya saling mengungkapkan rasa... ga usah buru buru nikmati saja alurnya biar muncul kemistry di antara kalian

lanjut kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah ,Arka mengikuti nprovokasi Deni, semoga kalian jadi suami istri beneran, karena Arka mulai jatuh hati dan selalu kepikiran Naya.
sunaryati jarum
Mulai mengkhawatirkan istri dan memberi.perhatian
sunaryati jarum
Bener Naya kamu tak perlu itu, karena ada guling yang lebih hangat,yaitu suami kontrakmu yang hampir runtuh mempertahankan komitmen tentang pernikahan kalian😂😂🥰🥰
sunaryati jarum
Jika Naya bekerja ada celah bagi Redy dan kroninya untuk mengulik pernikahan Arka dan Naya
sunaryati jarum
Terus provokator Rendy , pernikahan yang awalnya kontrak jadi permanen, yang awalnya sandiwara jadi sesungguhnya,Arka yang tadinya gengsi jadi biasa
sunaryati jarum
Makin bucin ,ya
sunaryati jarum
Mulai posesif ,Nak Arka
Maseni Maseni
sepertinya makin seru kalau naya bekerja bareng andrea.... arka protes ga? cemburu ga saat istrinya sukses ditempat kerjanya?
semoga saja jangan sampai memicu trauma arka yg sdh lama ditutup rapat

lanjut double up ya kak🙏😍
sunaryati jarum
Di tempat tidur ada yang sah saja tidak disentuh apalagi ondel+ ondel mungkin jadi toilet umum
sunaryati jarum
Perasaan yang hadir di hati kamu tidak salah,Nak Arka.Hanya kamu berusaha menolak dan menyangkalnya
sunaryati jarum
, Jantungmu berdiscon hanya bersentuhan tangan dan mencium wangi.harum sabun mandi di tubuh Naya.Itu tanda kamu telah tertarik pada Naya.
Maseni Maseni
berawal dari hinaan dan ancaman rendy.....arka mengajak naya untuk benar benar melakukan peran suami istri sungguhan

lanjut kak
Wien Ibunya Fathur
inget paha lagi 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): emang paha merusak otak ya kak🤭🤭
total 1 replies
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!