H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Suara bising mesin eskavator yang meratakan bangunan rumah perlahan-lahan mereda seiring berjalannya waktu, menyisakan debu tebal dan pemandangan puing-puing berserakan. Di tengah kekacauan dan reruntuhan sejarah keluarga yang tersisa, perhatian beralih pada Gisella yang masih tak sadarkan diri di tanah lapang.
Atas desakan beberapa tetangga yang masih merasa iba atau lebih tepatnya ingin segera mengusir drama tersebut dari pekarangan mereka Gisella akhirnya dilarikan ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil pikap pinjaman tetangga.
Di ruang IGD Rumah Sakit Umum Harapan Bunda, aroma obat-obatan antiseptik langsung menyambut kedatangan keluarga kecil yang porak-poranda itu. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan intensif, dokter spesialis kandungan keluar dari balik pintu tirai putih dengan membawa papan rekam medis.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Bu Maya cemas, menghambur mendekati dokter dengan mata sembab dan riasan wajah yang luntur berantakan.
Dokter paruh baya itu tersenyum tipis menenangkan. "Alhamdulillah, nyawa pasien dan janinnya berhasil diselamatkan. Kondisi fisiknya memang mengalami kelelahan ekstrem, tekanan darah melonjak drastis akibat syok psikologis yang berat, dan ada sedikit kontraksi ringan. Tapi setelah diberi obat penenang dan infus penguat, janin di dalam kandungannya dalam keadaan baik-baik saja."
Mendengar penjelasan dokter, Bu Maya dan Pak Bambang mengembuskan napas panjang. Setidaknya, di tengah kehancuran total martabat keluarga mereka, cucu yang menjadi alasan utama pernikahan kilat itu masih selamat tanpa kurang suatu apa pun.
Beberapa menit kemudian, Gisella dipindahkan ke ruang rawat inap kelas tiga yang sederhana. Wanita itu terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan tangan terinfus cairan selang infus, wajahnya sepucat kertas, menatap kosong ke langit-langit ruangan.
Di samping ranjang, Reno berdiri dengan kepala tertunduk dalam. Kemeja pengantin yang dipakainya sejak pagi kini kotor oleh debu reruntuhan rumah, kusut, dan berbau keringat basi. Ia merasa terjepit di antara aroma rumah sakit yang menyengat dan rasa malu yang luar biasa besar.
Ponsel di saku celana Reno bergetar tanpa henti. Sebuah pesan masuk dari nomor mamanya sendiri, memerintahkan Reno untuk segera turun ke area parkir basement rumah sakit saat itu juga.
Reno menelan ludah, lalu menatap Bu Maya dan Pak Bambang yang duduk lesu di sofa kecil sudut ruangan.
"Bu, Pak..." pamit Reno dengan suara parau, berusaha menghindari tatapan mertuanya. "Saya... saya harus turun ke basement sebentar. Orang tua saya sudah menunggu di dalam mobil di bawah."
Bu Maya mengangguk lemah, melambaikan tangan lesu. "Iya, Ren... Temui orang tuamu dulu. Kasihan mereka pasti kaget dan kelelahan ngurusin kekacauan resepsi tadi."
Reno mengangguk cepat. Tanpa banyak membuang waktu, ia melangkah keluar kamar rawat, menyusuri koridor rumah sakit yang dingin menuju lift turun ke area parkir basement. Sepanjang perjalanan, ia bisa merasakan beberapa pasang mata pengunjung rumah sakit melirik kemeja pernikahannya yang tampak kotor dan compang-camping, membuat langkah kakinya semakin terasa berat.
Begitu pintu lift terbuka di lantai basement, Reno langsung mengedarkan pandangannya mencari mobil SUV hitam milik orang tuanya. Tidak butuh waktu lama, ia melihat mobil tersebut terparkir di sudut yang agak sepi dengan lampu hazard yang berkedip lambat.
Reno melangkah mendekat, lalu membuka pintu bagian belakang dan langsung masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC dingin.
Namun, belum sempat punggungnya bersandar sempurna di jok kulit mobil, sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kanannya.
Plak!
Suara tamparan itu menggema nyaring di dalam kabin mobil yang sempit. Kepala Reno tersentak ke samping, meninggalkan rasa panas dan perih yang luar biasa di pipinya.
Reno memegang pipinya yang memerah, mendongak dengan mata terbelalak kaget. Di depannya, duduk sang papa dengan dada naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak, sementara mamanya di samping duduk menutupi wajah dengan kedua tangan sambil terisak pelan.
"Papa...!" protes Reno terbata-bata, menatap pria paruh baya yang merupakan ayah kandungnya sendiri dengan tatapan tidak percaya.
"Jangan panggil saya papa kalau kelakuan kamu sudah seperti binatang buas!" bentak Papa Reno dengan suara menggelegar, penuh kemarahan yang sudah di ubun-ubun.
Papa Reno menatap anak laki-lakinya itu dengan sorot mata jijik dan kecewa yang amat mendalam. Selama ini, keluarga besar mereka dikenal terpandang dan terhormat. Namun hari ini, nama baik keluarga mereka hancur berkeping-keping akibat ulah bodoh sang anak.
"Dari awal, saya dan mamamu sudah menentang keras hubungan terlarang kalian!" bentak Papa Reno lagi, menunjuk tepat di depan hidung anaknya. "Kami merestui pernikahan itu karena kamu bilang Mahika yang kabur meninggalkanmu di hari H! Kami kira kamu adalah korban dari situasi yang tidak adil."
Mama Reno mengangkat wajahnya, air matanya mengalir deras membasahi pipi. Suaranya bergetar hebat saat ia berbicara.
"Tapi tadi siang... setelah video viral itu beredar di mana-mana, tetangga kita di komplek memperlihatkan kebenarannya pada kami, Reno!" isak Mama Reno pilu. "Kamu tidak ditinggal kabur! Kamu yang selingkuh! Kamu yang menghamili kakak kandung tunanganmu sendiri di belakang Mahika! Dan kamu membiarkan keluarga perempuan itu menutupi kebohonganmu."
Reno terdiam seribu bahasa. Tenggorokannya mendadak tercekat. Ia tidak menyangka berita kehancuran di kampung tadi siang sudah menyebar begitu cepat hingga sampai ke telinga orang tuanya di perumahan elite mereka di Jakarta.
"Muka papa mau ditaruh di mana, hah?!" lanjut sang papa dengan suara bergetar menahan malu yang teramat sangat. "Di hadapan rekan-rekan bisnis saya, di hadapan arisan mama kamu, keluarga kita sekarang menjadi bahan tertawaan se-Indonesia! Semua orang tahu kalau anak kandung saya adalah seorang pembohong, pengkhianat, dan parasit berkedok pria terhormat."
Suasana di dalam mobil mendadak hening mencekam. Yang terdengar hanyalah napas memburu sang papa dan isakan tertahan dari mamanya.
Papa Reno menarik napas dalam-dalam, meredakan amarahnya sejenak, lalu menatap putranya lekat-lekat dengan pandangan yang akhirnya melunak menjadi sebuah ultimatum mutlak.
"Sekarang, dengar baik-baik keputusan papa," ucap Papa Reno dengan nada suara dingin dan tak terbantahkan. "Pilih salah satu di antara dua jalan ini. Tinggalkan perempuan murahan yang ada di lantai atas itu, ceraikan dia sekarang juga, kembali ke rumah, dan biarkan papa urus sisa kekacauan kariermu di ibu kota... ATAU..."
Papa Reno berhenti seketika, menatap mata anaknya lurus-lurus.
"...pilih perempuan itu, nikmati hidup melarat bersama keluarga barumu di atas reruntuhan rumah yang hancur, dan anggap kamu sudah mati bagi keluarga kita."
Mendengar pilihan mutlak yang diberikan oleh ayahnya, Reno terperanjat hebat. Otaknya berputar cepat menimbang segala konsekuensi.
Di satu sisi, jika ia meninggalkan Gisella, ia harus menanggung malu yang jauh lebih besar di hadapan publik, ditambah lagi ia sudah resmi dipecat dari Aura Fashion tanpa pesangon sepeser pun. Masa depannya di Jakarta akan benar-benar tertutup rapat.
Namun di sisi lain, jika ia memilih Gisella... ia harus hidup bersama wanita yang kini sedang hamil anak dari hasil perselingkuhan mereka, di tengah keluarga yang jatuh bangkrut, tanpa rumah, tanpa pekerjaan, dan tanpa sokongan harta sepeser pun dari orang tuanya.
Reno menelan ludah berulang kali. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia menatap wajah mamanya yang memohon penuh harap, lalu beralih menatap tatapan dingin tanpa ampun dari papanya.
Sesaat kemudian, keraguan di mata Reno perlahan memudar, digantikan oleh keegoisan khas seorang pria pengecut yang sudah terlanjur basah. Ia tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan harga dirinya di depan Gisella.
Dengan suara pelan namun tegas, Reno mengangkat wajahnya.
"Ma... Pa... maafkan Reno," ucap Reno tertunduk, menghindari tatapan orang tuanya. "Reno sudah memilih jalan ini. Gisella adalah istri Reno sekarang, dan dia sedang mengandung anak Reno. Reno harus bertanggung jawab penuh atas pilihan Reno."
Mendengar jawaban tersebut, ekspresi di wajah Papa Reno berubah drastis. Kemarahan yang tadinya meluap-luap kini berubah menjadi kekecewaan mutlak yang teramat pekat. Pria paruh baya itu bersandar kembali di jok mobil, menutup matanya sejenak untuk meredakan sesak di dadanya.
"Baiklah," ucap Papa Reno dingin, suaranya terdengar datar tanpa emosi lagi. "Kamu bukan lagi anak saya. Mulai detik ini, kartu kredit, fasilitas, warisan, dan seluruh ikatan keluarga antara kamu dan keluarga besar kita resmi diputus."
Papa Reno menoleh ke arah pintu mobil, lalu membukanya sedikit dari dalam.
"Keluar dari mobil saya," usir sang papa tanpa ragu. "Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki di rumah kami lagi."
Reno tertegun, dadanya bergemuruh hebat. Namun harga diri palsunya menahan lidahnya untuk tidak memohon. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu mobil, melangkah keluar ke lantai basement rumah sakit yang dingin dan sunyi.
Brak!
Pintu mobil ditutup rapat dari dalam. Tanpa membuang waktu satu detik pun, SUV hitam itu melaju kencang meninggalkan Reno yang berdiri seorang diri di tengah remang-remang parkiran basement.
Reno menatap kepergian mobil orang tuanya dengan tatapan kosong. Di saat yang sama, ia sadar bahwa badai kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai bagi dirinya dan Gisella.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂