Indonesia
NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:21.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Di Balik Portofolio Zinnia

Zinnia berdiri di depan pintu ruang wawancara sambil memeluk map portofolionya.

Ia sudah memeriksa isi map itu berkali-kali sejak berangkat dari kontrakan. Beberapa desain lama, sejumlah karya terbaru, serta catatan kecil tentang konsep dan bahan yang ingin digunakannya telah tersusun rapi. Meski begitu, telapak tangannya tetap berkeringat.

Ia menarik napas, mengetuk pintu, lalu masuk setelah mendengar seseorang mempersilakannya.

Ada tiga orang di dalam ruangan. Seorang perempuan duduk di ujung meja. Sementara itu, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun yang mengenakan kemeja biru tua duduk berdampingan dengan seorang perempuan bernama Mira dari bagian rekrutmen.

“Selamat pagi. Silakan duduk,” ujar Mira.

Zinnia membungkuk sopan sebelum mengambil tempat di hadapan mereka.

“Saya Mira dari bagian rekrutmen. Ini Pak Damar, kepala tim pengembangan desain perhiasan,” kata Mira sambil memperkenalkan pria di sebelahnya. Kemudian, ia menunjuk perempuan di ujung meja. “Itu Nita, desainer utama di perusahaan kami.”

Zinnia mengangguk kepada ketiganya, lalu membuka ponselnya. Ia mengetik beberapa kata dan mengaktifkan suara buatan.

“Selamat pagi. Terima kasih sudah memberikan saya kesempatan untuk mengikuti wawancara ini.”

Mira sempat terdiam ketika mendengar suara dari ponsel tersebut. Tatapannya beralih dari layar ponsel ke wajah Zinnia.

“Maaf, Zinnia. Apakah suara itu berasal dari aplikasi?”

Zinnia mengangguk, kemudian mengetik jawaban.

Saya tunawicara, jadi saya menggunakan tulisan dan fitur suara di ponsel untuk berkomunikasi. Saya juga bisa memahami pertanyaan yang disampaikan secara langsung.

Mira membaca tulisan itu, lalu mengangguk.

“Baik, terima kasih sudah memberi tau kami. Kalo begitu, kita bisa pakai cara yang paling nyaman buat kamu. Gak masalah kalo kamu perlu waktu buat ngetik jawaban.”

Zinnia tersenyum lega. Ia sempat khawatir kondisi dirinya akan menjadi persoalan. Namun, setidaknya untuk saat ini, kedua pewawancara itu tidak menunjukkan keberatan.

Pak Damar membuka berkas lamaran di hadapannya. “Saya sudah lihat CV dan portofolio yang Anda kirimkan. Latar belakang pendidikan Anda memang sesuai dengan posisi yang kami butuhkan. Namun, saya ingin denger langsung gimana Anda ngembangin desain-desain itu.”

Zinnia segera mengeluarkan portofolionya. Ia meletakkan beberapa lembar desain lama di atas meja, disusul karya-karya terbaru yang disimpan dalam map terpisah.

Pak Damar mengambil lembar pertama. Desain itu berupa liontin dengan bentuk geometris sederhana. Garis-garisnya bersih, tetapi masih tampak kaku. Pada lembar berikutnya, ada cincin dengan detail menyerupai kelopak bunga yang tersusun simetris.

“Ini karya saat kuliah?” tanyanya.

Zinnia mengangguk.

“Fondasinya cukup bagus,” ujar Pak Damar sambil mengamati gambar tersebut. “Proporsinya terjaga. Anda juga sudah memahami keseimbangan bentuk. Hanya saja, beberapa desain masih terasa terlalu aman.”

Mira ikut memerhatikan. “Apakah Anda sengaja mempertahankan bentuk yang sederhana?”

Zinnia mengambil ponselnya dan mengetik.

Saat itu saya masih berusaha memahami dasar-dasar desain. Saya lebih banyak berlatih membuat bentuk yang seimbang dan memastikan setiap bagian memiliki fungsi. Saya belum berani mengeksplorasi terlalu jauh.

Pak Damar mengangguk kecil. “Setidaknya Anda tau apa yang masih perlu diperbaiki.”

Ia beralih ke kumpulan desain terbaru. Kali ini, gerakannya melambat.

Salah satu desain menampilkan cincin dengan susunan garis yang terinspirasi dari cabang pohon. Bagian tengahnya tidak dipenuhi batu permata, melainkan dibiarkan terbuka sehingga cahaya dapat masuk dari beberapa sudut. Pada desain lain, Zinnia menggabungkan bentuk lengkung dan sudut tegas menjadi sepasang anting yang tampak tidak simetris, tetapi tetap seimbang ketika dikenakan.

Pak Damar menarik lembar desain itu lebih dekat. “Dari mana Anda dapat ide ini?”

Zinnia membuka halaman catatannya, kemudian mengetik.

Saya tertarik pada bentuk-bentuk alami yang gak sepenuhnya simetris. Menurut saya, sesuatu gak harus sama persis di kedua sisi agar kelihatan seimbang. Saya coba terapkan gagasan itu pada perhiasan.

“Menarik.” Pak Damar membandingkan desain tersebut dengan karya lamanya. “Anda mulai berani bermain dengan ruang kosong. Ini juga bikin perhiasannya gak keliatan terlalu berat.”

Ia menunjuk salah satu bagian gambar.

“Tapi gimana Anda mastiin sambungan di sini cukup kuat? Desainnya terlihat bagus di atas kertas, tapi bagian ini mungkin butuh penyesuaian ketika dibuat jadi produk sungguhan.”

Zinnia tidak langsung menjawab. Ia mengambil pensil, lalu menggambar ulang bagian sambungan di lembar kosong. Ia menunjukkan alternatif bentuk yang lebih kokoh, kemudian menuliskan bahwa ia masih perlu melakukan pengujian ketebalan dan menyesuaikan ukuran dengan jenis logam yang digunakan.

Pak Damar memerhatikan penjelasannya sampai selesai. “Bagus. Anda gak pura-pura sudah tahu semuanya.”

Mira tersenyum melihat antusiasme pria itu. “Jadi, menurut Bapak, portofolionya memenuhi kriteria?”

“Untuk posisi asisten, ada banyak hal yang layak dipertimbangkan.” Pak Damar kembali melihat beberapa lembar desain. “Dasar-dasarnya kuat, dan cara berpikirnya cukup menarik. Dia masih butuh bimbingan dalam aspek teknis dan produksi, tapi itu bisa dipelajari jika dia mau bekerja keras.”

Zinnia membaca gerak bibir mereka sambil memerhatikan ekspresinya. Meski sebenarnya ia bisa mendengar setiap kata dengan jelas, kebiasaan lamanya sulit ia hilangkan. Justru karena itu, pujian tersebut membuat dadanya terasa hangat. Sudah lama ia ingin bekerja di bidang yang benar-benar disukainya.

Namun, wawancara itu belum selesai.

“Zinnia,” ujar Mira, “pekerjaan ini bukan cuma nggambar desain. Ada diskusi dengan tim produksi, revisi dari atasan, dan kadang permintaan klien yang berubah mendadak. Gimana cara Anda berkomunikasi dalam situasi seperti itu?”

Zinnia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan semacam ini. Ia mengetik lebih panjang dari sebelumnya.

Saya terbiasa berkomunikasi lewat tulisan dan bahasa isyarat dengan orang yang memahaminya. Untuk urusan pekerjaan, saya bisa pakai aplikasi chat, catatan, atau media tertulis lain yang disepakati tim. Saya juga terbuka untuk belajar sistem komunikasi yang paling efektif di perusahaan. Mungkin di beberapa situasi saya butuh penyesuaian, tapi saya tetap bisa memahami instruksi, bertanya, dan menyampaikan pendapat dengan baik.

Mira membaca jawabannya dengan saksama. “Baik. Perlu kami pastikan proses komunikasi tim berjalan lancar. Nanti bisa kita bicarakan lebih lanjut jika Anda diterima.”

Nita hanya diam memerhatikan dari tempat duduknya.

Pak Damar menutup portofolio, tetapi belum mengembalikannya. Nita mengulurkan tangan meminta portofolio itu.

“Jujur, saya ingin melihat lebih banyak karya seperti desain terbaru Anda," ujar Pak Damar. "Bukan berarti semuanya sudah siap diproduksi. Saya ingin melihat gimana Anda ngembangin gagasan itu setelah dapat masukan dari tim.”

Zinnia menegakkan punggungnya. Ia mengetik jawaban singkat.

Saya bersedia belajar dan menerima masukan.

Pak Damar tersenyum tipis. “Itu yang ingin saya dengar.”

Mira kemudian menjelaskan tahapan rekrutmen berikutnya. Zinnia masih harus menunggu keputusan perusahaan, dan jika lolos, ia mungkin diminta mengerjakan tes desain sederhana.

Nita masih diam tanpa kata di ujung meja. Tapi ada sesuatu yang lain saat ia menatap Zinnia. Tangannya memegang portofolio milik Zinnia lebih erat dari seharusnya.

 

...🔸🔸🔸...

..."Kesempatan tidak selalu datang ketika hidup kita sudah sempurna. Terkadang, kesempatan hadir saat kita masih terluka, masih takut, dan masih meragukan diri sendiri. Yang terpenting bukan menunggu sampai kita merasa siap sepenuhnya, melainkan berani melangkah dengan apa yang sudah kita miliki."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
siti irnani
akhirnya 👍👍👍
Ass Yfa
akhirnya uneg2 Zinnia dikeluarkan..meski dgn rssa takut..jujurlah Zinnn
tse
ya jujur aja Zinnia... jangan ada yang di sembunyiin lagi...
biar Arvid mencari jalan keluarnya...
kamu berhak bahagia Zinnia.....
semoga kalian berdua bahagia....
tapi hati2 ya sama nita.. nanti dia ngompprin mama kamu lagi...
abimasta
ketakutan zinnia sangat wajar
Anitha
Bagus degan sikap Arvid berbicara pada Zinnia....dan akhirnya Zinnia menanyakan yang selama ini ia takutkan....tuh Arvid tinggal jawab
Anitha
ayolah Zinnia jujur sama Arvid jangan di pendam sendiri,Arvid laki² yang baik dan bertanggung jawab
bumi rose
kutunggu lanjutannya... /Heart/
Siti Jumiati
syukurlah zinia sudah mau jujur...

penasaran kelanjutannya semoga kedua orang tua Arvid mau menerima zinia dengan senang hati.
Puji Hastuti
akhirnya 😍
Sastri Dalila
👍👍🥺🥺
Dek Sri
lanjut
Sastri Dalila
🤭🤣🤭💪💪💪
Hanima
👍👍
Hanima
👍👍👍
Eka Burjo
lanjut lagi, lagi-lagi 😁👍
abimasta
akui saja zinnia biar arvid bertanggung jawab
Eka Burjo
lanjut 👍
Sugiharti Rusli
meski Arvid belum tahu reaksi kedua ortunya dengan kabar ini, paling tidak dia bisa memberi jaminan kalo Zinnia tetap bersama calon anaknya kelak,,,
Sugiharti Rusli
dan pada akhirnya tentang ketakutannya kelak kalo keluarga Arvid hanya akan menerima anaknya, tapi dirinya dijauhkan
Sugiharti Rusli
meski Zinnia juga sudah mengkonfirmasi tentang kehamilannya pada Arvid sih,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!