Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
fitnah kejam
Flashback — Seminggu yang lalu di kantor Pimpinan Komandan Besar
"Bagaimana, Revan? Putri saya sudah menyetujui, dan saya yakin kamu adalah lelaki yang tepat untuk menjaganya," tegas Pimpinan Komandan Besar dengan penuh harapan.
Wanita bersikap arogan yang duduk di sofa itu mengibaskan rambutnya, menatap Revan dengan senyum penuh percaya diri, seolah yakin tak ada prajurit yang sanggup menolak tawaran menjadi menantu seorang komandan tertinggi.
Revan berdiri tegap, meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu membungkuk hormat dengan raut wajah amat serius.
"Mohon izin, Komandan Besar..."
ucap Revan dengan suara berat dan mantap.
"Suatu kehormatan yang luar biasa atas tawaran dan kepercayaan yang Komandan berikan kepada saya. Namun... mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak bisa menerima perjodohan ini."
Ruangan seketika hening mencekam. Raut wajah Komandan Besar berubah terkejut, sementara putri tunggalnya langsung menegakkan punggung dengan mata membelalak tak percaya.
"Apa alasannya, Kapten Revan?"
tanya Komandan Besar dengan nada menuntut.
"Lapor... hati saya sudah terikat pada seseorang," jawab Revan tanpa ragu sedikit pun. Matanya memancarkan keteguhan luar biasa. "Saya sudah menyukai seorang wanita, dan saya berniat untuk memperjuangkannya."
Revan memejamkan matanya sejenak. Bayangan senyum sinis, omelan galak, serta keteguhan hati Bidan Nara saat merawat luka-lukanya kembali berputar jelas di ingatannya.
Senyum tipis yang amat samar terukir di sudut bibir sang Komandan. Pilihan hatinya sudah bulat.
******
Sebulan telah berlalu sejak badai penyerangan itu mereda. Waktu perlahan menyembuhkan Desa Bejowangi, begitu pula dengan Aris. Anak yang dulunya penuh dendam dan rasa curiga itu kini telah pulih sepenuhnya.
Hari-hari Aris kini diisi dengan hal-hal baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. DiPolindes, ia bukan hanya menjadi asisten setia Bidan Nara yang cekatan membawakan baskom atau menyiapkan kain kasa, tetapi juga menjadi murid. Di sela-sela waktu senggang, Nara dengan sabar mengajarinya membaca, menulis, dan berhitung di atas meja kayu sederhana. Untuk pertama kalinya dalam hidup, jemari Aris yang biasa memegang parang kini belajar menuntun pensil, mengurai cita-cita yang dulu sempat dirampas.
Pagi itu, udara Bejowangi terasa sejuk dipayungi dedaunan rimbun. Polindes kembali dipenuhi warga yang hendak berobat. Di sudut ruangan, duduk Pak Kusno, seorang warga paruh baya yang mengidap penyakit gula (diabetes) stadium tinggi. Kondisi kakinya sudah memprihatinkan dengan luka membusuk yang tak kunjung mengering, membahayakan nyawanya jika terus dibiarkan.
Nara berlutut di depan Pak Kusno dengan telaten membersihkan luka itu, sementara Aris berdiri di sampingnya menyodorkan cairan antiseptik dan kain kasa steril.
"Aaghh... pelan-pelan, Bu Bidan... sakit sekali," ringis Pak Kusno dengan wajah pucat, dadanya naik turun menahan perih.
Nara mendongak, memberikan senyuman lembut yang menenangkan. Tangannya tetap bergerak halus mengusap luka itu.
"Sabar ya, Pak Kusno... Nara usahakan sehati-hati mungkin," tutur Nara dengan nada suara yang hangat namun menyimpan kecemasan mendalam. "Tapi Pak Kusno juga harus bantu Nara... Jangan lagi sembunyi-sembunyi minum teh manis atau makan nasi porsi besar. Gula darah Bapak ini sudah sangat tinggi. Kalau Bapak tidak disiplin, lukanya bisa makin menyebar, Pak... Nara takut penyakit ini bakal merenggut nyawa Bapak."
Pak Kusno menunduk, matanya menatap nanar lantai semen Polindes. Suaranya mendadak bergetar hebat, sarat akan keputusasaan.
"Untuk apa diganjar pantangan macam-macam lagi, Bu Bidan..."
bisik Pak Kusno parau. Air mata perlahan genang di pelupuk matanya yang mulai kabur.
"Saya ini cuma beban buat keluarga. Hasil ladang ndak seberapa, kaki makin bau begini... kadang saya berpikir, kalau Gusti Allah mau cabut nyawa saya sekarang, saya ikhlas, Bu Bidan. Daripada menyusahkan anak istri..."
Mendengar ucapan pasrah itu, gerakan tangan Nara terhenti seketika. Dadanya terasa berdenyut nyeri.
"Pak Kusno! Jangan bicara begitu!"
potong Nara tegas, namun matanya yang memerah tak sanggup menyembunyikan rasa haru.
"Tidak ada keluarga yang menganggap Bapak beban! Istri Bapak tiap pagi datang ke sini menangis, memohon sama Nara supaya Bapak bisa sembuh."
ujar Nara dengan suara bergetar menahan tangis.
"Tolong, Pak... berjuanglah sedikit lagi. Nara akan dampingi Bapak sampai sembuh, tapi Bapak harus punya niat untuk tetap hidup!"
*****
Sore itu, suasana Gedung Olahraga (GOR) Desa Bejowangi cukup ramai. Suara pantulan bola tenis meja dan kepakan kok badminton bersahutan dengan gelak tawa para pemuda desa.
Nara yang baru saja menyelesaikan tugasnya di Polindes ingin meregangkan otot-otot tubuhnya yang tegang.
"Aris, kawanin Mbak ke gedung olahraga, yuk. Mbak mau main badminton," ajak Nara sambil menepuk raket kayu kesayangannya.
Aris yang sedang merapikan lemari obat langsung mendongak dan mengangguk riang. "Baik, Mbak!" jawabnya dengan mata berbinar, siap menjadi lawan main sang bidan desa.
Sesampainya di lapangan badminton kayu sederhana di dalam GOR, Nara dan Aris langsung mengambil posisi dan mulai melakukan servis-servis ringan. Gerakan Nara lincah memukul kok melintasi net, sementara Aris berusaha membalasnya dengan bersemangat.
Namun, di tribun penonton pinggir lapangan, berdiri seorang gadis berusia 25 tahun berpenampilan tomboy dengan kaos longgar dan celana jins robek. Matanya melirik tajam ke arah Nara dengan pandangan penuh rasa tidak suka dan keangkuhan.
"Oh... itu bidan yang genit itu?" cetus si anak tomboy dengan nada suara sinis dan berlipat dada.
Di sebelah gadis tomboy itu, berdiri seorang gadis desa yang berpakaian rapi namun memasang raut wajah penuh kompor dan berpura-pura lembut. Ia mengibaskan kipas bambunya sambil berbisik provokatif.
"Iya, Dialah yang merebut Bang Revan dariku!"
bisik gadis desa merasa tersakiti,
"Dia yang menggoda Bang Revan waktu Abang dirawat di Polindes." hasut gadis itu .
Mentang-mentang aku jarang balik ke kampung, seenaknya aja merebut calon kekasih sahabatku ini!"
timpal anak tomboy menggertakkan giginya, mengepalkan tangan rapat-rapat sambil terus menatap Nara tajam.
Nara sebenarnya mendengar samar-samar bisikan beracun dari pinggir lapangan itu. Namun, ia tak mengubrisnya sedikit pun.
"Ayo, Aris! Ambil koknya, jangan melamun!"
seru Nara riang.
"Siap, Mbak Nara!"
balas Aris tertawa kecil, kembali fokus mengejar bola.
Sementara di sudut lain, Ujang dan beberapa pemuda desa yang dulu sering membantu Revan memperbaiki Polindes sedang asyik bermain tenis meja. Suara ping-pong bola oranye yang memantul kencang mengiringi sorak-sorai heboh mereka.
"Smash, Jang! Smash!" teriak salah satu pemuda.
*****
Mbak... HP Mbak berbunyi!" panggil Aris.
Nara menghentikan langkahnya, mengerjap sejenak, lalu merogoh saku celananya. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan panggilan masuk dari Pak Kades.
"Oh, iya..." gumam Nara.
Ia mengangkat raketnya dengan sebelah tangan, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Pak Kades? Ada apa, telepon sore-sore gini?"
Bidan Nara! ... Kamu sudah lihat berita belum?!"
seru Pak Kades dengan nada bergetar.
Nara mengernyitkan dahi, merasa ada firasat buruk .
" Berita apa, Pak? ..."
jawab Nara bingung.
"saya kirim saja linknya Bu bidan !"seru pak kades dengan panik.
" baik ,pak terimakasih " sopan Nara....
Nara membuka tautan video yang dikirimkan Pak Kades dengan tangan yang sedikit bergetar. Layar ponselnya menampilkan siaran berita dari sebuah stasiun televisi nasional yang sedang mengulas insiden di desa mereka.
Seketika itu juga, mata Nara membelalak tak percaya. Napasnya tercekat, . Judul dan isi berita menampilkan fitnah keji yang berputar balik dari kenyataan.
Dadanya naik turun menahan gelombang emosi yang meletup-letup, membakar amarah sekaligus rasa jijik yang luar biasa. Kalimat keji yang dibacakan oleh pembawa berita itu terngiang jelas di telinganya:
"Seorang bidan di Bejowangi telah diperkosa beramai-ramai oleh para pemberontak saat proses penyergapan..."