Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Jenderal, Menikahi Putri Duke Itu Bukan Hadiah Perang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: jingrd24

"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.

Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!

Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Lady Sonia

Kebiasaan Kate untuk mengintip suaminya latihan sudah menjadi kebiasaan yang tidak boleh terlewatkan. Kalau tidak melewati taman seperti kemarin, maka Kate akan menghabiskan waktunya di balkon kamarnya karena kebetulan balkonnya memang menghafal langsung ke barak latihan militer.

Biasanya Kate bahkan menolak duduk di sana karena alasan panas atau terkena sinar matahari, namun hari itu dia sudah siap sekali duduk di balkon sambil merapikan rambutnya.

“Rhea,” panggil Kate kepada dayang pribadinya itu.

Rhea dengan sigap berjalan mendekati sang nyonya dan sedikit menunduk, siap menerima tugas darinya. “Ya, nyonya? Ada yang ingin Anda tugaskan kepada saya?” Tanyanya sopan.

Tanpa menoleh dan tanpa beranjak dari kursinya, Kate mengeluarkan suaranya. “Tolong kau bawakan cupcake dan teh jamuan. Aku ingin menikmati hari ini disini. Kebetulan udara sedang sangat segar,” katanya.

Udara segar? Batin Rhea bertanya-tanya.

Gadis itu mendongak mendapati langit yang tidak terlalu cerah dan agak membosankan, udara juga tidak sesegar itu. Namun karena dia tahu alasan asli Kate berada disini bukan karena udaranya melainkan karena ingin melihat suaminya, Rhea hanya mengangguk paham.

“Baiklah, nyonya. Saya akan memerintahkan kepala koki untuk membuat hidangan camilan yang Anda inginkan,” balasnya.

Tidak perlu bertanya lebih jauh lagi, Rhea langsung berbalik keluar dari kamar sang nyonya untuk memberikan tugas kepada koki dan membawakan perintah Kate kepadanya nanti. Kini, hanya tersisa Kate sendirian di balkon kamarnya sambil melirik ke bawah.

Awalnya tidak ada yang aneh dan biasa-biasa saja. Kate juga memperhatikan Sal yang mulai melakukan peregangan dan sesekali berbicara dengan para ksatria nya. Sebelum lamat-lamat mata Kate melotot hebat.

Siapa wanita itu? Hatinya berteriak.

Kate bahkan refleks mendekatkan dirinya ke pagar yang ada di balkon agar bisa melihat pemandangan di bawahnya dengan lebih jelas. Disana dia bisa melihat ada seorang wanita militer yang sedang berbicara dengan Sal, seperti sedang membahas strategi. Tapi bukan itu masalahnya! Masalahnya gerakan wanita itu sangat luwes, bahkan lengannya terkadang saling menempel dengan Sal dan sesekali memukul pelan lengan ‘suaminya’ itu dengan ramah seperti mereka adalah sahabat lama.

Aku saja tidak pernah melakukan itu pada Sal! Teriak Kate dengan mata yang sudah melotot hebat memandang pemandangan itu.

“Siapa wanita itu?” Cetus Kate masih dengan mata yang melotot lebar.

“Oh, dia Lady Sonia.”

Balasan yang terdengar dari belakang membuat Kate langsung membalikan badannya. Disana ada Rhea yang sudah kembali membawa cupcake dan teh yang diminta oleh sang nyonya. Dia meletakkannya dengan tenang diatas meja sebelum kembali menatap sang nyonya yang kini berbalik menatapnya dengan tatapan yang bertanya-tanya.

“Siapa Lady Sonia itu?”

"Lady Sonia adalah Komandan Divisi Ketiga Pasukan Perbatasan Utara, Nona," jawab Rhea dengan nada yang luar biasa tenang, menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen tanpa ada sedikitpun riak di wajahnya.

"Dia anak dari Marquess Vance, sahabat lama Tuan Jenderal sejak zaman akademi militer, sekaligus salah satu perwira wanita berprestasi yang kebetulan sedang ditugaskan di ibu kota untuk mengurus pengalihan pasokan senjata," lanjut Rhea santai.

Kate mengerjapkan matanya, dadanya mendadak terasa semakin sesak dan panas!

"Komandan Divisi? Sahabat lama sejak akademi?!" ulang Kate dengan nada melengking penuh rasa tidak terima. Ia kembali menoleh cepat ke bawah, menatap Lady Sonia yang kini sedang tertawa renyah sambil menepuk bahu tegap Salvatore dengan keakraban yang begitu alami.

"Lihat itu! Kenapa tangannya harus menempel-nempel begitu? Memangnya kalau bicara strategi perang harus pakai menyentuh lengan suami orang?" sembur Kate histeris, tangannya meremas pagar balkon besi dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Rhea meletakkan teko teh kembali ke nampan, lalu berdiri bersedekap tepat di samping Kate, menyilangkan pandangannya ke arah lapangan bawah.

"Menurut laporan yang saya dengar dari pelayan kediaman Ardan, Lady Sonia dan Tuan Jenderal memang biasa bertempur berdampingan di garis depan," ujar Rhea menambahkan bahan bakar ke dalam kobaran api di dada majikannya. "Beliau wanita yang sangat tangguh, mahir bermain pedang, dan konon katanya adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat Tuan Jenderal tertawa leluasa saat di medan perang."

DEG.

Kata-kata 'bisa membuat Tuan Jenderal tertawa leluasa' menghantam ulu hati Kate dengan telak!

Kate membelalak sempurna. Tertawa leluasa? Pria batu yang bicaranya cuma dua kalimat sehari dan ekspresinya se-kaku papan tulis itu... bisa tertawa leluasa di depan wanita lain?!

"Bercanda kau ya, Rhea?" potong Kate dengan napas yang mulai tak teratur, matanya menatap tajam ke arah Sonia yang kini tampak menyerahkan sebuah gulungan kertas sambil tersenyum manis—sangat manis untuk ukuran seorang perwira militer!

"Aku tidak bercanda, Nona," balas Rhea tenang, melirik ekspresi majikannya yang sudah seperti merica di atas kompor menyala. "Tapi reaksi Anda ini menarik sekali."

"Menarik bagaimana?"

Rhea memiringkan kepalanya sedikit, mengulas senyum tipis yang amat sangat menyebalkan. "Anda terlihat seperti istri yang sedang cemburu setengah mati."

"C-CEMBURU?”

Jeritan Kate refleks membumbung tinggi ke udara! Begitu nyaringnya sampai-sampai Kate sendiri terkejut dan cepat-cepat membekap mulutnya sendiri menggunakan kedua telapak tangan. Matanya berkedip histeris, menatap sekeliling dengan ketakutan kalau-kalau suaminya di lapangan bawah mendengar teriakan paniknya.

Setelah yakin tidak ada yang menyadarinya, Kate menurunkan tangannya. Pipinya seketika meletupkan warna merah padam yang membara hingga ke ujung leher dan telinga!

"Kau gila ya, Rhea? Otakmu perlu diperiksa!" sembur Kate dengan bisikan ketus yang meledak-ledak. Ia menunjuk dadanya sendiri dengan jari yang gemetar karena salah tingkah parah.

"Aku ini Putri Raventhal! Untuk apa aku cemburu pada pria batu menyebalkan itu? Apalagi cemburu pada wanita berseragam yang cara tertawanya kelewat heboh begitu? Tolong ya, selera hukum dan gengsiku jauh lebih tinggi dari itu!"

"Oh, begitu?" sahut Rhea mengangguk-angguk paham, membuat raut wajah yang sengaja dibuat sedatar dan sepolos mungkin. "Saya pikir Anda kesal karena selama dua bulan ini Anda belum pernah bisa seakrab atau memukul lengan Tuan Jenderal seperti yang dilakukan Lady Sonia."

"RHEA!" Kate melotot galak dengan napas memburu. Tangannya sudah melayang di udara, rasanya ingin sekali melemparkan cangkir teh porselen mahal di atas meja ke wajah sok serius dayang pribadinya itu.

"Bicara satu kata lagi soal 'cemburu', dan aku bersumpah demi nama baik Raventhal, aku akan menyuruh koki kerajaan mencampurkan sepuluh biji cabai ke dalam teh soremu selama seminggu penuh!"

"Baiklah, Nona. Saya minta maaf atas ketidaktepatan dugaan saya," ujar Rhea tanpa ada rasa bersalah atau ketakutan sedikit pun di wajahnya. "Jadi, apakah Anda ingin menikmati cupcake dan teh hangat ini sekarang? Bukankah tujuan awal Anda ke balkon ini adalah untuk menikmati udara segar?"

"Tidak mau! Aku tidak nafsu makan lagi!" ketus Kate, menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai kayu balkon. "Selera makanku sudah hancur berantakan gara-gara pemandangan merusak mata dan omong kosongmu itu!"

Dengan dada yang kembang kempis menahan emosi yang bercampur aduk antara gengsi tinggi, salah tingkah, dan rasa panas yang tak tertahankan di dalam hatinya, Kate memilih untuk menyembunyikan kekalahannya.

Tanpa mau melirik ke arah lapangan bawah lagi untuk menjaga sisa-sisa gengsinya yang sudah di ambang kehancuran, Kate berbalik cepat. Ia menyingkap gaun mewahnya dengan kasar, lalu melangkah lebar-lebar masuk kembali ke dalam kamar utama.

BAM!

Pintu kaca balkon dihempas dan ditutup keras oleh Kate dari dalam, menciptakan dentuman nyaring yang menggetarkan tirai.

Rhea berdiri sendirian di luar balkon, berdiri tenang di samping meja teh yang masih mengumpulkan uap hangat. Dayang itu melirik ke arah cangkir teh yang sama sekali belum tersentuh, lalu menghela napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Memang lebih mudah memindahkan gunung daripada mendengar Nona Kate mengaku cemburu," gumam Rhea datar pada dirinya sendiri, sebelum berbalik untuk membereskan nampan teh dan menyusul majikannya yang kini pasti sedang mengamuk di atas ranjang.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
keren. 😍
Iluvmacha
ga sabar Kate notice Sonia🤭
jinggaarundari: waduh bener lagi, tungguin bab selanjutnya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
btw, semangat kaka authorr💪💪 lanjut terus
jinggaarundari: 😍😍makasi banyak kaa, makin semangat disemangati kakakk
total 1 replies
otter_orange
Menunggu reaksi Kate kalau suaminya deket sama wanita lain🤣
jinggaarundari: sipp, tunggu update bab nya kaa😍😍
total 1 replies
otter_orange
apaan sii, dia yg nunggu dia jg yg gengsi😭😭
jinggaarundari: emang kadang kidding🫣
total 1 replies
otter_orange
Akhirnya yg ditunggu-tunggu Kate kena karma kan, dibilang suaminya perfect gitu😭
La Vanya
waduhh, siapa tuh Sonia🤔
jinggaarundari: siapa ya🤔🤔, tunggu bab selanjutnya besok kaa😍😍
total 1 replies
La Vanya
katanya pemandangan merusak, tp kok ditungguin🤭
jinggaarundari: kalo ga gengsi bukan Kate namany🤭
total 1 replies
La Vanya
RHEA APRESIASI SETINGGI-TINGGINYA BUAT KMU WKWKWK😭😭😭
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jinggaarundari: hahaha, bener banget ka, emang orang kaya Kate butuh dayang kaya Rhea 😭😭
total 1 replies
Mommy Inci
plis Thor lngsung kebagian menyerah and falling in love ke jendral biar ga monoton...
jinggaarundari: siap kaa, pas banget besok bab 23 memang udh masuk Kate Denial suka suaminya, makasi kaa supportnya 😍😍
total 1 replies
lynn.flow
udah mampir nihh, ternyata seru juga, ga expect kalau si putri seberani itu😭😭
Vy
Seru ceritanya thorr😍
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗
jinggaarundari
baik kaa, cuma agak tsundere aja🫣
Putry Chan
nih prmepuan keras lumayan sulit sih di bikin Lulu semoga nanti bisa ya
Putry Chan
hmmm tapi jasa juga ke kejuaraan lumayan besar
Putry Chan
owh jadi nih putri trlalu tinggi derajatnya dan sulit di atur
Putry Chan
owh hadiahnya trlalu besar nya mknya sulit dia kan seorang putri
Putry Chan
beh 100 tahun coy
Putry Chan
apakah dia orang baik
La Vanya
kaa lanjuttt💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!