Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pintu di Balik Perapian
#
Alessia bergerak lebih dulu. Tangannya menutup mulut Bima, dan ia berbisik tepat di telinganya, napasnya panas.
"Kalau kamu menjawab, aku yang menembakmu."
Bima mengangguk. Telapak tangan itu bau minyak senjata dan sabun, dan ia benci bahwa itu menenangkannya.
Suara di balik dinding berhenti, lalu terdengar lagi. Kali ini bukan suara ayahnya. Rekaman. Bima menangkapnya dari bunyi desis tipis di sela kata, seperti pita tua yang diputar ulang, dan hal itu membuat perutnya mual. Seseorang sedang memancing mereka.
"Itu rekaman," bisiknya.
"Aku tahu."
"Tapi kertas merah itu baru ditulis."
"Aku tahu."
"Berarti ada orang di balik pintu itu."
Alessia melepaskannya. Ia turun dari ranjang tanpa suara, kaki telanjang di marmer, dan berjalan ke perapian dengan pistol terangkat. Bima mengikuti di belakang, lalu berhenti ketika melihat sesuatu di pergelangan kaki perempuan itu. Bekas luka lama, melingkar, seperti bekas tali.
"Mbak, itu..."
"Nanti."
Ia mendorong panel kayu dengan ujung laras. Pintu itu terbuka tanpa bunyi, engselnya baru diminyaki. Di baliknya ada tangga batu sempit menurun ke gelap, dan bau lembap yang Bima kenal: bau gudang pelabuhan.
Di anak tangga ketiga ada tape recorder kecil, pitanya masih berputar. Alessia menendangnya hingga mati.
"Jangan turun," kata Bima.
"Itu ruang bawah tanah mansion. Aku tidak pernah tahu ada tangga ini."
"Justru itu."
"Justru itu aku harus turun."
"Mbak baru bilang kalau menjawab suara itu, ingatan Mbak hilang."
"Aku tidak menjawab. Aku melihat." Ia menoleh. Di cahaya bulan, matanya terang dan terlalu tenang. "Kamu tinggal. Kunci pintu kamar."
"Kita suami istri."
"Palsu."
"Tetap suami istri di mata siapa pun yang bakal masuk kamar ini sambil bawa pistol. Kalau Mbak turun sendirian, saya yang jadi janda."
Alessia terdiam. Mulutnya terbuka sedikit, lalu menutup, dan Bima menyadari ia baru saja salah bicara kata. Wajahnya memanas sampai ke telinga.
"Duda," ralat Bima.
"Janda sudah benar." Suaranya aneh. "Kamu ikut. Tapi di belakangku, dan dengar perintahku."
"Selama perintahnya masuk akal."
"Aku tidak pernah memberi yang lain."
---
Tangga itu berakhir di lorong batu yang diterangi lampu darurat merah. Dindingnya basah, dan di sepanjang sisi kiri berjajar pintu besi bernomor, masing-masing dengan lubang intip kecil. Alessia berhenti di depan nomor tiga belas.
Pintunya setengah terbuka. Di dalamnya, sebuah kamar sempit dengan ranjang besi, meja kecil, dan dinding yang dipenuhi coretan tangan. Bukan tulisan. Hitungan. Garis-garis lima-lima, ratusan, ribuan, dari lantai sampai langit-langit.
Alessia masuk perlahan. Jarinya menyentuh garis-garis itu, dan Bima melihat bahunya mulai bergetar.
"Ini..." Ia tidak melanjutkan. Tangannya berhenti di satu coretan di dekat ranjang, bukan garis, melainkan huruf kecil yang diukir dengan benda tajam.
*A.V. 14 tahun. Hari ke-1.*
Bima merasa lantai bergoyang. "Mbak pernah ditahan di sini?"
"Aku tidak ingat."
"Tiga tahun itu..."
"Aku tidak ingat!" Suaranya pecah dan memantul di lorong. Ia menutup mulut sendiri, matanya lebar, lalu perlahan ia berlutut di depan dinding itu. Ia tidak menangis. Tubuhnya hanya menggigil, dan tangannya yang memegang pistol turun ke lantai tanpa ia sadari.
Bima tidak berpikir. Ia berlutut di sampingnya dan menarik bahu perempuan itu ke dadanya. Alessia kaku sepersekian detik, lalu seluruh tubuhnya runtuh bersandar, dahinya menempel di tulang selangka Bima. Napasnya patah-patah.
"Jangan bilang siapa-siapa," bisiknya.
"Nggak."
"Jangan lihat aku begini."
"Saya lihat dinding."
"Bohong."
"Iya, bohong." Bima menahan kepalanya dengan satu tangan. Jantungnya berdetak terlalu keras, dan ia yakin Alessia merasakannya. "Tapi saya nggak akan cerita."
Lama mereka diam. Lalu Alessia menegakkan tubuh, mengusap mata dengan punggung tangan, dan wajahnya kembali menjadi wajah yang Bima kenal di warung. Hanya telinganya yang merah.
"Ini tidak terjadi," katanya.
"Mbak ngomong apa? Saya lagi ngelihatin dinding."
Ia menatapnya sebentar. Sudut mulutnya bergerak.
---
Mereka menemukan sesuatu di bawah ranjang besi: kotak kayu kecil, tidak terkunci. Di dalamnya ada selembar foto, pita rambut anak, dan satu buku catatan sekolah dengan sampul bergambar kelinci. Alessia membuka halaman pertama.
Tulisan anak-anak, miring. *Hari ke-1. Pak Hadi bilang aku boleh tidur kalau tidak bersuara. Dia membawa sate.*
Ia membalik. Dan membalik lagi. Matanya bergerak cepat, napasnya makin pendek.
*Hari ke-40. Om Gio bilang ayah tidak mau menjemputku.*
*Hari ke-211. Pak Hadi menangis lagi. Dia bilang maaf, dia tidak bisa membawaku keluar.*
*Hari ke-600. Ada orang baru yang datang. Perempuan tua. Cincinnya tipis. Dia bilang aku akan lupa semuanya, dan itu hadiah.*
Alessia berhenti. Bima melihat jarinya mencengkeram halaman sampai kertas itu kusut.
"Carla," bisiknya.
"Mbak..."
"Dia yang mengurungku. Nenekku. Dia bilang di gang tadi, malam itu dia yang memberi perintah di jalan tol." Suaranya datar seperti papan. "Dia tidak mengaku soal ayahku. Dia mengaku soal ini."
Dari lorong, jauh di belakang mereka, terdengar langkah sepatu. Satu orang. Tidak tergesa.
Bima mengangkat kepala. Alessia sudah berdiri dengan pistol terarah ke pintu, wajah tanpa celah.
Bayangan muncul di ujung lorong merah. Tinggi, jas gelap, rambut putih disisir rapi. Satu tangan membawa lampu minyak, tangan lainnya kosong dan terbuka.
"Aku sudah tahu kalian akan turun," kata Om Gio ramah. "Hadi memang benci menunggu."
"Hadi hidup?" tanya Bima.
"Hidup." Om Gio tersenyum. "Dan dia ada di ruangan terakhir lorong ini, bersama satu orang lagi yang kamu kira sudah mati."
"Siapa?"
Om Gio melangkah ke samping, membuka jalan. Di ujung lorong, pintu besi bernomor empat belas terbuka perlahan dari dalam. Cahaya kuning menyorot keluar.
Dua orang berdiri di sana.
Yang kiri berkacamata dan berjaket kulit, wajahnya lebih tua dua belas tahun, matanya berair menatap Bima. Hadi Ardhana.
Yang kanan duduk di kursi roda, selimut menutup kakinya, wajah tirus dengan rambut yang sudah memutih sepenuhnya. Ia mengangkat wajah, melihat Alessia, dan tersenyum seperti orang yang menunggu seseorang pulang dari sekolah.
"Alessia," katanya lembut. "Kamu sudah besar."
Pistol di tangan Alessia jatuh ke lantai batu dan berdenting.
Matteo Vieri. Ayahnya. Yang katanya terbakar di jalan tol.
Dan di belakang kursi rodanya, tangan seseorang yang tidak terlihat menempelkan moncong pistol ke tengkuk Hadi Ardhana, lalu suara perempuan yang Bima kenal, pelan dan manis, berbisik dari balik bayangan.
"Satu kata dari salah satu kalian, dan suamimu yang pertama jadi yatim, Bima."
Ilaria melangkah keluar dari gelap, cincin perak tipis di jarinya, dan menyeringai.