Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.
Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.
Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tendangan Penalti yang Gagal
Nathania sudah selesai menata meja makan ketika Elang menghampirinya. Pria itupun duduk dengan tenangnya menghadapi hidangan yang sudah disiapkan sang istri untuknya.
"Jadi ... seperti ini rasanya menikah?" Elang melirik nakal si nyonya muda yang barusaja duduk tidak jauh darinya.
Nathania hanya tersenyum. Ia tidak banyak bicara, apalagi saat itu tiba-tiba Nastya datang menghampiri mereka.
Gadis itu hanya terdiam. Ia menekuk wajahnya dan tidak berseri sedikitpun.
"Apa kabar, Nas? Kamu jarang terlihat akhir-akhir ini," sapa Elang dengan santainya. Ia pun membalikan piring keramik putih yang ada dihadapannya itu.
"Kakak sibuk sendiri akhir-akhir ini," sindir Nastya seraya melirik Nathania yang sedang menuangkan makanan ke atas piring Elang.
Elang pun tersenyum simpul. Ia mengerti dengan maksud sang adik.
"Apakah hari ini aku boleh keluar, Kak?" tanya gadis bermata biru itu.
"Mau kemana?" tanya Elang seraya memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.
"Aku mau ke salon. Aku sudah bosan dengan rambut ini," jawab Nastya. Ia hanya memainkan sendoknya.
"Kenapa kamu tidak mengajak kakak iparmu sekalian?" tanya Elang dengan tenangnya. Sebuah pertanyaan yang tidak penting, yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya.
Nastya terbelalak. "Lebih baik aku di rumah saja," jawab gadis itu jengkel dengan pertanyaan sang kakak.
Nathania tersenyum simpul. "Tidak usah. Lagipula aku masih bisa menyisir rambutku sendiri," ucapnya pelan. Sindiran halus untuk sang adik ipar.
"Hey, Kakak ipar ...." Nastya mendelik kepada Nathania yang duduk berhadapan dengannya.
Elang hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Nastya mulai memasukan satu suapan ke dalam mulutnya. Tidak lama kemudian, ia kembali memasukan suapan yang kedua.
"Tumben mbak Mun memasak seenak ini," gumamnya seraya kembali memasukan satu suapan lagi ke dalam mulutnya.
"Itu masakan kakak iparmu," ucap Elang seraya melirik Nathania yang masih tampak tenang dengan makanannya.
Seketika Nastya menyeringai. "Tiba-tiba aku merasa kenyang," ucapnya. Ia pun meletakan sendok dan garpunya begitu saja. Setelah itu, ia pun berlalu tanpa pamit.
Elang menatapnya dengan heran. Ia mengerutkan alisnya seraya menggeleng pelan.
"Kenapa gadis itu?" gumamnya.
"Nastya sangat membenciku," jawab Nathania pelan.
Elang melirik sang istri yang masih tampak tenang. "Biarkan saja!" ucapnya. Ia pun melanjutkan makan siangnya.
Sesaat kemudian, ia menyudahi makan siangnya. Sepasang mata tajamnya menatap lekat kepada wanita yang semalam tertidur pulas dalam pelukannya. Elang pun tersenyum.
"Bagaimana jika hari ini kita keluar," ajaknya seraya meletakan serbet yang berusaja ia pakai.
Nathania menoleh padanya. "Kemana?" tanyanya pelan. Ia pun meneguk minumannya.
"Terserah kamu. Hari ini aku sama sekali tidak ada acara. Tidak ada pekerjaan apapun," jawab Elang. Ia kemudian melipat kedua tangannya di atas meja. Tatapannya masih tertuju kepada Nathania. "Atau ... kita bisa di rumah saja dan melakukan sesuatu yang lain, yang tak kalah seru dan menyenangkan," Elang tersenyum nakal kepada Nathania. Ia terlihat sangat puas ketika melihat sang istri tersipu malu karena ucapan nakalnya barusan.
Nathania tidak menjawab. Ia pun beranjak dari duduknya dan berniat untuk pergi darisana.
Namun sayangnya, ia selalu kalah cepat dari Elang yang jauh lebih tangkas. Elang, menggenggam erat pergelangan tangan Nathania dan tidak melepaskannya.
Nathania hanya menatap pria itu dengan sepasang mata teduhnya. Ia hanya terpaku ketika Elang mulai mendekatinya.
"Hari ini kamu masih terlihat murung, ada apa?" tanya Elang. Ia berdiri tepat dihadapan Nathania.
"Kamu tahu apa yang aku inginkan," jawab Nathania pelan.
Elang menatapnya tajam.
"Rahman?" tanyanya tanpa ekspresi sama sekali.
Nathania tertunduk mendengar nama pria itu.
Elang pun melepaskan genggaman tangannya. Ia menghela nafas panjang.
"Aku sudah bilang "oke" semalam. Apalagi yang kamu mau?" tanya Elang.
"Entahlah aku tidak tahu. Aku hanya merasa ... jika ada sesuatu yang terjadi antara kalian berdua. Kamu dan kakakku. Aku tidak mengerti ...." Nathania membereskan piring bekas mereka makan barusan.
"Biarkan pelayan yang melakukannya!" Elang meraih kembali tangan sang istri dengan tegas.
Nathania pun menurut. Ia tidak ingin berdebat. Terlebih ketika Elang mengajaknya keluar. Ia menuntun wanita muda itu menuju garasinya yang berisi beberapa mobil mewah itu.
Elang pun mengajak Nathania masuk ke dalam Range Rovers putihnya. Beberapa saat kemudian, mobil mewah itupun melaju keluar dari halaman luas itu.
Nastya berdiri di balkon kamarnya, menyaksikan betapa kakaknya saat ini telah berubah menjadi seperti seorang anak remaja yang baru merasakan jatuh cinta. Ia hanya geleng-geleng kepala.
Ia tidak menyangka jika seorang Elang, akan takluk pada seorang gadis biasa seperti Nathania.
Kanapa harus selalu Nathania?
Kenapa gadis itu selalu berada setingkat di atasnya?
Apa kelebihannya?
Nastya tidak mengerti.
Dan perasannya kini semakin tidak dapat ia fahami ketika sedan hitam itu masuk dan terparkir di halaman rumahnya.
Ia hanya terpaku ketika seorang pria turun dan melepas kaca hitamnya, dan menatap kearahnya.
Roni melangkah dan berdiri tepat dibawah balkon kamar Nastya. Ia masih memegangi kacamata itu dengan tangan kanannya.
Sepasang matanya masih menatap intens kepada seraut wajah cantik bermata indah yang juga kini tengah menatapnya.
"Nastya, ayo turun!" serunya dari bawah.
"Tidak mau!" jawab Nastya ketus.
Roni tersenyum. "Ya, sudah. Kalau begitu biar aku yang naik," seru Roni lagi. Ia pun beranjak masuk.
Nastya terkejut. Ia segera keluar dari kamarnya. Baru saja ia membuka pintu kamar itu, Roni sudah berdiri disana dengan senyum khasnya.
Nastya melotot tajam padanya dan memperlihatkan sepasang bola mata indahnya dengan sangat jelas.
Segera Roni menariknya keluar dari kamar. Ia pun menyandarkan tubuh gadis itu pada dinding dan menguncinya dengan kedua tanganya.
"Apa-apaan kamu?" tanya Nastya. Ia tidak menyukai apa yang Roni lakukan saat itu.
"Seharusnya aku yang bertanya, kamu kenapa? Sikapmu padaku sangat aneh kemarin?" Roni menatap gadis itu dengan intens.
Nastya tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya.
"Kamu tahu etika dalam sebuah perbincangan? Kontak mata, Nastya. Tatap aku!" Roni dengan sedikit tegas kepada gadis manja itu.
"Aku sedang tidak ingin berbincang denganmu," tolak Nastya tanpa menatap pria yang berdiri tepat dihadapannya itu.
"Tetapi aku ingin. Aku ingin berbincang sebentar denganmu," bisik Roni.
"Tentang apa?" tanya Nastya dengan nada ketus dan seolah-olah tidak peduli.
Roni menurunkan tanganya. Ia pun semakin mendekati gadis itu, yang kini tampak sedikit gugup.
"Kamu cemburu padaku?" bisik Roni tepat didekat telinga Nastya.
Nastya tidak menjawab. Ia masih berusaha mengatasi detak jantungnya yang mulai tidak beraturan.
"Aku yakin kamu datang kemari bukan untuk menanyakan hal tidak penting itu," Nastya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Kak Elang sedang keluar bersama istrinya, jadi kembali saja nanti," lanjutnya seraya berniat untuk pergi.
Dengan cepat, Roni menahannya. Ia tidak membiarkan gadis itu kemana-mana.
"Jangan macam-macam, Roni!" ucap Nastya tegas.
"Tumben kamu memanggilku dengan namaku," bisik Roni.
"Bukankah itu memang namamu?" Nastya tampak kesal.
Roni pun tersenyum kalem. Ia kembali menatap lekat gadis itu. Perlahan ia menyentuh pipi Nastya dengan lembut. Namun, Nastya segera memalingkan wajahnya.
Roni tidak peduli. Malahan kini tangan itu mulai menelusup lembut dibalik rambut Nastya. Menyentuh leher berhiaskan kalung kecil itu, ia pun berhasil membuat Nastya hanya berdiri terpaku.
"Jangan ganggu aku, Roni," ucap Nastya pelan. Suaranya terdengar agak parau.
"Justru kamu yang menggangguku terlebih dahulu," jawab Roni sambil terus memainkan tangannya di balik rambut gadis itu.
"Kamu fikir aku akan melupakan malam itu begitu saja? Meskipun itu hanya sebuah ciuman, tapi semenjak malam itu aku menjadi selalu memikirkanmu.," Roni menempelkan keningnya pada kening Nastya.
"Kamu bohong," bantah Nastya pelan.
"Apanya yang bohong? Kamu sudah salah faham padaku," Roni mencoba menjelaskan.
Nastya medorong pria itu dan mencoba menghindarinya. Akan tetapi lagi-lagi Roni meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan sangat erat. Bahkan kini, ia merangkul Nastya dalam pelukannya.
"Lepaskan aku!" Nastya masih berontak. Akan tetapi lengan Roni terlalu kokoh untuk ia lawan. Dan kini Roni kembali menyandarkan gadis itu ke dinding.
"Dengarkan aku, kamu salah faham. Suara yang kamu dengar kemarin adalah suara temanku. Aku menitipkan cucianku untuk dicuci di laundry miliknya," jelas Roni dengan tegas.
Nastya tertawa sinis. "Sejak kapan pemilik laundry mengambil sendiri cucian milik pelanggannya?" Nastya tidak percaya.
"Kami tinggal di gedung yang sama," Roni tertawa pelan. Ia kembali menatap Nastya dengan lekat. "Kamu sangat cemburu padaku?" bisiknya kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Nastya.
Nastya tidak menjawab. Gadis itu hanya menatap Roni dengan mata indahnya. Wajahnya sedikit memerah.
"Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin menjawabnya, karena aku akan tahu sendiri jawabannya."
Roni meraih wajah itu dan dengan segera menikmati warna merah peachnya. Nastya pun tidak sempat menghindar ataupun menolaknya, lagipula ia memang tidak akam menolak hal itu sama sekali. Ia justru menyukainya.
Beberapa saat lamanya mereka saling menikmati permainan lidah masing-masing dengan bonus gigitan-gigitan lembut yang menggoda. Membuat hati keduanya ikut merasakan gelitik manja itu.
"Aku harap pak Elang tidak segera pulang," bisik Roni. Ia pun mengangkat tubuh Nastya dalam pelukannnya dan membawanya masuk ke dalam kamar gadis itu.
Kamar yang yang sangat nyaman dengan nuansa peach dan aroma bunga yang segar.
Roni pun menurunkan gadis itu tepat disebelah tempat tidurnya. Ia pun segera menaikan T Shirt dress yang dipakai Nastya dan melepasnya.
Nastya tampak risih dan malu. Akan tetapi dengan segera Roni membuatnya lupa dengan hal itu. Ia kembali mendaratkan ciuman seribu bayangan yang membuat Nastya tidak berdaya, hingga akhirnya ia pasrah di atas ranjangnya sendiri.
Perlahan Roni menjamah ngarai yang mulai basah itu dengan jari telunjuknya. Nastya pun memekik pelan.
Roni menatap gadis itu. Nastya masih perawan.
"Kamu belum pernah melakukannya?" tanya Roni pelan. Nastya menggeleng pelan.
Roni pun terdiam untuk sejenak. Tidak lama kemudian, ia kembali mencium gadis itu dengan lembut. Menurunkan resleting celana jeansnya, ia bersiap untuk sesi yang menegangkan itu.
Akan tetapi, baru saja ia akan mulai melakukan 'tendangan penalti' itu kearah gawang, tiba-tiba terdengar suara Elang menuju ruang kerjanya.
"Ah, sial!" Roni segera bangkit dan menaikan kembali resleting celananya. Ia pun segera memakai kaos dan meraih jaketnya.
Begitu juga dengan Nastya. Gadis itu segera berpakaian, meskipun wajahnya kini tampak lebih tegang dari sebelumnya.
Baginya, kemarahan Elang jauh lebih menakutkan daripada rasa sakit saat kehilangan keperawanan.
semangat selalu dalam menulis
cerita ini bikin baper banget