Disaat kebahagiaan terenggut dari dirinya. Ayu berusaha tetap tegar, tapi bukan dengan Papa tercintanya. Semenjak Aisyah dijemput oleh takdir, hidup Ayu terasa hancur porak poranda.
Pindah ke desa menjadi salah satu alasan untuk memulai hidup barunya tanpa mama tersayang. Disanalah Ayu berkenalan dengan seorang Guru laki-laki yang selama ini menjadi Idola setiap kaum hawa.
Namun di balik cinta yang sedang terjalin, ada sosok makhluk gaib yang tak ingin percintaan mereka berakhir bahagia.
Akankah hubungan mereka dapat dilanjutkan sesuai dengan keinginannya?
Kita simak Cerita nya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Minwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 Serupa dengan Ravi
“Ngenalin gimana?”
“Iya, di kenalkan temannya sama Bapak, siapa tau di antara mereka ada yang menjadi saingan mu.”
“Aaah, Bapak! Bikin kesal tau.”
Hati Ayu tampak begitu bahagia sekali, karena Ravi memperlihatkan perasaan cintanya pada Ayu. dengan lembut, di tariknya tangan Ayu kedalam kamarnya.
“Kita mau kemana Pak?” tanya Ayu ingin tau.
“Kekamar!”
“Ngapain?”
“Ya tidur!”
“Bapak nggak kesekolah?”
“Libur, hari ini nggak ada jadwal Bapak mengajar di kelas.”
“Waah, enak dong! kita bisa bercinta seharian,” ujar Ayu kesenangan.
“Ssst, jangan ribut, nanti didengar tetangga.”
“Iya, deh. Aku bakalan tutup mulut kok. Lagian kalau kita ketahuan, ya tinggal nikah, gampang kan?”
“Ngawur kamu!”
“Emangnya salah kalau aku ngomong gitu?”
“Ya, salah! lagian kamu kan masih kecil, nggak mau sekolah lagi,” ujar Ravi seraya membuka pintu kamarnya untuk Ayu.
“Ah, Bapak. Selalu menganggap aku anak kecil.”
“Emang masih kecil kan? Masih polos dan belum dewasa,” jawab Ravi sembari membukakan pintu lemari pakaiannya.
Saat pintu lemari di buka oleh Ravi, dari dalam kamar tercium bau aroma parfum yang sangat wangi.
“Nah pilih sendiri mana baju yang Ayu suka!”
“Waah, pakaian wanita, kenapa Bapak menyimpan pakaian wanita di lemari Bapak?”
“Ini pakaian adik Bapak, kadang dia tinggal disini dan terkadang dia kembali pulang.”
“Ooo, gitu.”
“Ya, ayo ambil!” perintah Ravi padanya.
“Ogah!”
“Ogah gimana maksud mu.
“Ya ogah lebih baik aku begini saja!” ujar Ayu seraya melompat ke atas Kasur.
“Ayu, jangan gitu ah!”
“Kenapa Bapak nggak suka?”
“Ayu!”
“Aku nggak mau!” tegas Ayu sembari tiduran di atas Kasur.
Seraya menarik nafas panjang Ravi hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat tingkah laku anak didiknya itu. Ravi mengakui untuk yang kali ini, dia benar-benar takluk pada gadis belia itu.
Karena Ayu memiliki ciri yang berbeda dengan gadis lainnya.
Dengan pelan Ravi pun berbaring di samping kekasihnya itu, mata mereka sama-sama nanar saat itu.
“Aku butuh kemesraan dari Bapak!” ucap Ayu polos.
Mendengar ucapan Ayu itu, jantung Ravi langsung berdebar kencang, dia tak menyangkan sama sekali, kalau Ayu mau bicara seperti itu padanya.
“Kamu bilang apa barusan Yu?” tanya Ravi seolah-olah tak mendengar dengan apa yang baru di ucapkan Ayu padanya.
Walau pertanyaan itu terdengar jelas di telinganya, namu Ayu tak mau menjawab, hanya tatapan matanya saja yang penuh akan pengharapan.
“Ayu,” ujar Ravi sembari memeluk tubuh kekasihnya itu.
Saat itu, Ayu meraskan hal yang aneh dengan pelukan Ravi itu, terasa begitu janggal sekali, sehingga Ayu berusaha keras untuk bisa lepas dari pelukan Ravi, dengan sekuat tenaga Ayu berusaha mendorong tubuh Ravi kebelakang.
Karena Ayu melakukannya dengan begitu kuat, Ravi pun tersenyum padanya, namun Ayu semakin takut ketika melihat senyum Ravi itu, Ayu tak yakin kalau yang berada di hadapannya adalah Ravi, karena pelukan Ravi begitu lembut sekali.
“Lepaskan Aku, siapa kau!” teriak Ayu dengan suara lantang.
Namun Ravi tak menjawab sama sekali, selain hanya memeluk tubuh Ayu dengan kuat, dengan sisa tenaga yang ada Ayu mendorong dengan kuat tubuh Ravi, hingga akhirnya dia pun terjatuh.
Akan tetapi di saat Ravi terjatuh, lalu pintu pun terbuka dengan lebar, dari luar muncul Ravi dengan membawa dua gelas jus dingin.
Melihat kemunculan Ravi, Ayu langsung merinding ketakutan, tanpa berfikir panjang dia langsung melompat dan memeluk tubuh Ravi, hingga jus dingin di tangan Ravi habis berserakan kelantai.
“Hei ada apa!” ujar Ravi kaget.
“Kalau yang baru masuk ini adalah Bapak, lalu siapa pria yang barusan memeluk ku hingga aku sulit untuk bernafas.”
“Maksud mu?”
“Itu pria yang barusan terjungkal kelantai,” jawab Ayu seraya menunjuk lantai di sampingnya.
“Nggak ada siapa-siapa kok.”
“Bapak lihat dulu,” ujar Ayu sembari menangis di pelukan Ravi.
“Ayu, bisa lihat sendiri kok, nggak ada siapa-siapa!”
“Aku takut, Pak.”
Mendengar penjelasan Ayu, Ravi begitu yakin, sekali, karena selama ini Ayu tak pernah berbohong padanya.
“Kurang ajar, apakah perempuan itu bisa menyamarkan diri menjadi bentuk tubuh ku yang asli, ini benar-benar udah keterlaluan,” gerutu Ravi pelan.
Melihat kekasihnya ketakutan, dia pun mencoba untuk menenangkannya, mesti pada dirinya perasaan takut itu masih ada, namun dia berusaha tetap kuat, agar Ayu tidak semakin ketakutan pula.
“Hei, hei! Tenang. Selagi ada Bapak disini, nggak bakalan terjadi hal buruk pada mu.”
“Tapi, hantu itu bisa menyerupai siapa saja yang diinginkannya, tadi dia juga udah memeluk ku begitu kuat sekali.”
“Tenang sayang, nggak usah menangis.”
“Tapi aku takut, Pak,” rengek Ayu saat itu.
“Iya, Bapak tau, tapi kamu jangan menangis lagi.”
Mendengar ucapan Ravi, Ayu pun menghapus air matanya yang bercucuran dan berhenti menangis. Gadis manis ini, terus menerus tertunduk dalam pelukan kekasihnya, hanya suara isak tangisnya yang sesekali masih terdengar.
“Ayu sayang, udah nggak ada apa-apanya kok, nggak usah takut, ok.”
Ayu tak menjawab, hanya kepalanya saja yang di anggukkan. Wajahnya yang putih tampak memerah, mesti berulangkali dia menghapus air mata itu, namun masih juga merembes keluar.
Dengan mesranya Ravi merangkul dan memeluk tubuh Ayu dan mengecup bibir mungil gadis itu, agar perasaan takut di hati Ayu menghilang dan berganti dengan rasa bahagia.
“Tadi malam hantu perempuan itu, juga masuk kedalam kamar ku, dia duduk di kursi belajar kami dan menggesekan ujung jemari kakinya ke betis ku. Sampai saat ini pun aku masih merasakan betapa dinginnya kaki perempuan itu.”
“Ayu melihatnya?”
“Iya.”
“Apakah Ayu mengenal perempuan itu?”
“Nggak, aku melihat darah begitu banyak di lehernya, di saat perempuan itu tertawa, maka darah segar menyembur dari luka lehernya yang menganga.
Aku teringat Mama saat itu, karena sewaktu Mama masih hidup, dia selalu ada jika aku mengalami ketakutan, hiks, hiks.”
“Udahlah sayang, hal ini akan tetap kita hadapi hingga akhirnya nanti.”
“Kenapa?”
‘Sepertinya Bapak nggak bisa memberi jawabannya, karena selama ini kita udah berusaha kan, hasilnya tetap nggak ada.”
“Apakah menurut Bapak hantu perempuan itu berasal dari rumah kos itu?”
“Entahlah Yu, tapi Ayu udah mencoba untuk keluar dari rumah itu, namun dia masih tetap mengganggu bukan?”
“Iya, Bapak benar, karena selama ini yang dia incar hanya aku.”
“Sementara itu, kita sendiri tak tau apa permasalahannya selama ini.”
“Lalu, aku harus gimana, Pak?”
“Entahlah.”
“Jika saja perempuan itu memperlihatkan wajahnya pada Bapak, apakah Bapak mengenalnya?”
“Bapak juga pernah melihatnya di dalam mobil malam itu, tapi jika Bapak mencoba untuk mengingatnya, justru Bapak kehilangan daya ingatan Bapak saat itu.
“Aneh!”
“Ya udah, nggak usah di pikirkan lagi hal itu, istirahatlah dulu, agar Ayu bisa rilek.
Mendengar perintah dari Ravi, Ayu langsung mengenakan pakaiannya, dia duduk di sofa sembari mengangkat kedua kakinya.
Bersambung...
\*Selamat membaca\*