apa ! papa mau nikahin nadira? tapi kenapa pa?
nadira,papa mau menikahkan kamu karna papa sudah ada perjanjian.
nadira humaira sudrajat. anak semata wayang dari pasangan elon anjaksana sudrajat dan indah purnama sudrajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 26
~
Nadira kini sudah benar-benar minggat dari rumah. Dan saat ini Arka sedang mencarinya di mana-mana, ia telah mencari kemana mana. Arka tak kepikiran harus minta tolong pada ***** atau pun Ron. Karna ia masih terkejut dengan ucapan Nadira tadi.
"Nadira... kamu pergi kemana sih! Hah!" Arka sudah benar benar frustasi.
Saat ini Nadira ternyata tengah berada di rumahnya Ron. Jangan kalian fikir Arka belum mencarinya kesana, namun saat Arka ada di sana Nadira bersembunyi dari pria itu. Nadira masih berada di luar rumah itu, ia bingung harus masuk dengan apa. Akhirnya ia tertidur di halaman belakang.
Arka menggenggam tangannya keras. Akar dari masalah ini pasti dari Bulan pikirnya. Ia kini mulai melajukan mobilnya menuju aprtemen Bulan. Dengan wajah yang merah padam ia mengumpat sesekali.
"Awas kamu Bulan! kalau terjadi sesuatu dengan Nadira. Kamu akan merasakan akibatnya!" Arka benar benar marah.
Setelah ia sampai di aprtemen, dengan lantang ia langsung masuk ke dalam. Beberapa lantai ia sudah lewati, kini ia sudah berada di depan pintu kamar wanita itu. Tanpa basa basi, ia menggedor keras pintu itu. Bahkan Penghuni yaang tinggal di sebelah Bulan terganggu dengan ulah Arka.
Cklek!
Bulan sudah membuka pintunya. Karna orang orang di sana melihat ke arahnya, Arka mendorong Bulan masuk ke dalam.
"Arka,,,, kamu mau apa ke sini." Bulan melihat Arka yang sangat marah.
"Apa yang telah kamu lakukan pada, Nadira," Arka menatap wanita itu tajam. Ia sangat keras mencengkram pundak Bulan.
"Awsh! Arka... sakit," rintih Bulan mendapat perlakuan seperti itu.
"Apa yang kamu lakukan!" Arka bersuara sangat keras. Karna Arka yang tak tahan dengan Bulan yang berbelit belit sorotannya makin tajam.
"Aku h4mil," lirih Bulan.
"Jangan bicara ngelantur!"
"Aku sedang mengandung anakmu," lanjut Bulan.
"Ngaco!" Arka mendorong tubuh Bulan hingga terjatuh. Arka membuang wajahnya jengah.
Tiba tiba, darah segar keluar dari area bawahnya Bulan.
"Aahk! Sakit," pekik Bulan. Arka sontak melihatnya, matanya membulat melihat darah.
"Bulan!" Arka mendekat ke arah wanita itu. Bulan meringis semakin keras. Arka terlihat gusar, apa yang harus ia lakukan sekarang? Bagaimana? Apakah ia harus membawa Bulan ke rumah sakit.
"Ar... Sakit!" Lirih Bulan sekali lagi. Bulan perlahan tidak sadarkan diri.
"Bulan! Bangun." Arka panik. Ia lalu membawa Bulan ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Kini Arka sudah melajukan mobilnya.
"Bawa aku ke rumah sakit Cahaya cempaka. Aku selalu memeriksa kandungan di sana," Bulan tersadar dari pingsannya.
"Ar, selamatkan anak kita," Bulan pun kembali tidak sadarkan diri.
___
Kini Arka sudah sampai di rumah sakit. Ia lalu menggendong Bulan masuk ke dalam.
Kini Bulan sudah di tangani oleh dokter. Arka menunggunya di luar. Kini pikirannya semakin bertambah, saat ini pikiran akan Nadira ia biarkan dahulu. Akhirnya dokterpun keluar setelah beberapa saat.
"Dengan suami pasien," ucap dokter itu tersenyum. Arka masih terdiam.
"Maaf pak, apa bapak adalah suaminya," ucap Dokter itu kembali.
"Kasih tau saja kondisinya sekarang," ucap Dokter.
"Kami tidak biaa memberitahunya selain dengan keluarga pasien, pak."
"Iya, saya suaminya," Arka tak mau banyak bicara.
"Kalau begitu, mari bapak ikuti saya ke ruangan saya pak." Dokter itu berjalan menuju ruangannya. Yang di ikuti oleh Arka.
Setelah sampai, Arka di persilahkan duduk.
"Ke adaan ibu dan bayinya saat ini sehat. Hanya saja si ibu jangan di kasih lelah dan melakukan pekerjaan berat. Apalagi kalau berpikiran yang negatif. Usahakan bapak menjaga keduanya." Jelas dokter itu.
Deg!
"Ap--pa benar, dia sedang hamil," tanya Arka tak percaya.
"Iya pak, kini usia kandungannya sudah memasuki tiga minggu. Bapak sudah bisa membawanya pulang."
Arka kini sudah keluar dari ruangan dokter. Ia langsung kembali kekamar rawatnya Bulan. Bulan sudah menunggu Arka dengan mengembangkan senyumnya. arka menatap wanita itu tajam.
"Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu sekalipun. jadi ini bagaimana bisa terjadi," ketus Arka.
"malam itu tidak mungkin bisa aku lupakan, kejadiannya masih sangat membekas di ingatanku," ucap Bulan sayu.
"bohong!"
"Waktu itu kamu sedang tidak sadar, minuman itu telah membuat dirimu hilang kendali, lalu...." Bulan meenggantung ucapannya.
"Sudahlah!"
"Aku ingin pulang bersamamu," ucap Bulan. arka langsung melihatnya. mata Bulan memelas.
"Aku mohon, kalau bukan demi aku. setidaknya Izinkan aku tinggal demi anakmu."
Arka dengan terpaksa membawa Bulan ke rumahnya. Setibanya di sana. arka membawa Bulan ke kamar sebelh kamarnya dan Nadira.
"Makasih." Ucp Bulan. Arka mengacuhkan. ia lalu pergi ke kamarnya.
"Nadira!" Arka mulai kepikiran dengan istrinya.
Yang sekarang, Nadira sudah ada di dalam rumah Ron. Ia ternyata menghubungi pria itu. Nadira menjelaskan alasannya datang ke sini.
"Kenapa bisa terjadi, Nadira," ucap Ron.
"Aku hanya ingin tinggal di sini."
"Kamu kan memang sudah tinggal di sini," sahut Ron.
Ron belum mengetahui apa yang terjadi dengan Nadira belakangan ini. ia berfikir kalau Nadira masih hilang ingatan.