Indonesia
NovelToon NovelToon
Beautiful Pain

Beautiful Pain

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Percintaan Konglomerat / Roman-Angst Mafia / Chicklit / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

"Setiap kita bersama selalu ada kesialan, semesta seakan mengutuk perasaanku padamu. " Lim Dylan.

"Hey, kau yang selalu mengikutiku sejak pertama kali bertemu. Get lost! " Teriak Jessie menuding wajah tampan Dylan.

Jesselyn merupakan gadis pemberani yang menghabiskan masa mudanya menjadi seorang relawan di beberapa negara konflik. Dia di hadapkan dengan seorang mafia berkedok pengusaha muda di jalur perdamaian.

Siapa sangka Jessie harus terus berhubungan dengannya.

Siapakah Dylan sebenarnya? Apakah catatan profil pria bertubuh tinggi dan memiliki wajah rupawan itu sepenuhnya bersih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26

Menikmati angin malam di balkon kamar, Jeselyn memeluk tubuhnya memandang hamparan lampu taman di sekeliling pagar hidup menjulang. Saat sedang sendiri Jesselyn selalu memikirkan sang ibu. Betapa ia merindukan pelukan hangat Anandya.

"Mom, I miss you. " Gumamnya bersahutan dengan semilir angin.

"Di luar dingin. " Dylan memeluk Jesselyn dari belakang memberi kehangatan. Keduanya berada di kamar Dylan yang selalu ia tempati ketika pulang. Padahal Jesselyn menyukai kamar tamu.

Jesselyn melepaskan tangan Dylan yang melingkar di perutnya, berbalik demi memandang wajah suami.

"Kenapa kau menyentuh wajahnya Dy? Mungkinkah kau tergoda olehnya.. "

"Sst... " Belum selesai Jesselyn bicara segera Dylan menempelkan ibu jarinya di bibir Jesselyn. "Itu kesalahan ku, namun tidak berarti apa-apa. Tolong maafkan aku Jessie. " Lanjutnya. Berharap sang istri mau melupakan kebodohannya dalam bertindak.

"Tapi hatiku menolak untuk lupa. " Cicitnya pelan dengan kepala tertunduk. Kejujuran Jesselyn membuat Dylan tersenyum lega, artinya Jesselyn merasakan cemburu pada Willow.

"Kemarilah sayang, aku sangat merindukanmu." Jesselyn menurut masuk kedalam pelukan sang suami. Menghirup aroma tubuh Dylan yang memabukkan dan menjadi candu baginya.

"Tolong jangan patahkan hatiku Dy..." Gumam Jesselyn masih bisa di dengar oleh lawan bicaranya.

"Tidak akan Jessie. Promise." Dylan bertekad dalam hati.

"This is too late, but surprise... I'm home." Jesselyn mendongak menampilkan senyuman termanis miliknya.

Cup...

Dylan mengecup Jesselyn gemas. Hidung keduanya saling beradu menggerakkannya hingga terdengar tawa riang mengisi balkon.

"Aw ..." Jesselyn memekik saat tubuhnya diangkat oleh Dylan. Memasuki kamar, Dylan segera merebahkan tubuh Jesselyn hati-hati.

Tangan nakal Dylan bergegas menarik dalaman milik sang istri.

Usapan lembut dibawahnya membuat Jesselyn bersuara resah. Dylan menyeringai menantikan sejauh mana Jesselyn mampu bertahan untuk tidak memintanya menghujam keras. Dari sapuan lembut Dylan berganti dengan memasukkan satu jarinya. Mulai bergerak liar .

"Oh please, aku lemah untuk itu." Racau Jesselyn , tubuhnya menggelinjang menolak merasakan ledakan yang semakin mendekat.

"tell me, hukuman apa yang pantas untukmu sayang? " sekali lagi Dylan mengalihkan atensi Jesselyn ditengah ledakan hampir terjadi.

"just fucking me hard Dy... " Jesselyn meraih tangan Dylan lalu meletakkannya diatas salah satu gundukannya.

"As your Wish sayang. " kembali Dylan menghentakkan miliknya hingga masuk memenuhi Jesselyn.

Hujaman yang berawal lembut dan pelan semakin menjadi saat Dylan meluapkan rasa rindunya. Tak bertemu selama tiga bulan bukan perkara mudah atau mampu tidaknya. melainkan ujian menahan diri masing-masing dari setiap godaan yang tersaji di depan mata.

"Dy, aku sudah tidak bisa..." Miliknya berkedut hebat dalam waktu singkat, namun Dylan bahkan baru memulai. Laki-laki di atasnya akan menghukum Jesselyn dengan merampas kebebasannya untuk meledak.

Setiap kali Jesselyn hampir ke puncak, Dylan segera mengganti ke posisi yang lain. Dan itu membuat Jesselyn gila dan puas secara bersamaan. Stamina Dylan terlalu kuat untuk Jesselyn yang mudah pelepasan.

"Persiapkan dirimu sayang, aku akan mengirim calon anak-anak kita." Jesselyn memandang peluh di dahi Dylan. Seringai kepuasan Dylan adalah kebahagiaan baginya. Ya, Jesselyn harus menepati janji karena ia telah lulus sekarang.

"Jesselyn..."

"Dylan..."

Keduanya saling memanggil seolah mengajak naik ke atas menjemput kenikmatan duniawi bersama. Dylan menyirami rahim Jesselyn hingga ia merasakan hangat luar biasa.

"Hemph..." Jesselyn melenguh ketika Dylan masih menikmati sisa ciuman di dalam mulut sang istri.

"Thanks Jessie. " Ucap Dylan mengusap keringat di kening Jesselyn.

"Anytime Dy." Jawaban Jesselyn berhasil membangkitkan lagi hasratnya.

"I mean, bukan masalah. Kita sama-sama menginginkannya." Tiba-tiba pipi Jesselyn merona melihat seringai mesum di wajah Dylan.

"Kau menginginkannya." Tuduh Dylan, masih senang menggoda Jesselyn.

"No..." Jesselyn memekik. "Ya. Aku menyukainya Dy..." Lanjut Jesselyn mengakui.

"Kau akan menyesal sayang..." Selanjutnya Dylan dan Jesselyn menghabiskan malam mereka dengan terus berkeringat seakan tidak ada lagi hari esok untuk melakukannya.

****

Suasana sarapan pagi menjadi lebih menyenangkan ketika Dylan dengan suasana hatinya yang baik. Tidak satupun mereka berani merusak mood seorang Lim Dylan. Bahkan Liam ayahnya susah payah menahan diri ketika mengetahui kelakuan Dylan menembak Reynold. Alya dan Christian mati-matian membela keponakan agar masalah cepat berlalu.

"Selamat pagi semua." Ucap Jesselyn, ia datang membawa nampan berisi buah potong segar.

"Wow looks good." Yuna memuji keterampilan memotong Jesselyn. Pepaya, semangka dan melon di potong dengan rapi ala restoran hotel.

"Kau tidak perlu melakukannya Jessie, perhatikan jarimu agar tidak terpotong." Dylan memperingati sebagai bentuk perhatian.

"I see." Balas Jesselyn acuh. Dylan paham istrinya masih memendam perasaan kesal karena dirinya sempat menyentuh Willow.

"Kemana mom and dad ?" Lanjut Jesselyn mencari keberadaan mertuanya.

"Ada keperluan di rumah grand pa Rodrigo. Kita sarapan tanpa mereka." Jawab Dylan.

Dylan mengingat betul alasan mereka pagi buta ke rumah kakek. Membahas soal pengamanan toko berlian di salah satu kawasan elit. Tanpa mereka tahu, Dylan beserta tim menerima pekerjaan dari ayahnya sendiri yaitu menjaga keamanan dari kelompok perampok. Selentingan kabar mengatakan mereka akan menjarah toko di jam makan siang. Benar atau tidaknya belum pasti, namun Jayden telah mengumpulkan beberapa data mengenai sindikat perampokan yang menjadi incaran badan keamanan negara.

"Apa rencanamu hari ini ?" Tanya Dylan, ia harus memastikan keselamatan Jesselyn.

"Melakukan shoft opening. Aku datang sangat terlambat." Keluh Jesselyn, merasa tenaganya tak berarti akibat tidak ikut persiapan sejak tahap awal.

" Aku yakin mereka akan mengerti. Kepedulianmu jauh lebih berarti Jessie." Dylan menggenggam tangan Jesselyn memberinya dukungan. Syukurlah istrinya tidak lagi menghindar seperti pagi tadi . Dylan sempat frustasi saat menghadapi kebisuan Jesselyn. Padahal mereka baik-baik saja dan terkesan romantis jika bercinta.

"Thanks." Ucap Jesselyn.

"Ekhem,,," deheman Yuna menginterupsi. "Bisa kita mulai sarapannya ? Aku sudah lapar." Mereka hampir melupakan keberadaan gadis cantik di sekitarnya. Yuna merasa iri melihat Dylan begitu mencintai kakak iparnya. Ia pun berharap bisa mendapat laki-laki sebaik Dylan kelak.

Dan ketiganya melangsungkan sesi sarapan pagi dalam suasana tenang. Setelah itu Yuna berangkat ke kantor di antar supir dan Jesselyn bersama Dylan.

"Maaf tidak bisa makan siang bersama. Ada pekerjaan mendadak dari Daddy." Sebelum melepas Jesselyn turun Dylan mengecup singkat keningnya.

"It's ok." Dylan tersenyum usai mendapat balasan ciuman di pipi.

Hiruk-pikuk di dalam restoran bernuansa industrial menandakan kesibukan masih berlangsung. Jesselyn di usia mudanya berhasil melakukan satu hal bermanfaat. Yaitu mendirikan yayasan sosial, membuka lapangan pekerjaan bagi kalangan single fighter dari berbagai latar belakang. Jika Anandya tahu mungkin sang ibu akan menangis terharu.

Meski dengan budget minim Jesselyn ingin menampilkan produk terbaik mereka. Sebelumnya ia sudah mengunggah informasi pembukaan di media sosial. Berdoa semoga saja banyak pengunjung di hari pertama beroperasi.

"You did it Jess." Teman universitas Jesselyn bernama Magda menepuk lembut pundaknya. Keduanya berdiri mengamati situasi restoran yang semakin ramai menjelang makan siang.

"I'm nothing without you Ce." Jesselyn memeluk singkat perempuan keturunan Asia di sampingnya.

"CK, come on aku hanya menemanimu. Kau melakukan semua dengan baik." Jesselyn bersyukur bisa mengenal Magda, ternyata dia juga memiliki jiwa sosial tinggi.

"Berjanjilah, kau akan terus menjalankan ini meski tanpaku." Tiba-tiba terbesit di benak Jesselyn kemungkinan dirinya akan meninggalkan Paris.

"Aku akan mengejarmu ke ujung dunia sekalipun. Kau harus tetap bersama kami Jesselyn Carl." Magda mencebik sementara Jesselyn hanya bisa menanggapinya dengan senyuman penuh arti.

Tak terasa, menjelang sore semua menu terjual habis. Jesselyn membantu merapikan beberapa peralatan setelah menyelesaikan laporan keuangan. Sayang sekali mereka harus tutup lebih awal. Antusias pelanggan sangat di luar perkiraan. Banyak sekali yang datang.

"Jesselyn biar mereka saja yang mengerjakan, kau terlihat lelah." Magda menghampiri menegur Jesselyn yang sedang mengelap meja tamu.

"Ini yang terakhir." Jawabnya cepat.

"Pulang dari sini aku ingin membeli hadiah untuk ibuku. Kau tahu dimana tempat perhiasan terbaik?" Magda menyodorkan sebotol minuman untuk Jesselyn.

"Aku tahu tempatnya, biar aku antar." Jesselyn menawarkan diri. Karena ia tahu Magda belum terlalu menghapal Paris dengan baik. Mereka sama-sama pendatang, Magda dari Amerika sengaja kuliah di London dan tertarik menetap di Perancis.

"Itu menyenangkan." Magda merasa senang.

Sementara Dylan dan Jayden masih berjaga tak jauh dari toko perhiasan milik sang kakek. Untung saja pekerjaan di perusahaan sudah ia selesaikan. Waktunya habis hanya untuk menunggu kepastian.

"Sial, apa mereka mengetahui keberadaan kita ?" Dylan mengumpat setelah menginjak rokoknya.

"Mustahil. Kecuali ada mata-mata." Sangsi Jayden.

Jayden terbelalak mendapati sosok yang ia kenal muncul di teropong pengintaian. Lantas tangannya refleks menyenggol Dylan.

"What ?" Tanyanya kesal.

"Kau lupa memberitahu tugasmu pada Jesselyn ?" Pertanyaan Jayden berhasil membunyikan alarm pertanda bahaya.

"Shit..." Dylan tergesa-gesa berlari turun dari rooftop. Mereka memilih untuk mengawasi di gedung sebrang toko berlian.

Jesselyn mengajak Magda berburu berlian meski ia juga pertama kali datang kesana. Yang ia tahu berlian Milik keluarga Dylan berkualitas tinggi.

"Dari mana kau tahu tempat sebagus ini Jess ?" Mata Magda masih terfokus memperhatikan etalase.

'husband' batinnya.

Prang.....

Suara pecahan kaca jendela mengejutkan semua orang. Jesselyn meraih Magda untuk menunduk. Satu tembakan melesat sebagai peringatan.

"Put your head down." Teriak pria bertopeng hitam menodongkan senjata ke arah penjaga.

"Kau, siapkan kami uang tunai dan beberapa berlian ." Perintah sang pemimpin pada salah satu staf di bagian kasir.

Jesselyn meraba dadanya, berusaha menahan debar jantung agar tak memforsir kinerjanya. Ia berjongkok bersama Magda tepat di depan kaki salah satu perampok.

Jarum jam terus bergulir seiring berjalannya waktu menunggu uang terkumpul tanpa sisa. Namun saat pemimpin perampok merebut paper bag berisi tumpukan dolar Amerika pecahan seratus dari tangan staf, anggotanya berteriak...

"Bos dia mencoba menelpon polisi." Tunjuknya pada seseorang di bawahnya.

Jesselyn menggerutu melihat kecerobohan Magda. Tanpa pikir panjang ia berdiri cepat, lalu mengambil alih SS2-v5 A1 di saat pemiliknya lengah. Jesselyn mengarahkannya pada sang pemimpin.

"Put the gun down." Ancamnya meski dalam hati ketakutan.

"Cih,,, are you kidding me huh ?" Merasa tertantang oleh keberanian Jesselyn, dia malah berjalan mendekatinya. Ketika tangannya terayun hendak mencekik Jesselyn, satu tembakan melesat mengenai telapak tangannya.

"Argh ... Sial." Jeritnya menahan sakit sekaligus panas. Darah segar segera bercucuran.

Usai menerima aba-aba dari sniper andalannya yaitu Jayden, Dylan tak ragu menembaki kaki tangan perampok. Kesempatan untuk Jesselyn melarikan diri. Ia menyeret Magda menuju pintu keluar dengan saling menunduk dalam.

"You did it Jessie." Teriak Dylan saat berpapasan dengan Jesselyn. Di tengah kebisingan dan suara teredam Dylan Jesselyn mampu mengenalinya.

"Stay alive!" Setengah memaki akibat kekesalan Jesselyn karena Dylan lupa memberitahu dirinya soal tugas rahasia dari Daddy Liam.

Mereka berpisah. Jesselyn masuk mobil milik Magda sementara Dylan mulai meringkus komplotan perampok di bantu anggota kepolisian.

"Huh tadi hampir saja." Magda menyeka peluh di dahinya. Ketegangan barusan adalah yang pertama,dan ia berharap menjadi terakhir.

"Kau hampir membahayakan dirimu Magda." Keluh Jesselyn menyandarkan kepalanya pada kursi penumpang.

"Kau mengenali polisi tadi Jess ? Dia memanggil namamu." Kini ia menyamping memperhatikan Jesselyn masih memeluk senjata.

"He's not a cop." Jawabnya ambigu, Magda tak perduli asal nyawanya selamat.

"Astaga Jess, kau akan membawanya ?" Magda memekik tersadar Jesselyn masih memegangi senjata berbahaya itu.

"Diamlah. " Perintah Jesselyn, kemudian mengeluarkan amunisi hingga kosong dan membuang ke luar jendela mobil.

"Antar aku pulang sekarang Ce." Magda melongo tak percaya Jesselyn benar-benar bisa menggunakan senjata.

"Kupikir kau innocent Jess." Jesselyn hanya mengedikan bahu menanggapi keterkejutan Magda.

****

"Explain Dy !" Tuntut Gracia Rodrigo, tatapannya diselimuti kemarahan dan kekecewaan terhadap si sulung.

"Mom tenangkan dirimu." Pinta Liam, dia kepala keluarga namun menghadapi masalah dengan kepala dingin.

"Semua pemberitaan tentangku memang benar mom. I'm sorry." Dylan menunduk, kedua tangannya saling bertautan.

"Jadi selama ini kau bermain-main bersama kematian di belakang kami ? Hidupmu bukan cuma milikmu Lim Dylan. Aku ibumu, Daddy, Yuna , dan sekarang istrimu Jesselyn." Ketika Grace sudah marah Dylan sedikitpun tidak akan membantah jika itu memang kesalahannya.

"Berjanjilah padanya Dy, kau tidak akan melakukan pekerjaan itu lagi." Jesselyn memeluk Dylan dari belakang, berusaha membujuk suaminya.

"Beri aku waktu untuk memikirkannya sayang." Pelan sekali Dylan menjawab menandakan dirinya masih bimbang.

Hari itu, usaha yang Dylan bangun untuk menutupi jati dirinya harus runtuh. Keluarga tahu dan terkejut sekali. Untungnya Liam bisa meredam pemberitaan di berbagai media. Akan berbahaya saat para musuh menjadikan Dylan sebagai titik lemah untuk menjatuhkan perusahaan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!