Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi yang Menguat
POV Paolo
Hari pernikahan adikku, tak diragukan lagi, adalah salah satu yang paling berkesan dalam hidupku. Bukan semata karena melihat Luna Salvatore Rigone mengenakan gaun pengantin, siap bersatu dengan lelaki yang selalu ia cintai, tetapi karena segala yang tersirat pada momen itu: keluarga yang berkumpul, aliansi yang menguat... dan wanita yang telah mengubah total arah hidupku, berdiri di sisiku.
Setelah pertemuan kembali Maria Cecília Santana — kini Ingrid Cecília Hansen Ragnar — dengan kedua orang tuanya, mansion keluarga Salvatore seakan memperoleh energi baru. Ada haru di udara, sebuah rasa bahwa sesuatu yang lebih besar sedang dibangun. Aku, yang selalu menjadi lelaki yang dituntun logika dan strategi, mendapati diriku benar-benar larut dalam perasaan yang tak bisa lagi kuabaikan.
Kami melewatkan berjam-jam hari itu menyaksikan pertemuan kembalinya dengan Harald Hansen Ragnar dan Astrid Hansen Ragnar. Mereka berpelukan seolah berusaha menebus dua puluh tahun yang hilang dalam beberapa menit. Itu menggetarkanku dengan cara yang tak terduga. Aku mengenal kepedihan, kehilangan, dendam... tetapi cinta keluarga semacam itu, yang dibangun kembali setelah begitu banyak penderitaan, adalah sesuatu yang langka bahkan di duniaku.
Ketika ia datang menghampiriku, matanya masih berkaca-kaca, dan memperkenalkanku secara resmi sebagai kekasihnya, aku merasakan sesuatu yang sudah lama tak kurasakan: rasa hormat yang berbaur dengan... kebanggaan. Ayahnya mengamatiku lekat-lekat, sebagaimana yang dilakukan seorang Dom sejati — menelaah setiap perincian, setiap gerak-gerik.
"Kau tak mungkin memilih yang lebih baik," ucapnya.
Kata-kata itu berbobot. Bukan sekadar dari seorang ayah, melainkan dari seorang lelaki yang memimpin kerajaan sekuat kerajaanku.
Aku tak ragu.
"Dengan segala hormat, Dom Harald... aku ingin secara resmi meminta izin untuk menjalin hubungan dengan putrimu."
Keheningan yang menyusul singkat, tetapi kuat. Aku tak pernah perlu meminta apa pun kepada siapa pun. Aku selalu mengambil apa yang kuinginkan. Tetapi dengannya... berbeda. Ia pantas mendapatkannya. Dan aku pun ingin melakukan segalanya dengan cara yang benar.
Ia mengangguk, dengan senyum tipis.
"Kau kuberi izin."
Pada momen itulah aku yakin: ini bukan sekadar sebuah hubungan. Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Kemudian muncul persoalan nama. Ketika ia menjelaskan bahwa ia memilih "Ingrid" untuk mengenang neneknya, kulihat Ingrid Cecília Hansen Ragnar berpikir dengan tenang sebelum menjawab.
"Aku ingin dipanggil Ingrid Cecília."
Caranya mengucapkan itu... mantap, tetapi lembut. Persis seperti dirinya. Kuat, tetapi tanpa kehilangan jati dirinya.
Dan ketika ayahnya secara resmi menyebutkan nama lengkapnya, aku tak sanggup menahan diri:
"Bagiku, kau akan selalu menjadi Cecília-ku... tetapi tak lama lagi kau akan menjadi Ingrid Cecília Hansen Ragnar Salvatore."
Wajahnya seketika bersemu merah. Dan, untuk pertama kalinya, kulihat senyum tipis penuh persetujuan di wajah Harald. Itu berarti lebih dari sekadar kata-kata.
Kendati begitu, ada sesuatu yang mengganjalku.
Keputusan untuk membawanya ke Norwegia.
Aku tahu itu perlu. Ia butuh mengenal akar, sejarah, bangsanya sendiri. Tetapi gagasan untuk berjauhan darinya... sama sekali tak menyenangkanku.
Walau demikian, aku menerimanya.
Kendali. Ia selalu menjadi sekutu terbesarku.
Kuundang keluarganya untuk tinggal di Italia hingga pernikahan Luna, yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Mereka menerima, dan itu memberiku lebih banyak waktu dengannya.
Tetapi waktu... berlalu terlampau cepat.
Pada hari pernikahan, mansion dibagi sesuai tradisi. Para wanita berada di lantai utama, dirias oleh tim yang sempurna. Sedangkan kami, kaum lelaki, diarahkan ke bangunan sayap terpisah.
Lutero Russo nyaris ambruk.
"Aku bakal kalap," ucapnya berulang-ulang, mondar-mandir.
Kuputar bola mataku, tetapi tetap bersabar.
"Kendalikan dirimu. Kau pernah menghadapi orang-orang bersenjata, memimpin berbagai operasi... dan kau gugup hanya karena sebuah pernikahan?"
"Ini bukan 'sebuah pernikahan'. Ini pernikahanku."
Aku mengembuskan napas.
"Kalau begitu berhentilah bersikap seperti amatiran."
Meski kata-kataku keras, aku memahaminya. Karena, dalam beberapa hal... aku pun terpengaruh.
Upacara digelar di sebuah gereja megah di Florence. Pengamanan diperketat, tamu-tamu terpilih, setiap perincian sempurna.
Ketika Luna masuk... keheningan menguasai ruangan.
Ia memesona.
Dan Lutero... sepenuhnya takluk.
Ikrar mereka tulus, sarat haru. Tak ada yang dibuat-buat. Tak ada yang dangkal. Hanya kebenaran.
Ketika mereka dinyatakan sebagai suami istri, gereja meledak dalam tepuk tangan. Kepergian mereka ditandai taburan beras dan kelopak mawar, sebagaimana dituntut tradisi.
Tetapi bagiku... momen terpenting masih akan tiba.
Pesta di mansion berlangsung meriah. Dentingan gelas bersulang, musik, tawa... semua seperti seharusnya.
Tetapi aku tak benar-benar hadir di sana.
Mataku terus-menerus mencarinya.
Sampai akhirnya aku tak tahan lagi.
Kutarik ia diam-diam ke tempat yang lebih tersembunyi, jauh dari keramaian.
Ia menatapku, penasaran.
"Ada apa?"
Aku mendekat, menangkup wajahnya dengan hati-hati.
"Aku akan merindukanmu."
Ia tersenyum, tetapi ada kesedihan di matanya.
"Aku juga."
Aku menarik napas dalam-dalam.
"Beri aku waktu seminggu. Paling lama. Aku akan mengatur segalanya... dan aku akan ada di Norwegia."
Ia tampak terkejut.
"Kau akan datang?"
"Demi kau... aku akan melintasi negara mana pun."
Kudekatkan wajahku ke wajahnya, merasakan wanginya, embusan napasnya...
Lalu kucium ia.
Bukan ciuman tergesa. Melainkan dalam. Menggebu. Seperti segala hal di antara kami.
Ketika aku menjauh, kutempelkan dahiku ke dahinya.
Suaraku keluar lebih rendah dari biasanya.
"Aku mencintaimu."
Tak ada strategi di sana. Tak ada perhitungan.
Hanya kebenaran.
Dan, pada momen itu, aku tahu... tak ada lagi jalan kembali.