Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Arga masih berdiri di ujung lobi.

Tatapannya tidak beranjak dari Calista.

Perempuan itu sudah berjalan beberapa langkah menjauh dari Danis, tetapi sesekali tangannya masih mengusap sudut mata.

Arga mengepalkan tangan.

Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Bukan sekadar rasa penasaran.

Ada rasa ingin melindungi.

Namun Arga sadar...

Ia belum memiliki hak apa pun atas perempuan itu.

Bahkan mereka baru beberapa kali makan siang bersama.

"Pak..."

Suara Dimas membuat Arga tersadar.

Dimas baru keluar dari lift dan langsung melihat pemandangan di hadapannya.

Ia memandang Calista.

Kemudian Danis yang masih berlutut.

Lalu kembali kepada Arga.

"Wah..."

Arga menoleh tajam.

"Jangan komentar."

Dimas langsung mengangkat kedua tangan.

"Saya belum bicara."

"Ekspresimu sudah bicara."

Dimas menahan senyum.

"Baik, Pak."

Arga kembali menatap Calista.

Perempuan itu kini sudah hampir sampai di pintu keluar.

Tanpa berpikir panjang...

Arga melangkah.

"Pak?" Dimas terkejut.

Namun Arga tidak menjawab.

Langkahnya semakin cepat.

"Calista."

Calista yang mendengar namanya dipanggil langsung berhenti.

Ia mengusap wajahnya sekali lagi sebelum berbalik.

Arga sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Pak Arga?"

Arga memperhatikan matanya.

"Kamu menangis?"

Calista terdiam.

Kemudian menggeleng.

"Tidak."

Arga mengerutkan kening.

"Matamu merah."

Calista tersenyum kecil.

"Saya tidak apa-apa."

Arga tidak memaksanya.

Ia hanya mengangguk.

"Kalau begitu..."

Arga terdiam sejenak.

"Kamu mau makan siang?"

Calista berkedip.

"Pak?"

"Sesuai rencana."

Calista hampir lupa.

Makan siang yang kemarin sudah mereka bicarakan.

Namun setelah pertemuannya dengan Danis...

Ia benar-benar tidak memiliki selera makan.

"Maaf, Pak."

Calista menundukkan kepala.

"Hari ini saya ingin pulang."

Arga memperhatikannya.

"Baik."

Tidak ada paksaan.

Tidak ada pertanyaan berlebihan.

Hanya satu jawaban sederhana.

"Kalau begitu saya antar."

Calista buru-buru menggeleng.

"Tidak perlu, Pak."

"Calista."

Arga menatapnya serius.

"Kamu sedang tidak baik-baik saja."

Calista terdiam.

"Saya tidak bermaksud ikut campur."

Arga melanjutkan dengan suara lebih lembut.

"Tapi saya tidak ingin kamu pulang sendirian dalam keadaan seperti ini."

Calista menatap wajah pria itu.

Ada sesuatu dalam tatapan Arga yang membuat hatinya terasa sedikit lebih tenang.

Akhirnya...

Ia mengangguk.

"Baik, Pak."

Dimas yang berdiri beberapa meter di belakang mereka langsung menatap langit-langit.

Dalam hati ia bergumam.

Pak Arga... kalau perhatian terus begini, lama-lama bukan cuma makan siang yang jadi rutinitas.

Namun di belakang mereka...

Danis sudah berdiri.

Tatapannya tertuju kepada Arga.

Kemudian kepada Calista.

Wajahnya berubah.

"Calista."

Calista menoleh.

Danis berjalan mendekat.

Arga otomatis berdiri sedikit lebih dekat dengan Calista.

Bukan untuk menantang.

Melainkan refleks.

Danis berhenti beberapa langkah dari mereka.

"Kamu mau pergi?"

Calista mengangguk.

"Iya."

"Bersama dia?"

Calista terdiam.

Arga tidak menjawab.

Danis menatap Arga.

"Siapa kamu?"

Dimas yang mendengar itu langsung mengangkat alis.

Arga tetap tenang.

"Saya Arga."

"Hubunganmu dengan Calista apa?"

Pertanyaan itu membuat lobi mendadak terasa lebih sunyi.

Calista menatap Danis.

Kemudian Arga.

Arga akhirnya menjawab dengan nada datar.

"Saya atasannya."

Danis tertawa pendek.

"Atasan?"

"Iya."

"Kalau hanya atasan..."

Danis menatap Calista.

"...kenapa kamu begitu perhatian kepadanya?"

Calista langsung menyela.

"Danis, cukup."

Danis terdiam.

"Ini sudah bukan urusanmu."

Kalimat itu membuat Danis terpukul.

"Cal..."

"Aku sudah bilang."

Calista menatapnya tegas.

"Kita sudah selesai."

Danis mengepalkan tangan.

Namun kali ini ia tidak memaksa.

Ia hanya menatap Calista dengan mata penuh penyesalan.

"Aku akan menunggumu."

Calista menggeleng.

"Jangan."

"Aku tetap akan menunggu."

"Danis..."

"Aku tidak peduli berapa lama."

Calista menutup mata sesaat.

Kemudian berkata pelan,

"Jangan menunggu seseorang yang sudah memilih pergi."

Setelah mengatakan itu...

Calista berbalik.

Arga mengikutinya.

Mereka berjalan menuju pintu keluar.

Danis tetap berdiri di tempatnya.

Matanya mengikuti punggung Calista hingga menghilang di balik pintu.

Sementara itu...

Di dalam mobil Arga.

Calista duduk diam di kursi penumpang.

Arga menyalakan mesin.

Namun ia tidak langsung menjalankan mobil.

"Calista."

"Iya?"

"Kalau kamu tidak ingin membicarakannya, saya tidak akan bertanya."

Calista menoleh.

"Tapi..."

Arga menatapnya.

"Kalau kamu ingin bicara, saya bisa mendengarkan."

Calista terdiam.

Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanannya runtuh.

Air matanya kembali jatuh.

Arga panik.

"Hei..."

Ia segera mengambil tisu dari dashboard dan menyerahkannya.

"Jangan menangis."

Calista menerima tisu itu.

"Maaf, Pak."

"Untuk apa meminta maaf?"

"Saya jadi merepotkan."

Arga menggeleng.

"Kamu tidak merepotkan."

Calista menundukkan kepala.

Beberapa detik kemudian...

"Dia mantan suami saya."

Arga terdiam.

Tangannya yang berada di kemudi berhenti bergerak.

"Mantan suami?"

Calista mengangguk.

"Iya."

Arga tidak menyangka.

Pria yang tadi berlutut dan memohon itu...

Ternyata pernah menjadi suami Calista.

"Dia ingin kami kembali."

Arga menarik napas perlahan.

"Dan kamu?"

Calista menatap keluar jendela.

"Saya tidak mau."

Jawabannya begitu tegas.

Arga mengangguk.

"Baik."

Calista menoleh.

"Baik?"

"Saya tidak akan menyuruh kamu kembali."

Untuk pertama kalinya sejak tadi...

Calista tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Arga membalas senyum itu.

"Lagi pula..."

"Hm?"

"Kalau seseorang sudah membuatmu menangis sebanyak itu..."

Arga berhenti sejenak.

Tatapannya menjadi serius.

"...dia seharusnya belajar menerima keputusanmu."

Calista terdiam.

Dadanya kembali terasa hangat.

Ia tidak tahu mengapa...

Tetapi berada di samping Arga membuat luka lama yang selama ini ia simpan terasa sedikit lebih ringan.

Sementara mobil mulai bergerak meninggalkan gedung perusahaan...

Arga hanya memiliki satu pikiran.

Ia tidak tahu bagaimana kisah masa lalu Calista.

Namun satu hal sudah pasti.

Ia tidak ingin menjadi alasan perempuan itu menangis.

Ia ingin menjadi alasan...

Calista kembali tersenyum.

1
Melda indah
berharap Calista sama pak Arga ☺️
Eva Karmita
Denis tetap semangat tunjukkan kamu bisa berubah... sangat sulit untuk melupakan perlakuan keluargamu dulu Denis ke Calista 😩
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!