Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Suami Ku Selalu Dihina Karena Dia Autisme

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.

Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang yang Tidak Ingin Ditemui

"Mbak, apa di sini benar tempatnya Mbak Naresta?" tanya seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam toko.

Aya yang sedang duduk di belakang meja kasir langsung mengangkat wajahnya.

"Iya, benar. Ada perlu apa, Bu?"

Wanita itu tidak langsung menjawab. Pandangannya menyapu seluruh isi toko yang cukup ramai.

"Mbak Narestanya ada?"

"Ada."

Aya mengernyit sedikit.

"Tapi Ibu siapa, ya?"

Wanita itu terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis.

"Saya keluarganya."

Aya langsung mengangkat alis.

"Keluarga?"

"Iya."

Aya memperhatikan wanita tersebut dari atas sampai bawah. Selama bekerja bersama Naresta, ia hampir tidak pernah melihat keluarga Naresta datang ke toko.

"Keluarga dari mana, Bu?"

Wanita itu mulai terlihat tidak nyaman.

"Saya mau bertemu Naresta saja."

Aya semakin curiga.

"Maaf, Bu. Bukannya saya mau menghalangi. Tapi Mbak Naresta sedang istirahat."

"Dia sakit?"

"Nggak. Mbak Naresta sedang hamil tujuh bulan."

Wanita itu langsung terdiam.

"Hamil?"

Aya mengangguk.

"Iya."

Wajah wanita tersebut berubah seketika.

"Sudah tujuh bulan?"

"Iya."

Wanita itu menoleh ke arah pintu yang menghubungkan toko dengan bagian dalam rumah.

"Saya benar-benar nggak tahu."

Aya memperhatikan perubahan ekspresinya.

"Ibu tadi bilang keluarga Mbak Naresta, tapi nggak tahu kalau Mbak Naresta hamil?"

Wanita itu tidak menjawab.

Aya semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Siapa nama Ibu?"

Belum sempat wanita tersebut menjawab, terdengar langkah kaki dari arah dalam.

Naresta muncul bersama Elvan.

"Mbak Aya, nanti kalau ada yang—"

Ucapan Naresta langsung terhenti.

Wajahnya yang semula santai seketika berubah saat melihat wanita yang berdiri di depan kasir.

Elvan ikut berhenti di sampingnya.

Aya langsung menoleh.

"Mbak Naresta, Ibu ini katanya keluarga Mbak."

Naresta tidak menjawab.

Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari wanita tersebut.

Wanita itu tersenyum canggung.

"Naresta..."

Naresta menggenggam tangan Elvan lebih erat.

"Ada apa datang ke sini?"

Aya langsung menyadari bahwa hubungan keduanya jelas tidak baik.

Wanita itu mencoba mendekat.

"Ibu cuma mau ketemu kamu."

Naresta langsung terdiam.

Aya membulatkan matanya.

"Ibu?"

Naresta mengembuskan napas panjang.

"Iya, Mbak Aya."

Tatapannya tetap dingin.

"Dia ibu saya."

"Kamu bisa hamil? Dengan pria itu?" tanya wanita tersebut sambil menatap Elvan dari atas sampai bawah.

Wajah Naresta langsung berubah dingin.

"Katakan saja kedatangan Ibu kemari apa," ucap Naresta tanpa menjawab pertanyaan ibunya.

"Naresta, Ibu cuma bertanya."

"Saya nggak mau membahas itu."

Ibunya mengerutkan dahi.

"Kamu masih saja membela dia?"

Naresta langsung menggenggam tangan Elvan semakin erat.

"Saya tanya sekali lagi. Ibu datang kemari ada perlu apa?"

Elvan yang berdiri di samping Naresta mulai terlihat tidak nyaman. Ia menundukkan wajah sambil meremas pelan jemari istrinya.

Aya yang berada di belakang kasir hanya diam memperhatikan.

Ibunya mengembuskan napas.

"Ibu dengar tokomu sekarang semakin besar."

Naresta tersenyum tipis.

"Jadi?"

"Ibu ingin bicara sama kamu."

"Bicara apa?"

"Nggak enak kalau di sini. Banyak orang."

Naresta langsung menggeleng.

"Nggak perlu masuk. Bicara di sini saja."

"Naresta."

"Apa?"

"Ibu ini ibumu."

"Saya tahu."

Naresta menatap wanita di depannya tanpa sedikit pun mengubah ekspresi.

"Justru karena saya tahu Ibu siapa, saya nggak mau membawa Ibu masuk ke dalam."

Wajah wanita itu langsung berubah kesal.

"Kamu masih menyimpan dendam?"

"Saya nggak dendam."

"Lalu kenapa bersikap seperti ini?"

Naresta terdiam beberapa detik sebelum menatap Elvan.

"Karena saya masih ingat bagaimana keluarga saya memperlakukan suami saya."

Ibunya langsung mendecak.

"Masalah itu lagi."

"Iya."

Naresta kembali menatap ibunya.

"Masalah itu lagi."

"Karena sampai sekarang pun Ibu masih sama."

"Apa maksudmu?"

"Baru datang saja pertanyaan pertama Ibu adalah bagaimana saya bisa hamil dengan pria itu."

Naresta menunjuk Elvan pelan.

"Dia punya nama. Namanya Elvan. Dan dia suami saya."

Ibunya terdiam.

Naresta mengusap perutnya perlahan.

"Kalau Ibu datang untuk kembali menghina suami saya, lebih baik pulang."

"Naresta!"

"Saya sudah terlalu sering mendengar hinaan dari orang lain."

Tatapan Naresta mulai berkaca-kaca, tetapi ia tetap berdiri tegak.

"Saya nggak mau mendapatkannya lagi dari keluarga saya sendiri."

"Naresta," panggil ibunya dengan nada mulai tidak sabar.

"Apa lagi, Bu?"

"Kasih uangmu."

Naresta langsung terdiam. Beberapa detik ia hanya menatap ibunya seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.

"Ke sini cuma minta uang?"

Ibunya tidak menjawab.

Naresta tertawa kecil, tetapi terdengar getir.

"Apa Ibu ingat kemarin sudah memutuskan hubungan kita dan mengatakan aku bukan putrimu lagi?"

"Naresta, itu sudah lama."

"Memang sudah lama."

Naresta menganggukkan kepalanya.

"Tapi saya masih ingat semuanya."

Ibunya mengembuskan napas kasar.

"Ibu sedang butuh uang."

"Terus kenapa datang kepada saya?"

"Kamu anak Ibu."

Naresta langsung tersenyum miris.

"Anak?"

Ia menatap ibunya tidak percaya.

"Waktu saya memilih tetap bersama Mas Elvan, Ibu bilang saya bukan anak Ibu lagi."

"Naresta—"

"Sekarang setelah toko saya besar, tiba-tiba saya jadi anak Ibu lagi?"

Suasana di sekitar kasir mulai hening.

Aya bahkan berhenti mengerjakan pekerjaannya.

Ibunya mulai terlihat kesal.

"Jangan bicara begitu di depan orang banyak."

"Lho, kenapa malu?"

Naresta menggelengkan kepalanya.

"Saya nggak membuka aib siapa-siapa. Saya cuma mengingatkan perkataan Ibu sendiri."

"Naresta, Ibu cuma mau pinjam uang."

"Berapa?"

Ibunya terdiam sesaat.

"Lima belas juta."

Mata Aya langsung membesar.

Naresta justru tertawa kecil karena tidak percaya.

"Lima belas juta?"

"Iya. Nanti Ibu ganti."

Naresta menatap ibunya beberapa saat.

"Empat tahun."

Ibunya mengernyit.

"Apa?"

"Empat tahun saya menikah dengan Mas Elvan."

Naresta menggenggam tangan suaminya.

"Selama empat tahun itu, berapa kali Ibu datang melihat keadaan saya?"

Wanita itu tidak menjawab.

"Berapa kali Ibu bertanya apakah saya sehat?"

Tetap tidak ada jawaban.

"Berapa kali Ibu bertanya apakah rumah tangga saya baik-baik saja?"

Naresta mengusap perutnya.

"Bahkan saya hamil tujuh bulan pun Ibu baru tahu setelah datang ke sini."

"Naresta, jangan bawa masalah lama."

"Saya bukan membawa masalah lama, Bu."

Mata Naresta mulai berkaca-kaca.

"Saya cuma sedang mencoba memahami."

Ia menatap ibunya lurus.

"Kenapa saat Ibu tidak membutuhkan apa-apa, saya bukan anak Ibu. Tapi begitu Ibu membutuhkan uang, Ibu ingat punya anak bernama Naresta?"

"Sudah, kasih saja cepat uangmu. Sudah jauh-jauh Ibu kemari," ucap ibunya dengan nada memaksa.

Naresta langsung menatapnya datar.

"Nggak ada yang menyuruh Ibu datang. Dan lagi, maaf. Tidak bisa."

Wajah ibunya langsung berubah.

"Apa?"

"Saya nggak bisa kasih uang lima belas juta."

"Kamu punya toko sebesar ini, Naresta!"

"Iya, saya punya toko."

Naresta mengangguk.

"Tapi bukan berarti semua uang yang masuk ke toko bisa saya bagikan begitu saja."

"Kamu pelit sama ibu sendiri?"

Naresta tertawa kecil.

"Pelit?"

"Iya! Ibu cuma minta lima belas juta."

"Cuma?"

Naresta langsung menggelengkan kepalanya.

"Lima belas juta itu bukan uang sedikit, Bu."

Ibunya menunjuk sekeliling toko.

"Barangmu sebanyak ini. Pelangganmu juga ramai. Jangan bilang kamu nggak punya uang."

"Saya punya atau nggak punya uang bukan masalahnya."

Naresta menatap ibunya serius.

"Saya tidak mau memberikannya."

"Naresta!"

"Apa?"

Suara Naresta ikut meninggi.

"Ibu datang setelah empat tahun tidak peduli sama saya."

"Begitu datang, Ibu menghina suami saya."

"Setelah itu langsung minta uang lima belas juta."

Naresta menahan napasnya sejenak.

"Terus saya harus langsung kasih hanya karena Ibu bilang sudah jauh-jauh datang?"

Ibunya terdiam dengan wajah memerah.

Aya yang sejak tadi menahan diri akhirnya menyela.

"Maaf, Bu."

Wanita itu langsung menoleh tajam.

"Kamu jangan ikut campur!"

Aya tidak mundur sedikit pun.

"Saya memang nggak mau ikut campur urusan keluarga."

Ia menunjuk Naresta.

"Tapi Mbak Naresta sedang hamil tujuh bulan. Tolong jangan bentak-bentak dia di sini."

"Kamu cuma karyawan!"

"Iya, saya karyawan."

Aya mengangguk santai.

"Tapi saya juga orang yang setiap hari lihat bagaimana keadaan Mbak Naresta."

Naresta langsung menyentuh lengan Aya.

"Mbak Aya, sudah."

Aya menoleh.

"Tapi, Mbak—"

"Biar aku yang bicara."

Aya akhirnya mundur sedikit.

Naresta kembali menatap ibunya.

"Bu, saya nggak akan memberikan uang itu."

"Jadi percuma Ibu memaksa."

Ibunya mengepalkan tangannya.

"Kamu benar-benar berubah sejak menikah dengan pria itu."

Naresta langsung menggenggam tangan Elvan.

"Jangan bawa Mas Elvan lagi."

"Kenapa? Memang sejak menikah dengannya kamu jadi begini!"

Naresta menatap ibunya tajam.

"Saya begini bukan karena suami saya."

Ia berdiri semakin dekat dengan Elvan.

"Saya cuma akhirnya belajar kalau menjadi anak bukan berarti saya harus selalu menuruti semua keinginan orang tua, apalagi setelah saya dibuang saat memilih mempertahankan suami saya."

1
Andi Sary Nova
maaf ini masih berlanjut Khan jgn hiatus yaaa ade author tetap semangat😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!