Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu Aula
Suara riuh tepuk tangan dari dalam aula serbaguna terdengar bergema hingga ke koridor sekolah. Acara peresmian laboratorium digital baru saja dimulai. Di luar, atmosfer terasa begitu kontras. Husnan masih berdiri terpaku di posisinya, menatap pintu ganda kayu jati aula yang kini tertutup rapat. Dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam berjaga di depan pintu tersebut, memastikan tidak sembarang orang bisa masuk mengganggu jalannya acara.
"Hus, kamu beneran enggak apa-apa? Muka kamu pucat banget," Fajar menyenggol bahu Husnan, membuyarkan lamunan sahabatnya.
Ferdi ikut mendekat, berbisik dengan nada cemas. "Pria berjas hitam tadi... itu kan orang yang sama yang di dalam mobil kemarin, kan? Tatapannya ke kamu tadi... gila, merinding aku, Hus."
Husnan menarik napas dalam-dalam, mencoba memasok oksigen ke paru-parunya yang mendadak terasa sempit. Logika remajanya kini dituntut untuk berpikir cepat dan matang. Pria itu adalah bos Pak Arman. Pria itu menyebut dirinya sebagai ayah Husnan di depan Pak Bambang. Dan pria itu sengaja menggunakan momentum peresmian yayasan ini untuk menampakkan diri.
"Aku harus masuk ke sana," ucap Husnan tiba-tiba. Suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Kamu gila?!" Ferdi membelalakkan mata. "Itu acara resmi yayasan, isinya pejabat, investor, sama Kepala Sekolah. Di depan pintu juga ada penjaganya. Kita bisa kena sanksi disiplin kalau menerobos."
"Tapi ini satu-satunya kesempatan, Fer," potong Husnan. "Pesan di HP Om Hendra bilang 'seminggu lagi'. Dan hari ini tepat seminggu. Dia sengaja datang ke sini untukku. Kalau aku tidak menemuinya sekarang, dia akan pergi lagi dengan mobil hitam itu, dan aku harus menunggu entah berapa lama lagi untuk tahu kebenarannya."
Fajar terdiam sejenak, menimbang-nimbang situasi secara logis. Sebagai anak dari pengurus komite, dia tahu jadwal acara tersebut. "Acara sambutan dan pemotongan pita biasanya berlangsung selama empat puluh lima menit. Setelah itu, akan ada sesi ramah tamah di ruang transit kepala sekolah. Penjagaan di aula akan melonggar saat para tamu mulai makan siang."
"Artinya kita punya celah waktu di akhir acara," Husnan menyimpulkan.
"Oke, begini rencananya," Fajar berbisik lebih dekat. "Ferdi, kamu pergi ke dekat ruang transit. Pantau kapan rombongan Kepala Sekolah mulai bergerak keluar. Aku dan Husnan akan menunggu di koridor samping aula yang terhubung langsung dengan pintu belakang panggung. Penjagaan di sana biasanya lebih longgar karena hanya digunakan oleh petugas kebersihan."
Mereka bertiga mengangguk serentak, menyepakati rencana nekat tersebut.
Tiga puluh menit berlalu seperti hitungan jam bagi Husnan. Ketika bel pergantian pelajaran berbunyi samar, koridor mulai sepi karena sebagian besar murid diminta kembali ke kelas. Namun, Husnan, Fajar, dan Ferdi tetap bertahan di posisi mereka, bersembunyi di balik pilar dekat laboratorium biologi.
Ponsel Fajar bergetar. Sebuah pesan singkat dari Ferdi masuk: “Rombongan utama mulai bergerak ke ruang transit. Tapi pria berjas hitam itu tidak ikut. Dia masih di dalam aula sendirian bersama dua pengawalnya!”
Husnan menatap Fajar. "Ini waktunya."
Mereka berdua bergerak cepat menuju pintu belakang aula yang terletak di koridor sepi dekat gudang. Benar saja, pintu tersebut sedikit terbuka karena digunakan untuk sirkulasi udara udara siang yang mulai memanas. Husnan mengintip dari celah pintu.
Di dalam aula yang luas dan kini kosong, pria berjas hitam itu sedang berdiri membelakangi mereka, menatap ke arah panggung megah yang baru diresmikan. Dua pengawalnya berdiri beberapa meter di belakangnya.
"Kamu masuklah, Hus. Aku jaga di sini," bisik Fajar, memberikan dorongan moral.
Husnan mengangguk. Ia melangkah masuk, membiarkan sepatu sekolahnya menimbulkan bunyi ketukan pelan di atas lantai marmer aula yang sunyi.
Mendengar suara langkah kaki, kedua pengawal berjas hitam itu langsung berbalik dengan sigap, hendak menghadang Husnan. Namun, sebelum mereka sempat melangkah, pria paruh baya itu mengangkat tangan kanannya sedikit, memberikan isyarat agar pengawalnya mundur.
Pria itu berbalik perlahan. Ia melepaskan kacamata hitamnya, memasukkannya ke dalam saku jas, lalu menatap Husnan yang kini berdiri sekitar lima meter di depannya.
"Kamu tumbuh dengan baik, Husnan," ucap pria itu. Suaranya berat, bariton, dan memiliki gaung wibawa yang luar biasa. Tidak ada nada dingin seperti saat ia mengancam Pak Bambang seminggu lalu. Sorot matanya kini justru tampak... lelah, namun sarat akan rasa rindu yang tertahan bertahun-tahun.
Jantung Husnan serasa berhenti berdetak. Pertanyaan yang seminggu ini menyiksanya akhirnya keluar dari mulutnya dengan suara yang bergetar. "Siapa... siapa Anda sebenarnya? Kenapa Anda menyuruh Pak Arman mengawasi saya? Dan kenapa pesan itu bilang saya akan tahu segalanya hari ini?"
Pria itu berjalan beberapa langkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Namaku Yudha Artha. Dan aku yakin, jauh di dalam lubuk hatimu, kamu sudah tahu jawaban siapa aku bagi dirimu, Nak."
Husnan mengepalkan tangan. "Kalau Anda memang ayahku... kenapa Anda membiarkan aku diasuh orang lain? Kenapa Om Hendra harus berbohong? Kenapa Anda membiarkan aku hidup dalam ketidaktahuan?!"
Yudha menghela napas panjang, sebuah guratan penyesalan tampak jelas di wajah tegasnya. "Karena sepuluh tahun lalu, posisi di puncak Artha Group tidak seaman sekarang. Musuh bisnisku mengincar nyawaku, dan mereka tidak akan segan-segan menggunakanmu sebagai alat pemeras. Menitipkanmu pada Hendra—orang yang paling kupercayai—dan memotong semua jalur komunikasi langsung adalah satu-satunya cara logis agar kamu bisa tumbuh sebagai anak normal tanpa bayang-bayang ancaman pembunuhan."
Yudha berhenti tepat dua langkah di depan Husnan. Ia menatap wajah anaknya yang kini sudah hampir setinggi dirinya. "Hari ini, semua ancaman itu sudah selesai. Aku telah membersihkan orang-orang yang berbahaya bagi keluarga kita. Dan kedatanganku ke sekolah ini... bukan sekadar peresmian gedung, Husnan. Aku datang untuk membawamu pulang."
Mendengar kata 'pulang', seluruh pertahanan batin Husnan runtuh. Namun di saat yang sama, logikanya berputar memikirkan Om Hendra yang selama ini merawatnya dengan tulus di rumah sederhana mereka. Hidupnya yang tenang kini benar-benar berada di persimpangan jalan yang besar.