Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Pemimpin Blood Viper Kabur Diam-Diam

Pintu pusat komando bergetar hebat.

Adrian masih berdiri beberapa meter di depannya.

“Sayangnya...”

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Saya memang datang untuk masuk.”

BRAK!

Pintu baja itu jebol.

Pecahan logam beterbangan ke dalam ruangan.

Adrian melangkah melewati ambang pintu sambil membawa tas besarnya.

Namun, hal pertama yang dia lihat bukanlah sekelompok penjaga yang menunggunya.

Ruangan itu kosong.

Hanya beberapa monitor yang masih menyala.

Adrian berhenti.

“...Hah?”

Dia melihat ke kiri.

Kosong.

Ke kanan.

Juga kosong.

Sebuah kursi masih bergoyang perlahan di belakang meja.

Seolah-olah seseorang baru saja meninggalkan tempat itu beberapa detik lalu.

Adrian mengernyit.

“Jangan bilang mereka kabur?”

Dia berjalan menuju meja komando.

Beberapa layar menampilkan rekaman dari berbagai bagian markas.

Di salah satu layar, anggota Blood Viper terlihat berlarian meninggalkan posisi mereka.

Di layar lain, beberapa kendaraan mulai bergerak menuju bagian belakang kompleks.

Adrian menghela napas.

“Padahal saya sudah sampai sini.”

Dia melihat jam tangannya.

00:14:52

Wajahnya langsung berubah.

“Kalau semua orang kabur, pekerjaan saya bagaimana?”

Adrian bukan marah karena musuh melarikan diri.

Dia lebih kesal karena pekerjaannya berpotensi menjadi berantakan.

Dia mengambil salah satu alat komunikasi di atas meja.

“Perhatian.”

Tidak ada jawaban.

Adrian menekan tombol lagi.

“Yang masih ada di dalam markas, tolong jangan lari dulu.”

Hanya suara statis yang menjawab.

Adrian menggeleng.

“Tidak kooperatif.”

---

Di lantai bawah, kepanikan telah berubah menjadi pelarian.

Para anggota Blood Viper yang masih hidup tidak lagi memikirkan perlawanan.

Mereka mengambil apa pun yang bisa dibawa dan mencari jalan keluar.

Beberapa meninggalkan senjata.

Sebagian bahkan melempar rompi pelindung agar bisa berlari lebih cepat.

Namun di tengah kekacauan tersebut, seseorang justru bergerak menuju bagian paling tersembunyi dari bangunan.

Pemimpin Blood Viper.

Dia tidak membawa senjata.

Yang dibawanya hanya sebuah koper hitam.

Di belakangnya ada dua orang kepercayaan.

“Cepat!”

“Jangan tunggu siapa pun!”

Mereka melewati lorong sempit di belakang ruang penyimpanan.

Salah satu anak buahnya terengah-engah.

“Bos, bagaimana dengan pasukan di luar?”

“Lupakan mereka!”

Jawabannya terdengar kasar.

“Yang penting kita keluar hidup-hidup.”

Selama bertahun-tahun dia membangun Blood Viper.

Dia memiliki uang.

Senjata.

Jaringan perdagangan.

Tempat persembunyian.

Namun semua itu tidak berarti apa-apa jika dirinya mati malam ini.

Dia sudah menyiapkan jalan keluar jauh sebelum keadaan seperti ini terjadi.

Sebuah jalur evakuasi tersembunyi.

Tidak ada di denah resmi.

Tidak diketahui sebagian besar bawahannya.

Dan jalur itu mengarah langsung ke kendaraan yang telah disiapkan di luar kawasan markas.

“Setelah keluar dari sini, kita menuju tempat aman.”

Dia mencengkeram koper semakin kuat.

“Besok kita meninggalkan Darsen.”

Salah satu anak buahnya menelan ludah.

“Kalau orang itu mengejar?”

Pemimpin Blood Viper terdiam.

Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan terlihat jelas di wajahnya.

“Dia tidak akan menemukan kita.”

Setidaknya itulah yang ingin dia percayai.

---

Kembali di pusat komando.

Adrian memeriksa layar satu demi satu.

Tidak ada target.

Dia mengetuk meja.

“Orangnya benar-benar hilang.”

Kemudian matanya berhenti pada sebuah monitor.

Ada sesuatu yang aneh.

Salah satu kamera di bagian belakang bangunan baru saja mati.

Beberapa detik sebelumnya, kamera itu masih aktif.

Adrian mendekat.

Di layar terakhir yang terekam, terlihat seorang pria membawa koper memasuki lorong belakang.

Adrian menyipitkan mata.

“Ah.”

Dia mengambil tasnya.

“Jadi bukan hilang.”

“Cuma pindah tempat.”

Adrian keluar dari ruang komando.

---

Lorong belakang markas jauh lebih sunyi.

Tidak ada alarm.

Tidak ada penjaga.

Bahkan lampunya sebagian sudah dimatikan.

Adrian berjalan santai sambil mengikuti arah kamera yang tadi dilihatnya.

Sampai akhirnya dia menemukan sebuah pintu tanpa tanda.

Pintunya terkunci.

Adrian melihatnya beberapa saat.

Kemudian melihat jam.

00:11:37

“Tidak punya waktu buat cari kunci.”

Dia mundur dua langkah.

DUK!

Satu tendangan.

Pintu tidak bergerak.

Adrian menghela napas.

“Bagus.”

Dia mundur lagi.

Kali ini lebih jauh.

“Kalau begitu pakai cara cepat.”

BRAK!

Pintu terlepas dari engselnya dan jatuh ke lantai.

Di baliknya terdapat tangga menurun.

Adrian menatap kegelapan di bawah.

“Markas ini ternyata punya banyak jalan rahasia.”

Dia mulai turun.

---

Jauh di bawah bangunan utama, pemimpin Blood Viper sudah hampir mencapai pintu keluar.

Di depannya terdapat pintu besi besar.

Salah satu anak buahnya memasukkan kode.

Bip.

Gagal.

“Ulangi!”

Dia mencoba lagi.

Bip.

Masih gagal.

“Kenapa tidak bisa?!”

“Bos, mungkin sistemnya terkunci karena alarm!”

Pemimpin Blood Viper langsung merampas alat tersebut.

“Berikan!”

Tangannya gemetar.

Dia memasukkan kode secara manual.

Kali ini terdengar bunyi—

Klik.

Pintu mulai terbuka.

Udara malam masuk dari celah sempit.

Pemimpin Blood Viper hampir tertawa lega.

“Berhasil.”

Dia menarik napas panjang.

“Cepat!”

Ketiga orang itu hendak keluar.

Namun tiba-tiba—

DUUM!

Tanah di belakang mereka bergetar.

Debu berjatuhan dari langit-langit.

Ketiganya membeku.

Suara langkah terdengar dari lorong.

Tidak cepat.

Tidak pula terburu-buru.

Justru terdengar sangat santai.

Tok.

Tok.

Tok.

Pemimpin Blood Viper menoleh perlahan.

Sosok Adrian muncul dari balik tikungan.

Tas besar masih menggantung di bahunya.

Pakaian dipenuhi debu.

Namun ekspresinya tetap tenang.

Dia berhenti beberapa meter dari mereka.

“Ketemu.”

Wajah pemimpin Blood Viper langsung pucat.

“Bagaimana kau bisa—”

Adrian menunjuk ke arah lorong.

“Jejaknya jelas.”

Dia kemudian melirik pintu keluar.

“Dan kalian cuma punya satu jalan.”

Dua anak buah pemimpin Blood Viper langsung mengangkat senjata.

Adrian bahkan tidak mengangkat senjatanya.

“Jangan.”

Suaranya datar.

Namun keduanya tetap menarik pelatuk.

Adrian bergerak.

Dua suara tembakan terdengar hampir bersamaan.

Kemudian keduanya jatuh.

Koper yang mereka bawa terlepas.

Isinya tumpah di lantai.

Tumpukan uang dan beberapa batu permata berserakan.

Pemimpin Blood Viper menatap harta tersebut.

Kemudian menatap Adrian.

Otaknya bekerja cepat.

Dia tahu dirinya tidak bisa menang.

Maka dia melakukan satu-satunya hal yang masih bisa dilakukan.

Bernegosiasi.

“Uang!”

Dia mendorong koper ke depan.

“Ambil semuanya!”

Adrian menunduk melihat isinya.

“Banyak juga.”

“Semua milikmu!”

Pria itu semakin panik.

“Uang tunai, rekening, senjata... bahkan jaringan Blood Viper!”

Adrian mengangkat alis.

“Jaringan?”

“Ya!”

“Aku bisa memberikan semuanya!”

Adrian diam.

Pemimpin Blood Viper mulai melihat secercah harapan.

“Kalau kau mengambil alih Blood Viper, kau bisa mendapatkan jauh lebih banyak daripada bayaran apa pun!”

Adrian menggeleng.

“Tidak tertarik.”

“Kenapa?!”

Adrian menunjuk dirinya sendiri.

“Saya terlihat seperti orang yang mau mengurus ratusan orang?”

Pemimpin Blood Viper terdiam.

Adrian melirik jam.

00:08:19

“Waktu saya tinggal sedikit.”

Dia kemudian melihat pria di depannya.

“Dan saya masih punya pekerjaan.”

Pemimpin Blood Viper mundur selangkah.

“Berapa?”

Adrian mengernyit.

“Apa?”

“Berapa bayaran yang kau mau?!”

Adrian berpikir sejenak.

Kemudian tersenyum.

“Sayangnya bukan saya yang menentukan.”

Dia mengangkat senjata.

Pemimpin Blood Viper langsung berlutut.

“Tidak!”

Adrian tetap tenang.

“Saya cuma pekerja.”

“Dan pekerjaan saya malam ini sudah jelas.”

DOR!

Suara tembakan menggema di lorong bawah tanah.

Setelah itu, semuanya kembali sunyi.

Adrian menurunkan senjatanya.

Dia melihat jam sekali lagi.

00:08:02

“Masih ada waktu.”

Dia menoleh ke koper yang penuh uang.

Kemudian ke lorong menuju permukaan.

“Kalau begitu...”

Adrian mengangkat tasnya.

“Berarti tinggal menyelesaikan sisanya.”

Dia berjalan meninggalkan lorong bawah tanah.

Di belakangnya, pintu besi masih terbuka lebar.

Malam Darsen kembali sunyi.

Namun bagi Blood Viper, malam itu adalah akhir dari sebuah era....

1
Was pray
Adrian naik level bukan karena kemampuan tapi karena sogokan uang, .agak kecewa
Was pray
inilah penghambat peningkatan keahlian dan berpikir karena berpendapat bahwa uang adalah penyelesaian segala urusan. apapun
Was pray
aku setuju Adrian tidak gila kekuasaan, tidak mengejar ketenaran, nyaman dengan hidup sederhana tetap berkelas dan tidak norak. hidup membumi bukan berarti gak mau peduli dengan lingkungan sekitar, yg penting gue happy orang lain mah terserah dan emang gue pikirin . hidup membumi itu hidup sederhana, tidak sombong dengan apa yg dia punya dan kuasai, bisa ngemong dan menghargai orang lain, punya empati dan simpati
Was pray
otak Adrian masih stagnan , eror nya malah tambah parah.... tanpa bantuan informasi dari sistem insting dan kepekaan Adrian dibawah rata rata. .
Was pray
hahaha... ditawari jabatan kolonel menolak karena gak mau kegiatan rutinitas bangun pagi, macet di jalan, tapi bangu pagi tiap hari dan macet macetan untuk kuliah itu gak jadi permasalahan... terus kuliah biar dapat ijasah agar dapat pekerjaan yg bagus tapi ditawari pekerjaan bagus yg belum tentu didapat oleh lulusan cumlaude ditolak .. dan 😄😄🤣🤣🤣🤣otak miring takaranbya kurang satu ons ya maklumlah. 😱
Was pray
udah banyak duit tapi masih berjiwa miskin
Junior Ian
KEREN Novelnya👍👍
Was pray
buat Adrian pinter dikit lah... kuat tapi kalau pikirannya lemot kayak siput jadi kurang menarik... konyol bolehlah.. tapi jangan o'on... jadi sistem gak salah pilih orang
Was pray: ku tunggu perubahan perubahan tingkat kecerdasan Adrian biar Plingan plongo lagi, serta cara berpakaian lebih manusiawi lagi. masak lulusan SLTA gak paham cara berpakaian yg pantas . punya uang banyak buat apa? kalau pelit buat diri sendiri..rangkaian nol banyak gak berfungsi kalau cuma jadi hiasan dibuku rekening
total 2 replies
Was pray
tidak imbang antara kekonyolan saat menghadapi lord abys dan kepanikan tingkat dewa hanya karena ketinggalan jadwal peawat
Was pray
kelamaan
Was pray
kamu sedang berbicara orang abnormal
Avivudin Ch
Padahal punya tempat penyimpanan... apa mau pamer kalau hartanya banyak
Was pray
ruang inventaris dibuat seperti cincin ruang kan lebih praktis gak ribet bawa bawa karung seperti pemulung rongsok ... lebih simpel bang othor ..
Was pray
apa gak bisa disimpan di inventaris sistem kah?
Was pray: penasaran... kalau tas warna pelangi itu pintu inventaris sistem seharusnya gak tambah penuh... karena itu berfungsi cuma sebagi pintu, tapi kok tasnya tambah menggelembung sampai Adrian agak kerepotan nembawanya
total 2 replies
Was pray
kerja keras tapi harus cerdas , kerja keras karena ambisi besar bisa buyar dan ambyar jika hanya mengandalkan okol/ otot tanpa akal
Was pray
hahahaha.... 🤣🤣🤣🤣 piala Oscar menunggumu Adrian...
Was pray
ntar Adrian dapat piala Oscar dengan gelar orang tersinting sedunia.... 🤣🤣🤣
Was pray
masalah paling besar yg akan dihadapi Adrian adalah tingkat konslet otak yg semakin parah.. 😄😄
Marhadi
apa maksud nya ada ruang penyimpanan kenapa karung tidak dimasukkan
Was pray
mau bilang Adrian waras tapi otaknya timbangannya kurang satu ons, mau dibilang gila tapi melek duit... jadi lebih tepatnya ya orang gila harta... 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!