Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Ketika Suami Pulang Bawa Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.

Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.

Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.

Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zivana 26

Pak Heru meletakkan ijazah Zivana dengan raut ragu. "Mbak Zivana ini lulusan Sarjana Manajemen... tapi kenapa melamar jadi OB di sini? Pekerjaan ini cuma bersihkan ruangan, cuci piring bos, angkat barang, dan menyapu toilet. Apa tidak salah lamaran?"

"Tidak salah, Pak," jawab Zivana jujur tanpa ragu sedikit pun.

"Saya sangat butuh pekerjaan ini untuk menyambung hidup."

Pak Heru mendecih pelan, menyandarkan punggungnya. "Mbak, orang berpendidikan tinggi biasanya cuma bertahan seminggu di posisi ini. Begitu kena tegur atasan atau disuruh-suruh staf biasa, langsung kena mental lalu kabur. Kami butuh orang yang tahan banting, bukan yang cuma pelarian sementara."

Atmosfer ruangan terasa menekan. Namun alih-alih ciut atau tersinggung, mata Zivana justru memancarkan ketegaran yang luar biasa.

"Pak Heru," potong Zivana penuh penekanan, suaranya jernih dan mantap.

"Saya mungkin berpendidikan, tapi saya tidak punya gengsi. Hidup sudah menempal saya dengan krisis yang jauh lebih keras daripada sekadar menyapu lantai atau menerima teguran orang."

Zivana menatap lurus mata Pak Heru.

"Saya jamin, saya akan datang paling pagi, membersihkan setiap sudut ruangan tanpa cela, dan menjalankan semua tugas operasional dengan disiplin tinggi. Jika Bapak mencari orang yang hanya bekerja asal-asalan, itu bukan saya. Tapi jika Bapak butuh pekerja yang jujur, cekatan, dan tahan banting, saya siap dinilai dari hasil kerja saya."

Hening menguasai ruangan selama beberapa detik. Pak Heru memperhatikan ketegasan di raut wajah Zivana, tak ada kesombongan, hanya ada kesungguhan yang murni.

Pak Heru perlahan menutup map lamaran itu, lalu menyunggingkan senyum tipis penuh rasa hormat.

"Bagus. Sorot matamu tidak bohong, Mbak," ucap Pak Heru pelan.

"Dunia kerja butuh orang yang mau merendah untuk bangkit. Saya pegang janjimu."

Pak Heru mengulurkan tangannya melintasi meja. "Selamat bergabung. Ambil seragammu di bagian logistik, masa percobaanmu dimulai besok pagi jam enam."

Zivana tertegun. Senyum haru dan rasa lega yang luar biasa perlahan terukir di wajahnya saat ia membalas genggaman tangan calon atasannya itu. Ia keluar dari gedung dengan langkah mantap, siap menata kembali puing-puing hidupnya dari tingkatan paling bawah, demi kehormatan dan kebebasan jiwanya sendiri.

Begitu resmi diterima, Zivana langsung ditempatkan di lantai sepuluh, zona paling eksklusif dan paling ditakuti oleh seluruh karyawan PT Mahardika Group. Lantai khusus pimpinan ini terkenal dengan standar operasional yang sangat ketat, dikuasai oleh seorang Direktur Utama muda bernama Melvin Baskara Mahardika, yang dikenal sangat perfeksionis, dingin, kejam dalam menilai kesalahan, dan tidak menoleransi sedikit pun kelalaian sekecil debu.

Pagi itu, hari pertama Zivana bertugas. Jam baru menunjukkan pukul 06.15 WIB. Mengenakan seragam Office Girl berwarna biru muda dengan rambut yang dicepol rapi tanpa sehelai pun lepas, Zivana melangkah keluar dari lift khusus. Udara di lantai sepuluh terasa begitu menekan, hening, dingin, dan beraroma kayu jati mewah.

Di ujung koridor, berdiri seorang pria paruh baya berjas rapi, Pak Hendra, kepala pengawas lantai pimpinan dengan wajah kaku.

"Kamu OB baru itu?" tanya Pak Hendra tanpa senyum.

"Dengar baik-baik, Zivana. Lantai ini bukan tempat main-main. Di sini ada Bapak Melvin, CEO kita. Beliau orangnya sangat perfeksionis. Kalau beliau lihat ada satu sidik jari saja di kaca jendela, atau sudut ruangan berdebu, kamu langsung didepak hari ini juga. Paham?"

"Paham, Pak," jawab Zivana tenang, mempertahankan postur tubuhnya yang tegak tanpa menunjukkan rasa gentar.

"Bagus. Ruang kerja utama Pak Melvin di ujung koridor. Pastikan steril sebelum beliau datang jam tujuh."

Zivana mendorong troli pembersihnya dengan langkah pasti. Sesampainya di depan pintu kayu jati besar, ia mengetuk pelan sebelum masuk.

Ruangan itu sangat luas, didominasi warna monokrom elegan dengan jendela kaca raksasa yang langsung menghadap ke langit kota Yogyakarta. Zivana langsung bekerja dengan efisiensi tinggi. Ia membersihkan setiap inci meja kerja, merapikan tumpukan dokumen tanpa sedikit pun mengubah urutan prioritasnya, hingga menyeka kaca jendela hingga berkilau tanpa noda.

Tepat pukul 06.55 WIB, suara langkah kaki tegas terdengar mendekat dari koridor luar.

Ceklek.

Pintu terbuka lebar. Sosok Melvin melangkah masuk. Pria muda berusia awal tiga puluhan itu mengenakan setelan jas hitam pas badan dengan dasi senada. Wajahnya tampan namun memancarkan aura es yang membekukan, dingin, tajam, dan tanpa ekspresi. Melvin melempar tas kerjanya di atas sofa, lalu melangkah menuju meja kerjanya.

Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Sepasang mata tajam Melvin menyipit dingin. Ia melihat sosok wanita berseragam Office Girl berdiri tegak di dekat rak buku dengan troli pembersih, memandangnya tanpa rasa takut.

Melvin melangkah mendekati meja kerjanya. Pria itu menyentuh permukaan meja dengan ujung jarinya, lalu memeriksa tumpukan dokumen yang tertata rapi di sisinya.

"Siapa yang menyuruhmu merapikan dokumen di meja saya?" suara Melvin meluncur berat, rendah, dan menusuk dingin tanpa ampun.

Zivana menunduk hormat sejenak, lalu menjawab dengan suara jernih dan tenang.

"Saya, Pak Melvin. Maaf jika saya lancang. Tapi saya melihat tumpukan laporan riset pasar dan kontrak investor itu sedikit berantakan. Saya menyusunnya berdasarkan tingkat urgensi dan tenggat waktu agar memudahkan Bapak membaca pagi ini."

Melvin berbalik. Tatapan mata tajam bagai elang itu menembus tepat ke mata Zivana. Alih-alih terpesona atau melunak, rahang Melvin justru mengeras.

"Siapa nama kamu?" tanya Melvin dingin.

"Zivana, Pak."

"Dengar, Zivana," desis Melvin tajam, melangkah mendekat perlahan dengan aura intimidasi yang kuat.

"Di ruangan ini, tugasmu hanya membersihkan debu, mengepel lantai, dan membuang sampah. Kamu tidak dibayar untuk berpikir, dan pasti tidak dibayar untuk menyentuh dokumen privasi saya. Mengerti?!"

Atmosfer ruangan mendadak membeku. Tekanan udara di sekitar Melvin terasa begitu mencekam.

Namun, alih-alih ciut atau menunduk ketakutan seperti pegawai lain yang sering menangis di hadapannya, Zivana justru mengangkat dagunya perlahan. Ia menatap lurus mata dingin sang CEO muda tanpa keraguan sedikit pun.

"Saya mengerti aturan perusahaan, Pak Melvin," jawab Zivana mantap, suaranya sama sekali tidak bergetar.

"Tapi saya juga tahu bahwa efisiensi dimulai dari kerapian data. Jika Bapak menganggap inisiatif saya sebuah pelanggaran, saya minta maaf. Tapi saya pastikan, kebersihan dan ketepatan kerja saya di lantai ini tidak akan pernah mengecewakan."

Melvin tertegun sepersekian detik. Pria muda itu belum pernah mendapati seorang petugas kebersihan atau bahkan staf manajerial sekalipun yang berani menatap matanya dan membalas argumennya dengan ketenangan setinggi itu.

Sudut bibir Melvin terangkat sebelah, membentuk senyuman sinis yang dingin.

"Berani juga lidahmu, Office Girl," geram Melvin pelan.

"Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan di lantai saya dengan mulut lancangmu itu. Sekarang, keluar dari ruangan saya."

Zivana sedikit membungkuk hormat, lalu mendorong trolinya berjalan keluar dengan langkah anggun dan kepala tegak. Di balik punggungnya, Melvin berdiri mematung di depan meja kerjanya, menatap pintu yang tertutup rapat dengan mata menyipit, menyimpan rasa penasaran asing terhadap wanita asing berseragam biru muda yang baru saja menantang dinginnya otoritas seorang Melvin Baskara.

1
nely_48
pst curiga lah semua org jg,, OG tiba-tiba jd staf khusus pemasaran,, coba dr awal ngelamar bkn d posisi OG mh ga akan rameh
Ma Em
Zivana kamu hrs berani melawan orang2 yg iri pada Zivana jgn takut karena kalau Zivana diam dan takut mereka akan semakin berani untuk merendahkan Zivana .
nely_48
astagfirullah Thor,, jgn libatkan anak² dong kak, please 🙏🙏🙏
ga tega ak sm khaisar terutama Amora 😭😭😭😭
kpn s strla kena azab jatuh tisoledat nya, biar dia keguguran n lumpuh, bayi itu lahir jg kan bkn anak aidil ini,, dr pd stela hidup hanya menyiksa khaisar n Amora lbh baik buat lumpuh az sih
Elina thea
pembelaan Melvin terhadap ziva masih kurang...harusnya jelaskan juga riwayat pendidikannya dan awal gimana ziva naik pangkat.
sunaryati jarum
Dimanapun orang iri dengki tidak mau menerimanya.kekalahan,dan tidak suka akan keberhasilan orang lain itu banyak.Zivana kamu sudah mengalami banyak hal,pasti bisa melampaui
Elina thea
si Aidil ini gak guna jadi laki ...kurang tegas dan plin plan,pdhl dia bisa kok laporin istri sirinya ke polisi atas penelantaran dan penyekapan anak,tapi dia malah nangis gak guna...kamu tuh dah gagal jadi suami, setidaknya jangan sampai gagal jadi ayah.
Oma Gavin
kirim anakmu ke ortu mu aidil sebelum mereka berdua mati ditangan stela laporkan perbuatan stela ke polisi biar dia mendekatkan dipenjara, sekarang kamu baru nyesel setelah kere dan ditinggal siva, mantan istri tercinta mu ternyata iblis
Lee Mba Young
akhir nya miskin juga aidil.
mama
biadap emang ini org,setan macam itu dibawa pulang..
sunaryati jarum
Itu ibu atau iblis kok bunting lagi,itu benar anak Aidil atau hasil dari pria lain lalu njebak Aidil yang imannya dan kesetiaannya setipis tisu
Inarrr Ulfah
aidil nunggu sampe kaisar sama amora mampus dulu di tangan ibu kandung nya baru sadar
Talnis Marsy
masak pembantu nya gak punya hp apa ya,kan bisa tlpn Aidil
nely_48
semoga allah kasih azab buat stela jatuh tisoledat trs keguguran n lumpuh,,, mitamit jabang kebo ih pd stela
sutiasih kasih
aidil... km mndinh pke rok deh...
jdi laki kok banci amat😅😅😅
nely_48
bersinarlah zivana,,, awali hidup dgn status br mu,jgn lupa bahagia lah trs
Lee Mba Young
Berarti ortu aidil gk punya kuasa, buktinya gk bisa memiskin kn aidil kan. stela yg berkuasa.
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
Lee Mba Young
khaisar sdh besar kn, hrse kabur lah bawa adikmu ke rumah nenek.
Oma Gavin
memang rumah orang kaya ngga ada cctv nya ? tinggal cek cctv aja keburu mati mereka berdua, stela itu sakit jiwa psikopat gendeng
Oma Gavin: ketutup selangkangannya stela 🙈
total 2 replies
Elina thea
ada yah ibu kayak Stela,gak punya hati...
sunaryati jarum
Bicaramu kasar amat ,sama pegawai yang lebih tua,Tuan Melvin.Isi perkataan anda tidak salah ,cuma penyampaian yang kurang menghormati orang yang lebih tua walaupun bawahan.Tapi ternyata pak Roni juga gitu meremehkan orang dari status pekerjaan.Semoga analisis yang dipaparkan nanti benar-benar benar membuat perubahan terhadap peningkatan konsumen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!