Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: “Kamu Masuk ke Kamarku, Kan?”
Malam itu, Cornelia memanggil Sebastian ke ruang keluarga.
Vanessa sudah pergi ke kamar, tetapi kalimatnya tertinggal.
“Bekas gigitan di tanganmu dari mana?” tanya Cornelia.
Sebastian menatap tangan yang tandanya mulai pudar. “Sudah saya bilang, kucing.”
“Tidak ada kucing di rumah ini.”
“Bisa dari luar.”
“Dan malam itu Lia naik membawa jaketmu.”
Sebastian tidak menunjukkan reaksi. “Vanessa melihat?”
“Katanya begitu.”
“Vanessa juga pernah bilang hanya Lia masuk kamarnya, lalu rekaman membuktikan sebaliknya.”
Cornelia menghela napas. “Mama tidak sedang menuduh Lia mencuri. Mama bertanya apakah kamu melakukan sesuatu yang bisa merusak nama dia dan keluarga.”
Pertanyaan itu lebih jujur daripada dugaan Sebastian.
“Saya tidak akan merusak namanya.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban yang bisa saya berikan sekarang.”
Cornelia meletakkan cangkir. “Sejak Lia datang, kamu mengubah jadwal makan, aturan keamanan, bahkan cara menilai vendor hanya karena orang menggosipkannya. Kamu membawa Bryan ke mal malam-malam untuk menjemput dia. Sekarang ada bekas gigitan.”
“Semua keputusan keamanan punya alasan.”
“Mama tidak bertanya soal keamanan.”
Sebastian menatap ibunya tanpa mundur.
“Lia tinggal dan bekerja di bawah atap Mama,” lanjut Cornelia. “Kalau kamu mendekatinya, ada ketimpangan yang tidak bisa diabaikan. Dia mungkin merasa tak berani menolak anak majikannya.”
Peringatan itu menghantam karena benar, meski datang dari sumber yang juga takut pada perbedaan kelas.
“Saya tidak pernah memakai pekerjaan untuk menekan dia.”
“Pastikan bukan hanya kamu yang merasa begitu.”
“Saya akan pastikan.”
Cornelia menghela napas. “Mama tidak mengatakan Lia buruk. Tapi baik saja tidak cukup untuk masuk keluarga ini. Dan kalau kamu membuat dia berharap tanpa siap melawan konsekuensinya, kamu lebih kejam daripada semua gosip Vanessa.”
Sebastian merasakan amarah, tetapi juga menerima inti perkataan itu. Ia memang harus datang dengan keputusan utuh, bukan hanya ciuman dan kecemburuan.
Cornelia memandang anaknya lama. “Kalau kamu hanya bermain-main, berhenti sebelum terlambat.”
Sebastian berdiri. “Saya tidak pernah bermain-main dengannya.”
Ia meninggalkan ruang keluarga sebelum percakapan berubah menjadi perintah tentang Jessica.
Di lorong belakang, aroma manis menyentuh indra penciumannya.
Lia baru selesai makan malam di dapur kecil. Ia membawa mangkuk kosong menuju tempat cuci, mengenakan blus rumah yang sederhana. Saat melihat Sebastian, langkahnya melambat.
“Ko Sebas belum tidur?”
“Belum.”
“Saya mau mencuci mangkuk.”
“Nanti.”
Sebastian mengambil mangkuk dari tangannya dan menaruhnya di meja lorong. Ia membuka pintu ruang baca kecil, tetapi tidak masuk lebih dulu.
“Kita bicara. Pintu tetap terbuka.”
Lia menatap celah ruangan, lalu mengangguk. Mereka berdiri di dekat pintu, masih terlihat dari lorong bila ada orang lewat.
“Mama bertanya soal bekas gigitan,” katanya.
Wajah Lia langsung memerah. “Kenapa tanya saya?”
Sebastian mengangkat tangan. Bekas dua lengkung itu masih samar.
“Karena kamu yang membuatnya.”
“Ko Sebas tidak punya bukti.”
“Bentuk gigi bisa dibandingkan.”
Lia menutup mulut refleks. Sebastian hampir tersenyum.
“Jangan menggoda saya.”
“Saya serius.”
“Ko Sebas mau saya menggigit lagi untuk dibandingkan?”
Pertanyaan itu keluar sebelum dipikir. Mata Sebastian langsung menjadi gelap.
Lia mundur satu langkah.
“Bukan itu maksud saya.”
“Sayang sekali.”
“Ko Sebas!”
Aroma manis menguat bersama panas di wajah Lia. Sebastian menarik napas pelan, lalu memaksa dirinya kembali pada pembicaraan.
“Kamu masuk ke kamar saya malam itu, kan?”
“Ruang kerja, bukan kamar.”
“Berarti kamu mengaku masuk.”
Lia sadar kembali terjebak. “Saya hanya mengembalikan jaket.”
“Lalu?”
“Lalu Ko Sebas mabuk.”
“Lalu?”
“Robby datang.”
“Sebelum Robby.”
Sebastian mendekat setengah langkah. Pintu tetap terbuka, tetapi ruang di antara mereka terasa semakin sempit.
“Saya ingat kamu memegang kemeja saya,” katanya. “Saya ingat kamu bilang pelan. Saya ingat rasanya ketika kamu membalas.”
Lia menatap lantai.
“Kalau Ko Sebas sudah ingat, kenapa masih bertanya?”
“Karena saya ingin mendengar kamu mengaku saat sadar.”
“Ko Sebas yang mabuk, bukan saya.”
“Tepat. Jadi kamu pasti ingat semuanya.”
Lia tak bisa membantah.
Sebastian menyentuh kusen di samping kepala Lia, tidak menutup jalan keluar. “Katakan ciuman itu tidak berarti apa-apa, dan saya akan mundur.”
Lia membuka mulut, tetapi kata-kata tidak keluar.
Ia bisa berbohong. Seharusnya mudah. Namun, sejak malam itu, setiap kali menutup mata, ia masih merasakan bibir Sebastian dan cara lelaki itu bertanya sebelum menyentuh.
“Saya...”
“Lia.”
Nada suaranya melembut.
“Saya takut,” katanya akhirnya.
“Kepada saya?”
“Kepada semua yang akan terjadi kalau saya jujur.”
Sebastian menurunkan tangan dari kusen. “Saya tidak meminta jawaban malam ini.”
“Tapi Ko Sebas terus mengejar.”
“Karena kamu terus mengecilkan dirimu sampai merasa tidak berhak memilih.”
“Ko Sebas tidak mengerti.” Lia meremas ujung blus. “Kalau seorang pembantu menolak insinyur baik, orang menertawakan. Kalau pembantu memilih anak majikannya, orang bilang dia tidak tahu diri. Apa pun yang saya pilih, saya yang dihukum.”
“Saya mengerti bagian itu.”
“Tidak. Kalau semua gagal, Ko Sebas masih punya nama, pekerjaan, dan keluarga. Saya bisa kehilangan tempat tinggal serta pekerjaan sekaligus.”
Sebastian menahan napas. Ini ketimpangan yang baru saja diingatkan Cornelia.
“Kamu benar,” katanya. “Karena itu saya tidak akan meminta jawaban saat hidupmu bergantung pada rumah ini tanpa memberi jalan aman.”
Lia memandangnya ragu. “Jalan aman apa?”
“Pilihan kerja lain, tempat tinggal, dan waktu. Bukan sebagai bayaran supaya kamu memilih saya. Justru supaya kamu bebas menolak saya tanpa takut kehilangan semuanya.”
“Ko Sebas sudah merencanakan sejauh itu?”
“Sejak saya sadar perlindungan bisa terasa seperti kandang.”
Mata Lia mulai panas. Ia tidak pernah membayangkan seorang lelaki akan memikirkan cara agar ia aman mengatakan tidak.
Lia mengangkat wajah. “Kalau saya memilih Ko...”
Kata berikutnya tersangkut. Sebas hampir terlepas tanpa gelar.
Mata Sebastian menangkapnya.
“Lanjutkan.”
“Tidak.”
“Kamu hampir memanggil saya Sebas lagi.”
“Ko Sebas terlalu percaya diri.”
“Saya punya bukti.” Ia menunjukkan tangan tergigit. “Dan saksi bernama Robby.”
“Robby tidak dengar.”
“Jadi kamu mengaku mengatakannya.”
Lia memejamkan mata, kesal karena kembali jatuh ke jebakan kata-kata.
Sebastian tertawa pelan. Suara langka itu membuat rasa takut Lia retak oleh kehangatan.
“Saya tidak menyesal,” bisiknya.
Tawa Sebastian berhenti.
Kata itu mengubah seluruh udara di antara mereka. Sebastian tidak menyentuh Lia, tetapi matanya turun sebentar ke bibir perempuan itu sebelum kembali menatapnya.
“Saya juga tidak,” katanya. “Saya menyesal terlambat berhenti, bukan menciummu.”
Lia tahu perbedaan itu penting. Rasa takut yang menempel pada ingatan malam tersebut akhirnya terpisah dari rasa hangat yang ia simpan diam-diam.
“Apa?”
Lia menggenggam ujung blus. “Saya bilang...”
Langkah kaki terdengar dari tangga.
Edwin berbicara melalui telepon sambil mendekat ke lorong. Lia segera mengambil mangkuk dan berbalik menuju dapur.
Sebastian menahan suaranya. “Kamu belum selesai.”
“Besok.”
“Kamu selalu bilang besok.”
“Karena Ko Sebas selalu memilih waktu saat orang akan datang.”
Edwin muncul di ujung lorong. Tatapannya bergerak dari wajah merah Lia ke Sebastian yang berdiri di pintu ruang baca.
“Saya mengganggu?” tanyanya.
“Iya,” jawab Sebastian.
“Tidak,” jawab Lia bersamaan.
Edwin tersenyum lebar.
Lia melarikan diri ke dapur, sedangkan Sebastian menatap adiknya dengan dingin.
“Saya cuma lewat,” kata Edwin. “Tapi kalau mau lanjut, saya bisa lewat lagi besok.”