Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Terpisah
Aiden masih memikirkan permintaan Robin ketika mereka tiba di depan kamar. Gadis itu berjalan di sampingnya sambil memeluk buku tipis dari kelas membaca, seakan permintaan agar Aiden kelak mengajarinya bertarung bukan sesuatu yang dapat membuat keduanya dihukum jika sampai terdengar oleh Dmitri.
Suara orang berbicara terdengar dari balik pintu. Salah satu suara itu milik Marcus, sedangkan suara lain yang lebih pelan segera dikenali Aiden sebagai suara Selma.
Aiden mengurangi langkah dan meraih gagang pintu dengan hati-hati. Selama seminggu tinggal di Empire, ia belum pernah mendapati Selma menunggu di kamar mereka bersama ayahnya.
Pintu terbuka dengan derit pendek. Marcus dan Selma yang sedang berbicara di dekat meja langsung menghentikan percakapan mereka, lalu menoleh hampir bersamaan ke arah pintu.
“Ah, akhirnya kalian datang.”
Selma tersenyum kepada mereka. Perempuan itu berdiri di sisi meja, sementara Marcus bersandar dengan pinggul pada tepinya dan melipat kedua lengan di depan dada.
Marcus tampaknya baru membersihkan diri setelah pulang dari ruang generator. Kemeja yang dikenakannya bersih, tetapi masih ada noda hitam di sela-sela jari dan pada garis kuku yang tidak hilang hanya dengan air.
Aiden tetap berada di ambang hingga Robin hampir menabrak punggungnya. Ia segera bergeser dan membiarkan Robin masuk terlebih dahulu, kemudian menutup pintu pelan di belakang mereka.
Kamar itu tidak lagi terasa sekosong saat pertama kali diberikan kepada mereka. Pakaian sudah tergantung di dalam lemari, mainan sedan biru milik Aiden berada di sisi bantalnya, dan beberapa bunga yang mulai mengering tersusun di atas meja dekat ranjang Robin.
Namun, keberadaan dua orang dewasa yang sengaja menunggu membuat semua benda itu mendadak terasa tidak penting. Tatapan Aiden berpindah dari Selma kepada Marcus, lalu kembali lagi kepada Selma.
“Ada apa?”
Selma belum menjawab. Ia melirik Marcus sebentar, membuat rasa tidak nyaman mulai merayap di dalam perut Aiden.
Aiden mencoba mengingat semua yang dilakukannya sejak pagi. Ia mengikuti latihan tanpa membantah Eddie, tidak meninggalkan kelas Nyonya Elma, dan langsung kembali ke kamar setelah pelajaran selesai.
Ketapel di dalam saku kemejanya terasa lebih berat ketika ia mengingat batu yang ditembakkannya dari lantai tiga puluh beberapa hari lalu. Tidak ada yang terluka saat itu, tetapi mungkin seseorang baru melaporkannya kepada Selma.
“Aku tidak melakukan sesuatu yang salah, kan?”
Selma tertawa kecil. Bunyi itu membuat ketegangan pada bahu Aiden sedikit mengendur, walaupun Marcus masih belum mengatakan apa pun.
“Tentu saja tidak.”
Aiden memandang ayahnya untuk memastikan jawaban tersebut benar. Marcus membalas pandangannya, kemudian menggeleng kecil agar ia tidak terus mencemaskan hukuman yang belum tentu ada.
Robin berdiri rapat di sisi Aiden dengan buku masih terjepit di dadanya. Ia tidak terlihat setegang Aiden, tetapi dahinya mulai berkerut karena menunggu penjelasan.
Selma memandang Marcus lagi. Kali ini tatapannya bertahan lebih lama, seakan sesuatu yang tadi mereka bicarakan seharusnya disampaikan oleh pria itu.
Marcus menurunkan kedua lengannya yang semula bersilang, lalu mengangkat satu telapak tangan ke arah Selma. Gerakan tersebut singkat, tetapi cukup jelas untuk menyerahkan seluruh urusan itu kepadanya.
Selma menarik napas panjang melalui hidung. Ia menggeleng pelan, lalu meninggalkan meja dan berjalan mendekati kedua anak tersebut.
Perempuan itu berhenti tepat di hadapan mereka sebelum berjongkok. Satu tangannya diletakkan pada bahu Aiden, sedangkan tangan yang lain menyentuh bahu Robin.
Jari Selma terasa hangat menembus kain kemeja Aiden. Aroma sabun dan bunga yang biasa melekat pada pakaiannya menutupi sisa bau minyak mesin dari tubuh Marcus.
“Begini, anak-anak. Kalian berdua sudah berusia sepuluh tahun.”
Selma berhenti sejenak untuk melihat wajah mereka secara bergantian. Cara bicaranya membuat Aiden menduga penjelasan yang akan datang jauh lebih rumit daripada aturan tentang jadwal belajar atau makan.
“Kalian memang masih anak-anak sekarang, tetapi tidak akan selalu begitu. Sebentar lagi kalian mulai memasuki masa ketika banyak hal dalam diri kalian berubah.”
Aiden mengerutkan dahi lebih dalam. Ia tidak tahu seberapa dekat waktu yang disebut sebentar lagi oleh Selma, sebab orang dewasa kadang memakai kata itu untuk sesuatu yang baru akan terjadi bertahun-tahun kemudian.
“Tubuh kalian akan berubah. Cara kalian berpikir juga akan berubah, meskipun mungkin bagian itu memerlukan waktu lebih lama.”
Selma melirik Marcus pada akhir ucapannya. Marcus mengabaikan tatapan tersebut dan justru memperhatikan noda hitam pada salah satu kukunya.
“Aiden akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah. Robin akan tumbuh menjadi seorang gadis yang pemberani.”
Aiden menunggu kalimat berikutnya, tetapi Selma berhenti berbicara. Ia menoleh kepada Robin dan mendapati gadis itu sedang menatap perempuan tersebut dengan kebingungan yang sama.
Aiden melihat tangannya sendiri. Luka lecet dari latihan masih tampak merah di beberapa buku jarinya, tetapi selain itu ia tidak menemukan tanda perubahan yang sedang dibicarakan Selma.
“Aku tidak mengerti.”
Selma membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia menoleh kepada Marcus yang masih berdiri di dekat meja.
“Marcus, bantu aku.”
Marcus segera mengangkat kedua alis. Pandangannya bergerak dari Selma kepada Aiden, kemudian jatuh ke lantai di antara mereka.
“Aku buruk dalam menjelaskan hal semacam ini.”
“Aku juga tidak menikmati percakapan ini.”
Selma memutar matanya sebelum kembali menghadap kedua anak itu. Marcus menggaruk belakang leher dan mengalihkan pandangan ke jendela, seakan tembok bangunan di seberang menyimpan sesuatu yang harus diawasi.
Aiden semakin yakin mereka sedang membicarakan perkara yang tidak menyenangkan. Bahkan saat menjelaskan tentang Remnant dan raider, Marcus tidak pernah terlihat sesulit itu memilih kata.
Selma menepuk bahu Aiden dan Robin satu kali. Gerakannya lembut, tetapi punggungnya telah menjadi lebih tegak seolah ia akhirnya memutuskan untuk langsung mencapai inti pembicaraan.
“Baiklah. Mulai malam ini, kalian berdua tidak akan tidur di kamar yang sama lagi.”
“Apa?”
Kata itu keluar dari mulut Aiden dan Robin pada saat bersamaan. Keduanya langsung saling menoleh, lalu kembali memandang Selma dengan wajah yang sama terkejutnya.
Aiden sempat berpikir dirinya salah mendengar. Tiga ranjang di kamar itu telah digunakan sejak malam pertama mereka tiba, dan tidak pernah ada yang mengatakan susunannya hanya bersifat sementara.
Ranjang Marcus berada paling dekat dengan pintu. Aiden menempati ranjang di dekat jendela, sedangkan Robin memilih ranjang di tengah dan selalu meletakkan sepatunya dengan rapi di bawahnya sebelum tidur.
Pada beberapa malam pertama, Aiden sering terbangun karena mengira mendengar raungan Remnant di lorong. Ketika itu terjadi, suara napas Robin dari ranjang sebelah dan dengkur rendah Marcus dekat pintu membuatnya ingat bahwa mereka telah meninggalkan Haven.
Robin juga pernah terbangun sambil menangis dan memanggil ayahnya. Ia selalu membalikkan tubuh menghadap dinding keesokan paginya dan berpura-pura tidak pernah mengeluarkan suara apa pun.
Aiden tidak pernah membicarakannya. Ia hanya tetap terjaga sampai napas Robin kembali teratur, sebab ia tahu dirinya mungkin akan melakukan hal yang sama jika Marcus tidak berada di kamar itu.
“Tapi kami tidak melanggar apa pun.”
Robin menurunkan buku dari dadanya. Jemarinya meremas tepi sampul hingga buku tipis itu sedikit melengkung.
Selma memindahkan tangannya dari bahu Robin menuju tangan yang sedang mencengkeram buku. Ia menurunkannya perlahan agar Robin berhenti merusak sampul tersebut.
“Aku tahu, sayang. Tidak ada yang menuduh kalian melakukan kesalahan.”
“Lalu kenapa kami harus dipisahkan?”
Aiden tidak bermaksud terdengar menantang, tetapi pertanyaan itu keluar lebih keras daripada yang diinginkannya. Marcus menoleh dari jendela, walaupun ia tidak menegur.
Selma tetap berjongkok di tempatnya. Tatapannya tidak berubah, bahkan ketika Aiden mulai menggeser berat tubuh dengan gelisah dari satu kaki ke kaki lainnya.
“Karena kalian akan segera membutuhkan ruang masing-masing. Ada hal-hal yang dialami seorang gadis ketika tumbuh dewasa, dan ada hal-hal yang hanya dialami seorang anak laki-laki.”
Aiden mencoba memahami hubungan antara tumbuh dewasa dan letak ranjang. Ia sudah melihat banyak anak laki-laki dan perempuan di Empire belajar dalam ruangan yang sama, makan di tempat yang sama, bahkan bermain di halaman yang sama.
Tidur terasa tidak jauh berbeda baginya. Mereka hanya berbaring, memejamkan mata, lalu bangun kembali saat pagi tiba.
“Kami tidak saling mengganggu.”
Robin mengangguk mendukung ucapan Aiden. Gerakan itu membuat rambut pirangnya bergeser dari bahu dan jatuh ke depan wajah.
“Aku bahkan tidak mendengkur.”
“Kau mengigau.”
Robin menyikut lengan Aiden tanpa mengalihkan pandangan dari Selma. Sikutnya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Aiden mengusap lengannya sambil menahan senyum.
Ketegangan di wajah Marcus sedikit melunak. Selma juga hampir tersenyum, walaupun ia segera kembali memasang wajah serius.
“Ini bukan karena kalian mengganggu tidur satu sama lain. Kalian mulai bertambah besar, dan ada saatnya anak laki-laki serta anak perempuan tidak lagi berbagi kamar.”
Aiden belum merasa lebih besar daripada seminggu lalu. Ia bahkan masih harus mendongak saat berbicara kepada hampir semua orang dewasa di Empire.
Selma kemudian memusatkan perhatiannya kepada Robin. Tangannya terangkat dari bahu Aiden, lalu memberi isyarat agar gadis itu mendekat.
“Dan, Robin...”
Robin menundukkan tubuh dengan ragu. Selma mendekatkan mulut ke telinganya, menangkupkan satu tangan di samping bibir, lalu membisikkan sesuatu yang terlalu pelan untuk didengar Aiden.
Aiden hanya menangkap suara napas dan potongan kata yang tidak membentuk arti. Ia tanpa sadar memiringkan kepala, tetapi Selma merendahkan suaranya lebih jauh.
Perubahan pada wajah Robin muncul hampir seketika. Matanya melebar, bibirnya terbuka sedikit, dan warna merah mulai naik dari leher sampai memenuhi kedua pipinya.
Robin melirik Aiden dari sudut mata. Begitu mengetahui Aiden sedang memperhatikannya, ia segera menunduk dan membiarkan rambut pirangnya menutupi sebagian wajah.
Aiden menatapnya semakin penasaran. Apa pun yang disampaikan Selma pasti cukup buruk untuk membuat Robin tampak ingin bersembunyi di balik rambutnya sendiri.
Selma menarik wajahnya dari telinga Robin. Tangannya mengusap lembut bagian atas lengan gadis itu sebelum ia berbicara lagi.
“Kau tentu tidak ingin Aiden berada di dekatmu ketika itu terjadi, bukan?”
Robin menggeleng cepat. Ia bahkan mundur setengah langkah dari Aiden, walaupun setelah itu jemarinya kembali meraih ujung lengan kemeja bocah tersebut seakan tidak benar-benar ingin menjauh.
“Bagus.”
Aiden memandang tangan Robin pada lengannya, kemudian beralih kepada Selma. Ia merasa telah menjadi bagian dari suatu masalah tanpa diberi tahu apa masalahnya.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Itu urusan perempuan.”
Selma mengucapkannya sambil tersenyum. Robin tidak ikut tersenyum dan malah memusatkan perhatian pada ujung sepatunya.
Aiden mencoba mendapatkan jawaban dari wajah Robin. Gadis itu hanya menggeleng sangat kecil, dan Aiden mengartikannya sebagai peringatan agar tidak kembali bertanya di depan Selma.
“Dan kau, Aiden, juga akan mengalami beberapa perubahan saat bertambah besar.”
Aiden kembali memandang Selma. Tangannya terangkat tanpa sadar untuk meraba dagu, lalu turun menyentuh bagian depan lehernya.
Ia tidak menemukan sesuatu yang berbeda. Kulit dagunya masih halus, suaranya juga masih terdengar sama seperti saat mereka meninggalkan Haven.
“Mengalami apa?”
Selma menoleh kepada Marcus. Kali ini senyumnya melebar sedikit, sedangkan tubuh Marcus langsung menegang di dekat meja.
“Tanyakan nanti kepada ayahmu.”
Marcus menutup mata sesaat dan mengusap wajah dengan telapak tangannya. Ketika membukanya kembali, Selma masih menunggu jawabannya dari seberang kamar.
“Kau bisa menjelaskannya sekarang.”
“Beberapa bagian lebih baik dijelaskan oleh ayahnya sendiri.”
Marcus menatap Selma cukup lama. Perempuan itu membalasnya tanpa berkedip, membuat Aiden dapat melihat siapa yang akan memenangkan pertengkaran kecil tersebut bahkan sebelum ayahnya menyerah.
“Aku akan memberitahumu nanti.”
Aiden masih ingin mendesak, tetapi nada suara Marcus membuatnya mengurungkan niat. Ayahnya berjalan menuju meja dan mulai meluruskan tumpukan kertas yang sebenarnya tidak perlu dirapikan.
Selma bangkit dari posisi berjongkok. Kedua lututnya sempat berbunyi kecil, lalu ia mengusap bagian depan rok sebelum menghadap Robin.
“Baiklah. Sekarang kita kemasi barang-barangmu.”
Robin tetap berdiri di samping Aiden. Pegangannya pada lengan kemeja Aiden mengencang sesaat sebelum perlahan terlepas.
“Aku harus pindah malam ini?”
“Hanya barang yang kauperlukan. Kamar para gadis sudah disiapkan dan letaknya tidak jauh dari sini.”
Selma menyentuh belakang kepala Robin, lalu mengusap rambutnya sekali. Gerakan itu membuat Robin akhirnya berjalan menuju ranjang yang telah digunakannya selama seminggu.
Aiden mengikuti dua langkah di belakang sebelum berhenti. Ia tidak tahu apakah dirinya diperbolehkan membantu atau justru seluruh urusan tersebut kini juga termasuk urusan perempuan.
Selma mengambil sebuah tas kain kosong yang telah diletakkan di bawah meja. Rupanya keputusan itu telah dibuat sebelum Aiden dan Robin kembali dari kelas, sebab ukuran tas tersebut cukup besar untuk menampung seluruh pakaian Robin.
Robin meletakkan buku pelajarannya di atas ranjang. Ia membuka lemari dan mengeluarkan beberapa helai pakaian yang diberikan Selma pada hari pertama mereka tiba.
Jumlahnya belum banyak. Dua kemeja, dua rok panjang, beberapa pakaian tipis, dan sehelai kain bersih sudah mencakup hampir semua yang dimilikinya selain pakaian yang sedang dikenakan.
Selma melipat setiap pakaian dengan cepat dan rapi. Robin mencoba membantunya, tetapi lipatan buatannya selalu lebih besar sehingga Selma harus membuka dan mengulanginya.
Aiden melihat dari dekat kaki ranjang. Sepatu lama Robin masih berada di bawah sana, sol kirinya telah terpisah pada bagian depan dan diikat dengan potongan tali agar tidak terlepas seluruhnya.
Robin belum membuangnya meskipun kini sudah memiliki sepatu dari karavan Ernest. Aiden tidak pernah bertanya mengapa gadis itu tetap membawa benda rusak tersebut sepanjang perjalanan dari Haven.