Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepi
Setelah selesai shalat Maghrib mereka bersiap-siap untuk menyambut tamu undangan. Tidak banyak yang diundang, hanya sekitar 50 orang. Para perempuan menyiapkan hidangan yang akan disajikan. Piring-piring yang berisi kue disajikan di depan tamu. Begitu juga dengan air mineral botol.
Setelah pak ustadz datang, acara pun dimulai. Diawali dengan pembacaan al-fatihah dan surat lainnya serta sholawat. Kemudian ceramah agama, lalu ditutup dengan do'a. acara ramah tamah menjadi akhir dari acara. Para tamu undangan dipersilahkan untuk mengambil makanannya sendiri karena diwajibkan secara prasmanan.
15 menit kemudian, beberapa dari mereka pamit pulang. Berkat pun dibagikan saat mereka mau pulang.
Sekitar jam 9, semua tamu sudah pulang.Tinggal tuan rumah yang bekerja sama untuk membereskan piring kotor dan lainnya.
Mereka baru selesai beres-beres sekitar jam 23.00. Setelah iru, mereka langsung beristirahat di kamarnya masing-masing.
Di kamar pengantin baru pun tidak ada kegiatan malam ini. Keduanya tidur pulas karena capek dan mengantuk.
Keesokan harinya.
Setelah selesai shalat Dhuhur, mereka bersiap untuk mengantar ummi dan abi ke bandara Juanda. Oma dan opa beserta keluarga yang lain juga sudah menuju Bandara. Mereka akan bertemu di sana. Sebelum berangkat, mereka dido'akan di depan rumah oleh pak ustadz.
1 jam kemudian mereka sampai di Bandara. Ummi memperkenalkan Tiyas kepada opa dan oma serta keluarga yang lain. Tiyas pun mencium tangan mereka.
"Wong cantik begini ya jelas Zain mau, jangan bilang karena terpaksa. Apa lagi sekarang mungkin sudah tidak mau ditinggal." Celetuk opa.
Hal itu membuat yang mendengarnya tertawa. Sedangkan Tiyas hanya mengulum senyum.
"MasyaAllah, semoga cucu-cucuku mendapatkan jodoh yang baik dan memiliki keturunan yang sholeh sholeha." Ucap oma sambil mengusap kepala Tiyas.
Lalu diaminkan oleh yang lain.
Tiyas semakin kagum kepada keluarga besar suaminya. Karena meski mereka orang berasa namun kekompakan dan keharmonisan tetap dijaga. Mereka juga berpenampilan sederhana dan ramah kepada semua orang.
Sekitar 30 menit kemudian, jama'ah yang lain kumpul. Sebagai pemilik travel umroh dan haji abi Salman pun saat ini tengah memberikan arahan dan memimpin do'a sebelum cek in.
Karena sudah waktunya cek in jadi mereka dan semua jama'ah yang ikut berpamitan kepada keluarga. Meski hal tersebut sudah biasa dilakukan oleh ummi dan abi, namun setiap akan berangkat mereka masih merasa berat.
"Nak, ummi sudah menyerahkan keuangan untuk belanja selama 15 hari ini kepada bibi'. Nanti kalau ada keperluan yang lain kamu yang bertanggung jawab. Pokoknya kalau ada sesuatu yang tidak dimengerti telpon ummi saja ya."
"Iya, ummi. "
Mata Tiyas berkaca-kaca melepas kepergian mertuanya. Tiyas ingat kepada kedua orang tuanya karena mereka sudah seperti orang tuanya baginya saat ini. Ummi pun memeluknya.
"Baik-baik di rumah ya. Jangan sedih. Do'a kan kami kembali dengan selamat."
"Aamiin... "
Setelah melepas kepergian mereka, keluarga yang mengantar pulang. Termasuk Zain dan saudaranya.
1 jam kemudian, mereka sampai di rumah. Saudara, Zain yang lain langsung pulang ke rumahnya masing-masing. Hanya Zean dan Arya beserta keluarga kecilnya yang pulang ke rumah itu.
Kebetulan Zain, Zean dan Arya tidak kembali ke kamarnya, tapi mereka duduk di ruang tengah sambil ngobrol santai.
"Dek kudengar kamu mau dijodohkan." Ujar Arya.
"Iya sama janda. Ya aku nggak mau lah."
"Memang kenapa kalau janda? Mbak iparku saja janda beranak satu saat aku nikahi."
"Hehe... itu kan abang. Aku lain lagi. "
"Dek, mau perawan atau janda sama saja. Status itu tidak penting. Yang penting perasaan. Kalau orangnya baik, cantik, sholeha, perasaan itu bisa saja muncul dengan sendirinya."
"Gimana mau tahu perasaannya, kak. Kalau ketemu saja nggak dia mau." Sahut Zean.
"Ck... susah memang ngomong sama playboy cap kadal."
"Ish... playboy apaan. Aku itu cuma berteman dengan banyak wanita, kak. Bukan memacari mereka.
"Terserah dah! Pokoknya buang jauh-jauh pikiran negatif mu tentang seorang janda. Ummi dulu juga menikah sama abi statusnya janda."
Zean tidak membalas lagi karena takut jawabannya akan menyinggung perasaan kakaknya. Ummi memang dulu seorang janda, namun janda yang belum disentuh. Sedangkan Zahira janda beranak satu yang ditinggal suaminya meninggal dunia.
Keesokan harinya.
Setelah selesai shalat Dhuhur Zean mengantarkan Arya dan keluarga kecilnya ke Bandara.Mereka tidak sempat makan siang karena waktunya sudah mepet. Mereka akan kembali ke Jakarta karena anaknya masuk sekolah. Mungkin nanti kalau ummi dan abi pulang, mereka akan ke Surabaya lagi.
Zahira pamit kepada Tiyas.
"Maaf nggak bisa temani kamu ya, dek."
"Iya, nggak apa-apa mbak."
"Tante, nanti kalau Fania ke sini lagi buatkan Fania olahan singkong ya. Buatan tante enak sekali."
"Iya, Fania."
Anak-anak Arya mencium tangan Zain dan Tiyas sebelum masuk ke dalam mobil.
"Aku berangkat dulu, bang." Pamit Zean.
"Iya, hati-hati.Jangan ngebut."
"Siap."
Setelah mobil meninggalkan pekarangan, Zain dan Tiyas kembali masuk ke dalam rumah.
"Fania dan adik-adiknya sudah pulang. Rumah semakin terasa sepi ya, mas."
"Iya, sayang."
"Fania itu anaknya penyayang banget, mas. Dia sangat ngemong sama adik-adinya."
"Iya, padahal mereka bukan sekandung."
"Hah, bukan sekandung, maksudnya?"
"Oh aku belum cerita ya? Mbak Zahira itu dulu janda. Suaminya meninggal karena kecelakaan kalau tidak salah. Jadi Fania itu anak dari suaminya yang dulu."
"Oh begitu? Pantas saja wajah Fania lain sendiri. Tapi aku lihat Kak Arya sangat menyayangi Fania. Tidak kelihatan kalau dia ayah sambungnya."
"Tentu saja. Fania yang membuat kak Arya jatuh cinta sehingga ingin menikahi ibunya."
"Sepertinya ceritanya seru, mas."
"Seru sekali, nanti aku ceritakan. Sekarang ayo kita makan siang dulu."
Zain dan Tiyas makan siang hanya berdua saja. Tiyas merasa suasana sangat berubah. Iya menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa, sayang?"
"Sepi."
"Makanya aku mau punya cepat punya anak agar kita tidak kesepian kalau lagi berdua gini."
"Uhuk uhuk uhuk.. "
Tiyas tersedak minumannya.
"Pelan dong, minumnya."
Zain mengusap punggung istrinya dengan lembut.
Tiyas tahu suami dan keluarganya sudah sangat mengharapkan bayi darinya. Siap tidak siap kalau waktunya tiba Tiyas harus menerimanya. Ia meyakinkan diri bahwa dirinya mampu menjadi seorang ibu. Apa lagi ada suami dan keluarganya yang pasti akan menjamin secara moral dan finansial.
Zean baru saja sampai di Bandara. Ia menurunkan barang-barang dari bagasi dan mengantarkan mereka ke dalam. Tidak lama kemudian, mereka cek in. Setelah itu, ia pamit pulang.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...