"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 26 Kalau Papa kami masih hidup
Elio memperlambat laju mobilnya saat mendekati gerbang besi hitam menjulang milik keluarga Hadinata. Rumah yang sudah hampir enam bulan tidak ia kunjungi.
Mesin mobil masih menyala ketika seorang security berpakaian hitam berlari kecil menghampiri.Elio menurunkan kaca jendela.
"Siang, Den Elio." Security itu menunduk singkat, ramah.
"Siang." Elio mengangguk singkat. "Papa ada?"
Raut wajah satpam itu berubah sedikit canggung.
"Maaf, Den. Tuan sedang ke luar negeri."
"Kapan perginya?"
"Baru dua hari yang lalu."
Elio mengernyitkan kedua alisnya. "Ke mana?"
"Ke Jerman, Den."
"Jerman?"
"Iya, Den. Katanya mengantar Bapak sama Ibu medical check up disana."
Elio terdiam beberapa detik. Aneh... Selama mengenal keluarga Hadinata, Hardja dan Farida selalu melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di Penang. Rumah sakit langganan mereka ada di sana.Lantas kenapa sekarang justru ke Jerman?
"Berapa lama?" Tanyanya pada akhirnya.
"Kata tuan, kurang lebih seminggu, Den."
Elio mengangguk pelan.
"Baik. Terima kasih."
Ia menaikkan kembali kaca mobil. Perlahan mobil hitam itu berbalik meninggalkan rumah megah yang pernah begitu sering ia datangi saat masih bertunangan dengan Kiara.
Suasana di dalam mobil kembali sunyi. Hanya suara mesin yang menemani pikirannya yang semakin penuh.Tatapannya lurus ke jalan.
Namun isi kepalanya justru dipenuhi pertanyaan.
"Kenapa harus ke Jerman?"
Padahal selama ini... Penang selalu menjadi tujuan keluarga Hadinata untuk pemeriksaan kesehatan.
Entah mengapa... Ada sesuatu yang terasa janggal.Fadlan memang bukan ayah yang baik bagi Kaia.
Namun Hardja dan Farida...Mereka sangat menyayangi cucunya. Bahkan lebih dari siapa pun.
Anehnya... Sejak Kaia menghilang sembilan bulan lalu, keduanya tampak jauh lebih tenang dibanding dirinya.
Mereka memang sempat menangis. Mereka juga ikut mencari. Namun setelah itu... Seolah mereka percaya Kaia baik-baik saja.
Tidak ada kepanikan. Tidak ada usaha mencari yang berlebihan. Seakan-akan... Mereka mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Jari-jari Elio mencengkeram setir semakin erat.
Rahangnya mengeras.
"Kaia..." Ia mengembuskan napas panjang.
Sembilan bulan. Bukan waktu yang singkat. Ia telah menyewa penyelidik profesional. Meminta bantuan relasi bisnis.
Bahkan memanfaatkan jaringan kerjasama rumah sakit Meganthara di beberapa negara. Namun hasilnya tetap sama.
Nihil.
Seolah Kaia benar-benar lenyap dari permukaan bumi. Atau... Memang ada seseorang yang sengaja menghapus seluruh jejaknya?
Kalimat itu membuat dada Elio kembali sesak. Tatapannya perlahan berubah tajam.
"Kalau memang ada yang menyembunyikanmu... aku akan menemukannya, aku yakin itu."
Mobil itu melaju membelah jalanan Jakarta. Tanpa Elio sadari... Orang yang paling ia curigai saat ini adalah keluarga Hadinata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga tahun kemudian...
Butiran salju turun perlahan menutupi halaman rumah mungil bergaya Eropa yang berada di pinggir sebuah desa kecil di Slovenia.
Pepohonan hanya menyisakan ranting-ranting kering, sementara atap-atap rumah tertutup lapisan putih yang membuat suasana tampak tenang.
Namun berbeda dengan dinginnya cuaca di luar. Di dalam rumah, kehangatan memenuhi setiap sudut ruangan.
Tawa anak-anak terdengar silih berganti. Ocean duduk bersila di atas karpet ruang keluarga. Lidah kecilnya menjulur sedikit ke samping saat berusaha menyusun puzzle dinosaurus yang terdiri dari puluhan keping.
Di sisi lain... Sea sibuk bermain dokter-dokteran bersama Neo.
Sudah hampir tiga tahun terakhir, Neo menjadi tamu yang paling sering datang ke rumah itu. Setiap dua bulan sekali, pria tersebut selalu menyempatkan diri berkunjung ke Slovenia. Meski dari Utrecht ke negara tersebut harus memakan waktu hingga lima jam.
Kadang dengan alasan pekerjaan. Kadang membawa oleh-oleh. Kadang hanya karena merindukan dua keponakan kecil yang sudah ia anggap seperti darah dagingnya sendiri.
Sea memasang stetoskop mainan berwarna merah muda ke dada Neo. Wajah mungilnya terlihat sangat serius.
"Keluhannya apa, Pak?" tanyanya dengan suara cadel yang menggemaskan.
Neo langsung ikut memainkan perannya. "Hmm... Dokter, badan saya panas dari semalam. Terus tenggorokan saya sakit."
Sea mengangguk pelan seolah benar-benar sedang menganalisis pasien. "Oh... Batuk ya."
Ia membuka koper dokter mainannya, lalu mengeluarkan suntikan plastik tanpa jarum. "Halus disuntik dulu, ya."
Neo pura-pura menelan ludah. "Aduh... Sakit nggak ya, Dok?"
"Nggak kok." Sea menggeleng mantap. "Sakit bental aja."
Kaia yang baru datang dari dapur tak mampu menahan senyum. Ia meletakkan nampan berisi empat cangkir cokelat panas yang masih mengepulkan uap tipis, di atas meja.
"Dokter Sea..." Kaia terkekeh. "Masa nyuntiknya di punggung tangan?"
Sea menoleh polos. "Di lumah sakit juga gitu. Kalau diinfus kan di tangan."
Neo langsung tertawa terbahak. "Benar juga. Ternyata Dokter Sea teliti."
Sea mengangkat dagunya bangga. "Aku nanti mau jadi doktel, mau pakai baju putih. Doktel itu kelenn..."
Neo mengusap lembut rambut putri kecil itu. "Kalau begitu nanti Uncle jadi pasien pertama ya."
"Uh!" Sea bertepuk tangan girang.
Kaia hanya bisa menarik napas dalam mendengar obrolan itu. Ia tidak pernah mengenalkan Elio bahkan keluarga Meganthara pada putrinya. Namun darah itu ternyata sangat kental.
Di sisi lain... Ocean akhirnya berdiri sambil mengangkat puzzle yang sudah selesai. "Mama! Lihat! Aku belhasil!"
Kaia menoleh. Matanya langsung berbinar. "Wah... Hebat sekali anak Mama."
Ocean tersenyum puas. "Dinosaulusnya utuh."
Neo ikut melihat. "Keren. Mau Uncle belikan puzzle yang lebih sulit?"
Ocean mengangguk semangat. "Mau! Yang lebih banyak ya Uncle!"
Neo tertawa. "Siap. Nanti Uncle bawakan yang seratus keping."
"Yeay!" Ocean melompat kecil kegirangan.
Neo kemudian meraih cangkir cokelatnya. Baru saja ia menyeruput sedikit... Ocean tiba-tiba memiringkan kepalanya.
Tatapannya berpindah dari Neo lalu ke Kaia... Kemudian kembali lagi ke Neo. "Mama..."
"Iya, Sayang?"
"Kok Uncle Neo selalunya datang ke lumah kita?"
Neo masih santai. "Karena Uncle kangen kalian."
Ocean mengangguk pelan.
Lalu dengan wajah polos khas anak kecil, ia berkata, "Kalau gitu... Kenapa Uncle nggak jadi Papa kami aja?"
"UHUK! UHUK! UHUK!"
Neo tersedak hebat. Ia buru-buru menutup mulut sambil batuk berkali-kali.
Kaia refleks mengambil botol air mineral di meja.
Neo menerimanya cepat- cepat. "Terima kasih."
Ia meneguk air beberapa kali sampai batuknya mereda.
Sementara Ocean hanya mengedip bingung.
"Memangnya kenapa?
Mamaku cantik kok." Sea juga bilang Mama cantik."
Kaia yang mendengar itu langsung menundukkan kepala.
Pipinya memerah. Entah karena malu atau karena kalimat sederhana itu justru menusuk hatinya.
Anak-anaknya mulai bertanya tentang sosok ayah.
Hari yang selama ini ia khawatirkan... Perlahan mulai datang.
Neo melirik Kaia sekilas. Ia tahu perempuan itu sedang menahan sesuatu. Dengan senyum kecil ia mengacak rambut Ocean.
"Ocean... Uncle sih mau aja tapi..." Neo sengaja menggantung kalimatnya sambil melirik Kaia yang masih menunduk. "Sepertinya Mama kamu yang nggak mau sama Uncle."
"Neo..." Kaia mendecak pelan. "Jangan ngomong sembarangan di depan mereka."
Neo hanya tertawa kecil.
"Kan cuma bercanda."
"Kenapa, Ma?" Kini Sea yang membuka suara. Jemari mungilnya sibuk merapikan stetoskop dan suntikan mainannya ke dalam koper dokter berwarna merah muda.
"Aku juga pengin punya Papa... kayak teman-teman."
Kalimat polos itu membuat senyum di bibir Kaia perlahan memudar. Dadanya seperti diremas. Selama tiga tahun...
Ini adalah pertanyaan yang paling ia takutkan. Ocean ikut menundukkan kepala. Wajah cerianya perlahan berubah murung.
"Kalau Papa kami masih hidup..." gumamnya lirih. "Ocean pasti senang."
Kalimat sederhana itu menusuk hati Kaia jauh lebih dalam. Neo melirik Kaia sekilas. Ia melihat mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. Tanpa banyak bicara, ia meraih tubuh Ocean dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Ocean... Kalian boleh kok menganggap Uncle seperti Papa."
Bocah itu mendongak, keningnya mengernyit.
"Benarkah?"
Neo mengangguk sambil tersenyum hangat. "Uncle sayang sama Ocean. Sayang juga sama Sea."
Sea langsung tersenyum malu-malu. "Tapi..." Ocean kembali menunduk. "Uncle nggak tinggal sama kami."
Neo mengusap pelan rambut bocah itu. "Memangnya ayah teman-temanmu selalu di rumah?"
Ocean menggeleng pelan.
"Nah... Ayah mereka ada yang kerja sampai malam, ada yang kerja di luar kota, bahkan ada yang jarang pulang, tapi mereka tetap ayah."
Ocean tampak berpikir.
"Kalau Uncle..."
"Uncle bisa telepon Ocean setiap hari. Bisa video call. Bisa datang waktu liburan. Dan Uncle akan tetap sayang sama kalian." Neo mengusap punggung Neo pelan.
Mata Ocean kembali berbinar. "Janji?"
Neo mengangkat jari kelingkingnya. "Janji."
Ocean langsung mengaitkan jari kecilnya sambil tertawa.Di sisinya Kaia memalingkan wajah. Ia tidak sanggup melihat pemandangan itu terlalu lama.
Ada rasa hangat... Namun bersamaan dengan itu muncul rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.
Anak-anaknya hanya sedang merindukan sosok ayah.
"Sudah..." Kaia berdiri sambil memaksakan senyum.
"Sekarang waktunya Ocean sama Sea tidur siang."
Seolah mengerti situasi, Mbak Rini yang sejak tadi berada di dapur segera datang. "Ayo, anak-anak. Setelah tidur nanti kita bikin kue."
"Iyaaa!"
Kedua bocah itu langsung berlari kecil mengikuti Mbak Rini menuju kamar. Tak lama... Rumah kembali sunyi.
Hanya suara kayu yang terbakar di perapian dan salju yang jatuh di luar jendela. Neo menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya lurus ke arah Kaia.
"Kamu nggak pernah cerita yang sebenarnya ke mereka?"
Kaia tetap memandang ke luar jendela. Butiran salju terus turun tanpa henti. "Untuk apa?" Suaranya pelan. "Dengan begitu mereka tidak akan berharap."
Neo menghela napas. "Tapi ayah mereka masih hidup."
Kaia tersenyum hambar.
"Iya, dia masih hidup, tapi sejak sebelum mereka hadir... dia sudah menolak keberadaan mereka." Tangannya perlahan mengepal. "Aku nggak mau mereka tumbuh menunggu seseorang yang bahkan tidak menginginkan mereka."
Neo terdiam. Kalimat itu membuat dadanya ikut sesak. Ia tahu luka yang diberikan Elio jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Neo berkata pelan, "Kalau begitu... Biarkan aku yang menjadi ayah mereka."
Kaia langsung menoleh. Tatapannya membesar. "Neo."
"Aku serius. Kita sama-sama sendiri. Aku sayang sama Ocean.
Aku juga sayang sama Sea." Tatapannya kemudian beralih kepada Kaia. "Dan... Aku juga mulai menyayangimu."
Kaia terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Namun beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan. "Jangan, Neo. Aku tahu... Dari dulu hatimu cuma ada Sienna, aku nggak mau hubungan kita jadi rumit."
Neo tersenyum tipis. "Mungkin dulu, tapi manusia bisa belajar membuka hati." Ia mengangkat bahu pelan. "Lagipula... Kita sama-sama pernah disakiti keluarga Meganthara."
Belum sempat Kaia menjawab... Ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba berdering.
Getaran itu memecah keheningan.
Kaia mengernyit. Di layar tertera nama Simbok yang jarang sekali menghubunginya. Jantungnya mendadak berdegup tidak nyaman.
Selama ini... Kalau bukan kabar penting, simbok tidak akan pernah menelepon langsung.
Dengan tangan sedikit gemetar, Kaia mengangkat panggilan itu. "Halo, Mbok..."
Suara dari seberang sana terdengar terbata. "Non Kaia... N-non..."
"Ya, Mbok? Ada apa?"
Hening beberapa detik. Lalu terdengar isak yang ditahan.
"Bapak... Masuk rumah sakit lagi, Non."
Wajah Kaia langsung memucat. "Apa?"
"Kondisinya menurun.
Beliau terus memanggil nama Non... Beliau ingin ketemu Non..." Suara Simbok pecah.
Air mata Kaia langsung mengalir. Tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar. "Kakek..."
Panggilan itu berakhir.
Ruangan kembali sunyi.
Neo yang sejak tadi
memperhatikan langsung bangkit dari sofa. "Ada apa, Kai?"
Kaia menggenggam ponselnya erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kakek... Sakit lagi. Kondisinya memburuk." Air matanya semakin deras. "Aku... Aku pengen pulang."
Neo tidak menjawab. Ia
hanya menatap perempuan itu beberapa saat. Lalu berkata mantap, "Pulanglah."
Kaia mengangkat wajah.
"Tapi Ocean sama Sea..."
"Biar aku sama Mbak Rini yang jaga mereka. Kamu tenang saja. Aku bisa kerja dari mana saja. Semua meeting bisa online." Ia tersenyum kecil.
"Yang paling penting sekarang...Kamu temui Kakekmu."
...****************...
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
kenapa pula Elio masih memikirkan Kaia? kan selama ini kamu ga pernah menganggap kehadiran Kaia, kamu masih menyalahkan Kaia atas kematian Kiara