Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya ditengah Bencana
Satu jam lebih menaklukkan jalanan terjal yang membuat jantung ini terasa jedag-jedug, Kak Revan berhasil menaklukkannya. Beberapa kali aku memukul bahunya karena tidak sanggup melihat tanjakan berlumpur dan berbatu yang menurutku mustahil untuk dilewati.
Tapi pada akhirnya kami sampai. Deretan tenda darurat sudah berjajar rapi di lapangan luas. Terlihat beberapa ibu-ibu yang sedang beraktivitas, membereskan pakaian yang berasal dari donasi. Ada juga ibu-ibu yang bertugas memasak di dapur darurat. Anak-anak tampak riang dengan memakai pakaian seadanya. Aku jadi malu melihat senyuman mereka yang tetap merekah walau sedang ditimpa musibah.
Ujian hidupku masih tidak sebanding dengan cobaan yang mereka hadapi. Tidak sedikit dari mereka yang hampir kehilangan harta, bahkan keluarganya pergi lebih dulu. Tapi mereka terlihat begitu lapang menerima guratan takdir.
“Ada Pak Dokter... Pak Dokter datang....”
Anak-anak kecil menyambut kedatangan motor Kak Revan.
Aku melirik Kak Revan yang juga melirikku lewat kaca spion motor.
“Kok mereka sudah tahu kalau kamu dokter, Kak? Padahal kamu tidak memakai jas dokter,” tanyaku bingung. Melihat penampilan Kak Revan, sama sekali tidak mencerminkan bahwa ia adalah seorang dokter.
“Tuh....” Kak Revan menunjuk beberapa mobil ambulans yang berjejer di sana, bertuliskan nama rumah sakit miliknya. Terlihat beberapa perawat yang bertugas di sana.
“Lah... kalau tahu ada mobil, aku lebih memilih ikut mobil itu, Kak. Jadi, kamu sudah pernah duluan ke sini?”
Motor Kak Revan berhenti tepat di halaman luas, di samping tenda darurat yang bertuliskan perawatan khusus untuk lansia.
“Segamau itu, kah, naik motor denganku? Dua hari yang lalu sempat ke sini. Tapi aku pulang dulu karena mengurus permohonan maaf yang belum juga diterima.”
Aku memegangi pinggang yang terasa akan remuk, juga punggungku yang terasa sangat pegal.
“Bukan begitu, tapi badanku terasa sangat remuk. Tapi jujur, ini sangat seru...” ujarku sambil mengacungkan dua jempol.
“Ya, biasakanlah....”
“Halo, Dokter....”
Anak-anak mulai berkumpul mengerumuni kami yang baru sampai. Wajah mereka tampak sangat berbinar.
“Halo. Hari ini dokter membawa seseorang yang akan menemani malam dan hari-hari kalian. Kenalin, ini Ibu Guru Alya yang akan membimbing kalian belajar selama satu minggu ke depan....”
Seketika, sorot mata berbinar dengan wajah polos, imut, dan menggemaskan itu tertuju padaku.
“Wah... Ibu Guru cantik sekali. Ibu pasti pacarnya tampan, ya?” celetuk seorang anak laki-laki bertubuh gempal.
Aku menggeleng pelan, lalu melirik ke arah Kak Revan sekilas.
“Bu Guru tidak punya pacar....” ujarku sambil menahan tawa. Baru beberapa jam di sini, suasananya terasa sangat hangat. Aku jadi merasa betah.
“Yah... sayang sekali. Cantik kok enggak punya pacar. Bu Guru, aku punya Abang yang sedang pendidikan polisi di kota. Ibu Guru mau enggak sama Abang aku? Abang aku baik, kok....”
Aku lagi-lagi terkekeh saat melihat reaksi Kak Revan yang semakin mengerutkan alisnya.
“Ya sudah, sekarang adik-adik bersiap, ya. Salat Magrib, terus setelah itu kita bisa belajar bareng. Belajarnya yang senang-senang saja, kok. Nanti kita belajar di sana, di tengah lapang, sambil dihiasi oleh terang bulan dan cahaya bintang....”
“Hore.... Nanti Ibu Guru cerita saja, ya.”
“Kita senang sekali, Ibu Guru datang....”
“Terima kasih, anak-anak, sudah menyambut Ibu Guru Alya dengan sangat baik.”
Kemudian anak-anak itu berlompatan riang menuju tenda darurat.
“Mereka sangat lucu dan menyenangkan sekali. Aku jadi betah di sini.” Aku kembali bersandar pada jok motor milik Kak Revan, membuat pria itu menoleh sekilas ke arahku.
“Kamu senang karena akan dijodohkan dengan Abang anak kecil tadi?”
Aku mengerutkan alis, kemudian senyum tipis terukir sempurna.
“Iya, kalau dikasih kesempatan aku mau, Kak. Lagian kamu kan enggak mau sama aku. Jadi, aku pilih yang mau saja sama aku. Tidak akan mengemis cinta pada seseorang yang tidak menginginkan kita dalam hidupnya.”
“Oh... nyindir ceritanya.”
“Emang pada kenyataannya, aku dibutuhkan, tapi juga disakiti.”
Kak Revan turun dari motornya dengan gerakan singkat, membuat motor sedikit bergoyang hingga aku pun ikut kehilangan keseimbangan. Aku hampir saja terjengkang sebelum lengan kokoh itu menahan bahuku.
“Menyakiti karena sebuah ketidaksengajaan, namun pada akhirnya aku juga yang menciptakan rasa aman.”
“Sudah Magrib, anak-anak menunggu,” tambahnya lagi, membuat kalimat bermakna yang dilontarkannya hilang sudah terbawa angin.
🌸🌸🌸
Aku mendongakkan kepala, mengikuti arah telunjuk salah satu anak yang menunjuk ke langit.
“Bu Guru, itu bintang apa? Kenapa paling terang?”
Aku tersenyum kecil. “Itu Sirius. Salah satu bintang yang paling terang kalau dilihat dari Bumi.”
Anak-anak ikut mendongak. Mata mereka berbinar, seolah menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada buku pelajaran yang sejak tadi terbuka di hadapan mereka.
“Bintangnya kerlap-kerlip, Bu....”
“Iya. Kalau kalian perhatikan baik-baik, cahayanya seperti berkedip.”
Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi bintang, aku kembali menyadari satu hal. Kebahagiaan mereka begitu sederhana.
Aku melirik sekilas pada Kak Revan. Pria itu tampak keluar dari tenda darurat lansia, stetoskop dan alat tensi darah berada di tangannya. Serta jas putih sudah melakukan pada tubuhnya. Ia berjalan menuju para ibu yang sedang memperhatikan anak-anak mereka belajar.
“Cek kesehatan dulu, ya, Bu....” ujar pria itu ramah.
Fokusku kembali pada anak-anak yang masih tampak antusias menatap langit.
“Bu Guru, kalau bintangnya jauh, kenapa cahayanya bisa sampai ke sini?”
Aku tersenyum. “Karena cahaya tidak menyerah untuk sampai kepada kita.”
Anak-anak terdiam.
“Jadi, kalau sekarang hidup kita sedang gelap karena musibah, kita juga jangan menyerah. Bisa jadi, sebentar lagi cahaya itu datang.”
“Yey... Bu Guru hebat!”
Suara tepuk tangan terdengar riuh seketika. Ibu-ibu yang turut memperhatikan juga ikut bertepuk tangan riang.
Sampai-sampai aku tidak menyadari jika Kak Revan sudah berada di sampingku beserta alat medisnya.
“Harus cek kesehatan juga?”
“Kamu manusia apa bukan?” Kak Revan menatapku sinis, kemudian melingkarkan alat tensi untuk melihat angka tekanan darah.
“Tekanan darahmu rendah,” ujar Kak Revan sambil mengecek ulang untuk memastikan.
“Masih rendah. Ada pusing atau mual?” Kak Revan memeriksa kedua bola mataku, denyut nadi, hingga suhu tubuh.
“Enggak ada, Kak. Aman.”
Kak Revan mengangguk singkat.
“Ya sudah, sebelum tidur minum vitamin. Pakai jaketnya!”
Aku mengangguk pelan kala sorot mata kami lagi-lagi bertabrakan.
“Dokter dan Bu Guru, berarti kami harus menyiapkan dua tenda untuk kalian beristirahat,” ujar salah satu warga.
Kak Revan melirikku sekilas.
“Tidak perlu, Bu. Satu tenda saja. Kami suami istri.”
“Oh, ya ampun. Pantas saja tadi datang berdua. Saya kira kalian ini masih pacaran. Ternyata Pak Dokter sudah menikah, toh....”
Kemudian kami dilanjutkan dengan obrolan ringan, dengan tawa renyah yang terdengar nyaring di udara, juga suara anak-anak yang tampak seru bermain.
Tiba-tiba saja, seorang warga datang berlari tergopoh-gopoh.
“Tanah longsor melebar sampai menimpa jalan. Mobil ambulans yang sedang mengevakuasi juga tidak bisa lewat. Perawat dan tim pun terjebak di sana....”
“Ya Tuhan.... Ini bagaimana?”
Para warga mulai panik.
“Aaakkk, tolong....”
“Air ketubannya pecah....” teriak beberapa ibu yang berada di dalam tenda.
Bersambung....