Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

## Bab 26: Sepenggal Kenangan, Undangan Pernikahan, dan Janji Pertemuan Terakhir

Menghapus riwayat obrolan di layar ponsel, membuang foto-foto digital di galeri, hingga menjual gitar akustik kesayangan ternyata hanyalah bagian luar dari proses melepaskan. Alee segera menyadari satu hal yang teramat mendasar: melupakan seseorang yang pernah mengisi sudut terdalam di jiwanya tidak pernah semudah menekan tombol delete di layar sentuh. Kenangan memiliki caranya sendiri untuk bertahan, merayap pelan di sela-sela pikiran tanpa pernah meminta izin terlebih dahulu.

Kini, Alee telah sepenuhnya kembali menjadi dirinya yang sebenarnya Alee yang ceria, tangguh, petantang-petenteng, dan mandiri. Namun, di sela-sela ruang sepi saat malam merayap naik dan kebisingan dunia mereda, sesekali ingatan tentang Rama masih datang tanpa diundang. Saat ia secara tidak sengaja mendengar dentangan gitar dari radio tua di warung dekat rumah, atau saat melihat seorang pria merapikan kacamata bening di tengah keramaian lalu lintas, nama Rama refleks melintas begitu saja di benaknya.

Alee tidak membenci atau memusuhi perasaan itu. Ia tidak lagi mengutuki hadirnya bayangan sang Ketua Kelas. Alee paham betul bahwa melupakan bukanlah proses yang mudah, serba instan, atau bisa selesai hanya dalam hitungan hari. Melupakan adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan keikhlasan, waktu, dan kedamaian hati untuk menerima bahwa apa yang pernah ada kini telah menjadi sejarah.

---

Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Alee dan Rama benar-benar tak lagi memegang kabar satu sama lain. Tidak ada lagi satu pun jembatan komunikasi yang menghubungkan kehidupan mereka. Rama menenggelamkan dirinya sepenuhnya dalam berbagai berkas administrasi, jadwal orientasi, dan persiapan padat menjelang perkuliahan di Universitas Garuda Indonesia (UGI). Sementara itu, Alee sibuk mengurus daftar ulang, berkas mahasiswa baru, serta persiapan mental untuk melangkah ke Universitas Nusa Bangsa (UNB). Jarak fisik, perbedaan kampus, dan kesibukan baru perlahan-lahan menjelmakan mereka menjadi dua orang asing yang berjalan di lintasannya masing-masing.

Suatu sore sebelum hari pengantaran undangan, Alee sempat pergi ke toko alat tulis di pusat kota bersama Nara untuk membeli amplop tambahan dan pita dekorasi. Saat menyusuri rak-rak buku, dari kejauhan Alee sempat melihat sosok pria jangkung berkacamata bening yang sangat familier sedang memilih buku teks Teknik di sudut toko.

Nara yang menyadari keberadaan Rama langsung menyenggol lengan Alee pelan. "Lee... itu Rama, kan?"

Alee terhenti sejenak, menatap punggung tegap Rama dari jarak beberapa meter. Tidak ada kecanggungan panik atau dorongan untuk bersembunyi. Alee hanya tersenyum tipis, lalu berbisik pelan pada Nara, "Iya, biar aja, Nar. Kita beli pita yang di sana aja." Alee memilih untuk tidak menyapa, membiarkan garis batas yang mereka sepakati tetap terjaga utuh. Momen berpapasan dari jauh itu menjadi bukti kecil bagi Alee bahwa hatinya kini sudah jauh lebih tenang dan stabil.

---

Hingga akhirnya, tepat satu bulan sebelum masa perkuliahan resmi dimulai, suasana rumah sederhana Alee mendadak berubah menjadi sangat riuh dan sibuk. Hari pernikahan Kak Maya dan Mas Vino sudah tinggal menghitung hari.

Di tengah kesibukan merapikan dekorasi, melipat kain seragam panitia, dan mengemas pernak-pernik suvenir di ruang tamu, Kak Maya mendadak melangkah mendekati Alee. Dari balik tas kertasnya, Kak Maya menyodorkan sebuah amplop undangan elegan berwarna marun berhiaskan pita emas yang tampak sangat anggun.

"Lee, nih! Sesuai janji Akang pas kita ketemu di pantai waktu itu," kata Kak Maya sambil mengedipkan matanya penuh arti, memamerkan senyum godanya yang khas. "Undangan khusus buat Pak Ketua Kelas kamu. Harus diantarkan langsung sama kamu ya, nggak boleh lewat paket!"

Alee mematung sejenak, menatap amplop tebal di tangannya dengan binar mata yang campur aduk. Nama Ramaditya Pratama tertulis rapi dengan tInta emas di bagian depan amplop tersebut. Alee menarik napas panjang, menetralkan desiran halus di dadanya, lalu menyunggingkan senyum tipisnya yang paling dewasa. Ia mengangguk pelan. Janji adalah janji, dan Alee bukanlah tipikal orang yang suka melarikan diri dari komitmen.

Dengan mengendarai motor matic-nya, Alee membelah jalanan kota di sore hari yang sejuk menuju kediaman Rama. Perasaan di dadanya tak lagi bergemuruh hebat atau dilingkupi rasa cemas seperti dulu; yang tersisa hanyalah kepasrahan, ketenangan, dan kedewasaan yang telah matang oleh waktu.

Sesampainya di depan pagar rumah Rama yang asri dan ditumbuhi pepohonan rindang, Alee menghentikan mesin motornya. Ia berdiri di samping motor, menetralkan suaranya, lalu memanggil pelan dari luar pagar.

"Permisi... Ram?"

Tak lama kemudian, pintu depan rumah terbuka. Sosok pria jangkung berkacamata bening yang sangat dikenalinya melangkah keluar. Rama mengenakan kaos polos santai, berjalan mendekati pagar dengan wajah yang awalnya tampak bingung. Namun, begitu matanya menangkap sosok Alee yang berdiri di pelataran rumahnya, Rama seketika terpaku di ambang pintu pagar. Ada kilatan rasa kaget, tak percaya, sekaligus binar rindu yang membias jernih dari balik lensa kacamatanya.

"Alee...?" panggil Rama halus, suaranya sedikit serak seolah memastikan bahwa gadis di depannya bukan sekadar ilusi.

"Halo, Pak Ketua," sapa Alee renyah, menyunggingkan senyum cantiknya dan berusaha menjaga nada suaranya setenang mungkin. Tanpa berlama-lama atau menunjukkan kecanggungan, Alee langsung menyodorkan amplop marun mewah itu ke hadapan Rama. "Ini... aku mau nganterin undangan nikahan Kak Maya. Sesuai janji dia ke kamu pas di pantai kemarin."

Rama menerima amplop tersebut dengan kedua tangannya. Jemarinya mengusap pelan permukaan kertas tebal itu, meresapi kehangatan yang tertinggal di sana, lalu perlahan mengangkat pandangannya untuk menatap Alee. Tatapan mata teduh itu masih sama seperti dulu tatapan yang pernah mengajari Alee tentang nada, harmoni, dan arti sebuah perhatian.

Sebelum Alee sempat melangkah mundur, ibu Rama tiba-tiba keluar dari teras rumah membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Ibu Rama yang ramah langsung menyapa Alee dengan hangat dan meminta Alee untuk duduk sejenak di kursi teras.

"Eh, Alee! Sini masuk dulu, Nak. Minum teh sebentar," sapa Ibu Rama tulus.

Alee sempat terpaku canggung, namun karena tidak ingin bersikap tidak sopan, ia akhirnya menerima tawaran tersebut. Di teras rumah yang teduh itu, Alee, Rama, dan Ibunya sempat berbincang ringan selama sepuluh menit. Ibu Rama mendoakan kelancaran acara pernikahan Kak Maya serta kelulusan Alee di UNB, sementara Rama lebih banyak mendengarkan sambil sesekali menambahkan percakapan dengan senyum hangatnya. Momen singkat di teras itu terasa begitu tenang dan matang sebuah interaksi keluarga yang wajar tanpa ada ketegangan sisa masa lalu.

Setelah pamit secara sopan pada Ibu Rama, Rama mengantarkan Alee sampai ke depan pagar rumah.

Alee menatap balik iris mata Rama lurus-lurus tanpa ada ragu sedikit pun. Dengan nada suara yang pelan namun teramat tegas dan jujur dari dasar hatinya, Alee menyampaikan kalimat penentunya:

"Datang ya, Ram," tutur Alee lembut. "Soalnya kalau kamu nggak datang... itu artinya kesempatan kita buat bertemu untuk terakhir kalinya."

Suara hembusan angin sore berbisik pelan di antara mereka berdua, melambaikan dedaunan di atas pagar rumah Rama. Rama menatap Alee lama sekali, menyerap setiap ketegaran, keikhlasan, dan kedewasaan yang terpancar jernih dari wajah gadis yang pernah mengisi hari-hari SMA-nya itu. Pria itu menyunggingkan senyumnya yang paling tulus, mengangguk mantap tanpa ada sedikit pun keraguan di raut wajahnya.

"Pasti dong, Alee," jawab Rama mantap dengan nada suara yang hangat dan menenangkan. "Aku pasti datang."

Alee menyunggingkan senyum leganya yang paling pasrah, mengangguk singkat sebagai tanda pamit, lalu kembali menyalakan mesin motornya. Saat kendaraan roda dua itu perlahan melaju meninggalkan pelataran rumah Rama, Alee tahu bahwa pesta pernikahan kakaknya nanti bukan sekadar perayaan bahagia keluarga, melainkan panggung penutup dan tempat berpisah yang paling indah bagi kisah mereka berdua.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!