Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Hilang dari Masa Lalu
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sunyi.
Liān Huā masih berdiri di tempatnya, menatap pria tua yang kini terbaring tanpa bergerak. Kata terakhirnya terus berputar di dalam pikirannya.
Putri.
Bukan Nona.
Bukan Liān Huā.
Putri.
Tangannya perlahan menyentuh liontin giok yang selalu ia kenakan sejak kecil.
Simbol awan yang terukir di permukaannya terasa semakin berat.
“Yang Mulia...” suara Xiǎo Yàn terdengar pelan.
Liān Huā tidak menjawab.
Tatapannya beralih kepada Yuán Zhēn.
Kaisar itu berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa pikirannya sedang bekerja jauh lebih cepat daripada siapa pun di ruangan itu.
“Jangan sentuh tubuhnya dulu,” kata Yuán Zhēn kepada para penjaga.
“Baik, Yang Mulia.”
Yuán Zhēn kemudian berjongkok di dekat pria tua itu.
Ia tidak menemukan senjata.
Tidak ada surat.
Tidak ada tanda pengenal.
Hanya sebuah benda kecil yang masih tergenggam di tangan pria itu.
Lencana giok bertuliskan satu karakter.
Yún.
Yuán Zhēn mengambilnya dengan hati-hati.
“Lù Shān.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Kenali benda ini?”
Lù Shān terdiam beberapa saat.
Kemudian ia mengangguk.
“Lencana Paviliun Yún.”
Liān Huā menoleh.
“Kalau begitu... dia benar-benar berasal dari Paviliun Yún?”
“Belum tentu,” jawab Lù Shān. “Tetapi orang yang memiliki lencana ini biasanya tidak mendapatkannya tanpa alasan.”
Yuán Zhēn berdiri.
“Dan pria itu memanggil Liān Huā sebagai putri.”
Tatapan Lù Shān berubah.
“Ya.”
“Apakah Paviliun Yún pernah melindungi seorang putri?”
Lù Shān tidak segera menjawab.
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Akhirnya ia berkata,
“Bukan seorang putri.”
Liān Huā mengernyit.
“Maksudmu?”
Lù Shān menatapnya.
“Paviliun Yún pernah diperintahkan untuk melindungi seorang anak yang identitasnya harus dihapus dari catatan kerajaan.”
Mata Liān Huā melebar.
Yuán Zhēn langsung menatap Lù Shān.
“Siapa yang memberikan perintah?”
“Paviliun Yún sendiri tidak pernah menyebut namanya.”
“Tidak mungkin.”
“Saya hanya mengatakan apa yang saya ketahui.”
Yuán Zhēn mendekat.
“Kalau begitu katakan semuanya.”
Lù Shān menarik napas.
“Bertahun-tahun lalu, Paviliun Yún menerima satu perintah. Seorang anak perempuan harus dibawa keluar dari ibu kota. Anak itu harus dijauhkan dari istana dan diberi kehidupan baru.”
Liān Huā merasakan dadanya sesak.
“Kenapa?”
“Karena ada orang-orang di istana yang ingin anak itu menghilang.”
Xiǎo Yàn menutup mulutnya.
“Apakah... anak itu Liān Huā?”
Lù Shān tidak menjawab.
Tetapi diamnya sudah cukup.
Liān Huā menatap liontin di lehernya.
“Kalau begitu... siapa aku sebenarnya?”
Lù Shān menggeleng.
“Saya tidak tahu nama asli Anda.”
“Tidak mungkin.”
“Saya hanya diperintahkan untuk memastikan Anda tetap hidup.”
Liān Huā menatapnya dengan mata penuh kebingungan.
“Bahkan kau tidak tahu?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau menjagaku selama ini?”
Lù Shān menundukkan kepala.
“Karena orang yang memberikan perintah kepada saya mengatakan satu hal.”
“Apa?”
“Jika suatu hari identitas Anda mulai terungkap, jangan biarkan siapa pun membawa Anda kembali ke istana sebelum orang yang tepat menemukan Anda.”
Yuán Zhēn terdiam.
Kalimat itu membuat sesuatu dalam pikirannya tersusun.
“Orang yang tepat?”
Lù Shān mengangguk.
“Ya.”
“Siapa?”
“Saya tidak tahu.”
Yuán Zhēn mengepalkan tangan.
“Semua orang sepertinya tahu sesuatu tentang dirinya kecuali dirinya sendiri.”
Liān Huā menundukkan kepala.
Selama ini ia selalu mengira dirinya hanyalah seorang perempuan biasa yang nasibnya berubah setelah memasuki istana.
Ternyata mungkin sejak awal hidupnya sudah diatur oleh rahasia yang jauh lebih besar.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar.
Seorang penjaga berlari masuk.
“Yang Mulia!”
“Ada apa?”
“Kami menemukan sesuatu di halaman luar.”
Penjaga itu menyerahkan sebuah kain kecil.
Merah.
Sama seperti kain yang sebelumnya ditemukan di dekat kediaman Liān Huā.
Namun kali ini terdapat sesuatu yang tertulis di atasnya.
Yuán Zhēn membukanya.
Hanya ada satu kalimat.
“Jangan mencari nama yang hilang. Cari malam ketika nama itu dihapus.”
Tatapan Yuán Zhēn mengeras.
Liān Huā mendekat.
“Malam ketika namaku dihapus...”
“Berarti ada catatan,” kata Yuán Zhēn.
“Catatan?”
“Setiap perubahan identitas kerajaan pasti meninggalkan jejak. Seseorang mungkin menghapus nama dari catatan resmi, tetapi tidak mungkin menghapus semua salinannya.”
Lù Shān tiba-tiba berkata,
“Ada satu tempat.”
Yuán Zhēn menoleh.
“Di mana?”
“Arsip lama kerajaan.”
Xiǎo Yàn tampak bingung.
“Bukankah arsip itu sudah ditutup bertahun-tahun lalu?”
“Benar.”
“Kenapa?”
Lù Shān memandang Yuán Zhēn.
“Karena sebagian besar dokumen dari tahun ketika Liān Huā masih kecil dinyatakan terbakar dalam sebuah kebakaran.”
Yuán Zhēn terdiam.
“Kebakaran?”
“Ya.”
“Siapa yang bertanggung jawab?”
Lù Shān menjawab pelan,
“Paman Agung Zhāng.”
Ruangan seketika membeku.
---
Di tempat lain, jauh dari kediaman Liān Huā, Paman Agung Zhāng menerima sebuah laporan.
Seorang bawahannya berlutut di hadapannya.
“Tuanku.”
“Bicara.”
“Orang tua itu gagal.”
Paman Agung Zhāng yang sedang memegang cangkir teh berhenti.
“Gagal?”
“Dia tidak sempat menyebut nama asli perempuan itu.”
Paman Agung Zhāng menghela napas lega.
Namun hanya sesaat.
“Lalu?”
“Lencana Paviliun Yún ditemukan.”
Cangkir di tangan Paman Agung Zhāng diletakkan perlahan.
“Siapa yang menemukannya?”
“Yang Mulia.”
Wajah Paman Agung Zhāng berubah.
“Tidak mungkin.”
“Yang Mulia juga mengetahui tentang arsip lama.”
Kali ini ekspresinya benar-benar berubah.
“Cari Xiǎo Lán.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
---
Di paviliun lain, Xiǎo Lán menerima kabar tersebut.
Ia berdiri di depan jendela.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak menunjukkan ketenangan.
“Arsip lama?”
Pelayan di belakangnya mengangguk.
“Ya, Nona.”
Xiǎo Lán menutup matanya.
Jika Yuán Zhēn menemukan arsip itu, semuanya bisa berakhir.
Bukan hanya rencana mereka.
Bukan hanya posisi Paman Agung Zhāng.
Tetapi juga rahasia yang selama bertahun-tahun mereka kubur.
Xiǎo Lán berbalik.
“Siapkan orang.”
“Untuk apa?”
“Pergi ke arsip lama.”
Pelayan itu ragu.
“Bukankah terlalu berbahaya?”
Xiǎo Lán tersenyum tipis.
“Justru karena berbahaya.”
Ia mengambil sebuah kotak kecil dari meja.
Di dalamnya terdapat potongan dokumen tua.
Pada bagian atasnya masih terlihat satu lambang kerajaan.
Dan di bawah lambang itu...
Ada nama yang sengaja dicoret.
Xiǎo Lán menatapnya lama.
“Selama nama ini tetap tidak terbaca,” bisiknya, “Liān Huā akan tetap menjadi Liān Huā.”
Namun ia tidak tahu...
Di saat yang sama, Yuán Zhēn telah memberikan perintah kepada pengawal istana.
“Buka kembali arsip lama.”
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
pintu tempat penyimpanan rahasia kerajaan mulai dibuka.
Di balik pintu itu terdapat ribuan dokumen.
Ribuan nama.
Ribuan rahasia.
Dan mungkin...
satu nama yang selama ini dicari oleh seluruh istana.
Nama asli Liān Huā.