Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Memilih Masa Depan
Pagi itu, Retna bangun lebih awal dari biasanya.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi cahaya matahari yang perlahan masuk melalui celah tirai.
Pikirannya kembali pada percakapannya dengan Nathan malam sebelumnya.
Tentang masa lalu.
Tentang pengkhianatan yang pernah dialami pria itu.
Tentang alasan Nathan memilih meninggalkan kehidupan lamanya dan menetap di Bali.
Dan terutama tentang satu hal yang terus berputar di kepalanya.
Nathan serius kepadanya.
Bukan sekadar tertarik.
Bukan sekadar merasa nyaman.
Nathan ingin membangun masa depan bersamanya.
Retna menarik napas panjang.
Selama beberapa hari terakhir, ia terus memikirkan hal tersebut.
Awalnya ia merasa takut.
Bahkan sangat takut.
Ia pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menikah lagi.
Setelah apa yang dilakukan Arman, Retna merasa pernikahan bukan lagi sesuatu yang ingin ia jalani.
Namun setelah mengenal Nathan, perlahan pemikirannya mulai berubah.
Bukan karena Nathan memaksanya.
Justru karena Nathan tidak pernah memaksanya.
Pria itu memberinya pilihan.
Memberinya waktu.
Bahkan ketika Retna mengatakan bahwa dirinya takut, Nathan tetap tinggal.
Retna tersenyum kecil.
"Mungkin aku memang tidak bisa mengubah masa lalu."
Ia menunduk.
"Tapi aku masih bisa memilih masa depanku."
Untuk pertama kalinya, Retna merasa bahwa ia tidak ingin terus hidup berdasarkan ketakutan.
Ia tidak ingin Arman menjadi alasan mengapa dirinya tidak pernah bahagia lagi.
Retna berdiri dan berjalan menuju cermin.
Ia memandang pantulan dirinya sendiri.
Dulu ia pernah menjadi seorang istri.
Pernikahannya gagal.
Namun kegagalan itu tidak berarti seluruh hidupnya juga harus gagal.
Ia berhak mencintai lagi.
Ia berhak bahagia lagi.
Dan mungkin...
Ia berhak mendapatkan rumah tangga yang jauh lebih baik.
Menjelang siang, Nathan pulang lebih cepat.
Begitu memasuki rumah, ia melihat Retna sedang duduk di ruang tengah.
Nathan tersenyum.
"Kamu tidak keluar?"
Retna menggeleng.
"Saya menunggu Mas."
Nathan sedikit terkejut.
"Menungguku?"
"Iya."
Nathan meletakkan barang bawaannya.
"Ada apa?"
Retna berdiri.
Wajahnya terlihat gugup.
"Mas masih ingat pembicaraan kita beberapa hari lalu?"
Nathan langsung tahu apa yang dimaksud.
Tentang hubungan serius.
Tentang pernikahan.
Nathan tidak menjawab.
Ia hanya menatap Retna, seolah takut berharap terlalu banyak.
Retna menarik napas.
"Saya sudah memikirkannya."
Nathan akhirnya bertanya pelan.
"Dan?"
Retna tersenyum tipis.
"Saya masih takut."
Nathan mengangguk.
"Aku tahu."
"Saya masih punya banyak luka."
"Aku tahu."
"Saya juga tidak bisa menjanjikan semuanya akan langsung mudah."
Nathan kembali mengangguk.
"Aku juga tidak meminta itu."
Retna menatap matanya.
"Tapi saya tidak ingin terus hidup dalam ketakutan."
Nathan terdiam.
Retna melanjutkan dengan suara pelan.
"Saya ingin mencoba."
Senyum Nathan perlahan muncul.
"Mencoba?"
Retna mengangguk.
"Menjalani hubungan ini dengan serius."
Nathan menatapnya cukup lama.
"Retna..."
"Saya tidak tahu apakah saya akan bisa langsung percaya sepenuhnya."
"Tidak apa-apa."
"Saya juga tidak tahu apakah saya bisa langsung berhenti takut."
"Aku tidak keberatan."
Retna tersenyum.
"Tapi saya mau belajar."
Nathan mendekat.
"Jadi..."
Retna menghela napas.
"Kalau Mas masih serius..."
Ia menatap Nathan.
"Saya menerima."
Nathan terdiam.
Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu yakin?"
Retna mengangguk.
"Saya yakin."
Nathan tersenyum.
Namun ia tidak langsung memeluk Retna.
Ia justru bertanya lagi.
"Ini bukan karena kamu merasa kasihan kepadaku?"
Retna tertawa kecil.
"Bukan."
"Karena takut kehilangan aku?"
"Bukan."
"Lalu?"
Retna menatapnya dengan lembut.
"Karena saya ingin memberi kesempatan pada diri saya sendiri untuk bahagia."
Nathan tersenyum.
"Kalau begitu..."
Ia mengulurkan tangannya.
"Mulai sekarang, kita jalani bersama."
Retna melihat tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya.
Jemari mereka bertaut.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cincin mahal.
Tidak ada janji besar.
Tetapi bagi Retna, genggaman tangan itu sudah cukup.
Ia akhirnya memilih masa depan.
Bukan karena masa lalunya tidak menyakitkan.
Tetapi karena ia tidak ingin masa lalu terus mengendalikan hidupnya.
Sementara itu, kehidupan Arman dan Claudia mulai berubah.
Pernikahan yang awalnya terlihat begitu indah perlahan mulai menunjukkan masalah.
Beberapa minggu setelah menikah, Arman mulai menghadapi persoalan dalam bisnisnya.
Salah satu proyek yang selama ini mereka andalkan mengalami masalah besar.
Ada pembayaran yang terlambat.
Beberapa klien mulai menunda kerja sama.
Bahkan salah satu pemasok meminta pembayaran lebih cepat karena khawatir perusahaan Arman mengalami kesulitan keuangan.
Arman menjadi semakin sering pulang larut.
Wajahnya yang biasanya terlihat santai mulai dipenuhi tekanan.
Suatu malam, Claudia menunggunya di ruang tengah.
"Mas baru pulang?"
Arman hanya mengangguk.
"Iya."
"Kamu kenapa?"
"Bisnis sedang bermasalah."
Claudia mengerutkan kening.
"Separah itu?"
Arman meletakkan tasnya.
"Ada beberapa pembayaran yang macet."
Claudia terdiam.
Namun belum sempat ia bertanya lebih jauh, ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari temannya.
Claudia membaca pesan tersebut.
Wajahnya langsung berubah.
Arman memperhatikan.
"Kenapa?"
Claudia menatap layar ponselnya.
"Investasiku."
"Kenapa dengan investasimu?"
"Temanku bilang ada masalah."
"Masalah apa?"
Claudia langsung menghubungi temannya.
Namun panggilan tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Claudia mulai panik.
Beberapa hari sebelumnya, ia memasukkan sejumlah uang ke dalam investasi berlian yang ditawarkan oleh seorang teman dekatnya.
Temannya mengatakan keuntungan investasi tersebut sangat besar.
Claudia yang tertarik dengan keuntungan cepat akhirnya ikut menanamkan uang.
Namun kini orang yang menawarkan investasi itu sulit dihubungi.
Bahkan kantor yang sebelumnya menjadi tempat mereka melakukan pertemuan sudah tidak dapat ditemukan.
Claudia menatap Arman dengan wajah pucat.
"Jangan-jangan..."
Arman langsung memahami kekhawatirannya.
"Kamu tertipu?"
Claudia tidak menjawab.
Air matanya mulai menggenang.
"Aku tidak tahu."
Arman mengusap wajahnya.
"Berapa banyak uang yang kamu masukkan?"
Claudia menyebutkan jumlahnya.
Arman langsung terdiam.
Jumlah tersebut tidak sedikit.
"Kenapa kamu tidak bilang dulu?"
"Aku pikir ini investasi yang aman."
"Kamu tidak memeriksa semuanya?"
Claudia mulai tersinggung.
"Aku juga tidak menyangka akan seperti ini!"
Pertengkaran kecil pun tidak terhindarkan.
Untuk pertama kalinya setelah menikah, mereka mulai menyadari bahwa kehidupan rumah tangga tidak selalu semudah yang mereka bayangkan.
Namun masalah belum berhenti sampai di situ.
Beberapa hari kemudian, Arman dan Claudia berkunjung ke rumah orang tua Arman.
Ibunya langsung menyambut mereka.
Namun pembicaraan yang awalnya biasa berubah ketika sang ibu mulai menyinggung soal anak.
"Kalian sudah berapa lama menikah?"
Claudia tersenyum kaku.
"Belum lama, Bu."
"Ibu tahu."
Bu Arman memandang Claudia.
"Tapi kalian harus mulai memikirkan anak."
Claudia terdiam.
Arman mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bu, jangan sekarang."
"Kenapa jangan sekarang?"
Ibunya justru semakin serius.
"Kalian sudah menikah. Apa lagi yang ditunggu?"
Claudia menunduk.
"Saya belum siap, Bu."
Bu Arman langsung menghela napas.
"Jangan terlalu banyak menunda."
Arman mulai tidak nyaman.
"Bu, kami baru menikah."
"Justru karena baru menikah."
Ibunya menatap Claudia.
"Ibu ingin segera punya cucu."
Claudia menggenggam ujung bajunya. Tekanan yang sejak tadi ia tahan akhirnya membuat dadanya terasa sesak.
"Bu, aku mengerti Ibu ingin punya cucu. Tapi anak bukan sesuatu yang bisa dipaksakan atau dikejar hanya karena kami sudah menikah."
Ruangan itu mendadak hening.
Bu Arman tampak terkejut.
"Kamu bilang Ibu memaksa?"
Claudia menggeleng, tetapi suaranya tetap terdengar tegas.
"Aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya ingin Ibu memahami bahwa aku dan Mas Arman yang akan menjalani semuanya. Kami juga punya kesiapan dan pertimbangan sendiri."
Arman menatap Claudia, lalu mengangguk pelan.
"Bu, Claudia benar. Kami belum siap membicarakan soal anak sekarang."
Wajah Bu Arman berubah masam.
"Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kalian."
"Aku tahu, Bu," jawab Claudia. "Tapi yang terbaik bagi kami mungkin tidak selalu sama dengan yang Ibu inginkan."
Bu Arman tidak menjawab lagi. Ia hanya mengalihkan pandangan, sementara suasana di ruang tamu menjadi canggung.
Claudia tersenyum tipis, tetapi hatinya mulai terasa tertekan.
Belum selesai dengan masalah investasi.
Belum selesai dengan persoalan bisnis Arman.
Kini ia harus menghadapi tuntutan dari keluarga suaminya.
Disaat sang ibu meninggalkan mereka berdua sebentar.Arman langsung menatap Claudia.
"Kamu kepikiran omongan Ibu?"
Claudia mengangguk.
"Aku tidak suka kalau terus ditanya soal anak."
"Aku akan bicara dengan Ibu."
Claudia menatapnya.
"Benarkah?"
"Iya."
Namun begitu mereka meninggalkan halaman rumah Bu Arman, Claudia tidak lagi mampu menahan kekesalannya.
Arman baru saja menyalakan mesin mobil ketika Claudia menoleh dengan wajah tegang.
"Mas bilang akan bicara dengan Ibu, tapi kapan?"
Arman terkejut mendengar nada suaranya.
"Claudia, tenang dulu."
"Tenang?" Claudia tertawa pendek, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. "Aku sudah berusaha tenang sejak tadi. Aku diam ketika Ibu terus menyinggung soal anak. Aku menahan diri ketika beliau seolah-olah menganggap aku sengaja menunda-nunda."
"Aku tahu."
"Tidak, Mas tidak tahu!" bentak Claudia. "Mas hanya duduk di sana dan bilang kami belum siap. Setelah itu apa? Mas membiarkan aku menghadapi semuanya sendirian!"
Arman menghela napas.
"Aku sudah bilang akan bicara dengan Ibu."
"Jangan hanya bilang!"
Suara Claudia semakin tinggi.
"Aku ingin Mas benar-benar bicara kepada Ibu. Katakan dengan jelas bahwa Ibu tidak boleh menuntut aku untuk cepat punya anak!"
Arman terdiam.
Claudia mengusap air mata yang mulai jatuh.
"Aku bukan mesin yang bisa langsung menghasilkan anak setelah menikah. Aku juga bukan perempuan yang harus membuktikan diri hanya karena sudah menjadi istri Mas."
"Claudia, aku tidak pernah menganggap kamu seperti itu."
"Tapi keluargamu menganggapku begitu!" serunya. "Dan Mas membiarkan mereka terus menekanku!"
Arman menggenggam kemudi lebih erat.
"Aku tidak membiarkan."
"Lalu kenapa Mas tidak langsung menghentikan Ibu tadi? Kenapa Mas hanya bicara pelan seolah-olah masalah ini tidak penting?"
Arman tidak segera menjawab.
Keheningan di dalam mobil justru membuat Claudia semakin terluka.
"Aku sedang menghadapi masalah investasi. Mas juga sedang menghadapi masalah bisnis. Sekarang aku harus menghadapi tekanan dari Ibu Mas juga. Aku sudah cukup pusing, Mas."
"Aku mengerti."
"Kalau benar mengerti, jangan minta aku bersabar tanpa batas."
Claudia menatapnya tajam.
"Mulai sekarang, Mas harus menjelaskan kepada Ibu bahwa aku tidak mau dituntut untuk cepat punya anak. Aku tidak mau setiap kali datang ke rumahnya, aku harus mendengar pertanyaan yang sama."
Arman menunduk sejenak.
"Aku akan bicara."
"Dan jangan menunggu sampai nanti."
Nada Claudia masih tinggi, tetapi kini terdengar lebih lelah daripada marah.
"Aku ingin Mas melakukannya sekarang. Telepon Ibu. Jelaskan semuanya."
Arman menatap ponselnya yang tergeletak di dekat tuas persneling.
"Claudia..."
"Telepon, Mas."
Arman menghela napas panjang, lalu mengambil ponselnya.
Namun sebelum ia sempat menekan nomor ibunya, Claudia kembali berkata,
"Kalau Mas terus membiarkan Ibu menuntutku seperti itu, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dalam pernikahan ini."
Tangan Arman berhenti.
Ia menatap Claudia dengan wajah terkejut.
Claudia sendiri tampak menyesal telah mengucapkan kalimat itu, tetapi emosinya sudah terlanjur pecah.
"Aku tidak ingin bertengkar dengan Mas," katanya lebih pelan. "Aku hanya ingin Mas berdiri di pihakku. Aku ingin merasa bahwa aku punya pasangan, bukan menghadapi semuanya sendirian."
Arman menatap wajah istrinya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa masalah mereka bukan hanya tentang anak.
Claudia merasa tidak dilindungi.
Sementara dirinya terlalu sering memilih diam demi menghindari konflik dengan ibunya.
"Aku akan bicara dengan Ibu malam ini," ujar Arman akhirnya.
Claudia mengusap pipinya.
"Pastikan Ibu benar-benar mengerti."
"Aku janji."
Namun Claudia tidak langsung menjawab.
Ia memalingkan wajah ke arah jendela, sementara mobil mulai bergerak meninggalkan rumah orang tua Arman.
Di antara mereka, suasana menjadi dingin.
Janji Arman belum tentu cukup untuk menghapus luka yang baru saja terbuka.
Dan tanpa mereka sadari, masalah kecil yang muncul setelah pernikahan itu perlahan akan menjadi lebih besar.
Bisnis Arman mulai goyah.
Investasi Claudia terancam hilang.
Dan tekanan keluarga tentang anak mulai memasuki kehidupan rumah tangga mereka.
Sementara di tempat lain, Retna justru sedang membuka lembaran baru bersama Nathan.
Dua kehidupan berjalan ke arah yang berbeda.
Retna mulai belajar percaya kembali.
Sedangkan Arman dan Claudia mulai menyadari bahwa kehidupan setelah pernikahan tidak selalu seindah pesta yang mereka rayakan.
Dan tanpa mereka ketahui...
Jalan hidup Retna dan Arman yang dulu pernah bersatu kini benar-benar telah berpisah.
Retna memilih menatap ke depan.
Sementara Arman mulai berhadapan dengan akibat dari pilihan hidupnya sendiri.