Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran
Awan kelabu menggelayut di atas langit Jakarta, membawa rintik hujan gerimis yang membasahi kaca jendela mobil MPV mewah Adrian sepanjang perjalanan pulang. Di kursi belakang, Adrian Mahendra duduk bersandar dengan tatapan mata yang kosong menatap ke luar jendela. Pikirannya tidak lagi tertuju pada berkas-berkas audit perusahaan. Bayangan wajah Clarissa Alexander dan tatapan penuh intrik wanita itu di ruang kerjanya tadi siang terus berputar di kepalanya.
Adrian tahu betul tipe wanita seperti Clarissa. Mantan kekasihnya itu adalah perpaduan antara ambisi yang egois dan kelicikan yang dibungkus oleh keanggunan sosialita kelas atas. Kehadirannya sebagai kepala negosiator Vanderbilt Capital bukan sekadar urusan bisnis. Wanita itu jelas berniat menyusup ke dalam hidupnya dan mencari celah untuk menghancurkan hubungannya dengan Naura.
Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas pangkuan. Dia tidak takut pada ancaman bisnis Clarissa yang bisa membatalkan investasi lima triliun tersebut. Baginya, uang bisa dicari dan proyek bisa dialihkan. Namun, dia sangat takut jika kehadiran Clarissa akan melukai hati Naura atau membuat istrinya yang rapuh itu kembali merasa tidak aman.
"Tuan Adrian, kita sudah sampai," suara Dimas dari kursi depan memecah lamunan Adrian saat mobil mereka perlahan berbelok memasuki gerbang besi menjulang tinggi mansion pribadi mereka.
Adrian merapikan kancing jasnya yang tidak berantakan, lalu turun dari mobil dengan langkah tegap. Begitu melangkah masuk ke dalam lobi utama mansion yang hangat, aroma harum kue bolu panggang pandan buatan Naura langsung menyapa indra penciumannya. Ketegangan di bahu kokoh sang CEO seketika mencair tanpa sisa.
Naura berjalan keluar dari arah dapur dengan celemek bunga yang masih melingkar di pinggang rampingnya. Wajah cantiknya tampak begitu cerah saat melihat suaminya telah pulang tepat waktu. "Mas, Adrian! Kamu sudah pulang. Kebetulan sekali, aku baru saja selesai membuat kue bolu kesukaan Ibu."
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah cepat mendekati Naura, lalu dengan gerakan kekar yang sangat posesif dan sarat akan emosi mendalam, dia langsung menarik tubuh ramping Naura masuk ke dalam dekapan dadanya yang hangat. Dia memeluk Naura sangat erat, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher halus istrinya, menghirup dalam-dalam aroma harum tubuh Naura yang selalu berhasil menjadi penenang jiwanya.
Naura tersentak kecil, kedua tangannya yang masih memegang lap dapur terangkat kaku sebelum akhirnya melingkar di punggung kokoh suaminya. Dia bisa merasakan ada getaran kecemasan yang tidak biasa dari pelukan Adrian sore ini. "Adrian... ada apa? Apakah terjadi masalah besar di kantor hari ini?"
Adrian merenggangkan pelukannya perlahan, menatap mata jernih Naura dengan binar mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus komitmen. Dia menggandeng jemari tangan Naura dengan erat. "Ikut Mas ke kamar atas, Sayang. Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu secara privat."
Mereka berdua berjalan beriringan menaiki tangga menuju kamar tidur utama di lantai dua. Setelah pintu kayu jati yang besar itu tertutup rapat dan dikunci oleh Adrian, keheningan yang intim namun menegangkan seketika menyelimuti ruangan.
Adrian menuntun Naura untuk duduk di tepi ranjang king size yang empuk, sementara dia sendiri memilih untuk berlutut di lantai di hadapan Naura—sebuah posisi yang sangat membumi dan penuh kepasrahan, membuktikan bahwa di dalam kamar ini, dia bukanlah CEO agung Mahendra Group yang ditakuti, melainkan seorang suami yang sedang menjaga hati istrinya.
Adrian menggenggam kedua tangan Naura dengan lembut. menatap lurus ke dalam manik mata bulat istrinya tanpa ada satu pun rahasia yang disembunyikan.
"Naura... hari ini di kantor pusat, perwakilan dari Vanderbilt Capital, investor utama proyek resort Bali kita, telah tiba di Jakarta," Adrian menjeda kalimatnya sejenak, menelan ludah dengan berat. "Kepala negosiator yang dikirim oleh mereka... adalah Clarissa Alexander."
Naura mengerutkan dahi kecilnya yang halus. Nama itu terdengar asing baginya. "Clarissa Alexander? Siapa dia, Mas? Apakah dia investor yang sulit diajak bekerja sama?"
Adrian menghela napas pendek, meremas lembut jari-jari Naura untuk menyalurkan kekuatan sebelum menjatuhkan kejujuran yang sesungguhnya. "Dia adalah mantan kekasihku dari masa kuliah di London dulu, Naura. Wanita dari masa laluku sebelum Mas bertemu dan menikahimu."
Mendengar kata 'mantan kekasih', jantung Naura seketika berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan. Rasa tidak nyaman yang samar mendadak menggelitik dadanya. Logika nya langsung menangkap bahwa kehadiran wanita dari masa lalu Adrian ini bukanlah sebuah kebetulan yang sederhana.
"Mantan kekasihmu?" suara Naura mencicit kecil, binar matanya perlahan menunduk menatap tangan mereka yang saling bertautan. "Lalu... apa yang terjadi di kantor tadi, Mas?"
Adrian langsung menangkup pipi merona Naura dengan satu tangan hangatnya, memaksa Naura kembali mendongak untuk menatap kejujuran di matanya. "Dia mencoba memprovokasiku, Naura. Dia menghina latar belakangmu dan menuduh pernikahan kita hanya sandiwara kontrak demi posisi CEO. Dia pikir dia bisa menggunakan investasinya untuk menekanku agar kembali padanya."
Kilat kemarahan kembali terpancar dari mata elang Adrian saat mengingat kelakuan Clarissa. "Tapi Mas langsung menegaskan batasannya. Mas menepis tangannya dan mengancam akan membatalkan proyek lima triliun itu jika dia berani mengusik namamu lagi seujung kuku pun. Aku memilih untuk jujur padamu sore ini karena aku tidak mau kau mendengar kehadiran wanita itu dari mulut orang lain atau media gosip. Aku tidak mau ada satu pun kesalahpahaman yang merusak kepercayaan di antara kita, Naura."
Mendengar pengakuan jujur dan tindakan protektif Adrian yang begitu ekstrem sampai rela mempertaruhkan proyek triliunan rupiah demi membela kehormatannya, rasa cemas yang sempat merayap di dada Naura seketika melebur, digantikan oleh rasa hangat yang luar biasa manis yang memenuhi seluruh rongga dadanya.
Naura menatap mata elang Adrian yang kelam, melihat bayangan dirinya sendiri yang terkunci penuh dengan cinta di sana. Air mata kebahagiaan hampir saja menetes di sudut matanya. Dia mengulurkan kedua tangan lembutnya, menangkup balik wajah tampan Adrian yang kaku karena cemas menunggu responsnya.
"Mas... terima kasih karena sudah memilih untuk jujur padaku," ucap Naura dengan seulas senyuman paling manis dan tulus yang bisa dia berikan. "Aku tidak marah. Aku justru merasa menjadi wanita paling beruntung karena suamiku begitu menghargai pernikahan ini. Aku mempercayaimu sepenuhnya, Mas. Jika Mas bilang masa lalu itu sudah mati, maka aku akan memegang ucapanmu."
Mendengar jawaban bijak dan penuh kepercayaan dari bibir ranum Naura, kelegaan yang luar biasa besar seketika melingkupi dada sang CEO. Ketegangan di wajah tampannya runtuh sepenuhnya. Adrian tersenyum sangat menawan, sebuah senyuman tulus yang memancarkan rasa syukur yang mendalam.
Pria posesif itu berdiri dari posisi berlututnya, lalu merundukkan tubuh besarnya untuk mengunci Naura dalam rangkulan hangatnya di atas ranjang. Dia memeluk Naura dengan sangat erat, mengecup pelipis dan kening istrinya berkali-kali dengan penuh dengan gairah cinta yang membara.
"Terima kasih atas kepercayaanmu, Sayang," bisik Adrian serak di dekat telinga Naura, menyematkan panggilan manisnya yang selalu berhasil membuat jantung Naura berdegup liar. "Clarissa mungkin akan sering berada di Jakarta selama beberapa bulan ke depan untuk urusan proyek, tapi Mas bersumpah demi hidup Mas... tidak akan kubiarkan dia mendekatimu atau merusak kebahagiaan kita seujung rambut pun. Kau adalah satu-satunya Nyonya di dalam hidup dan hatiku seumur hidupku."
Naura melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Adrian, memejamkan matanya dengan damai di dalam dekapan perlindungan suaminya. Kejujuran Adrian sore ini telah memperkuat fondasi cinta mereka sebelum badai dari Clarissa benar-benar melancarkan aksi pertamanya di ibu kota. Di bawah temaram lampu kamar utama mansion yang hangat, ikatan pernikahan mereka kembali teruji dan terbukti jauh lebih kuat daripada bayang-bayang masa lalu mana pun yang mencoba merusaknya.