Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Iba Yang Tinggi
Grace memutar bola matanya dengan malas. Dia menatap Kevin seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
"Bukankah sudah kukatakan tadi malam bahwa aku tidak membutuhkan bantuanmu?" Grace menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Simpan saja bantuanmu itu. Aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri."
Setelah mengatakan itu, Grace berbalik, berniat meninggalkan Kevin. Namun, suara pria itu kembali menghentikan langkahnya.
"Tapi kau membutuhkan bantuanku, Grace!"
Mendengar hal itu, langkah Grace seketika terhenti.
Kevin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, kemudian menatap punggung wanita itu dengan tenang.
"Aku tahu banyak hal tentangmu," kata Kevin.
Mendengar perkataan tersebut, mata Grace terbelalak. Dia langsung membalikkan tubuh. Untuk sesaat, dia hanya bisa menatap Kevin tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kevin balas menatap Grace. Ada sesuatu dalam sorot mata wanita itu yang membuatnya semakin yakin bahwa dugaannya tidak sepenuhnya salah.
Sebelum menyetujui permintaan klien, tentu saja Kevin selalu memeriksa latar belakang keluarga klien tersebut terlebih dahulu. Hal itulah yang membuat Kevin sempat memandang Grace sebelah mata.
Awalnya, Kevin mengira Grace hanyalah wanita kaya yang angkuh, terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, dan tidak pernah mau mengalah kepada siapa pun. Namun, pandangannya mulai berubah sejak pertemuan pertama mereka.
Grace memang terlihat dingin dan sulit didekati. Akan tetapi, di balik sikapnya yang keras, Kevin melihat sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar kesombongan.
Terlebih lagi, setelah Norman menyerahkan ponselnya tadi malam, Kevin sempat membaca pesan yang masuk tanpa diketahui pria itu.
Kevin tidak bisa dikelabui oleh Norman, meskipun pria itu tidak jujur tentang teror yang dialaminya semalam.
Dari isi percakapan yang sempat dibacanya, Kevin mulai memahami bahwa ada sesuatu yang sedang Grace rencanakan. Wanita itu menginginkan uang, tetapi bukan semata-mata untuk memperkaya dirinya sendiri. Ada motif lain yang belum berhasil dia pahami.
Kevin terus berusaha menyelami isi pikiran Grace. Semakin dia memikirkannya, semakin besar pula rasa penasarannya terhadap wanita itu. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik pernikahan Grace dan Norman.
Awalnya, Kevin hanya merasa iba kepada Grace. Dia menganggap wanita itu sebagai seseorang yang terjebak dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Namun, entah sejak kapan, rasa iba itu mulai bercampur dengan perasaan lain yang lebih sulit dijelaskan.
Setiap kali menatap Grace, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa berbeda. Dan Kevin mulai menyadari bahwa ketertarikannya kepada wanita itu bukan lagi sekadar rasa ingin tahu.
"Jangan menatapku seperti itu!" bentak Grace ketika menyadari Kevin terus memperhatikannya.
Kevin mengangkat sebelah alis. "Seperti apa?"
"Jangan berpura-pura tidak mengerti!" Grace mendengus kesal. "Aku tidak peduli dengan apa yang kau ketahui tentangku. Itu bukan urusanmu!"
Setelah mengatakan itu, Grace kembali berbalik. Namun, Kevin dengan cepat menahan lengannya.
"Tunggu dulu."
Grace langsung menoleh dengan tatapan tajam. Dia menarik lengannya hingga terlepas dari genggaman Kevin.
"Jangan menyentuhku sembarangan!" kata Grace.
Kevin mengembuskan napas pelan. Dia tidak ingin membuat wanita itu semakin marah, tetapi ada sesuatu yang harus disampaikannya.
"Kenapa kau tidak peduli?" tanyanya.
Grace mengerutkan kening. "Peduli apanya?"
"Kau terus mengatakan bahwa kau tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Kau juga tidak peduli jika orang yang kau teror mengetahui apa yang sedang kau lakukan? Apa kau tidak merasa takut kepadaku? Aku ini peretas yang diminta suamimu untuk mengungkap identitas si peneror, yang tak lain adalah istrinya sendiri." Kevin berhenti sejenak, menatap Grace lekat-lekat. "Kau memang tidak peduli, tetapi aku peduli kepadamu."
Grace terdiam sesaat sebelum tertawa sinis.
"Peduli kepadaku?" ulangnya dengan nada tidak percaya.
Grace menggelengkan kepala, lalu menatap Kevin dengan sangat kesal. "Sebenarnya, apa maumu? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran laki-laki!"
Kevin mengernyit tipis.
Grace tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. "Kalian selalu seperti ini! Tiba-tiba menunjukkan ketertarikan, kemudian bertingkah seolah-olah memahami segalanya tentangku. Padahal, kalian bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!"
Wajah Grace memerah menahan amarah. Dia mengepalkan kedua tangannya, berusaha mengendalikan emosinya yang mulai meluap.
"Aku tidak pernah meminta siapa pun untuk mengasihaniku. Aku juga tidak peduli jika identitasku terbongkar! Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Jadi, berhentilah mencampuri urusanku!" kata Grace.
Kevin terdiam. Dia memperhatikan wajah Grace yang dipenuhi kemarahan. Wanita itu tampak begitu yakin bahwa dirinya tidak membutuhkan siapa pun untuk menghadapi semua masalahnya. Namun, justru keyakinan itulah yang membuat Kevin semakin ingin membantunya.
"Aku mengerti," ujar Kevin akhirnya.
Grace menatap Kevin dengan penuh kecurigaan.
Kevin mengembuskan napas sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku memang tidak seharusnya ikut campur dalam urusan rumah tanggamu. Aku juga tidak berhak memaksamu menerima bantuanku."
Kevin berhenti sejenak, lalu kembali menatap Grace.
"Tetapi, setelah melihat apa yang terjadi, aku tahu kau juga merupakan korban dalam semua ini. Aku hanya ingin membantumu agar kau tidak harus menghadapi semuanya sendirian."
Untuk sesaat, Grace tidak langsung menjawab. Bukan karena tersentuh oleh perkataan Kevin, melainkan karena dia merasa semakin kesal mendengar pria itu berbicara seolah-olah memahami keadaannya.
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" tegas Grace. Tatapannya kini berubah dingin.
"Biarkan aku menyelesaikan semuanya dengan caraku sendiri. Aku akan membuat keluarga Norman hancur berantakan tanpa bantuan siapa pun!" lanjut Grace.
Setelah melontarkan kalimat itu, Grace melewati Kevin begitu saja.
Kevin tidak berusaha menahannya lagi. Dia hanya mengikuti langkah wanita itu dengan pandangan matanya.
Namun, sebelum Grace benar-benar menjauh, suara Kevin kembali terdengar.
"Grace!"
Wanita itu tidak berhenti.
"Jika kau bersikeras tidak membutuhkan bantuanku, apa kau pikir aku tidak akan membongkar identitasmu kepada Norman?"
Langkah Grace mendadak melambat. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya yang semula berada di sisi tubuh perlahan mengepal.
'Bagaimana ini?' batin Grace.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, Grace benar-benar merasa gelisah. Dia tidak menyangka Kevin akan mengucapkan kalimat tersebut secara terang-terangan.
Sebenarnya, apa yang diinginkan pria itu?
Atau Kevin hanya sedang mencoba menakut-nakutinya?
Grace ingin berbalik dan meminta penjelasan. Namun, dia segera mengurungkan niatnya.
Tidak. Dia tidak boleh menunjukkan kelemahannya di hadapan Kevin!
Grace kembali melangkah, kali ini dengan langkah yang lebih cepat. Dia tidak menoleh sedikit pun sampai sosoknya menghilang di ujung lorong.
Kevin masih berdiri di tempat. Namun, tatapannya masih mengikuti kepergian Grace, sementara kedua tangannya perlahan mengepal di dalam saku celana.
"Benar-benar keras kepala," gumamnya pelan.
Sudut bibir Kevin terangkat tipis.
Anehnya, sikap Grace yang sulit dihadapi itu justru membuatnya semakin tertarik.
***
Beberapa jam kemudian.
Grace telah kembali ke rumahnya. Wanita itu duduk di sofa ruang keluarga dengan sebuah laptop terbuka di hadapannya. Tatapannya tertuju pada layar, sementara jari-jarinya bergerak lincah mengoperasikan perangkat tersebut.
Di layar laptop, sebuah video telah siap disebarkan. Video yang memperlihatkan Edmund Turner sedang berada dalam situasi yang tidak pantas bersama seorang wanita. Namun, wajah keduanya telah diburamkan sehingga tidak ada yang bisa mengenali identitas mereka secara langsung.
Grace menyandarkan punggungnya ke sofa, kemudian mengangkat sebelah alis.
"Baiklah, Tuan Edmund. Sekarang giliranmu."
Senyuman tipis terukir di bibir Grace.
Tanpa ragu, Grace menyebarkan video tersebut melalui sebuah akun anonim. Dia juga menambahkan keterangan singkat yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian publik. Dalam keterangan itu, disebutkan bahwa salah satu orang dalam video tersebut merupakan anggota keluarga Turner.
Tidak membutuhkan waktu lama, unggahan itu mulai menyebar luas.
Satu akun membagikannya kepada akun lain. Dalam hitungan menit, video tersebut telah menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial.
Kolom komentar pun mulai dipenuhi berbagai spekulasi.
"Astaga, itu benar-benar anggota keluarga Turner?"
"Siapa pria yang ada di dalam video itu? Kenapa wajahnya diburamkan?"
"Jangan-jangan Tuan Norman lagi? Bukankah keluarga itu sedang terkena masalah video?"
"Tunggu dulu, bagaimana kalau itu Tuan Edmund Turner?"
"Benar juga! Kita sudah melihat skandal Tuan Henry, Jacob, dan Norman. Jangan-jangan sekarang giliran Tuan Edmund!"
Perdebatan semakin ramai. Banyak orang penasaran dengan identitas pria dalam video tersebut. Terlebih lagi, Edmund Turner belum pernah terseret dalam skandal seperti yang dialami anggota keluarga Turner lainnya.
Grace membaca beberapa komentar yang bermunculan. Sesekali, dia tertawa kecil ketika melihat netizen mulai berspekulasi tentang identitas pria tersebut.
"Bagus," gumamnya puas sambil menutup laptop, lalu mengambil ponsel yang tergeletak di meja.
Namun, saat hendak memeriksa unggahan tersebut sekali lagi, perkataan Kevin tadi kembali terngiang di benaknya.
"Apa kau pikir aku tidak akan membongkar identitasmu kepada Norman?"
Senyuman di bibir Grace perlahan menghilang. Dia menatap layar ponsel dengan kening berkerut.
'Bagaimana kalau Kevin benar-benar membongkar identitasku kepada Norman?'
Grace menggigit bibir bawahnya. Selama ini, dia telah mempersiapkan berbagai kemungkinan. Dia tahu bahwa suatu saat nanti Norman dan keluarganya mungkin akan mulai mencurigainya.
Namun, dia tidak menyangka Kevin akan menjadi orang yang begitu cepat mengetahui rahasianya.
'Apakah aku harus melakukan sesuatu sebelum Kevin bertindak?'
Grace terdiam beberapa saat. Dia tidak boleh membiarkan keadaan berbalik merugikannya. Setidaknya, sampai saat ini, identitasnya masih aman.
Norman belum menghubunginya. Tidak ada tanda-tanda bahwa suaminya mengetahui siapa yang menyebarkan video Edmund.
Namun, Grace tidak ingin hanya duduk diam dan menunggu sesuatu yang buruk terjadi. Dia harus memastikan semuanya tetap berada dalam kendalinya.
"Aku harus pergi ke kantor Norman," gumam Grace akhirnya.
Grace segera berdiri dari sofa, mengambil tasnya, kemudian berjalan menuju kamar untuk mengganti pakaian.
Jika Kevin benar-benar berniat mengungkapkan rahasianya, Grace harus mengetahui sejauh mana pria itu telah melangkah. Dan dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak rencananya.
Tidak lama kemudian, Grace tiba di kantor Norman. Dia keluar dari mobil, lalu berjalan memasuki gedung dengan langkah mantap. Setelah menyapa beberapa karyawan yang mengenalinya, Grace langsung menuju ruang kerja suaminya.
Kedatangannya kali ini tanpa pemberitahuan.
Sejak Norman ketahuan berselingkuh, Grace tidak pernah menghubunginya terlebih dahulu atau memberitahukan kedatangannya. Dia ingin menemui pria itu secara langsung, sekaligus memastikan apakah ada sesuatu yang perlu dikhawatirkannya.
Sesampainya di depan pintu ruang kerja Norman, Grace meraih gagangnya. Dia memutarnya perlahan, lalu mendorong pintu tersebut hingga terbuka. Namun, baru beberapa langkah memasuki ruangan, Grace mendadak membeku.
Matanya membelalak. Di hadapannya, Norman terlihat berada di atas sofa dengan Mona yang menindih tubuhnya. Kedua tangan Mona bertumpu di sisi tubuh Norman, sementara wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat.
Grace tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum dia datang. Dia juga tidak melihat apakah keduanya sempat berciuman. Namun, pemandangan itu sudah cukup membuat jantungnya berdegup kencang.
Sementara itu, Norman yang menyadari kedatangan istrinya langsung membelalakkan mata.
"Grace?!"
Norman buru-buru mengangkat tubuhnya, membuat Mona ikut tersentak dan segera menjauh.
Norman menatap Grace dengan wajah panik. Dia bahkan tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.
"Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa menjelaskan semuanya!"
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣