Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Seminggu berlalu sejak percakapan terbuka dengan Ratih. Anyara semakin nyaman dengan rutinitas barunya—bekerja di butik pada siang hingga malam, kemudian pulang untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan tugas rumah yang masih ia bagi dengan Ratih yang kini jauh lebih kooperatif.
Suatu malam sepulang kerja, Anyara mendapati Juned sedang duduk termenung di ruang tengah, ponselnya tergeletak di meja dengan layar menyala—sebuah kelalaian yang jarang terjadi belakangan ini, mengingat Juned biasanya selalu menjaga ponselnya dengan hati-hati sejak kecurigaan Anyara mulai muncul.
"Mas, kenapa duduk sendirian di sini? Nggak nonton TV?" tanya Anyara, meletakkan tasnya di sofa.
Juned tersentak, buru-buru meraih ponselnya, tapi terlambat—Anyara sempat melihat sekilas layar yang menampilkan percakapan dengan kontak bernama "Sinta HRD", isi pesannya terlihat sebagian: "Mas, aku takut ketauan. Gimana kalau nanti kepergok orang kantor lagi..."
Anyara berhenti sejenak, jantungnya berdegup kencang, tapi ia memutuskan untuk tidak langsung bereaksi berlebihan, mengingat saran Hans untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru mengungkap semua yang ia ketahui.
"Chat sama siapa, Mas?" tanya Anyara, berusaha terdengar santai.
"Temen kantor lagi, ada masalah kerjaan yang perlu didiskusiin," jawab Juned cepat, mengunci layarnya rapat-rapat.
Anyara mengangguk pelan, memilih untuk tidak mendesak lebih jauh, meski dalam hati ia mencatat baik-baik nama kontak "Sinta HRD" yang baru saja terkonfirmasi keberadaannya, sekaligus indikasi bahwa hubungan itu masih berlangsung, bahkan di tengah usaha Juned menunjukkan perubahan sikap yang lebih baik kepadanya.
Malam itu, setelah Juned tertidur, Anyara duduk di teras belakang, menceritakan kejadian itu kepada Hans dengan perasaan yang campur aduk antara marah dan kecewa, meski tidak lagi sehancur seperti saat pertama kali ia mengetahui kebenaran beberapa minggu lalu.
"Pak, tadi saya liat sendiri Mas Juned chat sama Sinta. Ternyata bener masih lanjut."
"Astaga, Mbak. Padahal dia udah janji berubah, tapi ternyata masih aja."
"Saya udah nggak kaget lagi sih, Pak. Malah rasanya jadi makin yakin buat lanjutin proses hukum yang udah saya rencanain sama Pak Bram."
"Itu bagus, Mbak. Semakin jelas polanya, semakin kuat juga posisi Mbak nanti. Mbak udah rencana kapan mau ambil langkah selanjutnya?"
"Rencananya saya mau ketemu Pak Bram lagi minggu ini, buat mulai proses lebih lanjut. Tapi saya masih mikirin, kapan waktu yang tepat buat ngomong ke Mas Juned soal keputusan final saya."
"Menurut saya, Mbak nggak perlu buru-buru ngomong sebelum semua persiapan hukumnya matang. Biar Mbak nggak keburu diintimidasi atau dibujuk lagi buat berubah pikiran."
Anyara mengangguk membaca saran itu, merasa semakin mantap dengan rencana yang mulai tersusun rapi di kepalanya.
Keesokan harinya, Anyara menghubungi Pak Bram untuk menjadwalkan pertemuan lanjutan. Kali ini, pertemuan dilakukan pada hari kerja, di sela jam istirahat butik yang kebetulan berdekatan dengan kantor Pak Bram.
"Bu Anyara, gimana perkembangannya? Ada info baru?" tanya Pak Bram, mempersilakan Anyara duduk.
Anyara menceritakan temuan terbarunya soal Sinta, serta chat yang sempat ia lihat sekilas di ponsel Juned. "Jadi, Pak, saya rasa saya udah siap buat mulai proses hukumnya. Saya nggak mau nunggu lebih lama lagi."
Pak Bram mengangguk, mencatat informasi baru itu. "Baik, Bu. Kalau begitu, langkah pertama yang perlu kita siapkan adalah menyusun surat gugatan cerai, lengkap dengan alasan perselingkuhan yang didukung bukti-bukti yang sudah Ibu kumpulkan. Apakah Ibu sudah menyiapkan semua bukti dalam bentuk yang rapi—tangkapan layar, struk, catatan transaksi?"
"Sudah, Pak, semuanya saya simpan di folder khusus, lengkap dengan tanggal dan keterangannya."
"Bagus. Selanjutnya, kita perlu membahas soal domisili gugatan, karena ini akan menentukan pengadilan agama mana yang akan menangani kasus Ibu. Apakah Ibu berencana tetap tinggal di rumah mertua setelah proses ini berjalan, atau ada rencana pindah?"
Anyara terdiam sesaat, memikirkan pertanyaan itu dengan hati-hati. "Saya rasa saya perlu cari tempat tinggal sendiri, Pak, meski mertua saya udah bilang bakal tetap anggap saya keluarga. Tapi saya nggak enak kalau harus tinggal serumah sama Mas Juned setelah proses cerai berjalan."
"Itu keputusan yang bijak, Bu. Nanti saya bisa bantu kasih rekomendasi soal pengurusan tempat tinggal sementara juga, kalau Ibu butuh."
Sepulang dari pertemuan itu, Anyara merasa lebih ringan, meski di sisi lain juga menyadari bahwa keputusan besar yang akan ia ambil ini akan membawa banyak perubahan signifikan dalam hidupnya—mulai dari tempat tinggal, status pernikahan, hingga hubungannya dengan keluarga besar Juned yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Ia menghubungi Hans untuk memberi kabar perkembangan terbaru. "Pak, saya udah mulai proses sama Pak Bram. Rencananya minggu depan surat gugatannya udah bisa disiapin."
"Alhamdulillah, Mbak. Ini langkah besar, saya bangga sama keberanian Mbak."
"Tapi saya jadi mikir, Pak, soal tempat tinggal setelah semua ini selesai. Saya belum ada gambaran mau tinggal di mana."
"Kalau Mbak butuh waktu buat cari tempat, saya kenal beberapa rekan yang punya kos-kosan atau apartemen kecil yang bisa disewa dengan harga terjangkau. Nanti saya bantu carikan informasinya."
"Makasih banyak, Pak. Saya nggak tau harus gimana kalau nggak ada bantuan Bapak selama ini."
"Mbak nggak perlu berterima kasih terus, saya seneng bisa bantu. Yang penting Mbak bisa dapetin kehidupan yang lebih baik ke depannya."
Anyara tersenyum membaca balasan itu, merasakan kehangatan yang semakin dalam dari dukungan Hans yang konsisten sepanjang perjalanan berat ini. Meski hatinya masih dipenuhi kesedihan atas berakhirnya sesuatu yang pernah ia perjuangkan dengan sepenuh hati, ada juga secercah harapan baru yang mulai tumbuh, mengarah pada kehidupan yang sepenuhnya menjadi miliknya sendiri, tanpa lagi harus tunduk pada kebohongan dan kepura-puraan yang selama tiga tahun terakhir menjadi bagian dari hidupnya.