Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Dibuang Karena Gendut, Dipilih Menjadi Ibu

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Romansa pedesaan / Cewek Gendut / Cerai / Tamat
Popularitas:125.8k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.

Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.

Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.

Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.

Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.

Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.

"Kita menikah!"

Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.

Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Menyulut Api

Pada malam setelah bertemu Mireya dan keluarga barunya, Syahzan duduk sendirian di dalam mobil. Tangannya masih menggenggam kemudi, tetapi pikirannya tidak lagi berada di jalan.

Bayangan Mireya terus muncul di kepalanya. Cara perempuan itu merangkul lengan Arven. Cara Mireya memanggil pria itu dengan panggilan mesra.

Dan yang paling membuat dadanya terasa sesak adalah senyum Mireya. Senyum yang dulu hanya untuknya, kini diberikan kepada orang lain.

“Kenapa kau bisa melupakanku secepat itu?” gumamnya.

Syahzan mengepalkan tangan. Ia tahu Mireya sudah menjadi istri orang lain.

Namun, ia belum bisa menerima kenyataan bahwa pria itu seorang Arven Zarretti. Pemilik lahan yang selama ini memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan tempatnya bekerja.

Pria yang memiliki kuasa, dan ia berada di bawah kuasa itu. Syahzan mengembuskan napas panjang.

“Kalau aku tidak bisa membuatmu kembali…”

Tatapannya berubah.

“…setidaknya aku akan membuat dia meninggalkanmu."

.

.

Arven akhirnya kembali ke rumah menjelang siang.

Begitu mobilnya memasuki halaman, ia langsung melihat dua sosok yang seharusnya sudah berada di dalam rumah.

Mireya dan Elden. Namun keduanya justru masih berada di lahan perkebunan yang sedang mereka olah. Di bawah terik matahari.

Arven mengernyitkan kening. Jam makan siang bahkan sudah lewat.

“Pak Can.”

“Ya, Tuan?”

“Mereka udah makan siang?”

Pak Can menggeleng.

“Sepertinya kalau belum pulang, tandanya belum, Tuan.”

“Kenapa?”

Pak Can menunjuk ke arah perkebunan. “Nyonya dan Tuan Muda masih di sana.”

Arven menatap ke sana.

Mireya sedang berjongkok sambil memindahkan bibit. Bajunya sudah penuh noda tanah. Rambutnya sedikit berantakan karena angin dan keringat.

Di sampingnya, Elden tampak sama kotornya. Anak itu bahkan masih tersenyum lebar.

Arven menghela napas. “Sudah berapa lama mereka di sana?”

“Sejak pagi kepergian kita.”

“Dan belum makan?”

“Sepertinya begitu.”

Arven terdiam. Perempuan itu benar-benar tidak mengenal waktu.

Ia berjalan mendekat. “Elden.”

Anak itu menoleh. “Ayah!”

Elden langsung berdiri dan berlari menghampirinya.

Arven menunduk melihat putranya yang penuh tanah. “Kalian belum kembali?”

Elden menggeleng. “Kami mau menyelesaikan ini dulu.”

Arven menatap Mireya. “Dan kau?”

Mireya yang masih memegang bibit menoleh.

“Oh, masih ingat pulang, ya?” tanya Mireya dengan suara sumbang.

Arven diam beberapa detik. "Apa kamu bisa langsung menjawab pertanyaanku, tanpa perlu bertanya balik?"

Mireya hanya mendengus, lalu kembali fokus pada bibit di tangannya.

Melihat Mireya yang tak acuh membuat pelipis Arven berkedut. “Sudah siang.”

Mireya melihat matahari. Kemudian melihat lahan. Kemudian kembali melihat Arven.

“Oh…” Tapi, ia masih mencoba melanjutkan pekerjaan. “Tinggal dikit lagi.”

Arven menghela napas. “Kalian itu belum makan.”

Elden langsung mengangkat tangan. “Aku udah lapar!”

Mireya tertawa kecil. “Kalau begitu, kamu ikut ayahmu. Ibu mau melanjutkan ini sedikit lagi.”

Arven langsung mengernyit.

“Tidak.”

Mireya berhenti bergerak.

“Apa?”

“Kau juga ikut makan.”

“Kenapa kamu ngatur-ngatur aku?" Mireya menyipitkan matanya.

"Karena aku suami kamu."

Mireya bangkit dan menepuk kedua tangannya yang penuh dengan tanah, sehingga debu bertebangan membuat Arven refleks mundur satu langkah.

"Sekarang kamu mau repot-repot Mengingatkanku? Tadi saat pergi, apa kamu membicarakan sesuatu padaku? Kamu sudah janji, kan, sama aku dan Elden?”

“Apa kamu lupa kita akan berkebun bersama? Kenapa kamu pergi tanpa pamit dan menghilang begitu saja?”

Arven tersentak kehilangan kata-kata.

Mireya melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa diam?”

Arven menatap perempuan itu beberapa detik. Kemudian menghela napas. “Aku pergi karena ada masalah soal pekerjaan.”

Mireya sedikit mengernyit. "Jadi ini sifatnya rahasia apa engga? Aku boleh bertanya?"

Arven menggeleng cepat. "Kamu boleh bertanya."

Mireya menatap bola mata Arven dengan lekat. “Sebenarnya aku tak tertarik mencampuri urusanmu. Hanya saja, saat kamu pergi, sempatkan lah untuk memberitahu kami."

"Kan tadi malam kamu sendiri yang mengatakan kita ini adalah keluarga?"

Arven mencoba merangkai jawaban di dalam kepalanya. Akan tetapi tatapan Mireya masih tertuju kepadanya.

“Kalau memang keluarga ... setidaknya beri tahu kalau ada sesuatu. Aku tidak akan ikut campur kalau memang tidak perlu.”

Arven mengangguk perlahan. “Baik.”

Mireya tampak sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Arven akan langsung mengalah.

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Jangan pergi tanpa pamit lagi.”

Arven menatapnya. “Baik.”

“Janji?”

“Janji.”

Mireya akhirnya tersenyum tipis. “Kalau begitu, selesai.”

Elden yang sejak tadi memperhatikan mereka langsung mengangkat tangannya. “Sekarang kita bisa makan?”

Mireya tertawa kecil. “Iya. Sekarang makan.”

Arven menghela napas lega. Namun baru saja hendak berjalan, ia kembali teringat sesuatu.

“Kau juga jangan lupa makan hanya karena sedang bekerja.”

Mireya mengerutkan kening. “Masih soal makan?”

“Karena sejak tadi kita membicarakan makan.”

“Aku belum lapar.” Perut Mireya tiba-tiba berbunyi.

Hening. Elden langsung menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.

Pak Can yang berdiri tidak jauh dari mereka buru-buru memalingkan wajah.

Arven menatap Mireya.

Mireya menatap tanah. “Itu suara angin,” katanya cepat.

Arven mengangkat alis. “Angin dari mana bisa berbunyi begitu?”

Elden akhirnya tertawa. “Ibu juga lapar!”

“Elden!” Mireya mencoel pipi anak itu.

Arven akhirnya tersenyum tipis. “Ayo.”

Ia berjalan lebih dahulu.

Elden segera menggenggam tangan ayahnya, lalu mengulurkan tangan satunya kepada Mireya. “Ibu juga.”

Mireya memandang tangan kecil itu. Kemudian menggenggamnya. Mereka bertiga berjalan menuju rumah.

Baru beberapa langkah, Arven tiba-tiba berhenti.

Mireya ikut berhenti. “Ada apa?”

“Cuci tangan dulu.”

Mireya melihat kedua tangannya yang penuh tanah. “Oh.”

Ia menatap seluruh tubuhnya berganti dengan Elden. “Elden, ayo kita mandi dulu.” Tangan Mireya terulur di hadapan Elden.

"Tapi, Bu ... Aku lapar ..."

*bersambung*

1
Yulvita Darnel
waw... masa dari 50% turun bebas menjadi 35% ada-ada saja mireya.
Dewi Habibah
bagus ceritanya
SoVay: terima kasih kk 🍅🍅🙏
total 1 replies
Yulvita Darnel
gara-gara kelaparan akhirnya lolos jadi kandidat ibu tiri, bagus juga tuh taktik.
Yulvita Darnel
ada-ada aja Thor masa iya ada pekerjaan jadi ibu tiri, boleh daftar nggak 🤣🤣🤣🤣
SoVay: tapi lowongan sudah teriso 🤣
total 1 replies
Wati Anja
semoga mireya dan keluarga barunya bahagia
Yulya Muzwar
cerita yang menarik.
SoVay: makasih kak 🍅🍅
total 1 replies
Esther
Terima kasih untuk ceritanya thor👍👍.
Ditunggu cerita selanjutnya
SoVay: yuk kakakku, mampir cerita baru aku
total 1 replies
@Tie
kq arven diem aja gk belain mireya
Sri Widiyarti
terbaik buat author bagus ceritanya 🥰
SoVay: terima kasih kakakku 🍅🍅🍅
total 1 replies
Sri Widiyarti
akhirnya selesai juga banyak pelajaran yang kita petik dari novel ini makasih banyak author semangat trus berkarya...
Yumna Attaya
bagus, ringan , mudah di ikuti
SoVay: terima kasih kakakku 🍅🍅🍅
total 1 replies
mimief
wahhhh...
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
SoVay: udah mayan banyak nih kak episodenya 🤣
total 7 replies
mimief
wah...mang kita harus belajar Ama mireya ya ngadepin segala sesuatu nya pake kepala dingin
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
SoVay: biar kincep sendiri 🤣🤣
total 1 replies
Esther
Yang mandul Syahzan, yang dituduh Mireya.
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
SoVay: terima kasih kakakku udah menemani sampai ke cerita ini. 🍅🍅🍅🍅
total 1 replies
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya...
Aidil Kenzie Zie
ibunya bakalan syok kalo tau Mireya hamil dan ternyata yang mandul adalah anaknya sendiri 🤭🤭🤭
SoVay: ayuk kakakku, mampir cerita terbaru aku yuuukk
total 2 replies
Ummee
brarti syahzan tau dirinya mandul...
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
SoVay: terimakasih Ummmiii...🍅🍅🍅
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bukannya mereka membagikan tomat dekat rumah tor 🤔🤔🤔trus naik mobil mau pulang kemana 🤔🤔🤔
SoVay: di jalan raya kak, jadi kan ada jalan masuk juga. emang gak terlalu jauh, tapi memilih naik mobil. itu haluku 🤣
total 1 replies
Ummee
ternyata syahzan mandul, pantas 5 thn menikah dgn mireya, mireya gk hamil²
mimief
ya ampun
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!