Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Fajar belum sepenuhnya sempurna memancarkan sinarnya ketika aroma kopi hitam segar beradu dengan dinginnya udara pagi di sayap barat Puri Moretti. Suara gesekan kain jas yang dipasang dengan cekatan mengakhiri keheningan kamar utama.
Gabriel telah berdiri di depan cermin raksasa setinggi langit-langit. Pria yang kemarin seharian penuh bertingkah bagai anak kecil yang enggan beranjak dari pangkuan, kini telah sepenuhnya bertransformasi kembali menjadi sang Don. Setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap terpasang sempurna di tubuh tegapnya, menyembunyikan rapat-rapat ukiran tato dan setiap jejak kelembutan yang ia obral sepanjang hari kemarin.
Aura dingin, tegas, dan tak tersentuh kembali melingkupi wajah tampannya. Garis rahangnya mengeras saat ia mengancingkan cufflinks perak di pergelangan tangannya.
"Tuan," suara Marco terdengar dari celah pintu yang terbuka sedikit. "Iring-iringan mobil pengawal sudah siap di pelataran utama. Perwakilan konsorsium minyak dari wilayah barat sudah tiba di kantor pusat."
"Aku turun dalam dua menit," jawab Gabriel dingin, tanpa mengalihkan pandangan dari pantulan dirinya di cermin.
Ia berbalik, melangkah pelan menuju peraduan king-size. Aurora sudah terbangun, duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut sutra membungkus dadanya. Pria itu membungkuk, mendaratkan ciuman yang sangat dalam dan hangat di kening Aurora sebuah sentuhan kontras yang amat tajam dibandingkan dengan aura mematikan yang baru saja ia pancarkan kepada Marco.
"Aku harus menyelesaikan kekacauan yang tertunda kemarin, Cara mia," bisik Gabriel, suaranya berbariton rendah dan serak. Tangannya terulur, mengusap lembut pipi Aurora sebelum jemarinya turun, menepuk pelan perut rata wanita itu dengan tatapan penuh arti. "Istirahatlah. Jangan terlalu lelah. Ingat apa yang kita usahakan kemarin."
Aurora mengukir senyuman tipis yang manis, mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Gabriel."
Dengan satu kerlingan terakhir yang sarat akan kepemilikan mutlak, Gabriel berbalik dan melangkah keluar kamar. Suara ketukan pantofel mewahnya yang tegas bergaung di sepanjang koridor stone puri, perlahan menjauh hingga akhirnya hilang ditelan deru mesin konvoi mobil lapis baja yang meninggalkan halaman depan.
Raja mafia itu telah kembali ke dunianya yang berdarah.
Begitu helaan napas terasanya benar-benar sepi, raut wajah Aurora seketika berubah murni. Senyuman manisnya meluruh, digantikan oleh tatapan mata yang jernih, tajam, dan penuh determinasi.
Ia tidak kembali tidur. Sebaliknya, Aurora menyibakkan selimut sutra dan melangkah turun dari tempat tidur. Tubuhnya masih menyisakan sedikit rasa pegal akibat marathon gairah kemarin, namun tekad di dalam dadanya jauh lebih kuat daripada kelelahan fisik yang dirasakannya.
Aurora berjalan menuju ruang ganti pribadi yang megah. Ia menanggalkan gaun tidur sutranya, menggantinya dengan pakaian olahraga yang melekat pas di tubuhnya: sports bra berkerah tinggi berwarna hitam, legging elastis bernuansa senada, dan sepasang sepatu lari yang sangat nyaman. Ia mengikat rambut hitam panjangnya menjadi ekor kuda yang rapi, membiarkan leher jenjangnya terekspos udara dingin pagi.
Pagi ini, Aurora tidak ingin mengurung diri di dalam kamar yang sarat akan kenangan adegan panas kemarin. Ia ingin menghirup udara segar, menggerakkan otot-ototnya, dan yang paling penting: menikmati kebebasan luar biasa yang telah diberikan Gabriel kepadanya.
Kawasan kediaman Gabriel Moretti bukanlah sekadar rumah mewah biasa. Ini adalah sebuah kompleks benteng pribadi yang membentang luas berhektar-hektar di atas bukit eksklusif. Dikelilingi oleh hutan pinus yang asri, taman-taman bergaya Eropa yang tertata rapi, dan jalanan berlapis paving khusus yang meliuk-liuk mengitari perbukitan, kawasan ini adalah sebuah surga terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar.
Aurora melangkah keluar melalui pintu samping puri. Udara dingin khas pegunungan langsung menyergap paru-parunya, membawa aroma embun pagi, tanah basah, dan pinus yang menenangkan.
Ia mulai melakukan pemanasan ringan di pelataran batu, meregangkan otot-otot kaki dan lengannya yang agak kaku. Dari jarak yang cukup jauh, beberapa pengawal bersenjata yang berjaga di pos perimeter sempat menoleh terkejut melihat sang selir Don Moretti berada di luar ruangan dengan pakaian olahraga sebelum akhirnya mereka secara profesional menundukkan pandangan dan kembali fokus pada area pantau masing-masing.
Aurora mulai melangkah. Dari jalan santai, ia perlahan meningkatkan temponya menjadi lari-lari kecil (jogging).
Puk... puk... puk...
Suara sol sepatu larinya yang menghentak teratur di atas jalan paving menjadi satu-satunya irama yang memecah keheningan pagi. Angin dingin menyapu wajahnya, menerbangkan beberapa helai anak rambut yang lolos dari ikatan.
Di bawah pendar sinar matahari pagi yang menembus celah-celah pepohonan pinus, Aurora merasa jiwanya perlahan kembali utuh.
Setiap kali kakinya menghentak jalanan yang menanjak, ia merasa sedang melompati bayang-bayang kelam masa lalunya. Rasa pegal di tubuhnya perlahan meluruh, digantikan oleh dorongan adrenalin yang menyegarkan. Paru-parunya terisi oleh udara paling murni yang tak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun ia terkurung dalam trauma.
Ia menyusuri lintasan jalan private yang mengitari danau buatan di tengah kawasan kediaman. Air danau yang tenang memantulkan bayangan langit pagi yang berwarna biru kemerahan. Burung-burung gereja terbang rendah di atas permukaan air, menciptakan riak-riak halus yang indah.
Aurora mempercepat langkah larinya. Ia menikmati sensasi peluh dingin yang mulai membasahi dahi dan punggungnya. Ia menikmati detak jantungnya yang memburu kencang—sebuah pembuktian murni bahwa ia masih hidup, bahwa ia bukanlah sekadar boneka pemuas nafsu atau wadah pencetak pewaris tahta bagi seorang penguasa mafia.
"Aku hidup," gumam Aurora di antara napasnya yang tersengal teratur. "Aku adalah Aurora... bukan milik siapa-siapa."
Ia harus mengakui, tempat ini sangat indah. Kawasan kediaman Gabriel menyajikan kemewahan dan ketenangan yang diimpikan oleh jutaan orang. Jika saja pria itu bukan seorang iblis pembantai, dan jika saja hubungan mereka tidak diawali oleh penjualan paksa serta pendarahan hebat, tempat ini mungkin bisa menjadi tempat tinggal impian.
Namun, kecantikan kawasan ini tidak akan pernah sanggup membius akal sehatnya. Ini adalah sangkar emas. Seindah apa pun pemandangannya, sebersih apa pun udaranya, tempat ini tetaplah sebuah penjara yang dibentengi oleh rasa posesif yang gila.
Sambil terus berlari menyusuri belokan jalan yang mengarah ke bukit pandang, Aurora memanfaatkan momen ini untuk memetakan kawasan tersebut di dalam kepalanya.
Meskipun ia tahu pelariannya kelak akan memanfaatkan jalur resmi melalui kota menggunakan paspor palsu yang sedang diproses, memahami tata letak titik-titik pengawasan, sudut buta kamera CCTV, dan ritme pergantian penjagaan para pengawal di area luar kediaman adalah nilai tambah yang sangat krusial.
Ia memperhatikan secara detail: ada empat pengawal yang berjaga di gerbang barat dekat hutan pinus, dua pengawal patroli menggunakan mobil golf listrik setiap tiga puluh menit sekali, dan sebuah menara pemantau yang terletak tidak jauh dari dermaga danau buatan. Semua informasi itu ia catat rapat-rapat di dalam memori kepalanya, disimpan rapi di balik raut wajah cantiknya yang tampak santai menikmati olahraga pagi.
Setelah hampir satu jam berlari dan menyusuri jarak lebih dari lima kilometer, Aurora melambatkan temponya menjadi jalan santai.
Tubuhnya kini bersimbah keringat halus, dadanya naik turun teratur, dan pipinya merona merah alami akibat sirkulasi darah yang lancar. Ia berhenti di puncak bukit kecil yang menghadap langsung ke arah bangunan utama Puri Moretti.
Dari ketinggian ini, puri batu raksasa itu terlihat begitu megah sekaligus kesepian.
Aurora menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, menyandarkan kedua tangannya di pinggul seraya menikmati angin pagi yang berhembus kencang menerpa tubuhnya. Senyuman tipis dan jujur kembali mengembang di wajahnya bukan senyuman manis palsu yang biasa ia sajikan untuk membuai ego Gabriel, melainkan senyuman penuh kepuasan dari seorang wanita yang memegang kendali atas jalan hidupnya sendiri.
Ia berhasil melewati malam-malam mencekam dan maraton gairah kemarin tanpa kehilangan jati dirinya. Ia berhasil pura-pura tunduk tanpa benar-benar menyerahkan jiwanya.
"Teruslah sibuk dengan urusan mafiamu, Gabriel," bisik Aurora pelan pada angin pagi yang dingin. Matanya menatap tajam ke arah puri di bawah sana. "Dan biarkan aku menikmati kebebasan manis ini... sampai saatnya aku melangkah pergi dan tak akan pernah kembali lagi ke tempat ini."
Dengan hati yang jauh lebih tenang, napas yang mantap, dan semangat baru yang terbakar di dalam dadanya, Aurora berbalik dan melangkah santai kembali menuju puri, siap menyambut hari-harinya yang tersisa di dalam sangkar emas sebelum takdir pelariannya dimulai.